Ayo Mau Kemana Kamu ?

28 04 2008

Walaupun akan kalah, setidaknya aku tidak merunduk..

Iklan




Sastra dan Perlawanan: Membangkitkan Kembali Sastra Profetik

27 04 2008
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang/suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan/dituduh subversif dan mengganggu keamanan/maka hanya ada satu kata: lawan!
Dalam membaca karya sastra, khususnya puisi. Mayoritas penikmat sastra mendambakan dari hasil bacaannya terkecap keindahan. Teresapi pendar-pendar aroma estetika. Oleh karena itu, banyak penyair berusaha menuangkan harmoni kata yang indah dalam setiap karya puisi mereka. Dalam puisi kita mengenal stigma yang dipakai oleh banyak orang bahwa memuat berbagai kata imajinatif merupakan syarat mutlak dalam puisi. Namun hal ini tidak berlaku oleh beberapa penyair yang menjadikan karya sastra sebagai medium perlawanan terhadap realitas yang timpang. Mereka merasa cukup dengan bahasa yang sederhana. Kata-kata diupayakan menciptakan keutuhan sajak. Lihat saja penggalan puisi dari Wiji Thukul di atas yang berjudul ”Peringatan” (1986). Sebuah jenis puisi dimana fakta, pengalaman atau memori intim seorang penyair diungkapkan apa adanya dalam kesederhanaan bahasa leksikan-gramatikal sehari-hari yang lugas dan tidak rumit. Jenis puisi atau sajak semacam ini oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri dinamakan sebagai ”sajak terang”. Sebab maksud dari puisi tersebut sangat transparan dan nyata.
Puisi Wiji Thukul disini hanyalah contoh kecil dari sebuah karya sastra yang tercipta dari kesadaran menjadikan seni sebagai media perjuangan terhadap kesewenang-wenangan. Wiji Thukul pernah memenangkan penghargaan Werdheim, sebuah anugerah bergengsi untuk karya-karya kemanusiaan. Puisi-puisinya memperoleh pujian, meski ia mengatakan tak pernah menulis puisi untuk menang perlombaan. ”Meski para seniman masih memperdebatkan hubungan halal atau haram antara seni dan politik, tapi kami memutuskan untuk hidup dan berkesenian di tengah perlawanan rakyat yang kehilangan hak-haknya di masa Soeharto”. Ungkapnya, ketika ditanyakan alasan yang mendasari lahirnya puisi-puisi yang ditulisnya.

Berjuang Lewat Sastra

Seno Gumira pernah mengatakan “Ketika Jurnalisme di bungkam, Sastra Harus Mengungkapkan Kebenaran.”. Benarkah sastra memiliki tugas suci seperti itu ? Bisa jadi benar. Malah Mohamad Sobary menilai sastrawan adalah da’i yang baik. Sastrawan di matanya (seharusnya) mampu mengiklankan keluhuran Tuhan dan segenap Nabi-nabi-Nya serta para pendukung nilai luhur lainnya, sehingga keluhuran tersosialisasi dengan baik di masyarakat. Manusia dituntut untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’aruf itu memanusiakan manusia, sedangkan nahi munkar itu pembebasan, dan beriman kepada Tuhan itu transendental. Dalam konteks kesusastraan Indonesia, sastra religius menggenapi isu sastra yang ada. Sastra religius mengambil tema-tema keagamaan yang variasinya amat banyak. Menurut Kuntowijiyo, sesungguhnya semua sastra punya bobot religiusitas, asal dilihat dari pandangan teologis dan metafisis.
Kuntowijoyo menggagas jenis genre baru dalam sastra dan menyebutnya sebagai sastra profetik. Sastra yang menurutnya melanjutkan tradisi kerasulan. Sebab agama dihadirkan untuk membangun peradaban ummat manusia yang berwatak profetik. Dalam artian agama datang untuk mengubah secara radikal tatanan sosial kultural mapan yang opressif, yang membuat manusia terbelenggu, saling melindas dan tak jelas arah sejarahnya. Sehingga ummat manusia mencapai tingkat teratas peradabannya sebagai makhluk yang berakal dan berbudi.
Sastra profetik, menurut penulis mesti dikembangkan oleh kalangan pemerhati dan penikmat sastra generasi saat ini. Kuntowijoyo, Wiji Thukul, W.S Rendra dan beberapa penyair lainnya dengan sastra profetiknya telah menanamkan dan memperkaya cakrawala sastra religius yang lebih membawa pencerahan dan tidak melulu lebih sibuk mengurus hablumminallah (melangit) dan mengabaikan hablumminannas (membumi). Dan, sastra profetik lebih jelas kualitasnya dan kekuatan moralnya daripada sastra yang melulu membincang selangkangan.
Lewat sastra profetik, penyair dapat mensosialisasikan penyataan sikapnya. Sikap perlawanan terhadap setiap penindasan yang menginjak-injak kemanusiaan, pemberontakan kultural terhadap setiap ketidakadilan, perjuangan untuk mewujudkan nilai-nilai sejati yang telah lama mati, penyadaran manusia Indonesia yang mengalami situasi acak (chaos) yang cukup akut sehingga terbatah-batah untuk menjelaskan diri sendiri. Penyair-penyair profetik tidak menulis puisi dari ilusi-ilusi fantasianisme, atau dari dunia bawah sadar. Sebaliknya mereka menulis puisi dengan berakar pada persoalan sehari-hari, persoalan yang ada di depan matanya. Mereka menuliskan puisi dengan penuh kesadaran, kesadaran akan adanya penindasan, akan adanya struktur-struktur riil ketidakadilan, akan adanya epikolonialisme.
Mereka bertindak sebagai ”penyaksi” yang berhadapan dengan cermin realitas yang bobrok. Dan, Thukul adalah salah seorangnya. Sajak-sajaknya terkesan sederhana, diksi-diksi yang dipakai sangat biasa, bahkan lumrah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Lewat kata-kata yang umumnya kita jumpai, Thukul seperti mencoba untuk menarik sebuah busur yang baru, dengan memosisikan dirinya sebagai yang terlibat di dalam (insider). Puisi-puisi yang ditulisnya menampakkan wajah protes yang meluap, pertanyaan-pertanyaan satire, mengapa dalam peristiwa politik kehidupan bernegara rakyat kecil yang melulu menjadi korban. Melalui puisi ia berjuang, sekadar melakukan ”penggugatan”. Dan perjuangan Thukul tidak hanya sebatas diksi dalam puisi, melainkan juga melebar dalam kegiatan nyata, di mana ia juga bergabung dalam sebuah gerakan yang memperjuangkan kebebasan orang-orang sipil bersama mahasiswa.
Dari sini benarlah apa yang pernah dikatakan H.B.Jassin. Semestinya sastra menempatkan posisi sebagai penyaksi zaman dengan prinsip humanisme universal-nya. Bangsa saat ini butuh sastrawan yang tidak asyik sendiri, tetapi mampu mencipta karya yang menghargai kualitas dan mempertinggi harkat hidup kemanusiaan. Meskipun sejarah mencatat, mereka yang melakukannya, terkadang harus mengecap penderitaan. Kita tahu bagaimana Rendra sempat tinggal di balik jeruji, dan dilarang untuk membaca puisinya. Bahkan Wiji Thukul telah menjadi korban kebengisan orde yang paranoid terhadap karya sastra. Tukul dinyatakan hilang 27 Juli 1996 dan belum diketahui riwayatnya hingga kini. Membaca kisah Tukul, mengingatkan saya pada seorang penyair Bulgaria yang mati dieksekusi di muka regu tembak rezim fasis negerinya. Penyair ini bernama Nikolai Vaptsarov. Ia mati muda dalam usia 32 tahun. Vaptsarov seorang pejuang bagi rakyatnya, sama seperti Wiji Thukul. Tapi, jarang ada yang tahu bahwa mereka berjuang dan melawan bermula lewat bait-bait sajaknya. Sebuah sastra profetik.
Salam Perlawanan !!!





Seorang Buruh Masuk Toko

25 04 2008

masuk toko

yang pertama kurasa adalah cahaya

yang terang benderang

tak seperti jalan-jalan sempit

di kampungku yang gelap

sorot mata para penjaga

dan lampu-lampu yang mengitariku

seperti sengaja hendak menunjukkan

dari mana asalku

aku melihat kakiku – jari-jarinya bergerak

aku melihat sandal jepitku

aku menoleh ke kiri ke kanan – bau-bau harum

aku menatap betis-betis dan sepatu

bulu tubuhku berdiri merasakan desir kipas angin

yang berputar-putar halus lembut

badanku makin mingkup

aku melihat barang-barang yang dipajang

aku menghitung-hitung

aku menghitung upahku

aku menghitung harga tenagaku

yang menggerakkan mesin-mesin di pabrik

aku melihat harga-harga kebutuhan

di etalase

aku melihat bayanganku

makin letih

dan terus diisap

Oleh : Wiji Thukul 10 september 1991





Benarkah Kita Bangsa yang Bodoh ?

20 04 2008

Taufik Ismail, sastrawan dan Budayawan besar yang dimiliki bangsa ini ternyata tidak cukup hanya dengan malu sebagai seorang Indonesia, namun juga telah mengambil kesimpulan bangsa ini sudah diambang kehancuran. Pernyataan inipun dipertegas oleh beberapa intelektual, sastrawan, budayawan serta yang mengaku sebagai pejuang demokrasi. Ceramah-ceramah di mimbar dan halaman-halaman koran mengutip makian dan kutukan mereka. Data-datapun dipaparkan; jumlah resmi orang miskin 39,5 juta jiwa. Angka yang fantastis untuk sebuah negara yang telah merdeka 62 tahun lebih. DiAsia Tenggara indeks pembangunan manusia Indonesiamenempati posisi ke-7 di bawah Vietnam. Negara kitapun masuk Guines Book of Record karena menjadi negara perusak hutan tercepat di dunia. Walaupun telah gundul, masih saja terjadi penebangan liar yang merugikan negara sekitar USD 2 Miliar. Dengan seringnya terjadi kecelakaan transportasi beruntun dinegara kita, pemerintah AS mengeluarkan anjuran kepada warganya untuk tidak bepergian menggunakan maskapai penerbangan Indonesia. Indonesia duduk di ranking 143 dari 179 negara di dunia menurut Transparency International (IT) 2207 dengan Indeks Persepsi Korupsi(IPK) 2,3. Dengan indeks ini Indonesia sejajar dengan Gabia dan Togo dan kalah bahkan oleh Timor Leste. Pemerintah kitapun terengah-engah untuk menjaga sebuahkedaulatan, Malaysia tidak hanya berani merebut duapulau Indonesia namun juga mengklaim Lagu “RasaSayange” dan alat musik angklung sebagai milik mereka. Harian Jawa Pos (10/4) melansir berita, “Kita inisudah miskin, otak ngeres pula”. Dengan paparan data,Indonesia pengakses situs porno ranking ke-7 dunia.4.200.000 situs porno di dunia, 100.000 diantaranyasitus porno Indonesia. 80% anak-anak 9-12 tahunterpapar pornografi. 40% anak-anak kita yang lebihdewasa sudah melakukan hubungan seks pranikah. Dansetiap hari kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD satu-satu atau ramai-ramai. Kitapun bahkanpernah dikejutkan dengan data 97,05 % mahasiswi sebuahkota besar telah kehilangan keperawanannya. Salahkahmengajikan data dan fakta ini ?. Tentu saja tidak.Sebab kenyataan harus selalu dikabarkan. Namun bagisaya adalah kesalahan kalau hanya sekedar mengutuk danmencecerkan aib sendiri lalu kemudian pesimis dantidak berbuat apa-apa. Bahkan saya melihat adakecenderungan untuk diakui sebagai pakar ataupunaktivis harus lebih dulu berani menyematkanstigma-stigma buruk pada bangsa kita ini. Kalau orang asing menghina kita sebagai bangsa yang terbelakangdan bodoh, maka kita harus mengamini dan memaparkanbukti bahwa bangsa kita memang terbelakang. Tidak bisa kita pungkiri, kenyataan menyedihkan ini kita temukandalam dunia intelektual kita. Untuk disebut intelektual, sastrawan, budayawan dan pakar yangkritis harus berani mencari aib bangsa sendiri untukdibeberkan kepada orang asing. Apa ini namanya kalaubukan pengkhianatan ?. Tidakkah kita melihat ada tujuan-tujuan politis dibalik stigma-stigma buruk yang disematkan negara lain pada bangsa kita ?. Tidak sedikit negara yang lebih tertinggal dari Indonesia namun masih bisa membusungkan dada dan disegani didunia internasional karena mereka punya harga diri dan berusaha menjaganya. Ketika diberi stigma buruk, mereka justru melakukan usaha untuk menepis stigma itu.

Prestasi Anak Bangsa dan Penyikapan Kita
Tampak ada kecenderungan masyarakat kita lebih tertarik mengkonsumsi berita-berita pelajar yang terlibat tawuran dan yang berani tampil bugil dibanding prestasi-prestasi yang diraih anak-anak muda kita. Anggapan yang timbul puncenderung melihat anak-anak muda kita sebagai potensi masalah ketimbang sebuah harapan. Seberapa banyak dari kita yang mengenal Muh. Firmansyah Karim, pelajar SMAAthirah Makassar yang mengejutkan dunia intenasional dengan meraih medali emas tahun lalu pada ajang Olimpiade Fisika Internasional (IPhO) ke-38 di IsfahanIran. Medali emas indonesia dipersembahkan pelajarkelas I padahal hampir semua peserta olimpiade adalahkelas III SMA dan soal-soal yang diberikan setaradengan soal fisika tingkat S2/S3. Selesai upacarapemberian medali, semua orang menyalami. Prof. Yohanes Surya Ph.D pembina Tim menceritakan, “Orang Kazakhtanmemeluk erat-erat sambil berkata “wonderful job…”Orang Malaysia menyalami berkata “You did a greatjob…” Orang Taiwan bilang :”Now is your turn…”Orang filipina:”amazing…” Orang Israel “excellentwork…” Orang Portugal:” portugal is great in soccerbut has to learn physics from Indonesia“, OrangNigeria :”could you come to Nigeria to train ourstudents too?” Orang Australia :”great….” Orangbelanda: “you did it!!!” Orang Rusia mengacungkankedua jempolnya.. Orang Iran memeluk sambil berkata”great wonderful…” 86 negara mengucapkan selamat. Suasananya sangat mengharukan, saya tidak bisa menceritakan dengan kata-kata.. Gaung kemenanganIndonesia menggema cukup keras. Seorang prof dari Belgia mengirim sms seperti berikut: Echo ofIndonesian Victory has reached Europe! Congratulations to the champions and their coach for these amazing successes!”. Tidakkah cerita ini turut menggetarkanhati kita ?. Begitupun pada ajang olimpiade sainslainnya, pelajar-pelajar kita selalu mempersembahkan prestasi yang gemilang. Kitapun mungkin telah lupadengan Sulfahri, siswa SMA Negeri 1 Bulukumba yang telah menjadi duta Indonesia di ajang International Exhibition for Young Inventor (IEYI) di New Delhi,India 2007 dan tercatat sebagai seorang penemu mudainternasional. Begitupun Firman Jamil, seniman Indonesia asal Sul-Sel mengukir prestasi yang tidakkalah gemilangnya. Firman Jamil telah beberapa kali melanglang buana ke luar negeri, dalam rangka pementasan karya seninya. Salahsatunya, berhasil lolosseleksi pada Festival Seni Patung Outdoor di Taiwandari 165 seniman pelamar dari berbagai belahan dunia. Sayapun merasa perlu untuk menyodorkan nama cendekiawan muslim Indonesia, Dr. Luthfi Assyaukanie yang menjadi mahasiswa asing pertama Universitas Melbourne yang memenangkan “Chancellor’s Prize”setelah tesis doktoralnya terpilih sebagai disertasi terbaik diantara hampir 500 tesis lainnya. Bahkan salah seorang astronot kita, Dr. Johni Setiawan tercatat sebagai 1 dari 4 orang di Jerman yang menemukan planet. Dr. J.Setiawan yang baru berusia 30tahun menemukan planet ekstra solar yang mengelilingibintang HD11977 yang berjarak 200 tahun cahaya. Yang tidak kalah gemilangnya, Bocah Indonesia, March Boedihardjo, mencatatkan diri sebagai mahasiswa termuda di Universitas Baptist Hong Kong (HKBU) dengan usia sembilan tahun. Bila lulus nanti, March akan memiliki gelar sarjana sains ilmu matematika sekaligus master filosofi matematika. Di Iran sendiri, pelajar-pelajar Indonesia diantara pelajar-pelajar asing lainnya selalu memiliki indeks prestasi tertinggi. Logikanya, jika anak-anak bangsa ini sering berprestasi bahkan sampai ajang internasional berarti memang SDM kita tidak perlu diragukan. Prestasi sesederhana apapun yang diraih anak bangsa harus didukung dan diapresiasi. Bukan dicelah atau difitnah. Bahkan sampai mengatakan prestasi olimpiade sains atauprestasi lainnya hanya kamuflase dan tidakmencerminkan kondisi pendidikan dan kualitas manusia Indonesia. Prestasi yang diraih bukanlah tujuan melainkan merupakan propaganda bahwa kitapun tidakkalah, punya daya saing dan kehormatan. Negara ini dibentuk dan diperjuangkan kemerdekaannya oleh parapendahulu bukan untuk unggul di atas bangsa-bangsa,namun agar diakui sebagai bangsa yang memiliki kedaulatan, bangsa yang akan mensejahterahkan rakyatnya. Simak saja, penggalan pidato Ir. Soekarno pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, “Di dalam Indonesia merdeka kita melatih pemuda kita, agar supaya menjadi kuat. Di dalam Indonesia merdeka kitamenyehatkan rakyat sebaik-baiknya.”Memang saat ini kondisi sosial kita buruk, mesti kita akui itu. Namun marilah kita melihat peluang-peluang yang bisa dilakukan dan hal-hal baik yang mesti dipelihara. Lihatlah betapa banyak gunungan potensi yang dimiliki bangsa ini. Negara ini belum berakhir. Kita sudah divonis menderita krisis ekonomi akut, namun kenyataan mempertontonkan masyarakat kita masih saja mampu berjubel di mall-mall yang membuat para pengamat luar negeri terheran-heran. Sayapun tidak sepakat kalau kita disibukkan hanya dengan mengejar prestasi lalu mengabaikan kesejahteraan rakyat yang menjadi tujuan utama bangsa ini. Sebab pendidikan merupakan urusan yang lebih tinggi ketimbang menjadi juara olimpiade dan lulusUAN. Pendidikan adalah kekuatan strategis dan terpokok dalam mengeluarkan bangsa ini dari lubang derita. Pendidikan mengajarkan kita tentang identitas, harga diri bahkan ideologi sebuah bangsa. Namun, saya lebihtidak sepakat lagi dengan upaya-upaya menggembosi dan mencemooh terus menerus bangsa ini. Bagi saya itu menunjukkan bahwa kita benar-benar bangsa yang bodoh. Wallahu ‘alam bishshawwab.
Qom, 15 April 2008




Dunia Anak-anak yang Hilang

20 04 2008
Anak-anak bukan milikmu
Mereka putra-putri kehidupan
Yang rindu pada dirinya
Kau bisa berikan kasih sayangmu
Tapi tidak pikiranmu…                                                                                            

            Begitulah Kahlil Gibran, penyair asal Libanon berbicara soal hakekat kemanusiaan. Syair diatas dikutip dari buku kecil, The Prophet, Gibran’s master piece, 1976 yang telah diterjemahkan dalam lebih dari 20 bahasa. Syair Kahlil Gibran tentang anak tersebut memang indah dan bermakna dalam. Kita dapat menangkap bahwa esensialnya anak itu adalah milik dirinya sendiri. Para orangtua dan masyarakat secara umum hanyalah berkewajiban membesarkan dan mendidik. Ibu berkewajiban memberikan cinta hatinya tetapi pikiran anak itu adalah hak dirinya sendiri sepenuhnya. Orangtua dalam membesarkan dan mendidik dapat dengan cara memberikan pengetahuan dan isi-isi untuk bahan pemikiran anak itu; tetapi tidak sampai membuat pikiran-pikiran orangtua adalah harus sepenuhnya menjadi pikiran anak juga. Dari sinilah kemudian terjadi ’kekisruhan budaya’ (meminjam istilah Emha Ainun Nadjib) hubungan antara anak dan orangtua. Dalam banyak kejadian sering orang-orangtua kita bukan sekedar memberikan alternatif tetapi menganggap bahwa apa yang diberikan kepada anak adalah satu-satunya yang terbaik, tidak ada alternatif lain. Ajaran orangtua sepenuhnya harus dianut, dipatuhi dan orangtua bisa sakit-sakitan dan bersedih hati jika sang anak tidak mengikuti pikirannya. Dalam hal ini, seringkali orangtua menjadi tiran bagi anaknya. Orangtua menerapkan konsep pikirannya pada anaknya. Orangtualah yang mengarahkan dan menentukan jalan hidup dan masa depan anaknya. Orangtualah yang memilihkan cita-citanya, profesi, bahkan sampai hal yang paling privacy mengenai pilihan suami atau istri misalnya. Anak-anak sering dianggap sepenuhnya adalah milik orangtua yang tidak memiliki dunia sendiri. Bagaimana kemudian kita melihat anak-anak yang sebetulnya cerdas menjadi kurang bertumbuh bahkan teramat kerdil karena kebanyakan orangtua punya kecenderungan untuk terlalu mengatur mereka, terlalu menentukan, terlalu menyutradarai, terlalu mengarahkan, terlalu banyak memerintah dan melarang yang pada akhirnya membuat nafas kemerdekaan anak-anak menjadi tersengal-sengal.

Kreativitas yang Terpasung

             Kreativitas memerlukan kemerdekaan. Kemerdekaan disini bukanlah kebebasan yang sebebas-bebasnya. Tentu saja yang dimaksud adalah kemerdekaan dalam konteks kodrati manusia. Ketika orangtua memberi pandangan. Sang anak berhak sepenuhnya untuk menerima atau menolak pandangan tersebut. Perlu ada kebiasaan untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk menentukan sendiri pilihannya, arah dari pilihan tersebut serta resiko apapun yang bakal terjadi dari pilihan tersebut. Persoalannya, anak kurang dididik untuk mengungkapkan dan mengenali dirinya. Anak lebih banyak dikendalikan daripada dimerdekakan. Sebab kemerdekaan itu besar resikonya dan dibutuhkan kesediaan untuk mungkin’diberontak’ oleh anaknya. Salah satu buktinya, polling yang pernah dilakukan oleh salah satu media tentang keinginan orangtua terhadap anaknya, hampir 70 % orangtua menginginkan anaknya rajin, sopan dan patuh dan hanya segelintir orangtua yang menginginkan anaknya cerdas dan kreatif.

Anak-anak (di) Sekolah, The Lost Generation

               Faktor penentu selanjutnya anak-anak kehilangan kreativitas dan dunianya adalah pendidikan formal dalam hal ini sekolah ataupun universitas. Sekolah yang idealnya menawarkan kegembiraan dan dunia petualangan yang bikin penasaran dalam banyak hal tidak lebih baik dari pola pendidikan orangtua kebanyakan. Di sekolah para anak didik terlalu disetting dan diformat sesuai dengan kehendak dan keinginan sekolah. Ketika memasuki halaman sekolah, anak-anak sebagai individu hilang secara autentik. Yang ada adalah penyeragaman yang menepis kekhasan manusia sebagai makhluk unik yang tak bisa dibandingkan dengan manusia lain diluar dirinya. Anak didik hanya memainkan peran pembantu, sebab guru adalah aktornya, pelajar hanya akan menjadi pelengkap penderita yang lebih diperlakukan sebagai obyek ketimbang subyek. Proses pendidikan semacam ini menurut Chaedar Alwasih (1993;23) hanya berfungsi untuk ‘membunuh’ kreativitas siswa, karena lebih mengedepankan verbalisme. Verbalisme merupakaan suatu asas pendidikan yang menekankan hapalan bukannya pemahaman, mengedepankan formulasi daripada substansi, parahnya lebih menyukai keseragaman bukannya kemandirian serta hura-hura klasikal bukannya petualangan intelektual. Model pendidikan demikian oleh Paulo Freire dikritik sebagai banking education, hubungan antara guru dengan murid sangat hirearkis dan bersifat vertikal; bahwa guru bicara, menjelaskan dan memberi contoh sementara murid menjadi pendengar saja.
Tidak banyak yang sadar bahwa dengan model pendidikan yang menjadikan murid semata-mata sebagi obyek adalah bentuk kekerasan dan pelanggaran terhadap anak. Pendidikan gaya bank menghalalkan dipakainya kekerasan untuk menertibkan dan mengendalikan para murid. Murid dibelenggu dan ditekan untuk mematuhi apapun perintah dan anjuran pendidik. Kesadaran individu dikikis habis dan mengggantinya dengan kesadaran kolektif yang seragam. Efeknya memunculkan kepribadian yang mekanik, mirip dengan benda mati yang kehilangan kebugaran dan kreativitas. Dari sinilah proses pembinatangan (bahasa halusnya: dehumanisasi) terjadi.
                Kita dapat saksikan bagaimana nasib anak-anak yang sekarang waktu yang seharusnya diisi dengan permainan dan kegembiraan ditelan untuk belajar, menghapal, memahami dan mengerti berbagai paket pengetahuan, dari pagi hinga sore mirip pekerja pabrik menghabiskan waktunya di ruang kelas untuk menelan pelajaran yang dalam banyak hal tidak menyenangkan. Seorang peneliti pendidikan menulis di harian Kompas (17 /8/2003) menurut temuannya rata-rata setiap murid SD kelas 3 sampai kelas 6 dalam setiap kuartal mempelajari sejumlah buku yang ketika ditimbang beratnya 43 kilogram, melebihi berat badan murid SD sendiri. Beban pelajaran ini kemudian diteskan lewat serangkaian ujian yang hasilnya kemudian dimuat dalam rapor yang penilaiannya berupa angka atau huruf. Parahnya, nilai kemanusiaan anak itupun direlevankan dengan nilai raport, semakin tinggi nilai raport maka akan semakin naik pula kemuliaan dan harga diri anak didik, orangtua dan gurunya. Korban dari sistem ini adalah eksistensi individu yang pada dasarnya memiliki kebebasan. Proses pendidikan yang seharusnya, sebagaimana makna sejatinya yakni menggiring keluar atau membebaskan potensi kemanusiaan yang ada dalam diri setiap individu belumlah terwujud. Yang ada justru pendidikan yang hanya menghasilkan airmata (Shindunata,2000).

Kesimpulan

           Kutipan dari Ghibran diatas, mengajak para orangtua dan para pendidik secara umum untuk mengubah pandangan mereka tentang anak. Anak adalah putra-putri kehidupan para pemilik masa depan. Mereka harus dipersiapkan dengan dikasihi dan dididik menjadi diri mereka sendiri agar tumbuh dewasa dan mandiri. Anak-anak mesti dibiasakan sejak dini dari hidupnya untuk selalu belajar kepada siapa dan dimana saja, mencari dan menemukan. Agar ia bisa memilih dirinya, bisa menentukan ungkapan pribadinya, agar tidak lagi mengatakan, “Inilah dada bapakku” tetapi secara tegas berani mengatakan”Inilah dadaku!”, begitu seharusnya seorang anak, kata Imam Ali.
Seperti yang dipertanyakan juga oleh Emha Ainun Nadjib, dunia anak-anak itu ada mengapa kita tiadakan ?




Iklan dan Dehumanisasi

20 04 2008
“Segala produksi  ada di sini, menggoda kita untuk memiliki,
hari-hari kita diisi hasutan hingga kita tak tahu diri sendiri”.
(Mimpi yang Tak Terbeli, Iwan Fals)
 
            Dari sepenggal bait syair lagu yang saya jadikan head line tulisan ini, Iwan Fals ingin memberikan warning sebuah efek iklan yang tidak hanya sekedar meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan barang yang ditawarkan tapi juga efek dramatis dan tragis yakni menjadikan orang-orang tidak lagi mengenal dirinya, bahasa kasarnya tidak tahu diri dan secara pelan tapi pasti menuju proses pembinatangan ( bahasa halusnya dehumanisasi). Bahasa  menggambarkan kekuatan terselubung dari iklan yang dapat memberangus alam bawah sadar umat  manusia yang seakan tak mampu untuk dibendung lagi kemagisan kata-katanya. Tiap hari kita di serang dengan kata-kata, “Anda adalah apa yang anda kenakan”, “Anda adalah apa yang anda makan,” “Anda begitu berharga, (karenanya kenakan kosmetika ini)” dan berondongan kata-kata menghasut lainnya. ?.     
            Akibatnya, kita lihat dengan kasat mata rakyat Indonesia semakin terberangus kemerdekaannya, dan semakin tak berdaya dalam menjaga diri dari penjajahan gaya hidup dan mimpi-mimpi kosong yang ditawarkan media massa -yang dengan bertiupnya angin reformasi, makin menggila dalam menyajikan mimpi-mimpi yang terkadang menghina akal sehat-.
            Sebagaimana yang dikatakan Rasulullah, bahwa sesungguhnya diantara bayan adalah sihir (H.R Bukhari). Bayan ? Apakah bayan itu? , bayan adalah komunikasi, baik dalam arti yang luas maupun dalam pengertian yang sempit. Yakni ungkapan kata atau penjelasan. Dan sebagai salah satu bentuk komunikasi baik secara audiovisual maupun tulisan setiap penampilan iklan  didalamnya ada sihir, ada pengaruh yang bisa ditimbulkan. Iklan, bahwa apapun yang diungkapkannya akan mempengaruhi pikiran, merasuki pikiran, dan sangat mungkin mengakibatkan perubahan pada jiwa. Sebagai contoh, Buktinya orang kaya acapkali tidak pe de (percaya diri) bila tidak mengendarai sedan mewah, tidak makan makanan yang harganya super mahal, dan tidak mengenakan pakaian dari butik-butik eksklusif, tidak menggunakan kosmetik bermerek dari manca negara. Anak-anak orang kaya juga sering diejek bila tidak dibelikan handphone, tidak ikutan mengenakan tas dan sepatu bermerek, tidak membawa mobil sendiri ke sekolah, atau tidak suka menghambur-hamburkan uang di mal-mal dan kafe-kafe terkemuka. Sehingga orang kaya akan merasa terhina jika naik angkot misalnya, jajan di pedagang asongan, membeli baju di Pasar Butung ataupun melakukan hal-hal yang tidak ekslusif lainnya.
            Inilah kemudian efek psikologis negatif yang akut dari serbuan iklan, yakni adanya perubahan peta mental. Harga diri seseorang terkadang diukur dengan apa yang dimilikinya dalam bentuk material. Sehingga jika sebelumnya pakaiannya mewah, kemudian mengenakan pakaian kumal, ataupun kemudian kosmetik yang dikenakan luntur maka turun pulalah harga dirinya. Terang saja ini adalah bentuk dehumanisasi terang-terangan. Mengidentifikasikan seseorang berdasarkan benda-benda mati semacam itu, jelas-jelas melecehkan kemanusiaan. Sebab kita  tidak memerlukan kecerdasan ekstra untuk menyadari bahwa kita, Anda dan saya, pertama-tama dan terutama adalah manusia. Anda bukan mobil, bukan makanan, bukan pakaian, bukan kosmetik. Anda adalah Anda. Dan anda adalah Manusia. Dan apabila sebagai manusia Anda kemudian dilihat, diperlakukan, dihargai dan dihormati berdasarkan apa yang Anda pakai atau miliki, maka apa namanya itu kalau bukan pelecehan?
Saya pernah membaca suatu ungkapan, begini :”Kalau siapa saya tergantung pada apa yang saya punya, dan apa yang saya punya hilang, lalu, saya ini siapa ?”
Mengerti kan maksud saya ?  kita adalah makhluk yang diserahi amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi, telah dibekali instrument-instrumen yang luar biasa untuk itu, karenanya tidak pantas dan teramat menjijikkan jika manusia dipersamakan dengan benda mati walaupun itu mobil mewah secinklon apapun bahkan berlian sekarung sekalipun.
 
 




Mahasiswa, Dosen dan Ketidakdewasaan

20 04 2008

            Pendidikan memungkinkan seseorang menjadi lebih manusiawi (being humanize) sehingga disebut dewasa dan mandiri, itulah visi atau tujuan dari proses pembelajaran atau pendidikan. Dan ini perlu kita perbincangkan, sejauh mana saat ini sistem pendidikan kita berhasil mencetak manusia-manusia yang dewasa dan mandiri.

 
Kedewasaan dan Kekanak-kanakan
 
Mengajar anak-anak berhitung itu baik, namun mengajar mereka memahami
 apa yang seharusnya diperhitungkan adalah yang terbaik                 
            Bob Talbert
 
           Istilah adult berasal dari bahasa latin yang diambil dari kata adultus berarti telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa (Hurlock, 1992). Oleh karena itu seorang yang disebut dewasa adalah individu yang telah siap menerima kedudukan dalam masyarakat.  Sedangkan kedewasaan atau kematangan adalah suatu keadaan bergerak maju ke arah kesempurnaan. Kedewasaan bukanlah suatu keadaan yang statis, tetapi merupakan suatu keadaan menjadi…. (a state of becoming). Sementara selama ini kita cenderung mendefinisikan kedewasaan seseorang dengan melihat tubuhnya dan mengaitkannya dengan usia. Setidaknya oleh Sthepen Covey, usia dan ukuran tubuh dalam banyak hal gagal untuk dijadikan parameter tingkat kedewasaan seseorang. Covey mendefinisikan kedewasaan sebagai keseimbangan antara courage (keberanian) dengan consideration (pertimbangan). Manusia yang bertindak secara berani tanpa disertai dengan pertimbangan yang seksama adalah ceroboh dan nekat, dan itu pertanda belum dewasa karena cenderung membahayakan orang lain. Sebaliknya manusia yang terlalu banyak pertimbangan dan tidak berani melakukan adalah jenis manusia no action talky only, inipun pertanda bahwa ia belum dewasa. Terlebih lagi manusia yang kurang berani sekaligus kurang pertimbangan lebih tidak dewasa lagi. Dengan demikian manusia disebut dewasa jika ia berani sekaligus penuh pertimbangan  pada saat bersamaan.
              Kita tahu bahwa perbedaan antara kanak-kanak (child) dengan orang dewasa (adult) dapat diringkas dalam satu kata, kemampuan. Kemampuan ini umumnya dikaitkan dengan sedikitnya tiga hal berikut : pengetahuan, sikap dan keterampilan. Kanak-kanak memiliki pengetahuan yang amat terbatas hampir dalam segala hal, baik tentang dirinya, orang lain, alam semesta apalagi tentang sang Khalik. Kanak-kanak juga belum mampu menentukan sikap, apakah harus positif atau negatif, kritis atau nrimo, terhadap semua hal yang terjadi di lingkungannya. Begitupun dari segi keterampilan, sama saja. Jadi pertumbuhan seorang kanak-kanak menjadi manusia dewasa sesungguhnya ditandai dengan perkembangan kemampuannya itu. Ia menjadi semakin mampu, semakin berdaya, dan semakin merdeka dari hal-hal di luar dirinya.
             Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin mampu bertanggungjawab atas diri sendiri dan menolak pendiktean atau pemaksaan kehendak dari apapun yang berada di luar dirinya. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti menjadi semakin mampu menyatakan, mengaktualisasikan, mengeluarkan potensi-potensi yang dipercayakan Sang Pencipta. Bertumbuh menjadi dewasa berarti menjadi semakin berdaya, semakin merdeka, dan semakin lebih manusiawi. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin menjadi diri sendiri dan menjauhkan kecenderungan suka meniru dan sekedar ikut-ikutan (seperti balita yang cenderung meniru segala hal yang dilihatnya dari orang lain).
            Nah selanjutnya, pertanyaan yang timbul, darimanakah kedewasaan itu diperoleh ? dari mana lagi kalau bukan dari proses pembelajaran/pendidikan. Pendidikanlah yang membuat manusia bertumbuh dan berkembang sehingga berkemampuan, menjadi dewasa dan mandiri.
 
Realitas  Pendidikan (di) Indonesia
 
“Nenek saya ingin saya memperoleh pendidikan,
karenanya, ia tidak mengizinkan saya sekolah”.
Everet Reimer
 
                Pendidikan diambil dari kata latin ‘e-ducare’ arti sejatinya adalah menggiring keluar. Apa yang digiring keluar ? Tak lain adalah diri atau segenap potensi manusia itu sendiri. Hanya saja dalam konteks dunia persekolahan ataupun universtitas, pendidikan dalam banyak kejadian prosesnya tidak ubahnya dengan pengajaran yang sekedar ptransferan ilmu dan pengetahuan dari kepala pengajar/dosen ke kepala anak didik. Sekolah dan Universitas terlalu banyak dimanajemeni, tetapi sangat kurang dipimpin. Tunas-tunas bangsa terlalu dijejali dengan tekhnik-tekhnik agar siap pakai, tetapi agak kurang didampingi agar siap belajar, siap hidup dan siap berlatih. Orang-orang muda kurang diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, dan terlalu sering diperlakukan sebagai obyek pengajaran. Hasilnya adalah manusia-manusia yang sama sekali tidak siap hidup di luar lembaga pengajaran itu (di luar sekolah/universitas) yang tidak siap belajar dan tidak siap berlatih untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tuntutan pengetahuan dan keterampilan di dunia nyata. Keluaran lembaga pendidikan itu sarat dengan ilmu pengetahuan (knowledge) tetapi sangat kurang ilmu kehidupan (wisdom) dan ilmu pertukangan (skill).  Dan kalau dikaitkan dengan kedewasaan, jujur saja seolah/universitas gagal mendewasakan anak didiknya. Yang mampu dihasilkan oleh dunia pendidikan kita adalah orang-orang yang merasa dewasa. Yang menjadi persoalan adalah dengan merasa dewasa maka sebagian besar manusia berhenti belajar. Merasa dewasa karena telah berusia diatas 17 atau 21 tahun, telah selesai sekolah atau kuliah, telah memiliki gelar akademis, telah memiliki pasangan hidup, telah memiliki pekerjaan dan jabatan yang memberinya nafkah lahiriah, telah memiliki  rumah dan kendaraan sendiri, telah kaya raya dan seterusnya. Hal-hal itu yang membuat berhenti belajar, sehingga tidak lagi mengalami keajaiban-keajaiban yang luar bisa dalam kehidupan. Begitupun dalam hal membaca, sama saja. Sebagian besar penyandang gelar akademis tidak lagi membaca buku-buku berisi ilmu pengetahuan yang relevan dengan titelnya sekalipun. Sulit ditemukan perpustakaan yang paling primitif sekalipun dirumah-rumah para pemilik gelar yang telah merasa pintar dan telah tamat belajar.
              Realitas ketidak dewasaan hasil didikan universitas kita dapat kita lihat dengan seringnya terjadi aksi tawuran antar sesama mahasiswa sendiri. Aksi tawuran ini menunjukkan ketidakdewasaan itu. Kita akui, aksi mahasiswa memang cenderung keterlaluan, menunjukkan ketidakdewasaan mereka. Tapi apakah serta menyalahkan mereka seratus persen ?. Penulis menilai, dengan pola pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di universitas kita, hanya ada dua jenis mahasiswa yang dilahirkan, mahasiswa penurut yang inggih selalu dan mahasiswa pembangkang yang cenderung anarkis. Yang disayangkan bukannya intropeksi diri, beberapa dosen justru lebih anarkis lagi dan menunjukkan kekanak-kanakannya dengan menyalahkan dan menganggap mahasiswa yang tidak becus diajar. Itu bukan langkah yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Justru dengan sikap itu terlihat jelas tidak adanya niat yang tulus dari para dosen untuk memperbaiki kualitas pendidikan untuk mencetak mahasiswa yang sadar diri, dewasa dan mandiri. Dan kalau hanya mengandalkan fasilitas untuk mengadakan perubahan, itu adalah sesuatu yang utopis tanpa dibarengi dengan adanya perubahan paradigma para tenaga pengajar universitas terutama dalam cara mengajar dan mendidik yang cenderung otoriter. Yang dibutuhkan adalah ruang bersama untuk saling mengoreksi kekurangan masing-masing yang setelah itu kekurangan atau kelemahan pun dengan sikap kedewasaan dirubah menjadi kekuataan.    
            Singkatnya, kebanyakan manusia usia dewasa, dan terutama bekas anak sekolahan (termasuk sarjana dengan S berapapun), hanya besar secara fisik, tetapi secara sosial, mental dan spritual mereka kerdil. Sekolah dan universitas ternyata sukses dalam satu hal, mencetak manusia-manusia yang menjadi tua (growing older), tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menjadi dewasa (growing up). Bukankah demikian ?
Ditulis 7 Juli 2005