Rekontruksi Budaya Kuli

30 04 2008

 

Kuli itu kesayangan Tuhan. Seperti amsal tentang domba yang diselamatkan , mengapa kita harus melawan takdir yang telah digariskan ?

Berabad lalu, dari pelosok-pelosok tanah Jawa, atas nama dewa, kami harus memecahkan dan mengangangkut bongkahan batu gunung untuk membangun candi-candi pemujaan. Katanya di langit ada Nirvana, tempat bersenang-senang dan bidadari yang menanti, untuk itu dibangunlah kuil, istana dan kuburan ‘perwakilan’ tuhan. Atas nama sumpah mahapatih yang harus tertuntaskan,kami dipaksa bertempur. Dipaksa kegaris depan. Bertempur dengan orang yang tidak pernah kami kenal. Dipaksa membunuh orang yang tidak kami benci. Kalau kemenangan tercapai, nama sang mahapatihlah yang abadi, kami tersingkirkan dan terlupakan.

Kapal-kapal berdatangan. Mereka datang untuk membeli dan berdagang. Katanya, “Kerjalah untuk kami dan kami memberimu gaji”. Tentu saja ini kenyataan yang membahagiakan. Bukankah setidaknya mereka lebih baik daraja-raja muda yang menghisap dan memeras tanpa imbalan. Benarkah sang ratu adil yang dijanjikan telah datang ?                          

Kami para tani diangkut dengan kapal kayu dan kereta, “Ada tanah yang dijanjikan, di sana emas murah dan bebas berjudi !” bujuk calo-calo dari Batavia, sambil senyum memamerkan gigi emasnya. Lantas berbondong kami bergerak, digiring dengan ternak, dirampas bekalnya, diperkosa dan tubuh coklat kami diinjak-injak. Kami, kuli-kuli, domba-domba kesayangan Tuhan, terpojok tak berdaya. Bergerak-bergerak. Melintasi alas-alas Sumatera. Menyeberangi sungai-sungai Swarna Dwipa. Mana ? Mana tanah yang dijanjikan itu ?

Lantas dimulailah kerja mulia itu, menurunkan surga ke bumi Hindia, membuka hutan-hutan, menyemai bibit, menanam tembakau, karet dan tebu. Tapi, dimanakah emas murah itu ? 

Tak ada waktu untuk bermimpi, “Hayo kerja, kerja terus, kerja terus sampai mati !” teriak mandor-mandor kuli. Pecut diayunkan, tubuh-tubuh kurus dan kurang makan kami, tersungkur di kubangan. Hari gajian telah tiba. Berdenceng recehan, bergambar ratu Belanda. Gemetar tangan-tangan kurus kami menerimanya. “Kamu boleh berjudi,” kata Menir, “Kalau uangmu habis, kamu bisa kontrak lagi, kamu boleh terus jadi kuli,” kata raja-raja muda, sambil menghitung Gulden hasil sewa tanah moyangnya. Terus dan terus. Siklus penghisapan, siklus penindasan: berputar bagai lingkaran karma.

Di tengah keputusasaan dan ketertindasan, ada kabar gembira. Seorang pemuda membela kami dan berkata, “Indonesia Menggugat.” Dia menyebut dirinya Putra Sang Fajar. Kami termangu, “Apakah ini benar pembela kami atau bentuk penindasan baru ?”, Kamipun mengikutinya, mendengar seruannya untuk melawan dan mengangkat senjata. Atas nama Indonesia Merdeka kami kembali harus berkorban dan dikorbankan. Kecurigaan pun timbul, ketika sang pemuda ini tak sesaatpun memanggul senjata. Benar juga, dia menempati istana yang ditinggalkan pergi sang penjajah. Dia memberi kami makan dari pidato-pidato politik dan bukan roti. Karenanya dimanakah kesejahteraan yang dijanjikan itu ? Kini, kami atas nama partai, atas nama ideologi harus bertempur dengan saudara sendiri. Yang kami sendiri mengenalnya dengan baik. Pertanyaan kami tak pernah digubris, “Mengapa atas nama ideologi, mazhab dan aliran kami harus menganggap satu sama lain sebagai musuh ?”. Kalau dulu kami bekerja membangun candi-candi dan kuburan, sekarang kami bekerja untuk sistem, kekuasaan dan istana-istana yang dipelihara melalui kerja keras kami. Kekayaan harus kami kumpulkan, namun yang kami dapatkan adalah potongan terkecil. Atas nama pembangunan, ladang-ladang kami direbut, rumah-rumah kami digusur. Atas nama stabilitas nasional dan hukum kami ditangkapi dan ditembaki. Tidak ada bedanya dengan sebelumnya. Kami tetaplah budak, tetaplah babu dan kuli buat para majikan. Dan tiba-tiba saja, seakan-akan datangnya dari langit, ia berkata, janjiku, pendidikan dan kesehatan gratis. “Kalian tak butuh biaya, tak butuh ongkos, kesejahteraan telah di depan mata.” Kami tidak peduli dengan kata-kata itu, bukankah ini hanyalah bentuk tipuan baru ? “Bagaimanapun esok tidak ada istrahat buat kami, dan harus tetap bekerja.”

Terus dan terus. Siklus penghisapan, siklus penindasan: berputar bagai lingkaran karma

 

 

 

 

Sayup-sayup kami menaruh harapan dari bacaan anak-anak kami di surau-surau terpencil, Anak-anak kecil berkopiah kebesaran membaca kitab yang katanya suci, disana tertulis, “Dan Kami bermaksud memberikan karunia kepada orang-orang yang ditindas di bumi. Akan Kami jadikan mereka pemimpin dan pewaris bumi ini.” (Qs. Al-Qashas : 5).

Kuli, buruh, babu …kata TUHAN, untuknya bumi ini diwariskan. Kami percaya Tuhan tak sebagaimana mereka, yang hanya bisa berjanji ?

Di Hari Buruh… dst Selamatlah engkau wahai para buruh… -1 Mei-

 

 

 

 

 





Sastra dan Perlawanan: Membangkitkan Kembali Sastra Profetik

27 04 2008
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang/suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan/dituduh subversif dan mengganggu keamanan/maka hanya ada satu kata: lawan!
Dalam membaca karya sastra, khususnya puisi. Mayoritas penikmat sastra mendambakan dari hasil bacaannya terkecap keindahan. Teresapi pendar-pendar aroma estetika. Oleh karena itu, banyak penyair berusaha menuangkan harmoni kata yang indah dalam setiap karya puisi mereka. Dalam puisi kita mengenal stigma yang dipakai oleh banyak orang bahwa memuat berbagai kata imajinatif merupakan syarat mutlak dalam puisi. Namun hal ini tidak berlaku oleh beberapa penyair yang menjadikan karya sastra sebagai medium perlawanan terhadap realitas yang timpang. Mereka merasa cukup dengan bahasa yang sederhana. Kata-kata diupayakan menciptakan keutuhan sajak. Lihat saja penggalan puisi dari Wiji Thukul di atas yang berjudul ”Peringatan” (1986). Sebuah jenis puisi dimana fakta, pengalaman atau memori intim seorang penyair diungkapkan apa adanya dalam kesederhanaan bahasa leksikan-gramatikal sehari-hari yang lugas dan tidak rumit. Jenis puisi atau sajak semacam ini oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri dinamakan sebagai ”sajak terang”. Sebab maksud dari puisi tersebut sangat transparan dan nyata.
Puisi Wiji Thukul disini hanyalah contoh kecil dari sebuah karya sastra yang tercipta dari kesadaran menjadikan seni sebagai media perjuangan terhadap kesewenang-wenangan. Wiji Thukul pernah memenangkan penghargaan Werdheim, sebuah anugerah bergengsi untuk karya-karya kemanusiaan. Puisi-puisinya memperoleh pujian, meski ia mengatakan tak pernah menulis puisi untuk menang perlombaan. ”Meski para seniman masih memperdebatkan hubungan halal atau haram antara seni dan politik, tapi kami memutuskan untuk hidup dan berkesenian di tengah perlawanan rakyat yang kehilangan hak-haknya di masa Soeharto”. Ungkapnya, ketika ditanyakan alasan yang mendasari lahirnya puisi-puisi yang ditulisnya.

Berjuang Lewat Sastra

Seno Gumira pernah mengatakan “Ketika Jurnalisme di bungkam, Sastra Harus Mengungkapkan Kebenaran.”. Benarkah sastra memiliki tugas suci seperti itu ? Bisa jadi benar. Malah Mohamad Sobary menilai sastrawan adalah da’i yang baik. Sastrawan di matanya (seharusnya) mampu mengiklankan keluhuran Tuhan dan segenap Nabi-nabi-Nya serta para pendukung nilai luhur lainnya, sehingga keluhuran tersosialisasi dengan baik di masyarakat. Manusia dituntut untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’aruf itu memanusiakan manusia, sedangkan nahi munkar itu pembebasan, dan beriman kepada Tuhan itu transendental. Dalam konteks kesusastraan Indonesia, sastra religius menggenapi isu sastra yang ada. Sastra religius mengambil tema-tema keagamaan yang variasinya amat banyak. Menurut Kuntowijiyo, sesungguhnya semua sastra punya bobot religiusitas, asal dilihat dari pandangan teologis dan metafisis.
Kuntowijoyo menggagas jenis genre baru dalam sastra dan menyebutnya sebagai sastra profetik. Sastra yang menurutnya melanjutkan tradisi kerasulan. Sebab agama dihadirkan untuk membangun peradaban ummat manusia yang berwatak profetik. Dalam artian agama datang untuk mengubah secara radikal tatanan sosial kultural mapan yang opressif, yang membuat manusia terbelenggu, saling melindas dan tak jelas arah sejarahnya. Sehingga ummat manusia mencapai tingkat teratas peradabannya sebagai makhluk yang berakal dan berbudi.
Sastra profetik, menurut penulis mesti dikembangkan oleh kalangan pemerhati dan penikmat sastra generasi saat ini. Kuntowijoyo, Wiji Thukul, W.S Rendra dan beberapa penyair lainnya dengan sastra profetiknya telah menanamkan dan memperkaya cakrawala sastra religius yang lebih membawa pencerahan dan tidak melulu lebih sibuk mengurus hablumminallah (melangit) dan mengabaikan hablumminannas (membumi). Dan, sastra profetik lebih jelas kualitasnya dan kekuatan moralnya daripada sastra yang melulu membincang selangkangan.
Lewat sastra profetik, penyair dapat mensosialisasikan penyataan sikapnya. Sikap perlawanan terhadap setiap penindasan yang menginjak-injak kemanusiaan, pemberontakan kultural terhadap setiap ketidakadilan, perjuangan untuk mewujudkan nilai-nilai sejati yang telah lama mati, penyadaran manusia Indonesia yang mengalami situasi acak (chaos) yang cukup akut sehingga terbatah-batah untuk menjelaskan diri sendiri. Penyair-penyair profetik tidak menulis puisi dari ilusi-ilusi fantasianisme, atau dari dunia bawah sadar. Sebaliknya mereka menulis puisi dengan berakar pada persoalan sehari-hari, persoalan yang ada di depan matanya. Mereka menuliskan puisi dengan penuh kesadaran, kesadaran akan adanya penindasan, akan adanya struktur-struktur riil ketidakadilan, akan adanya epikolonialisme.
Mereka bertindak sebagai ”penyaksi” yang berhadapan dengan cermin realitas yang bobrok. Dan, Thukul adalah salah seorangnya. Sajak-sajaknya terkesan sederhana, diksi-diksi yang dipakai sangat biasa, bahkan lumrah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Lewat kata-kata yang umumnya kita jumpai, Thukul seperti mencoba untuk menarik sebuah busur yang baru, dengan memosisikan dirinya sebagai yang terlibat di dalam (insider). Puisi-puisi yang ditulisnya menampakkan wajah protes yang meluap, pertanyaan-pertanyaan satire, mengapa dalam peristiwa politik kehidupan bernegara rakyat kecil yang melulu menjadi korban. Melalui puisi ia berjuang, sekadar melakukan ”penggugatan”. Dan perjuangan Thukul tidak hanya sebatas diksi dalam puisi, melainkan juga melebar dalam kegiatan nyata, di mana ia juga bergabung dalam sebuah gerakan yang memperjuangkan kebebasan orang-orang sipil bersama mahasiswa.
Dari sini benarlah apa yang pernah dikatakan H.B.Jassin. Semestinya sastra menempatkan posisi sebagai penyaksi zaman dengan prinsip humanisme universal-nya. Bangsa saat ini butuh sastrawan yang tidak asyik sendiri, tetapi mampu mencipta karya yang menghargai kualitas dan mempertinggi harkat hidup kemanusiaan. Meskipun sejarah mencatat, mereka yang melakukannya, terkadang harus mengecap penderitaan. Kita tahu bagaimana Rendra sempat tinggal di balik jeruji, dan dilarang untuk membaca puisinya. Bahkan Wiji Thukul telah menjadi korban kebengisan orde yang paranoid terhadap karya sastra. Tukul dinyatakan hilang 27 Juli 1996 dan belum diketahui riwayatnya hingga kini. Membaca kisah Tukul, mengingatkan saya pada seorang penyair Bulgaria yang mati dieksekusi di muka regu tembak rezim fasis negerinya. Penyair ini bernama Nikolai Vaptsarov. Ia mati muda dalam usia 32 tahun. Vaptsarov seorang pejuang bagi rakyatnya, sama seperti Wiji Thukul. Tapi, jarang ada yang tahu bahwa mereka berjuang dan melawan bermula lewat bait-bait sajaknya. Sebuah sastra profetik.
Salam Perlawanan !!!





Seorang Buruh Masuk Toko

25 04 2008

masuk toko

yang pertama kurasa adalah cahaya

yang terang benderang

tak seperti jalan-jalan sempit

di kampungku yang gelap

sorot mata para penjaga

dan lampu-lampu yang mengitariku

seperti sengaja hendak menunjukkan

dari mana asalku

aku melihat kakiku – jari-jarinya bergerak

aku melihat sandal jepitku

aku menoleh ke kiri ke kanan – bau-bau harum

aku menatap betis-betis dan sepatu

bulu tubuhku berdiri merasakan desir kipas angin

yang berputar-putar halus lembut

badanku makin mingkup

aku melihat barang-barang yang dipajang

aku menghitung-hitung

aku menghitung upahku

aku menghitung harga tenagaku

yang menggerakkan mesin-mesin di pabrik

aku melihat harga-harga kebutuhan

di etalase

aku melihat bayanganku

makin letih

dan terus diisap

Oleh : Wiji Thukul 10 september 1991