Buku dan Orang-orang Besar

17 05 2008
(Refleksi Hari Buku Nasional)
 
Setahu saya, tidak ada yang lebih membuat seseorang lebih dikenal dan menjadi besar kecuali lewat transkrip-transkrip pemikiran yang dituliskannya pada berlembar-lembar kertas yang kemudian kita menyebutnya buku. Tidak bisa dipungkiri, kehidupan kita bisa jadi lebih mudah dengan ditemukannya alat-alat teknologi yang dikekinian semakin canggih dan beragam, ataupun banyak nyawa-nyawa kritis yang terselamatkan dengan semakin modernnya tekhnik pengobatan. Namun adakah yang bisa membendung dan menyembunyikan nama besar seseorang yang terlahir lewat buku ?. Bukankah nama-nama penemu dunia justru kalah populer dibanding para penulis buku ?. Setiap saya berbicara tentang buku, ingatan saya tidak bisa lepas dari Muhammad Hatta. Orang besar yang dimiliki bangsa ini pernah menulis, “Selama aku bersama buku kalian boleh memenjarakanku di mana saja; sebab dengan buku pikiranku tetap bebas.”
Lewat tulisan yang dimuat dalam buku Memoir yang ditulisnya sendiri, Muhammad Hatta ingin menunjukkan betapa ia sangat mencintai buku. Bentuk cintanya, tidak hanya dengan membacanya, namun juga membuat buku sendiri. Alam Pikiran Yunani adalah bukti konkret betapa ia memiliki kecintaan yang meluap-luap, sekaligus membuktikan bahwa pikirannya benar-benar bebas merdeka meskipun tubuhnya terpenjara. Buku ‘Alam Pikiran Yunani’ ditulisnya selama mendekam di Digul 1934 dan berlanjut di Pulau Ende pada 1936.  Dari penjaralah,  “Alam Pikiran Yunani” lahir.
Di sini Hatta tidak sendiri. Saya kira setiap pemimpin pergerakan dan orang-orang yang kemudian hari menjadi besar itu tidak pernah bisa jauh dari buku. Buku bagi mereka adalah nyawa. Adalah nafas panjang. Itulah sumber energi yang menggerakkan tubuh dan jiwa mereka. Dengan membaca, bagi orang-orang seperti Soekarno, Hatta, Soetan Syahrir, Muhammad Yamin, Tan Malaka sampai Amir Syarifuddin  tidak pernah merasa terpenjara dan perlu merasa takut. Lihat saja fragmen terfakhir dari perjalanan hidup Amir Syarifuddin, perdana menteri kedua dalam sejarah Indonesia setelah Syahrir.  Beberapa jam sebelum di ekseskusi mati di Solo –karena terlibat dalam peristiwa Madiun 1948- perwira yang bertugas menjaganya bertanya apa permintaan terakhirnya. Ia menjawab dengan meminta buku. Maka disodorkanlah buku Romeo and Juliet karangan William Shakespeare, dan selanjutnya dikisahkan, Amir menghabiskan detik-detik terakhirnya membaca buku dengan tenang sebelum ditembak mati.
Ini hanyalah salah satu fragmen sejarah bangsa yang menunjukkan adanya hubungan yang akrab antara revolusi Indonesia dengan buku.  Karenanya tidak berlebihan kalau Zen Rahmat Soegito mengatakan bahwa Indonesia didirikan diantaranya oleh orang-orang pecinta, pembaca dan penulis buku.  “Banyak sekali fragmen sejarah yang bisa menggambarkan hal itu”, tulisnya.
Sebagaimana yang dikatakan Hatta, pikiran tidak pernah terpenjara. Begitu pulalah Kartini. Dalam kondisi dipingit  di ‘sangkar’ kadipaten ia belajar autodidak. Majalah atau koran terkenal seperti Maatschappelijk werk in Indie, De Gids, De Hollandsche Lelie, De Locomotief sampai karya Multatuli berjudul Max Havelaar di lahapnya. Dengan bacaan-bacaan ini ia menuliskan karya-karyanya, tidak hanya buku Door Duisternis Tot Licht (Usai Gelap Berpendarlah Terang) sebagaima yang telah dikenal tetapi juga tercatat ada dua buku kebudayaan, yakni Het buwelijk bij de Kodjas (Upacara Perkawinan pada Suku Koja) dan De Batikkunst in Indie en haar Geschiedenis (Kesenian Batik di Hindia Belanda dan Sejarahnya). Buku yang kedua ini yang membawa ukiran Jepara melanglang ke pelbagai penjuru dunia.
Dengan karya-karya itu, maka Kartini bukan hanya pejuang emansipasi yang lebih dikenal dengan kebayanya, tapi juga ibu epistolari –meminjam istilah Muhidin M. Dahlan- yakni ibu penulis.
Negeri Para Penulis
Kalau Kartini menulis pergulatan pemikirannya dalam bentuk surat dan dikirimkan ke 12 korespondesinya di Belanda. Sjahrir menulis renungan-renungannya dan dikirimkan kepada istrinya di Belanda, Maria Duchateau. Surat-surat inilah yang kemudian terbit dalam bentuk buku dengan judul Indonesische Overpeinzingen (dalam edisi Indonesia berjudul Rantau dan Perjuangan). Inilah renungan kebudayaan paling cemerlang yang pernah ditulis oleh seorang anak bangsa. Buku ini menunjukkan keluasan erudisi seorang Sjahrir. Ia mampu meletakkan setiap pokok gagasan dalam konteks alur perkembangan sejarah intelektual dunia. Sjahrir mampu menjelaskan hubungan antara satu filsuf dengan filsuf yang lain, dari Johan Huizinga, Dante, Dostoyevski, Benedotte Croce hingga Nietzche. Tidak adil kalau saya tidak menyebut nama Tan Malaka sebagai yang termasuk penulis kawakan yang dimiliki bangsa ini. Bahkan bagi saya ia harus berada  dalam deretan teratas. Ketangguhannya dalam menulis benar-benar telah teruji. Produktivitas dan staminanya betul-betul tanpa tanding. Penjara, pengasingan, pembuangan dan penyakit akut tak akan pernah mampu membuatnya berhenti menulis. Hanya kematian yang bisa menghentikannya menulis. Coba anda bayangkan, di tengah situasi yang begitu berbahaya pada masa kekuasaan Jepang, Tan Malaka masih mampu menerbitkan sebuah buku dahsyat berjudul Madilog. Tan Malaka menulis Madilog dalam situasi yang sangat terbatas, tanpa referensi, seluruh kutipan diambil dari ingatannya belaka, dengan bahan tulis yang terbatas dalam persembunyiaannya, memaksanya menulis Madilog dengan huruf-huruf yang sangat kecil. Madilog berbicara nyaris tentang semua aspek kehidupan, dari mulai filsafat, ekonomi, kebudayaan, sosiologi, sejarah hingga sains modern. Bukunya menunjukkan betapa hebatnya ia sebagai orang asia, sebagai orang timur dan sebagai orang Indonesia . Dan orang ini pula yang dalam pekik perang kemerdekaan, dalam suasana perang mempertahankan kemerdekaan, masih sempat-sempatnya menerbitkan buku yang berjudul Moeslihat. Bahkan dalam pemenjaraan yang tak jelas selama periode 1946-1948, Tan Malaka tetap meneruskan aktivitas intelektualnya. Di penjara itulah Tan Malaka, di antaranya, menulis From Jail to Jail atau Dari Penjara ke Penjara. Hanya peluru tentara republiklah yang kemudian menghentikan aktivitas menulis Tan Malaka. Soekarno sebagai Presiden pertama republik inipun tidak pernah bisa lepas dari kerja-kerja intelektual, membaca dan menulis. Meski negara yang dipimpinnya tengah mengalami kondisi politik dan ekonomi yang porak-poranda ia masih sempat juga  menulis dan menerbitkan buku Sarinah, Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia , 1947.
Karenanya, tidak berlebihan jika menyebut Negara ini dibangun dan diperjuangkan oleh orang-orang yang memiliki kecintaan terhadap buku yang melimpah.
Tradisi cinta buku tidak bolehlah mati. Dan yang paling bertanggung jawab adalah orang-orang melek huruf di negeri ini. Meskipun dihantui data angka buta aksara mencapai 18,1 juta dan minat baca masyarakat yang bahkan lebih rendah dari Vietnam . Kita tidak bolehlah pesimis. Sebab bukankah kita patut berbangga Presiden SBY melanjutkan tradisi cinta buku orang-orang besar terdahulu di negeri ini. Setidaknya beliau telah meluncurkan buku yang memuat kumpulan pidato dan pernyataannya, berjudul Indonesia on the Move.  “Membaca adalah investasi, solusi, dan dapat mengubah nasib dan masa depan”, pesannya.  Dan bukankah gubernur kita seorang penulis buku  yang otomatis memiliki rasa cinta yang bukan main-main terhadap buku ?. Kita tunggu perealisasian kebijakan mereka, untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat. Ini penting untuk dilakukan sebab -mengutip Hernowo- “Buku telah membuktikan kepada dunia bahwa dirinya mampu membuat peradaban dapat bertahan dalam kebaikan atau, bahkan terus meningkat menjadi sesuatu yang lebih baik”. Semoga lebih  cepat dari yang kita duga.
 
Ismail Amin, penikmat buku sedang belajar di Hauzah Ilmiyah Qom Iran .




Apa Kabar Pendidikan Nasional ?

2 05 2008
Andreas Harefa dalam sebuah media pernah menuliskan, “…hanya ada dua respon yang kita berikan ketika membicarakan pendidikan di negara ini, menangis atau gila !”. Fakta dan realitas membuktikan pendidikan di Indondesia mengalami teori Evolusi Regresif. Artinya umat manusia berkembang kearah keburukan. Dan bukannya Evolusi Progresif. Makin lama makin baik, makin cerdas, makin berilmu,makin cemerlang. Andreas Harefa memberikan ilustrasi menarik, ia membandingkan dirinya dengan Soe Hok Gie, mahasiswa angkatan 1966 yang luar biasa cerdas. Di usia yang terbilang muda Gie telah berani berdiskusi dengan Sudjatmoko, Jakob Sumardjo bahkan berdebat dengan Soekarno. Gie tidak hanya pandai di bidang sejarah yang merupakan basis keilmuannya, tapi juga piawai dalam bidang sastra, politik dan penguasaannya terhadap teori-teori ekonomi yang membuatnya sadar ada ketidakberesan dan ketidakbecusan dalam pengelolaan negara. Itulah kemudian yang membuatnya kemudian berani mengambil sikap untuk memilih menjadi idealis -sebagaimana yang pernah ditulisnya- sampai batas sejauh-jauhnya. Andreas mengakui betapa bodohnya dia jika dibandingkan dengan Soe Hok Gie. Dia mahasiswa angkatan 1980-an ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Gie yang angkatan 1960-an.

Saya sendiri senang membaca buah pemikiran Andreas Harefa. Ide-ide yang dicetuskan sejak dia masih mahasiswa ditahun 1980-an baik dari buku-buku yang telah diterbitkannya maupun lewat website Manusia Pembelajar yang dikelolanya . Saya mahasiswa angkatan 2000-an mengaku gemetar membaca transkrip-transkrip pemikirannya. Dan menggigil luar biasa ketika membaca Catatan Demonstrannya Gie.

 

Manusia seperti apa keduanya ?

Dari sini timbul kegelisahan itu. Ada apa dengan pendidikan kita ? Mengapa Universitas, Sekolah Tinggi atau Akademi amat jarang ‘mencetak’ manusia-manusia yang berkarakter dan mandiri, semisal Andreas Harefa yang sampai merasa tidak perlu menyelesaikan kuliah ?. Atau Gie yang memilih untuk terasing. Belum lagi kalau kita mau mempersoalkan betapa tidak berperannya Universitas dalam upaya pencerdasan masyarakat. Malah yang terjadi lembaga pendidikan tinggi dikontrol kepentingan modal dan birokrasi negara. Dari puluhan ribu sarjana lulusan tiap perguruan tinggi tiap tahunnya, tidak lebih dari 0,1 % yang mau melibatkan diri dalam proses pengembangan pikiran kolektif untuk melawan Neoliberalisme dan segala turunannya yang berupa kebijakan-kebijakan.

Sudahlah, kita tidak usah berharap banyak pemerintah mencerdaskan kita -untuk memenuhi pasal UUD 1945 saja tentang dana pendidikan 20% dari alokasi APBN sangat kepayahan- mari kita cerdaskan diri sendiri, dengan menciptakan suasana belajar dimana dan kapanpun. Sebagaimana falsafah Freiran, semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah. Betapapun mengecewakannya pendidikan negara kita sampai saat ini, saya tidak lupa mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional, meskipun sambil tersipu malu.

 

 





Menyeka Air Mata Wisudawan Kita

28 04 2008

  Lewat kolom Tanda-Tanda Zaman, di Majalah Basis edisi Juli-Agustus 2000, ‘warisan’ Dick Hartoko, Shindunata menegaskan bahwa, “Pendidikan Hanya Menghasilkan Air Mata.” Tentu saja penegasan ini ada benarnya, cuman persoalannya air mata seperti apakah yang mengalir menatap pendidikan kita sekarang ? Sebagai salah satu Perguruan Tinggi, dari rahim UNM hari ini (30/4) terlahir ribuan sarjana sebagai hasil reproduksi (input-proses-produk) pendidikan. Air mata seperti apakah yang mengalir dari pipi mereka? banyak hal yang diwakili air mata kita. Terkadang air mata menetes karena rasa bahagia yang tak tertahankan, air mata seperti itukah melihat diwisudanya produk perguruan tingi kita ? atau justru air mata yang mengucur deras karena penderitaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Air mata yang jatuh karena para orang tua mereka yang membanting tulang, bekerja keras demi menyekolahkan anak-anaknya, demi membiayai pembangunan sebuah kotak lengkap dengan instrument-instrumentnya yang kemudian kita sebut sebagai kampus atau universitas ? berapa banyakkah tanah, kerbau dan semacamnya yang tergadai demi semua itu ? pasrah begitu saja dengan ‘mitos’, pendidikan itu mahal. Ataukah air mata yang jatuh oleh para anak muda (baca: mahasiswa) yang kehidupannya terpasung selama bertahun-tahun. Yang kehilangan keunikannya karena diwajibkan menyesuaikan diri dengan apa yang berlaku. Yang menyebabkan mereka tenggelam dalam konformisme. Konformisme itulah yang berbahaya karena mematikan identitas diri mereka. Ya, agar tidak dikatakan berbeda dengan kebanyakan. Masalahnya kita telah terbiasa dengan penyeragaman, kita tak mau berbeda dengan yang lain, padahal hikmah dari perbedaan itu tak ternilai harganya. Sebagaimana yang dikatakan Asdar Muis, “Penyeragaman membuat kita menjadi manusia-manusia yang kehilangan baju”. Ataukah air mata penyesalan yang menetes pelan dari pipi orang tua-orang tua mereka, melihat anak yang tak lagi dikenalnya ? anak yang tahu benar tentang keluhuran cuman tak pandai untuk menerapkannya. Terjaga dengan urusan akademis tapi terlelap tentang realitas kehidupan. Tak ada yang namanya kritis tentang fenomena yang ada. Bersikap egoistis dan sedikit pesimis karena telah terlatih bertahun-tahun di Kampus yang telah menjadikan anaknya sebagai sekrup mekanisme yang taat. Bermental babu dan tak punya kemerdekaan kesadaran. Siapa yang mungkir dari fenomena terjajahnya mahasiswa, dengan adanya just do it, don’t even think ? tak pernah diajar berpikir yang diajarkan hanyalah mengerjakan tugas-tugas, makalah-makalah yang yang saking banyaknya seringkali menghina akal sehat. Mereka diajarkan menghafal, bukan diajarkan belajar, yang diajarkan berhitung tanpa diajarkan apa yang mesti diperhitungkan. Diajarkan untuk pandai mencari majikan sekaligus menjadi bawahan yang super taat. Tak ada mata kuliah keterampilan untuk pengembangan diri, yang ada kurikulum pembentukan manusia-manusia siap pakai. Begitulah, kebanyakan perguruan tinggi menjadikan dunia kerja sebagai tujuan utama. Alhasil sense of belonging terhadap ilmu itu sendiri minus sekali, atau bahkan nyaris tak terdengar. Belajar yang seharusnya aktuasi alami berubah menjadi, “Let’s do it and finish the job” – Ayo kerjakan dan selesaikan pekerjaan ini-. 
Apa yang didapat dari Universitas ?
            Dengan realita ini, perguruan tinggi bukan lagi tempat proses pendidikan tetapi melatih anak bangsa menjadi produk-produk yang tidak jauh beda dengan robot-robot yang digerakkan dengan remot kontrol (demikian jika meminjam bahasa-bahasa Ivan Illich atau Paulo Freire tentang dunia pendidikan). Mereka yang diajarkan tentang agama (puas dengan 2 sks) sekaligus diseret untuk mendurhakai-Nya.Para mahasiswa lebih sering diajar menghafal dibanding diajar belajar. Katanya pendidikan tetapi yang ada bukannya suasana pertukaran ide-ide yang ada pendiktean ide-ide. Bukan perdebatan atau pendiskusian tentang tema-tema yang ada pentransferan ilmu yang ‘mutlak’ kebenarannya. Beda sedikit dengan dosen dianggap melawan. Benar ! intelektualitas mahasiswa diberangus atau dibredel oleh dosen-dosen yang serba tahu, ruang kuliah lebih mirip ruang indoktrinasi dan pemaksaan konsep. Materi kuliah pendidikan didominasi dengan tekhnik-tekhnik pengajaran dengan tugas-tugas makalah dan penelitian yang kemudian hanya ditumpuk dan bukannya diskusi-diskusi mendalam mengenai hakekat proses pembelajaran dan pendidikan. Bahwa belajar tentunya bukan sekedar menghafal berbaris kata dari diktat atau catatan. Tentu saja bukan menelan bulat-bulat semua fatwa pengajar. Tetapi meresapi bahwa belajar bagaimana berbuat (learn to do) jauh lebih penting dari belajar menghafal. Bukankah demikian ?
  Ataukah yang mengalir adalah air mata penuh ketakutan, menatap hari esok? Seperti yang selama ini dipertontonkan oleh kebanyakan mahasiswa, yang ‘fasih’ menipu, yang lihai berbuat culas demi mendongkrak IP yang jongkok. Pengkhianatan intelektual adalah imbas dari ketakutan-ketakutan. Takut nilainya rendah, takut tidak lulus, takut miskin, takut tak punya pekerjaan, dan ketakutan-ketakutan itu yang mengajarkan kemunafikan dan pengkhianatan intelektual. Kalau benar seperti itu, hasilnya bisa ditebak, berdiri dihadapan para wisudawan sama halnya melihat ribuan pecundang yang tak memiliki kepercayaan diri. Mereka yang didoktrin bahwa gelar akademis adalah satu-satunya yang harus ditempuh untuk mengubah nasib mereka, terutama mahasiswa dengan background kemiskinan. Data terpaparkan, lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan di Indonesia _+ 250.000-350.000 orang pertahun. Dari jumlah itu, hanya sekitar 90.000 yang terserap ke sektor formal dan sisanya menganggur atau bekerja di sektor informal. Hal ini, jelas, menandakan bahwa semakin banyak sarjana justru tidak mengindikasikan negara semakin makmur. Justru sebaliknya, semakin banyak sarjana, semakin tinggi pula tingkat pengangguran. Para sarjana itu bekerja di sektor informal bukan karena keinginan mereka, namun karena keadaan yang memaksa dan keterbatasan lapangan kerja. Hasil survei angkatan kerja nasional BPS tahun 2007 mencatat pengangguran 10,5 juta (9,75%). Dari jumlah total pengangguran tersebut, tercatat 740.206 orang atau 7,02% adalah mereka yang pernah mengenyam pendidikan di universitas, diploma, akademi ataupun pendidikan sejenis yang sederajat. Artinya, kini terdapat jutaan kaum intelektual yang menjadi pengangguran terbuka. Sebuah fenomena sosial yang tentu jauh dari harapan orang tua. Bila anaknya, setelah menghabiskan biaya besar untuk kuliah hanya akan menjadi pengangguran. Padahal untuk sukses tidak identik dengan gelar, bukankah Bill Gates, Lawrence Ellison, Paul Allen, orang-orang terkaya dunia yang drop out dari kampusnya masing-masing ? air mata ketakutan itukah yang mengalir ? takut menghadapi persaingan dalam kehidupan yang sesungguhnya. Kalau air mata semacam itu yang mengalir dari wisudawan kita, izinkan saya menangisi mereka. Jika benar demikian, berarti saya ‘terpaksa’ mengakui ‘tesis’ Robert T. Kiyosaki bahwa, “Sekolah tidak lain hanya mengajarkan ketakutan-ketakutan”, Kalau benar seperti itu, saya berani menyimpulkan kampus adalah tempat yang paling efektif dalam mengkerdilkan iman dan cara berpikir. Sebagai sebuah lembaga pendidikan, (mestinya) out put dari Perguruan Tinggi adalah orang-orang yang berhasil menemukan kemanusiaannya, menciptakan manusia yang berkesadaran dan mampu meningkatkan taraf hidupnya, dengan ide dan kreativitas yang flaw. Bukan justru yang disibukkan dengan ketakutan-ketakutan. Semoga bukan air mata itu. Tentu saja kita berharap yang mengalir dari pelupuk para wisudawan kita (begitu juga orangtuanya) adalah air mata bahagia, penuh haru sembari berujar “Selamat Datang Tanggung Jawab”, sebab falsafah seorang intelektual bukan hanya mencerdaskan diri tapi juga masyarakat. Yang menjunjung tinggi moralitas dan menjadikan kejujuran dan kebenaran sebagai nafas kehidupan. Agar saya punya dalih untuk membantah prasangkaan ‘buruk’ Y. B Mangun Wijaya, “Lihat saja, para mahasiswa itu sekeluarnya nanti hanya akan membodohi rakyat dengan modal kepintaran mereka..!!!”. Ya, saya berharap banyak kepada para wisudawan kita. Bangsa ini sudah teramat merindukan generasi yang tegar, penuh semangat dan berjiwa besar. Yang punya kemerdekaan kesadaran, siap menanggung resiko separah apapun demi kesetiaan terhadap idealisme yang selama ini diperjuangkan. Kini, kita hanya bisa membayangkan dan mencoba meresapi semangat mereka. Akh, semoga saja kita punya waktu dan kemampuan untuk menghayati dan serius berbuat serentak, agar dengan begitu sayap jiwa yang lemah dapat kembali mengepak dan terbang dengan gagahnya di atas cakrawala kehidupan. Alhasil kaum intelegensia memikul “hutang sejarah” untuk mengamalkan pengetahuan yang telah dikunyah-kunyah. Agar ia tidak berlalu begitu saja tanpa pesan dan kesan. Jika hutang itu tidak jua dilunasi, ia kelak menjadi bayang-bayang hitam yang mengganggu ketentraman batin. Tulisan ini mengajak kita gelisah dan resah ilmiah. Semoga ia berguna menjadi patron bagi kita tentang frame of reference dan field of experience dalam kancah pergulatan ilmu pengetahuan. Kita -karenanya- wajib ragu akan kemampuan mendedikasikan amanah ilmu dalam wujud amalan nyata. Agar apa yang diperbuat hari ini bisa digugu dan ditiru generasi mendatang. Seperti ungkapan A’a Gym: tiada hari tanpa mencari ilmu dan program mengamalkannya. Bukannya mencari ilmu hanya sekedar untuk bekerja mencari uang melainkan untuk memanusiakan diri untuk lebih manusiawi. Insya Allah, ketika air mata yang mengalir adalah air mata ketawadhuan (sebagaimana mestinya orang-orang berilmu), saya ingin menyekanya dengan ibu jari saya dengan penuh kekaguman.

Dedicated buat kekasihku tercinta HARYATI S.Pd, yang harus banyak mengeluarkan airmata, 
akhirnya kau meraihnya juga.  




Benarkah Kita Bangsa yang Bodoh ?

20 04 2008

Taufik Ismail, sastrawan dan Budayawan besar yang dimiliki bangsa ini ternyata tidak cukup hanya dengan malu sebagai seorang Indonesia, namun juga telah mengambil kesimpulan bangsa ini sudah diambang kehancuran. Pernyataan inipun dipertegas oleh beberapa intelektual, sastrawan, budayawan serta yang mengaku sebagai pejuang demokrasi. Ceramah-ceramah di mimbar dan halaman-halaman koran mengutip makian dan kutukan mereka. Data-datapun dipaparkan; jumlah resmi orang miskin 39,5 juta jiwa. Angka yang fantastis untuk sebuah negara yang telah merdeka 62 tahun lebih. DiAsia Tenggara indeks pembangunan manusia Indonesiamenempati posisi ke-7 di bawah Vietnam. Negara kitapun masuk Guines Book of Record karena menjadi negara perusak hutan tercepat di dunia. Walaupun telah gundul, masih saja terjadi penebangan liar yang merugikan negara sekitar USD 2 Miliar. Dengan seringnya terjadi kecelakaan transportasi beruntun dinegara kita, pemerintah AS mengeluarkan anjuran kepada warganya untuk tidak bepergian menggunakan maskapai penerbangan Indonesia. Indonesia duduk di ranking 143 dari 179 negara di dunia menurut Transparency International (IT) 2207 dengan Indeks Persepsi Korupsi(IPK) 2,3. Dengan indeks ini Indonesia sejajar dengan Gabia dan Togo dan kalah bahkan oleh Timor Leste. Pemerintah kitapun terengah-engah untuk menjaga sebuahkedaulatan, Malaysia tidak hanya berani merebut duapulau Indonesia namun juga mengklaim Lagu “RasaSayange” dan alat musik angklung sebagai milik mereka. Harian Jawa Pos (10/4) melansir berita, “Kita inisudah miskin, otak ngeres pula”. Dengan paparan data,Indonesia pengakses situs porno ranking ke-7 dunia.4.200.000 situs porno di dunia, 100.000 diantaranyasitus porno Indonesia. 80% anak-anak 9-12 tahunterpapar pornografi. 40% anak-anak kita yang lebihdewasa sudah melakukan hubungan seks pranikah. Dansetiap hari kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD satu-satu atau ramai-ramai. Kitapun bahkanpernah dikejutkan dengan data 97,05 % mahasiswi sebuahkota besar telah kehilangan keperawanannya. Salahkahmengajikan data dan fakta ini ?. Tentu saja tidak.Sebab kenyataan harus selalu dikabarkan. Namun bagisaya adalah kesalahan kalau hanya sekedar mengutuk danmencecerkan aib sendiri lalu kemudian pesimis dantidak berbuat apa-apa. Bahkan saya melihat adakecenderungan untuk diakui sebagai pakar ataupunaktivis harus lebih dulu berani menyematkanstigma-stigma buruk pada bangsa kita ini. Kalau orang asing menghina kita sebagai bangsa yang terbelakangdan bodoh, maka kita harus mengamini dan memaparkanbukti bahwa bangsa kita memang terbelakang. Tidak bisa kita pungkiri, kenyataan menyedihkan ini kita temukandalam dunia intelektual kita. Untuk disebut intelektual, sastrawan, budayawan dan pakar yangkritis harus berani mencari aib bangsa sendiri untukdibeberkan kepada orang asing. Apa ini namanya kalaubukan pengkhianatan ?. Tidakkah kita melihat ada tujuan-tujuan politis dibalik stigma-stigma buruk yang disematkan negara lain pada bangsa kita ?. Tidak sedikit negara yang lebih tertinggal dari Indonesia namun masih bisa membusungkan dada dan disegani didunia internasional karena mereka punya harga diri dan berusaha menjaganya. Ketika diberi stigma buruk, mereka justru melakukan usaha untuk menepis stigma itu.

Prestasi Anak Bangsa dan Penyikapan Kita
Tampak ada kecenderungan masyarakat kita lebih tertarik mengkonsumsi berita-berita pelajar yang terlibat tawuran dan yang berani tampil bugil dibanding prestasi-prestasi yang diraih anak-anak muda kita. Anggapan yang timbul puncenderung melihat anak-anak muda kita sebagai potensi masalah ketimbang sebuah harapan. Seberapa banyak dari kita yang mengenal Muh. Firmansyah Karim, pelajar SMAAthirah Makassar yang mengejutkan dunia intenasional dengan meraih medali emas tahun lalu pada ajang Olimpiade Fisika Internasional (IPhO) ke-38 di IsfahanIran. Medali emas indonesia dipersembahkan pelajarkelas I padahal hampir semua peserta olimpiade adalahkelas III SMA dan soal-soal yang diberikan setaradengan soal fisika tingkat S2/S3. Selesai upacarapemberian medali, semua orang menyalami. Prof. Yohanes Surya Ph.D pembina Tim menceritakan, “Orang Kazakhtanmemeluk erat-erat sambil berkata “wonderful job…”Orang Malaysia menyalami berkata “You did a greatjob…” Orang Taiwan bilang :”Now is your turn…”Orang filipina:”amazing…” Orang Israel “excellentwork…” Orang Portugal:” portugal is great in soccerbut has to learn physics from Indonesia“, OrangNigeria :”could you come to Nigeria to train ourstudents too?” Orang Australia :”great….” Orangbelanda: “you did it!!!” Orang Rusia mengacungkankedua jempolnya.. Orang Iran memeluk sambil berkata”great wonderful…” 86 negara mengucapkan selamat. Suasananya sangat mengharukan, saya tidak bisa menceritakan dengan kata-kata.. Gaung kemenanganIndonesia menggema cukup keras. Seorang prof dari Belgia mengirim sms seperti berikut: Echo ofIndonesian Victory has reached Europe! Congratulations to the champions and their coach for these amazing successes!”. Tidakkah cerita ini turut menggetarkanhati kita ?. Begitupun pada ajang olimpiade sainslainnya, pelajar-pelajar kita selalu mempersembahkan prestasi yang gemilang. Kitapun mungkin telah lupadengan Sulfahri, siswa SMA Negeri 1 Bulukumba yang telah menjadi duta Indonesia di ajang International Exhibition for Young Inventor (IEYI) di New Delhi,India 2007 dan tercatat sebagai seorang penemu mudainternasional. Begitupun Firman Jamil, seniman Indonesia asal Sul-Sel mengukir prestasi yang tidakkalah gemilangnya. Firman Jamil telah beberapa kali melanglang buana ke luar negeri, dalam rangka pementasan karya seninya. Salahsatunya, berhasil lolosseleksi pada Festival Seni Patung Outdoor di Taiwandari 165 seniman pelamar dari berbagai belahan dunia. Sayapun merasa perlu untuk menyodorkan nama cendekiawan muslim Indonesia, Dr. Luthfi Assyaukanie yang menjadi mahasiswa asing pertama Universitas Melbourne yang memenangkan “Chancellor’s Prize”setelah tesis doktoralnya terpilih sebagai disertasi terbaik diantara hampir 500 tesis lainnya. Bahkan salah seorang astronot kita, Dr. Johni Setiawan tercatat sebagai 1 dari 4 orang di Jerman yang menemukan planet. Dr. J.Setiawan yang baru berusia 30tahun menemukan planet ekstra solar yang mengelilingibintang HD11977 yang berjarak 200 tahun cahaya. Yang tidak kalah gemilangnya, Bocah Indonesia, March Boedihardjo, mencatatkan diri sebagai mahasiswa termuda di Universitas Baptist Hong Kong (HKBU) dengan usia sembilan tahun. Bila lulus nanti, March akan memiliki gelar sarjana sains ilmu matematika sekaligus master filosofi matematika. Di Iran sendiri, pelajar-pelajar Indonesia diantara pelajar-pelajar asing lainnya selalu memiliki indeks prestasi tertinggi. Logikanya, jika anak-anak bangsa ini sering berprestasi bahkan sampai ajang internasional berarti memang SDM kita tidak perlu diragukan. Prestasi sesederhana apapun yang diraih anak bangsa harus didukung dan diapresiasi. Bukan dicelah atau difitnah. Bahkan sampai mengatakan prestasi olimpiade sains atauprestasi lainnya hanya kamuflase dan tidakmencerminkan kondisi pendidikan dan kualitas manusia Indonesia. Prestasi yang diraih bukanlah tujuan melainkan merupakan propaganda bahwa kitapun tidakkalah, punya daya saing dan kehormatan. Negara ini dibentuk dan diperjuangkan kemerdekaannya oleh parapendahulu bukan untuk unggul di atas bangsa-bangsa,namun agar diakui sebagai bangsa yang memiliki kedaulatan, bangsa yang akan mensejahterahkan rakyatnya. Simak saja, penggalan pidato Ir. Soekarno pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, “Di dalam Indonesia merdeka kita melatih pemuda kita, agar supaya menjadi kuat. Di dalam Indonesia merdeka kitamenyehatkan rakyat sebaik-baiknya.”Memang saat ini kondisi sosial kita buruk, mesti kita akui itu. Namun marilah kita melihat peluang-peluang yang bisa dilakukan dan hal-hal baik yang mesti dipelihara. Lihatlah betapa banyak gunungan potensi yang dimiliki bangsa ini. Negara ini belum berakhir. Kita sudah divonis menderita krisis ekonomi akut, namun kenyataan mempertontonkan masyarakat kita masih saja mampu berjubel di mall-mall yang membuat para pengamat luar negeri terheran-heran. Sayapun tidak sepakat kalau kita disibukkan hanya dengan mengejar prestasi lalu mengabaikan kesejahteraan rakyat yang menjadi tujuan utama bangsa ini. Sebab pendidikan merupakan urusan yang lebih tinggi ketimbang menjadi juara olimpiade dan lulusUAN. Pendidikan adalah kekuatan strategis dan terpokok dalam mengeluarkan bangsa ini dari lubang derita. Pendidikan mengajarkan kita tentang identitas, harga diri bahkan ideologi sebuah bangsa. Namun, saya lebihtidak sepakat lagi dengan upaya-upaya menggembosi dan mencemooh terus menerus bangsa ini. Bagi saya itu menunjukkan bahwa kita benar-benar bangsa yang bodoh. Wallahu ‘alam bishshawwab.
Qom, 15 April 2008




Dunia Anak-anak yang Hilang

20 04 2008
Anak-anak bukan milikmu
Mereka putra-putri kehidupan
Yang rindu pada dirinya
Kau bisa berikan kasih sayangmu
Tapi tidak pikiranmu…                                                                                            

            Begitulah Kahlil Gibran, penyair asal Libanon berbicara soal hakekat kemanusiaan. Syair diatas dikutip dari buku kecil, The Prophet, Gibran’s master piece, 1976 yang telah diterjemahkan dalam lebih dari 20 bahasa. Syair Kahlil Gibran tentang anak tersebut memang indah dan bermakna dalam. Kita dapat menangkap bahwa esensialnya anak itu adalah milik dirinya sendiri. Para orangtua dan masyarakat secara umum hanyalah berkewajiban membesarkan dan mendidik. Ibu berkewajiban memberikan cinta hatinya tetapi pikiran anak itu adalah hak dirinya sendiri sepenuhnya. Orangtua dalam membesarkan dan mendidik dapat dengan cara memberikan pengetahuan dan isi-isi untuk bahan pemikiran anak itu; tetapi tidak sampai membuat pikiran-pikiran orangtua adalah harus sepenuhnya menjadi pikiran anak juga. Dari sinilah kemudian terjadi ’kekisruhan budaya’ (meminjam istilah Emha Ainun Nadjib) hubungan antara anak dan orangtua. Dalam banyak kejadian sering orang-orangtua kita bukan sekedar memberikan alternatif tetapi menganggap bahwa apa yang diberikan kepada anak adalah satu-satunya yang terbaik, tidak ada alternatif lain. Ajaran orangtua sepenuhnya harus dianut, dipatuhi dan orangtua bisa sakit-sakitan dan bersedih hati jika sang anak tidak mengikuti pikirannya. Dalam hal ini, seringkali orangtua menjadi tiran bagi anaknya. Orangtua menerapkan konsep pikirannya pada anaknya. Orangtualah yang mengarahkan dan menentukan jalan hidup dan masa depan anaknya. Orangtualah yang memilihkan cita-citanya, profesi, bahkan sampai hal yang paling privacy mengenai pilihan suami atau istri misalnya. Anak-anak sering dianggap sepenuhnya adalah milik orangtua yang tidak memiliki dunia sendiri. Bagaimana kemudian kita melihat anak-anak yang sebetulnya cerdas menjadi kurang bertumbuh bahkan teramat kerdil karena kebanyakan orangtua punya kecenderungan untuk terlalu mengatur mereka, terlalu menentukan, terlalu menyutradarai, terlalu mengarahkan, terlalu banyak memerintah dan melarang yang pada akhirnya membuat nafas kemerdekaan anak-anak menjadi tersengal-sengal.

Kreativitas yang Terpasung

             Kreativitas memerlukan kemerdekaan. Kemerdekaan disini bukanlah kebebasan yang sebebas-bebasnya. Tentu saja yang dimaksud adalah kemerdekaan dalam konteks kodrati manusia. Ketika orangtua memberi pandangan. Sang anak berhak sepenuhnya untuk menerima atau menolak pandangan tersebut. Perlu ada kebiasaan untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk menentukan sendiri pilihannya, arah dari pilihan tersebut serta resiko apapun yang bakal terjadi dari pilihan tersebut. Persoalannya, anak kurang dididik untuk mengungkapkan dan mengenali dirinya. Anak lebih banyak dikendalikan daripada dimerdekakan. Sebab kemerdekaan itu besar resikonya dan dibutuhkan kesediaan untuk mungkin’diberontak’ oleh anaknya. Salah satu buktinya, polling yang pernah dilakukan oleh salah satu media tentang keinginan orangtua terhadap anaknya, hampir 70 % orangtua menginginkan anaknya rajin, sopan dan patuh dan hanya segelintir orangtua yang menginginkan anaknya cerdas dan kreatif.

Anak-anak (di) Sekolah, The Lost Generation

               Faktor penentu selanjutnya anak-anak kehilangan kreativitas dan dunianya adalah pendidikan formal dalam hal ini sekolah ataupun universitas. Sekolah yang idealnya menawarkan kegembiraan dan dunia petualangan yang bikin penasaran dalam banyak hal tidak lebih baik dari pola pendidikan orangtua kebanyakan. Di sekolah para anak didik terlalu disetting dan diformat sesuai dengan kehendak dan keinginan sekolah. Ketika memasuki halaman sekolah, anak-anak sebagai individu hilang secara autentik. Yang ada adalah penyeragaman yang menepis kekhasan manusia sebagai makhluk unik yang tak bisa dibandingkan dengan manusia lain diluar dirinya. Anak didik hanya memainkan peran pembantu, sebab guru adalah aktornya, pelajar hanya akan menjadi pelengkap penderita yang lebih diperlakukan sebagai obyek ketimbang subyek. Proses pendidikan semacam ini menurut Chaedar Alwasih (1993;23) hanya berfungsi untuk ‘membunuh’ kreativitas siswa, karena lebih mengedepankan verbalisme. Verbalisme merupakaan suatu asas pendidikan yang menekankan hapalan bukannya pemahaman, mengedepankan formulasi daripada substansi, parahnya lebih menyukai keseragaman bukannya kemandirian serta hura-hura klasikal bukannya petualangan intelektual. Model pendidikan demikian oleh Paulo Freire dikritik sebagai banking education, hubungan antara guru dengan murid sangat hirearkis dan bersifat vertikal; bahwa guru bicara, menjelaskan dan memberi contoh sementara murid menjadi pendengar saja.
Tidak banyak yang sadar bahwa dengan model pendidikan yang menjadikan murid semata-mata sebagi obyek adalah bentuk kekerasan dan pelanggaran terhadap anak. Pendidikan gaya bank menghalalkan dipakainya kekerasan untuk menertibkan dan mengendalikan para murid. Murid dibelenggu dan ditekan untuk mematuhi apapun perintah dan anjuran pendidik. Kesadaran individu dikikis habis dan mengggantinya dengan kesadaran kolektif yang seragam. Efeknya memunculkan kepribadian yang mekanik, mirip dengan benda mati yang kehilangan kebugaran dan kreativitas. Dari sinilah proses pembinatangan (bahasa halusnya: dehumanisasi) terjadi.
                Kita dapat saksikan bagaimana nasib anak-anak yang sekarang waktu yang seharusnya diisi dengan permainan dan kegembiraan ditelan untuk belajar, menghapal, memahami dan mengerti berbagai paket pengetahuan, dari pagi hinga sore mirip pekerja pabrik menghabiskan waktunya di ruang kelas untuk menelan pelajaran yang dalam banyak hal tidak menyenangkan. Seorang peneliti pendidikan menulis di harian Kompas (17 /8/2003) menurut temuannya rata-rata setiap murid SD kelas 3 sampai kelas 6 dalam setiap kuartal mempelajari sejumlah buku yang ketika ditimbang beratnya 43 kilogram, melebihi berat badan murid SD sendiri. Beban pelajaran ini kemudian diteskan lewat serangkaian ujian yang hasilnya kemudian dimuat dalam rapor yang penilaiannya berupa angka atau huruf. Parahnya, nilai kemanusiaan anak itupun direlevankan dengan nilai raport, semakin tinggi nilai raport maka akan semakin naik pula kemuliaan dan harga diri anak didik, orangtua dan gurunya. Korban dari sistem ini adalah eksistensi individu yang pada dasarnya memiliki kebebasan. Proses pendidikan yang seharusnya, sebagaimana makna sejatinya yakni menggiring keluar atau membebaskan potensi kemanusiaan yang ada dalam diri setiap individu belumlah terwujud. Yang ada justru pendidikan yang hanya menghasilkan airmata (Shindunata,2000).

Kesimpulan

           Kutipan dari Ghibran diatas, mengajak para orangtua dan para pendidik secara umum untuk mengubah pandangan mereka tentang anak. Anak adalah putra-putri kehidupan para pemilik masa depan. Mereka harus dipersiapkan dengan dikasihi dan dididik menjadi diri mereka sendiri agar tumbuh dewasa dan mandiri. Anak-anak mesti dibiasakan sejak dini dari hidupnya untuk selalu belajar kepada siapa dan dimana saja, mencari dan menemukan. Agar ia bisa memilih dirinya, bisa menentukan ungkapan pribadinya, agar tidak lagi mengatakan, “Inilah dada bapakku” tetapi secara tegas berani mengatakan”Inilah dadaku!”, begitu seharusnya seorang anak, kata Imam Ali.
Seperti yang dipertanyakan juga oleh Emha Ainun Nadjib, dunia anak-anak itu ada mengapa kita tiadakan ?




Iklan dan Dehumanisasi

20 04 2008
“Segala produksi  ada di sini, menggoda kita untuk memiliki,
hari-hari kita diisi hasutan hingga kita tak tahu diri sendiri”.
(Mimpi yang Tak Terbeli, Iwan Fals)
 
            Dari sepenggal bait syair lagu yang saya jadikan head line tulisan ini, Iwan Fals ingin memberikan warning sebuah efek iklan yang tidak hanya sekedar meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan barang yang ditawarkan tapi juga efek dramatis dan tragis yakni menjadikan orang-orang tidak lagi mengenal dirinya, bahasa kasarnya tidak tahu diri dan secara pelan tapi pasti menuju proses pembinatangan ( bahasa halusnya dehumanisasi). Bahasa  menggambarkan kekuatan terselubung dari iklan yang dapat memberangus alam bawah sadar umat  manusia yang seakan tak mampu untuk dibendung lagi kemagisan kata-katanya. Tiap hari kita di serang dengan kata-kata, “Anda adalah apa yang anda kenakan”, “Anda adalah apa yang anda makan,” “Anda begitu berharga, (karenanya kenakan kosmetika ini)” dan berondongan kata-kata menghasut lainnya. ?.     
            Akibatnya, kita lihat dengan kasat mata rakyat Indonesia semakin terberangus kemerdekaannya, dan semakin tak berdaya dalam menjaga diri dari penjajahan gaya hidup dan mimpi-mimpi kosong yang ditawarkan media massa -yang dengan bertiupnya angin reformasi, makin menggila dalam menyajikan mimpi-mimpi yang terkadang menghina akal sehat-.
            Sebagaimana yang dikatakan Rasulullah, bahwa sesungguhnya diantara bayan adalah sihir (H.R Bukhari). Bayan ? Apakah bayan itu? , bayan adalah komunikasi, baik dalam arti yang luas maupun dalam pengertian yang sempit. Yakni ungkapan kata atau penjelasan. Dan sebagai salah satu bentuk komunikasi baik secara audiovisual maupun tulisan setiap penampilan iklan  didalamnya ada sihir, ada pengaruh yang bisa ditimbulkan. Iklan, bahwa apapun yang diungkapkannya akan mempengaruhi pikiran, merasuki pikiran, dan sangat mungkin mengakibatkan perubahan pada jiwa. Sebagai contoh, Buktinya orang kaya acapkali tidak pe de (percaya diri) bila tidak mengendarai sedan mewah, tidak makan makanan yang harganya super mahal, dan tidak mengenakan pakaian dari butik-butik eksklusif, tidak menggunakan kosmetik bermerek dari manca negara. Anak-anak orang kaya juga sering diejek bila tidak dibelikan handphone, tidak ikutan mengenakan tas dan sepatu bermerek, tidak membawa mobil sendiri ke sekolah, atau tidak suka menghambur-hamburkan uang di mal-mal dan kafe-kafe terkemuka. Sehingga orang kaya akan merasa terhina jika naik angkot misalnya, jajan di pedagang asongan, membeli baju di Pasar Butung ataupun melakukan hal-hal yang tidak ekslusif lainnya.
            Inilah kemudian efek psikologis negatif yang akut dari serbuan iklan, yakni adanya perubahan peta mental. Harga diri seseorang terkadang diukur dengan apa yang dimilikinya dalam bentuk material. Sehingga jika sebelumnya pakaiannya mewah, kemudian mengenakan pakaian kumal, ataupun kemudian kosmetik yang dikenakan luntur maka turun pulalah harga dirinya. Terang saja ini adalah bentuk dehumanisasi terang-terangan. Mengidentifikasikan seseorang berdasarkan benda-benda mati semacam itu, jelas-jelas melecehkan kemanusiaan. Sebab kita  tidak memerlukan kecerdasan ekstra untuk menyadari bahwa kita, Anda dan saya, pertama-tama dan terutama adalah manusia. Anda bukan mobil, bukan makanan, bukan pakaian, bukan kosmetik. Anda adalah Anda. Dan anda adalah Manusia. Dan apabila sebagai manusia Anda kemudian dilihat, diperlakukan, dihargai dan dihormati berdasarkan apa yang Anda pakai atau miliki, maka apa namanya itu kalau bukan pelecehan?
Saya pernah membaca suatu ungkapan, begini :”Kalau siapa saya tergantung pada apa yang saya punya, dan apa yang saya punya hilang, lalu, saya ini siapa ?”
Mengerti kan maksud saya ?  kita adalah makhluk yang diserahi amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi, telah dibekali instrument-instrumen yang luar biasa untuk itu, karenanya tidak pantas dan teramat menjijikkan jika manusia dipersamakan dengan benda mati walaupun itu mobil mewah secinklon apapun bahkan berlian sekarung sekalipun.
 
 




Mahasiswa, Dosen dan Ketidakdewasaan

20 04 2008

            Pendidikan memungkinkan seseorang menjadi lebih manusiawi (being humanize) sehingga disebut dewasa dan mandiri, itulah visi atau tujuan dari proses pembelajaran atau pendidikan. Dan ini perlu kita perbincangkan, sejauh mana saat ini sistem pendidikan kita berhasil mencetak manusia-manusia yang dewasa dan mandiri.

 
Kedewasaan dan Kekanak-kanakan
 
Mengajar anak-anak berhitung itu baik, namun mengajar mereka memahami
 apa yang seharusnya diperhitungkan adalah yang terbaik                 
            Bob Talbert
 
           Istilah adult berasal dari bahasa latin yang diambil dari kata adultus berarti telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa (Hurlock, 1992). Oleh karena itu seorang yang disebut dewasa adalah individu yang telah siap menerima kedudukan dalam masyarakat.  Sedangkan kedewasaan atau kematangan adalah suatu keadaan bergerak maju ke arah kesempurnaan. Kedewasaan bukanlah suatu keadaan yang statis, tetapi merupakan suatu keadaan menjadi…. (a state of becoming). Sementara selama ini kita cenderung mendefinisikan kedewasaan seseorang dengan melihat tubuhnya dan mengaitkannya dengan usia. Setidaknya oleh Sthepen Covey, usia dan ukuran tubuh dalam banyak hal gagal untuk dijadikan parameter tingkat kedewasaan seseorang. Covey mendefinisikan kedewasaan sebagai keseimbangan antara courage (keberanian) dengan consideration (pertimbangan). Manusia yang bertindak secara berani tanpa disertai dengan pertimbangan yang seksama adalah ceroboh dan nekat, dan itu pertanda belum dewasa karena cenderung membahayakan orang lain. Sebaliknya manusia yang terlalu banyak pertimbangan dan tidak berani melakukan adalah jenis manusia no action talky only, inipun pertanda bahwa ia belum dewasa. Terlebih lagi manusia yang kurang berani sekaligus kurang pertimbangan lebih tidak dewasa lagi. Dengan demikian manusia disebut dewasa jika ia berani sekaligus penuh pertimbangan  pada saat bersamaan.
              Kita tahu bahwa perbedaan antara kanak-kanak (child) dengan orang dewasa (adult) dapat diringkas dalam satu kata, kemampuan. Kemampuan ini umumnya dikaitkan dengan sedikitnya tiga hal berikut : pengetahuan, sikap dan keterampilan. Kanak-kanak memiliki pengetahuan yang amat terbatas hampir dalam segala hal, baik tentang dirinya, orang lain, alam semesta apalagi tentang sang Khalik. Kanak-kanak juga belum mampu menentukan sikap, apakah harus positif atau negatif, kritis atau nrimo, terhadap semua hal yang terjadi di lingkungannya. Begitupun dari segi keterampilan, sama saja. Jadi pertumbuhan seorang kanak-kanak menjadi manusia dewasa sesungguhnya ditandai dengan perkembangan kemampuannya itu. Ia menjadi semakin mampu, semakin berdaya, dan semakin merdeka dari hal-hal di luar dirinya.
             Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin mampu bertanggungjawab atas diri sendiri dan menolak pendiktean atau pemaksaan kehendak dari apapun yang berada di luar dirinya. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti menjadi semakin mampu menyatakan, mengaktualisasikan, mengeluarkan potensi-potensi yang dipercayakan Sang Pencipta. Bertumbuh menjadi dewasa berarti menjadi semakin berdaya, semakin merdeka, dan semakin lebih manusiawi. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin menjadi diri sendiri dan menjauhkan kecenderungan suka meniru dan sekedar ikut-ikutan (seperti balita yang cenderung meniru segala hal yang dilihatnya dari orang lain).
            Nah selanjutnya, pertanyaan yang timbul, darimanakah kedewasaan itu diperoleh ? dari mana lagi kalau bukan dari proses pembelajaran/pendidikan. Pendidikanlah yang membuat manusia bertumbuh dan berkembang sehingga berkemampuan, menjadi dewasa dan mandiri.
 
Realitas  Pendidikan (di) Indonesia
 
“Nenek saya ingin saya memperoleh pendidikan,
karenanya, ia tidak mengizinkan saya sekolah”.
Everet Reimer
 
                Pendidikan diambil dari kata latin ‘e-ducare’ arti sejatinya adalah menggiring keluar. Apa yang digiring keluar ? Tak lain adalah diri atau segenap potensi manusia itu sendiri. Hanya saja dalam konteks dunia persekolahan ataupun universtitas, pendidikan dalam banyak kejadian prosesnya tidak ubahnya dengan pengajaran yang sekedar ptransferan ilmu dan pengetahuan dari kepala pengajar/dosen ke kepala anak didik. Sekolah dan Universitas terlalu banyak dimanajemeni, tetapi sangat kurang dipimpin. Tunas-tunas bangsa terlalu dijejali dengan tekhnik-tekhnik agar siap pakai, tetapi agak kurang didampingi agar siap belajar, siap hidup dan siap berlatih. Orang-orang muda kurang diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, dan terlalu sering diperlakukan sebagai obyek pengajaran. Hasilnya adalah manusia-manusia yang sama sekali tidak siap hidup di luar lembaga pengajaran itu (di luar sekolah/universitas) yang tidak siap belajar dan tidak siap berlatih untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tuntutan pengetahuan dan keterampilan di dunia nyata. Keluaran lembaga pendidikan itu sarat dengan ilmu pengetahuan (knowledge) tetapi sangat kurang ilmu kehidupan (wisdom) dan ilmu pertukangan (skill).  Dan kalau dikaitkan dengan kedewasaan, jujur saja seolah/universitas gagal mendewasakan anak didiknya. Yang mampu dihasilkan oleh dunia pendidikan kita adalah orang-orang yang merasa dewasa. Yang menjadi persoalan adalah dengan merasa dewasa maka sebagian besar manusia berhenti belajar. Merasa dewasa karena telah berusia diatas 17 atau 21 tahun, telah selesai sekolah atau kuliah, telah memiliki gelar akademis, telah memiliki pasangan hidup, telah memiliki pekerjaan dan jabatan yang memberinya nafkah lahiriah, telah memiliki  rumah dan kendaraan sendiri, telah kaya raya dan seterusnya. Hal-hal itu yang membuat berhenti belajar, sehingga tidak lagi mengalami keajaiban-keajaiban yang luar bisa dalam kehidupan. Begitupun dalam hal membaca, sama saja. Sebagian besar penyandang gelar akademis tidak lagi membaca buku-buku berisi ilmu pengetahuan yang relevan dengan titelnya sekalipun. Sulit ditemukan perpustakaan yang paling primitif sekalipun dirumah-rumah para pemilik gelar yang telah merasa pintar dan telah tamat belajar.
              Realitas ketidak dewasaan hasil didikan universitas kita dapat kita lihat dengan seringnya terjadi aksi tawuran antar sesama mahasiswa sendiri. Aksi tawuran ini menunjukkan ketidakdewasaan itu. Kita akui, aksi mahasiswa memang cenderung keterlaluan, menunjukkan ketidakdewasaan mereka. Tapi apakah serta menyalahkan mereka seratus persen ?. Penulis menilai, dengan pola pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di universitas kita, hanya ada dua jenis mahasiswa yang dilahirkan, mahasiswa penurut yang inggih selalu dan mahasiswa pembangkang yang cenderung anarkis. Yang disayangkan bukannya intropeksi diri, beberapa dosen justru lebih anarkis lagi dan menunjukkan kekanak-kanakannya dengan menyalahkan dan menganggap mahasiswa yang tidak becus diajar. Itu bukan langkah yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Justru dengan sikap itu terlihat jelas tidak adanya niat yang tulus dari para dosen untuk memperbaiki kualitas pendidikan untuk mencetak mahasiswa yang sadar diri, dewasa dan mandiri. Dan kalau hanya mengandalkan fasilitas untuk mengadakan perubahan, itu adalah sesuatu yang utopis tanpa dibarengi dengan adanya perubahan paradigma para tenaga pengajar universitas terutama dalam cara mengajar dan mendidik yang cenderung otoriter. Yang dibutuhkan adalah ruang bersama untuk saling mengoreksi kekurangan masing-masing yang setelah itu kekurangan atau kelemahan pun dengan sikap kedewasaan dirubah menjadi kekuataan.    
            Singkatnya, kebanyakan manusia usia dewasa, dan terutama bekas anak sekolahan (termasuk sarjana dengan S berapapun), hanya besar secara fisik, tetapi secara sosial, mental dan spritual mereka kerdil. Sekolah dan universitas ternyata sukses dalam satu hal, mencetak manusia-manusia yang menjadi tua (growing older), tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menjadi dewasa (growing up). Bukankah demikian ?
Ditulis 7 Juli 2005