Meniup Kuncup Kembang Peradaban

12 04 2008

Jika kita bertanya kepada seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran apa motivasinya belajar, maka tentu saja jawabannya, karena kelak ingin berprofesi sebagai dokter, atau bagi yang menempuh di bidang tekhnik maka tentu saja karena ingin menjadi insinyur. Namun ketika seorang santri putri yang sedang mondok di pesantren ditanya, beranikah ia menjawab bahwa motivasi belajarnya adalah karena ingin menjadi ulama ? Ketidakberanian ‘santri’ perempuan untuk bercita-cita menjadi ulama, setidaknya didasarkan pada pandangan mayoritas masyarakat tentang karakteristik ulama itu sendiri. Ketika mendengar kata ulama, maka yang terbayang adalah sosok laki-laki yang alim, berwibawa, bijak, disegani, dihormati, didengarkan apa yang dikatakannya dan memangku gelar sebagai pemuka agama, pemimpin spritual, panutan ummat dan lain-lain. Pandangan ini bukan sesuatu yang totalitas salah, sebab realitas menghadirkan fakta bahwa sedikit sekali perempuan yang bersedia menghabiskan waktunya untuk mengkaji pengetahuan keagamaan lebih mendalam untuk kemudian disebut sebagai ulama. Salah satu faktor yang menghadang perempuan adalah ketidakramahan budaya terhadap perempuan yang seringkali menganggap perempuan tidak ada manfaatnya mempelajari itu semua, toh nanti pada akhirnya akan kembali ke dapur.
Idealitas Islam, Perempuan = Ulama
Kedatangan Islam yang di bawa oleh Rasulullah SAW dengan memberikan pencerahan untuk tatanan masyarakat yang ideal tidak hanya untuk laki-laki tetapi juga untuk perempuan. Hak untuk mendapatkan pendidikan merupakan salah satu ruh pemberdayaan yang sangat ditekankan. Islam memandang hak pendidikan adalah untuk semua orang, sebagaimana dalam sebuah hadits, “Thalabul ilmi faaridatun ‘alaa kulli muslim” yang artinya “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Karenanya dalam berbagai riwayat dijelaskan bahwa Nabi tidak pernah membedakan kesempatan untuk menggali pengetahuan tentang keislaman bagi para sahabatnya baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari Rasulullah SAW pernah memuji para perempuan Anshar yang selalu belajar sebagaimana penuturannya, “Perempuan terbaik adalah mereka yang dari Anshar, mereka tidak pernah malu untuk selalu belajar agama”. Pada hadits lain, bagaimana Rasulullah mengkhususkan waktunya untuk mengajarkan agama kepada kaum perempuan, sehingga dari halaqah tersebut lahirlah banyak perempuan yang menjadi perawi hadits yang cukup terkenal. Hal ini dapat dilihat dari kitab Al-Muwaththa yang di tulis Malik bin Anas (w. 179/795) yang kebanyakan haditsnya diriwayatkan oleh shahabiyah (sahabat perempuan). Begitupun dalam Musnad Ibn Hanbal yang mencakup hadits-hadits yang diriwayatkan oleh 125 sahabat perempuan. (Lihat Ruth Roded dalam Kembang Peradaban, Mizan : 1995). Sayangnya, pada perkembangan selanjutnya, tatanan ideal yang memberi ruang lebar kepada perempuan untuk mengakses pendidikan tidak berjalan mulus. Perubahan politik dan kebijakan yang terjadi pasca kepergian Rasul sangat berimbas terhadap interaksi perempuan di wilayah publik lebih khusus lagi tradisi keilmuan. Akibatnya pada generasi selanjutnya pasca generasi kedua, kualitas dan kuantitas keilmuan perempuan menurun drastis dan kondisinya terus berlanjut hingga jumlah dan proporsi perempuan hilang sama sekali pada generasi keempat. Ulama yang Terkubur Sejarah Diantaranya Aisyah Ra, istri Nabi. Beliau terkenal sangat cerdas dan dicatat meriwayatkan 1210 hadits yang 300 diantaranya termaktub dalam koleksi hadits Bukhari-Muslim. Banyak para sahabat yang belajar dan hadir pada halaqahnya. Saya yakin teramat sedikit yang tahu tentang Nafisah, salah seorang keturunan Ali Ra. Ia dikenal memiliki otoritas dalam bidang hadits. Imam Syafi’i seorang ulama besar yang madhzabnya mayoritas di gunakan oleh masyarakat Muslim Indonesia pernah belajar di halaqahnya di Fustat (Mesir), pada masa sang Imam berada di puncak keilmuannya. Belum lagi tentang Fathimah bint Al-Aqra yang tidak hanya dikenal sebagai ulama tetapi juga kaligrafer terkemuka. Ia menjadi ulama dengan murid yang tersebar dimana-mana. Syaikhah Syuhada, yang lebih dikenal sebagai Fakhr Al-Nisa, sering didaulat untuk memberikan ceramah umum di Masjid Jami’ Baghdad dihadapan banyak jama’ah baik laki-laki maupun perempuan. Tokoh lain, Unaidah yang konon halaqahnya sering dipadati sampai 500 orang. Dan tidak lengkap jika tidak menulis nama Rabiah Al-Adawiyah, tokoh sufi yang teramat familiar yang berjasa telah memperkenalkan konsep “Cinta mutlak kepada Allah” , meskipun konsep ini menimbulkan kontroversi terutama di kalangan umat Islam sendiri. Masih banyak lagi tokoh-tokoh perempuan yang mempengaruhi jalannya sejarah peradaban Islam. Merekalah kembang-kembang peradaban.
Rekomendasi
Untuk itu sudah saatnya mengembalikan semangat dan ruh Islam pada khittah perjuangannya semula. Dengan memberikan kesempatan yang sama untuk mengembangkan pengetahuan tanpa membedakan jenis kelamin. Terutama tentang perempuan, mereka sesungguhnya kembang-kembang yang memekarkan dan mewarnai peradaban. Menyiapkan pendidikan bagi perempuan sesungguhnya menyiapkan sumber daya dan aset yang luar biasa bagi keluarga untuk melahirkan generasi yang akan mengangkat kembali izzah Islam wa mulismin. Dalam Al-Qur’an ada surah perempuan, tidak laki-laki…. Wallahu ‘alam. Parangtambung, 2006.
 
Referensi :
Ruth Rooded, Kembang Peradaban, Mizan Badung : 1995
Azyumardi Azra, Ulama Perempuan dan Wacana Islam, Makalah: 2000

 





Jilbab Simbol Perlawanan Muslimah

8 04 2008
“…Dan di balik pakaian yang menghidupkan semangat itu, bangunlah kembali diri kalian dan gapailah kehidupan baru. Sebuah kehidupan yang penuh dengan penolakan dan perlawanan…”

                                                                                    – Zahra Rahnavard-  

“Wanita Indonesia, kewadjibanmu telah terang …! Djangan ketinggalan dalam Revolusi Nasional ini dari awal sampai achirnya, dan djangan ketinggalan pula nanti di dalam usaha menjusun masjarakat keadilan-sosial dan kesedjahteraan-sosial.”

-Ir. Soekarno, Sarinah, Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia, 1947-

”Assalamu ’alaikum, Islam Agama Perlawanan”. Adalah sebuah kalimat provokatif dari Eko Prasetyo yang beliau jadikan sebagai judul buku terbarunya. Islam dalam pemikiran Mas Eko, bukan semata-mata kepercayaan akan ritual dan sekumpulan norma etik melainkan juga spirit bagi proses perubahan sosial. Menurutnya, sudah saatnya untuk menggali dasar kepercayaan Islam sebagai kekuatan perlawanan dan pembebas. Sebuah kekuatan yang akan menjadi pisau yang tajam bagi proses pembelahan persoalan-persoalan sosial dan akan memprakarsai sebuah perjalanan baru sejarah sosial Islam. Islam tidak semata-mata memuat deretan do’a dan ibadah melainkan perlawanan yang bergelora. Mungkin dengan semangat itulah, Islam akan kembali meraih kejayaannya, sebagaimana diturunkan pertama kali, menjadi pembebas bagi mereka yang berada dalam ketertindasan. Islam adalah ajaran yang terhormat dan kuat, karenanya yang mengimaninya (kaum mukminin) selalu mulia dan lebih tinggi dari gunung, karena gunung dapat ditundukkan dengan beliung, sedang jiwa seorang mukmin tidak dapat diluluh lantakkan. Itulah kehormatan yang selama ini (entah sampai kapan) dikoyak-koyak dan ummat Islam disini berada dalam kondisi terpuruk. Jilbab, sebagai salah satu syariat Islam yang merupakan kewajiban bagi muslimah pun ternyata mengeluarkan bau perlawanan yang sangat menyengat. Hanya saja, kemestian mengenakan jilbab yang yang berlaku di tengah masyrakat cenderung bersifat doktrinal. Dengan kata lain, kebanyakan muslimah mengenakan jilbab hanya karena islam mewajibkan, tidak lebih. Tentu saja pendekatan dokrinal (halal-haram) absah, hanya saja cenderung bermasalah apalagi bukan sebagai kesimpulan akhir dari puncak penalaran sebagai proses berpikir yang sehat melainkan sekedar pemaksaan pemikiran. Karenanya, tulisan ini saya buat, dengan alasan, untuk menampakkan dipermukaan ide-ide radikal Islam. Soalnya, saya tidak bakalan tenang selagi agama ini masih saja dimonopoli oleh mereka-mereka yang melemahkan potensi radikal agama ini.
Jilbab, Hak atau Kewajiban ?
Islam, bukan hanya institusi kewajiban. Yang memuat kerumunan perintah dan larangan. Tetapi juga institusi hak. Dan persoalan jilbab, kiranya lebih erat kaitannya dengan hak kaum muslimah yang dewasa ini sering dilecehkan dan diinjak-injak. Kasus pelarangan jilbab di Perancis dan beberapa negara sekuler lainnya, menjadikan paradigma kita bergeser drastis. Jilbab bukan semata kewajiban muslimah tapi juga sebuah hak yang mesti diperjuangkan. Dikatakan hak, bukan sekedar kewajiban, mengingat jilbab berkaitan erat dengan kepentingan dasariah perempuan yang meliputi aspek spritual, sosial, ideologis, kemanusiaan dan intelektualitas. Bukan semata berkorelasi hanya dengan persoalan remeh temeh, semacam penampilan fisik, gaya hidup tradisi, kecenderungan pribadi dan yang lainnya. Memahami jilbab sebagai hak akan melahirkan kesadaran bahwa kaum muslimah memiliki dunianya sendiri yang tak mungkin diintervensi dan ditundukkan kaum laki-laki dengan cara dzalim. Dengan pemahaman ini membawa kita pada kesadaran bahwa mengenakan jilbab bukanlah semata kewajiban untuk menutup aurat yang ’menggiurkan’ pandangan laki-laki, tetapi dapat dikatakan dengan mantap, jilbab adalah pusat kekuatan dan eksistensi muslimah. Sebagai medium pembebasan (….sehingga mereka tidak diganggu -Qs. 33:59-) sekaligus cerminan jati diri hakiki kaum perempuan (..supaya mereka lebih mudah dikenal.-Qs. 33:59).
Jilbab dan Peran Sosial
Dalam mengatur urusan-urusan manusia dan masyarakat, Allah telah menciptakan laki-laki dan perempuan. Dalam banyak hal keduanya berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut tentunya dilandasi oleh kemahabijaksanaan dan keMahaadilan Ilahi. Perbedaan tersebut dimaksudkan untuk menciptakan hubungan simbiosis mutualisme, timbal-balik yang selaras dan penuh persahabatan untuk memainkan peran yang saling melengkapi satu sama lain, dan akhirnya untuk menjamin keberlanjutan hidup ummat manusia di muka bumi. Islam, sangat memahami fakta bahwa keduanya saling memiliki kecenderungan dan ketertarikan satu sama lain. Dan yang paling dominan adalah ketertarikan lahiriah. Dari sudut pandang Islam, perempuan memiliki sejumlah daya tarik seksual yang jika diumbar sebebasnya dan tanpa batas di tengah masyarakat akan mengakibatkan kekacauan seksual, emosional, intelektual dan psikologis. Bahkan dapat menyebabkan hancurnya pondasi utama kehidupan masyrakat, dengan hilanganya lingkungan yang sehat dan bermanfaat. Daya tarik sensualitas perempuan seringkali dijadikan dalih penyebab utama hancurnya tatanan masyarakat. Oleh sebagian kelompok memberikan solusi bahwa jalan terbaik adalah menyingkirkan perempuan dari kancah aktivitas sosial. Membatasi bahkan meniadakan kesempatan bagi perempuan untuk mengakses ’dunia luar’, sehingga masyarakat dapat disembuhkan dari gangguan daya tarik seksualnya. Kelompok lainnya berpandangan, bahwa kita harus habis-habisan memerangi daya tarik seksual itu sendiri yang selama ini menjadi sumber kekacauan dan penderitaan. Pandangan pertama bersumber dari pemikiran budaya patriarki yang kering dan ketinggalan zaman, sedang yang kedua bersumber dari ajaran Nasrani. Dalam pandangan pemuka Nasrani ditemukan bahwa perempuan mereka anggap sebagai senjata iblis untuk menyesatkan manusia. Pada abad ke-5 Masehi diselenggarakan suatu konsili yang memperbincangkan apakah perempuan mempunyai ruh atau tidak. Akhir dari konsili (sidang) itu mengambil kesimpulan bahwa perempuan tidak mempunyai ruh yang suci. Berdasarkan fatwa “Perempuan tidak memiliki jiwa (ruh yang suci)”, mengakibatkan betapa tersiksanya kaum perempuan sampai abad pertengahan. Dalam bukunya, Dr. Aspring (sebagaimana dikutip dari tulisan Nashat Afza) menjelaskan Sampai abad pertengahan dengan dalih kesucian agama, orang-orang Nashrani telah membantai sekitar 9.000.000 jiwa perempuan. Penyiksaan tidak hanya sebatas perlakuan fisik bahkan sampai tahun 1805 ditemukan perundang-undangan Inggris mengakui hak suami menjual istrinya. Tentu saja Islam menolak kedua pandangan yang sangat tidak manusiawi tersebut. Islam ’menemukan’ jalan keluar dari problema tersebut dengan menetapkan sistem hijab diantara pergaulan laki-laki perempuan. Dengan menerapkan sistem tersebut, kaum perempuan justru akan menyandang perilaku terbaik (terutama dicap shalihah) dan dapat lebih aktif berkiprah di tengah masyarakat tanpa menjadikannya sebagi sumber gangguan dan kekacauan seksual. Sehingga dengan berjilbab, perempuan memiliki kesempatan dengan tenang memanfaatkan dan mengaktualisasikan kemampuannya dan segenap potensi kreatifnya sebagai manusia dan masyarakat memperoleh manfaat dari segenap energi dan kualitasnya yang sangat berguna. Anjuran jilbab bagi muslimah sesungguhya merupakan bukti betapa Islam menginginkan agar kaum muslimah aktif berkiprah dalam konteks kehidupan sosial secara umum. Karenanya dengan alasan ini, mengapa kita jumpai dalam masayarakat Islam yang ideal menempatkan kaum perempuan pada posisi puncak tertinggi dalam hierarki nilai-nilai kemanusiaan serta dianggap sebagai perwujudan paling lembut dan elok dalam kehidupan manusia.
Sebagai Simbol Perlawanan

”Saya menyampaikan pesan hijab saya. Saya mengajak kalian semua kepada Islam yang sesunggguhnya saya menyerukan sebuah pemberontakan dan perjuangan…Pandanglah hijab kalian sebagai perlawanan terhadap sistem yang sesat dan sampaikanlah kabar gembira tentang tercapainya kebenaran, keadilan, kesetaraan dan kesempurnaan dengan bergerak menuju Allah Subhanahu wata ala ” – Pesan Pemberontakan hijab, Zahra Rahnavard-

Dalam budaya intelektual dewasa ini. Jilbab menjadi ikon penting sebagai penyelamat kaum perempuan dan laki-laki dari proses dehumanisasi (bahasa halusnya pembinatangan), degenerasi, degradasi serta penyimpangan pemikiran dan perilaku. Jilbab dimaksudkan untuk melindungi dan menyelubungi bagian-bagian tubuh perempuan yang sensitif dan menarik perhatian yang menjadikan kaum perempuan sebagai obyek pelampiasan secara seksual. Kaum Kapitalis Barat menyadari betul bahwa kekuatan sebuah masyarakat pada hakikatnya tersembunyi dalam lubuk kepribadian perempuan. Dengan pemikiran ini Kapitalisme memulai langkah awal yang canggih untuk melemahkan potensi dan kecakapan perempuan. Dengan mempertontonkan ciri-ciri fisik serta berupaya menggeser perilaku Islami dengan kebiasaan dan kepribadian Barat, kaum kapitalis sebenarnya berhasrat untuk menyeret kaum muslimin menuju jurang kehancurannya secara bertahap dan pada akhirnya menggiring kaum muslimin terperangkap dalam situasi penjajahan budaya, yang berlanjut pada penjajahan politik dan ekonomi. Mereka menguatkan daya tarik seksual perempuan di negeri-negeri koloni mereka lewat pengunaan kosmetik dan perhiasan. Lewat eksploitasi daya tarik seksual inilah mereka mengiklankan komoditas produknya. Tidak perlu lagi mencari keterkaitan merk sebuah oli mesin dengan rok yang tersingkap, yang jelas ada gambar perempuan cantik, produk itu pasti menarik. Nah, apakah kosmetik-kosmetik yang dijajakan dan diiklankan secara gencar ataupun busana-busana yang mengumbar aurat akan terjual habis jika kaum muslimah masih memegang teguh syariat agamanya dengan berjilbab ?. Tentu saja tidak !. Euforia (semangat) berjilbab dewasa ini tentu saja menggembirakan, hanya saja Kapitalisme kembali memanfaatkan itu dengan memasarkan produk jilbab gaulnya, dengan aneka warna, gaya dan corak disertai dengan pernak-perniknya. Dan sebagian dari muslimah menyadari itu, lalu mengenakan di sekujur tubuh mereka pakaian murni, bersahaja dan sederhana; sebuah pakaian yang dirancang oleh madhzab Islam yang suci untuk dijadikan pusat kekuatan paling bertenaga bagi perjuangan melawan kapitalisme dimanapun dan kapanpun. Mereka rela hidup dalam kebersahajaan dan kesederhanaan demi sebuah perlawanan. Seorang muslimah, dengan jilbabnya ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia menolak seluruh sistem jahiliyah dan hanya ingin hidup dalam sistem islami. Kain yang menutup sekujur tubuhnya telah menjadi simbol perlawanan dan bukti keterlibatan totalnya pada Islam. Merekalah pejuang-pejuang spritual yang menjunjung tingggi ketauhidan untuk tidak tunduk pada siapapun selain kepada Allah Azza wa Jalla. Mengenai mereka, adakah laki-laki muslim yang tidak tertarik ? ccchuiih, menjijikkan kalau ada. Wallahu ’alam bishshawwab
Parangtambung.
” Saat Cinta dan Rindu tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah..”

– 15 – 11 – 2005 –