Belajar dari Keadilan Imam Ali

13 04 2008

Di awal pemerintahan, sejumlah orang yang masih belum mengenal Islam secara benar dan memiliki gaya berpikir layaknya politikus dan diplomat Internasional, menemui Imam Ali. Mereka menyatakan, “Pemerintahan baru baru saja berdiri, dan anda amat memerlukan kekuatan untuk memperkokoh sendi-sendi pemerintahan. Menurut hemat kami, usaha terbaik anda adalah membagi-bagikan harta baitul mal kepada para pemimpin, pembesar dan sanak keluarga. Dengan begitu, niscaya mereka tidak akan menentang anda.” Imam Ali as menjawab, “Apakah kalian berharap orang yang seperti aku ini akan memperkokoh sendi-sendi pemerintahan dengan kedzaliman dan penindasan ???, apakah dengan kaki syirik, kita dapat melangkah menuju tauhid?. Aku menerima kepemimpinan ini justru kumaksudkan untuk menyapu bersih ketidak adilan !”. Kisah ini dinukil oleh Prof. Muhsin Qiraati dalam salah satu bukunya.

Kita mengamati masyarakat Indonesia telah dan sedang disibukkan oleh pemilihan kepala daerah untuk memegang tampuk kepemimpinan di daerah masing-masing beberapa tahun kedepan. Yang jelas, siapa pun yang terpilih, tugas dan tanggungjawab besar telah menanti. Harapan kita, pemimpin terpilih melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya demi meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Dalam upaya mengangkat harkat, martabat, serta ekonomi masyarakat, tiada ada jalan lain kecuali memihak pada kepentingan rakyat. Masyarakat di daerah manapun, tuntutannya sederhana, bisa hidup layak. Mereka tak banyak menuntut yang berat-berat, bila kehidupan ekonominya memadai. Sebaliknya, jika kesenjangan ekonomi semakin lebar, bukan tidak mungkin tuntutan demi tuntutan bakal bermunculan.
Jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin yang makin lebar merupakan masalah krusial yang sering menjadi pemicu berbagai persoalan lain. Artinya, fokus kerja pemerintah ke depan setidaknya memperkecil jurang itu.
Ada baiknya, kita belajar dari orang-orang besar terdahulu, bagaimana mereka menjalankan amanah kepemimpinannya. Izinkan saya, menyodorkan sosok Imam Ali as, sebagai panutan. Manusia suci yang memiliki banyak keutamaan, sepupu sekaligus menantu Rasulullah, yang ayahnya banyak memberikan pembelaan dan mendukung sepenuhnya perjuangan Rasulullah di awal-awal penyebaran Islam. Yang menyerahkan diri sepenuhnya terhadap perjuangan dan penegakan nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan memulainya di usia yang teramat muda, usia yang seharusnya ia bermain-main sebagaimana anak-anak kebanyakan. Thomas Carlyle menggambarkan, “Ketika Nabi Islam itu pertama-tama menyampaikan risalahnya kepada kaum kerabatnya, maka semuanya menolaknya. Kecuali Ali, waktu itu masih berusia 10 tahun, yang bangkit memenuhi dakwah nabi dan berikrar setia kepadanya.” Ia menambahkan, “Tangan kecil itu bergabung dengan tangan yang besar, dan mengubah jalan sejarah”. Keluasan ilmu Imam Ali ra tidak diragukan oleh siapapun, lewat sabdanya Rasul memuji, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya.” Sabda Nabi ini dibenarkan oleh para sahabat yang menyaksikan sendiri betapa Ali adalah satu-satunya orang sepeninggal Nabi yang menjadi rujukan dalam berbagai hal. Bahkan para khalifah, khususnya khalifah Umar bin Khattab sering meminta pendapat Ali dalam memghambil keputusan. Lebih jauh Umar mengatakan, “Jika tidak ada Ali maka celakalah Umar”. Tentang Imam Ali, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya posisi Ali disisiku sebagaimana posisi Harun di sisi Musa, hanya saja tidak nabi sesudahku”.
Saya ingin mencoretkan kembali dalam kanvas sejarah tentang perjuangan, kepahlawanan dan keteguhan Imam Ali ra memegang prinsip keadilan yang diyakininya, yang karena rekayasa sosial menjadi banyak terlupakan. Lewat kolom yang terbatas ini, saya mengajak siapapun untuk melirik gaya kepemimpinan beliau. Sebagaimana kisah di atas, Imam Ali ra menerima kepemimpinan dengan maksud untuk menyapu bersih ketidak adilan. Kebijakan pertama yang dilakukan diawal pemerintahannya adalah mencopot para pejabat yang tidak layak lalu mengganti mereka dengan orang-orang yang cakap dan adil. Imam Ali yang dikenal dengan keadilannya juga mencabut undang-undang yang diskriminatif. Beliau memutuskan untuk membatalkan segala konsesi yang sebelumnya diberikan kepada orang-orang Quraisy dan menyamaratakan hak umat atas kekayaan baitul mal.
Sikap inilah yang mendapat penentangan sejumlah orang yang selama bertahun-tahun menikmati keistimewaan yang dibuat oleh khalifah sebelumnya. Ketidakpuasan itu kian meningkat sampai akhirnya mendorong sekelompok orang untuk menyusun kekuatan melawan beliau. Thalhah, Zubair dan Aisyah berhasil mengumpulkan pasukan yang cukup besar di Basrah untuk bertempur melawan khalifah Ali bin Abi Thalib. Perang tak terhindarkan. Ribuan nyawa melayang sia-sia, hanya karena ketidakpuasan sebagian orang terhadap keadilan yang ditegakkan oleh Imam Ali as. Pasukan Ali berhasil memukul mundur pasukan yang dikomandoi Aisyah, yang saat itu menunggang unta, karenanya perang ini dikenal dengan nama perang Jamal. Aisyah menyadari kekeliruannya, dan mengakhiri peperangan. Sebagai pemimpin yang bijak, Ali memaafkan mereka yang sebelum ini menghunus pedang untuk memeranginya. Aisyah juga dikirim kembali ke Madinah dengan penuh penghormatan. Fitnah pertama yang terjadi pada masa kekhalifahan Imam Ali as berhasil dipadamkan. Namun masih ada kelompok-kelompok lain yang menghunus pedang melawan Ali yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai poros kebenaran.
Menu makanan Imam Ali setiap harinya hanya sekerat roti kering dengan garam atau cuka. Beliau tidak pernah membiarkan perutnya dipenuhi makanan atau minuman. Pakaian yang beliau kenakan terbuat dari kain kasar. Meski duduk sebagai khalifah dan memegang seluruh kekayaan negara atau baitul mal beliau tidak pernah tergoda oleh gemerlap dinar yang ada di dalamnya. Diceritakan bahwa ketika menghitung uang baitul mal untuk dibagikan kepada rakyat, beliau bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur karena tidak tergoda oleh harta yang ada di hadapannya. Kepada para bawahannya beliau menulis pesan, “Engkau tidak boleh membeda-bedakan walau sekecil apapun antara muslimin dan sanak keluargamu “(Najhul Balaghah). Imam Ali sadar betul, penyebab kebinasaan umat-umat terdahulu karena orang-orang kaya dan yang terpandang memiliki keistimewaan dalam pandangan penguasa dibanding orang-orang miskin dan tidak populer.  Suatu kali, Imam Ali sedang menjahit sepatunya. Setelah selesai, sambil menunjuk ke arah sepatu itu, beliau bertanya kepada Ibnu Abbas, berapa harga sepasang sepatu ini? Ibnu Abbas menjawab harga sepatu yang sudah kumal seperti ini tidak lebih dari setengah Dirham. Imam Ali as mengatakan, “Demi Allah, sepatu ini jauh lebih berharga bagiku dibanding jabatan khilafah, kecuali jika dengan khilafah ini aku dapat menegakkan keadilan dan menumpas kebatilan”. Imam Ali adalah seorang pemimpin yang dalam dirinya tidak terlihat sedikitpun tanda-tanda kepuasan atau kerakusan atas jabatannya itu. Imam Ali as adalah seorang imam yang tidak pernah bisa tidur dalam keadaan kekenyangan karena ia tahu, masih banyak ummatnya yang kelaparan. Sebagai seorang pemimpin, Imam Ali as juga tidak pernah terlihat memakai pakaian indah karena ia sangat faham, betapa banyak ummatnya yang tidak mampu memakai pakaian yang pantas. Seorang penulis Kristen berkebangsaan Libanon, George Jordag, dalam bukunya yang berjudul “Ali, Suara Keadilan”, menulis, “Pernahkah Anda temukan dalam sejarah seorang pemimpin besar yang saat memimpin ia juga bekerja kasar menggiling gandum untuk keperluan hidupnya? Adakah di dunia ini seorang pemimpin yang menjahit sendiri sepatunya? Pernahkah Anda temukan dalam sejarah seorang pemimpin yang sama sekali tidak memiliki sedikitpun simpanan uang buat dirinya?”
Teori Keadilan Imam Ali
Imam Ali as seringkali berbicara mengenai keadilan, dan lebih memilih keadilan dibanding kedermawanan. Kebanyakan dari kita memilih pemimpin karena kedermawanannya dibanding sejauh mana ia bisa menegakkan keadilan. Karena keadilan disini tidak lain adalah menghargai hak orang lain dan tidak melanggarnya, sementara kedermawanan adalah membagikan hak yang dimilikinya kepada orang lain. Namun Imam Ali as menjawab sebaliknya. Beliau lebih mengutamakan keadilan daripada kedermawanan dengan dua alasan: Pertama, karena definisi keadilan adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, sementara murah tangan tidak demikian. Dengan kata lain, keadilan adalah memperhatikan hak-hak yang ada secara kongkrit, baru kemudian memberikan hak sesuai kapasitas penerima. Dengan pendekatan ini, orang akan bisa mengetahui tempatnya dalam bermasyarakat, dan selanjutnya masyarakat akan menjadi mekanisme yang teratur. Adapun kedermawanan, walaupun ia berarti memberikan hak yang dimilikinya kepada orang lain, perbuatan ini menjadi cacat dalam kehidupan bermasyarakat. Karena perbuatan ini tidak akan terjadi kecuali, jika masyarakat pada saat itu menjadi ibarat sebuah tubuh yang bagian anggotanya terdapat cacat atau sakit yang akibatnya akan memerlukan bantuan seluruh anggota tubuh yang lain untuk melakukan sesuatu, padahal idealnya dalam sebuah masyarakat hendaknya tidak ada anggota yang cacat, sehingga yang lain harus turut membantu tugasnya. Alasan kedua, keadilan adalah sebuah kendali yang bersifat umum, sementara kedermawanan bersifat spesifik. Yakni keadilan bisa dijadikan undang-undang umum yang mengatur seluruh urusan masyarakat dimana seseorang harus komitmen kepadanya, sementara kedermawanan adalah kondisi yang bersifat eksklusif dan tidak bisa dijadikan undang-undang umum. Imam Ali ibn Abi Thalib menganggap keadilan sebagai kewajiban dari Allah SWT, karena itu beliau tidak membenarkan seorang Muslim berpangku tangan menyaksikan norma-norma keadilan ditinggalkan masyarakat, sehingga terbentuk pengkotakan dan kelas-kelas dalam masyarakat. “Wahai orang-orang beriman, jadilah kau penegak keadilan, menjadi saksi Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.” (Qs. An-Nisa : 135). Bangsa ini telah cukup banyak memiliki stok pemimpin yang dermawan, namun sulit menemukan diantara mereka yang bisa berlaku adil.
Selama masa singkat lima tahun pemerintahannya, Imam Ali a.s. berhasil mempraktekkan sebuah konsep keadilan yang saat ini menjadi harapan dan dambaan ummat manusia. Para penulis kontemporer sampai mengatakan bahwa adalah keliru jika mengatakan bahwa Ali dan keadilan adalah dua kata yeng berbeda, karena fakta sosial saat Ali memerintah menunjukkan bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Mengenal dan mengagumi orang-orang besar semacam Imam Ali, bukan kultus individu, melainkan sebagai luapan kecintaan pada nilai-nilai yang beliau bawa dan peragakan. Sebagai penutup, izinkan saya mengadaptasi pernyataan Emha Ainun Nadjib, kalaupun dalam tulisan ini saya menampilkan tokoh Islam, ini bukan karena sentimen keagamaan ataupun keinginan menonjolkan Islam di atas agama lain, karena keadilan Imam Ali untuk semua, tanpa melihat agama dan madhzab. Kalaupun saya mengutip ayat Al-Qur’an, itu karena Al-Qur’an bukan hanya untuk umat Islam, melainkan untuk semua. Dan Islam meliputi semuanya. .

Wallahu ‘alam bishshawwab.

 

Iklan




Tidak Memahami al-Qur’an [Teladan dari Imam Hasan Askari]

13 04 2008
       
Saturday, 12 April 2008

Oleh: Laogi Mahdi

 

 “Menyambut milad agung Imam Hasan Askari, 8 Rabiuts Tsani 1429 H/15 April 2008, dalam menapak tilasi jejak perjuangan dan teladan kehidupannya, mari kita simak kisah teladan berikut ini. Selama masa Imam Kesebelas, Imam Hasan az-Zaki al-Askari As, pemerintahan Abbasiyah sangat ketat dan jeli mengawasi gerak-geriknya. Mereka tahu bahwa jumlah para imam akan mencapai 12 orang dan yang terakhir dari hirarki Imamah akan muncul dari putra Imam Hasan al-Askari As yang pada akhirnya akan memegang kendali semesta ini.  Pemerintah yang berkuasa ingin mencegah supaya Imam Keduabelas As tidak lahir, oleh karena itu mereka berupaya dengan berbagai cara untuk memenjarakan Imam Hasan al-Askari As hampir selama masa hidupnya. Imam Hasan al-Askari As tinggal di kota Samarra’, yang disebut juga sebagai askar lantaran kehadiran lasykar dan serdadu di kota ini.Oleh karena itu, Imam Kesebelas As dan Imam Kepuluh (Imam Ali al-Hadi As) keduanya dijuluki sebagai al-Askari.” 

 

 

Rupanya sang khalifah telah melupakan bagaimana Fir’aun terlah berupaya dengan berbagai cara untuk mencegah kelahiran Nabi Musa As dengan membunuh bayi-bayi yang tidak berdosa yang lahir di tanah Israel; akan tetapi ia harus mengakhirinya dengan membesarkan sendiri orang yang akan menjadi musuhnya pada masa datang.

Pada masa singkat itu, Imam Hasan al-Askari As memberikan pelajaran tentang Islam, ia meyakinkan dirinya bahwa kaum Muslimin telah belajar sebanyak mungkin yang mereka lakukan dari dirinya. Ia membenarkan dan mengoreksi para ulama apabila mereka membuat kesalahan-kesalahan.

Ketika itu, seorang ulama yang terkenal di Samarra’ yang bernama Ishaq al-Kindi, mencoba untuk menulis sebuah buku yang menunjukkan bahwa al-Qur’an mengandung ayat-ayat yang bertentangan satu dengan yang lainnya.  Dalam bukunya, ia membeberkan beberapa contoh ayat-ayat yang dianggapnya bertentangan.

Imam Hasan al-Askari bertanya kepada salah  seorang murid Ishaq mengapa ia tidak mencegah ustadznya melakukan hal ini. Si murid berkata bahwa ia tidak tahu harus berbuat apa untuk mencegah ustadznya menulis bukut itu.

Imam Hasan al-Askari berkata kepada si murid untuk bertanya kepada Ishaq sang guru. “Apakah pertentangan ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur’an sesuai dengan pemahamanmu atau sesuai dengan niat dan maksud Allah Swt?” Apabila ayat-ayat yang bertentang itu sesuai dengan keinginan Allah Swt bagaimana engkau dapat sampai kepada kesimpulan bahwa ayat-ayat al-Qur’an bertentangan satu dengan yang lainnya? Dan apabila hal ini sesuai dengan pemahamanmu, maka Allah Swt tidak ada urusannya terhadap kurangnya pemahaman pembaca al-Qur’an.”

Tatkala Ishaq al-Kindi mendengarkan argumen ini ia menjadi bungkam diam seribu bahasa. Setelah lama berpikir, ia menuntut kepada muridnya untuk mengatakan siapa yang telah mengajarkan dan mengatakan hal ini kepadanya. Si murid mengaku bahwa argumen yang diajukannya itu berasal dari buah pikirannya sendiri, akan tetapi sang ustadz tidak menerima bahwa itu murni dari muridnya. Akhirnya si murid mengaku bahwa ia telah mendapat perintah dari Imam Hasan al-Askari As.

Ishaq al-Kindi berkata, “Kini engkau telah berkata yang sebenarnya.” Ilmu semacam ini hanya datang dari Ahlulbait Nabi Saw dan bukan dari tempat lain.”

 

Sumber Rujukan:

Jawadi, Nuqash-e-‘Ismat, hal. 598

 

 

Mutiara Hadis Imam Hasan Askari As:

 

Sebaik-baik sahabat Muslim yang engkau dapat miliki adalah seorang sahabat yang melupakan kesalahan-kesalahanmu dan menyebutkan yang baik-baik yang pernah engkau lakukan kepadanya.  

Biharul Anwar, vol 78, hal. 379

 

Sumber : http://www.telagahikmah.org





Falsafah Menangis atas Imam Husain

12 04 2008

 Karbala, nama hamparan sahara dekat sungai Eufrat yang menjadi panggung drama nyata tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah. Sebuah padang pasir yang di beritakan dalam Al-Kitab, bahwa di tempat ini terjadi penyembelihan yang teramat dahsyat, yang digambarkan pedang akan makan sampai kenyang dan akan puas minum darah mereka (Yeremia 46:1). Dari sekian tragedi kemanusiaan yang terjadi, tragedi di Karbalalah yang terbesar. Bukan dilihat dari jumlah korban, melainkan siapa yang telah menjadi korban dan bergelimang darah. Jumlah mereka tidak seberapa, ‘hanya’ kurang lebih 72 orang. Yang menjadikan peristiwa ini sulit untuk terlupakan adalah Karbala menjadi samudera pasir yang menyuguhkan genangan darah dan air mata suci putera-puteri Rasul. 10 Muharram 61 Hijriah, Imam Husain bersama 72 pengikutnya — termasuk di dalamnya anak-anak — syahid dibantai oleh sekitar 30.000 tentara Yazid bin Muawiyyah di padang Karbala , Irak. Kepala Imam dan para syuhada dipenggal dan diarak keliling kota . Peristiwa ini merupakan tragedi terbesar sepanjang sejarah Islam. Bisa jadi ada yang mempersoalkan mengapa kisah tentang tragedi ini harus selalu dikenang, harus selalu diingat dan ditangisi. Bukankah peristiwa ini hanya akan menyulut benih-benih perpecahan antara kaum muslimin, antara kelompok yang pro dengan kebangkitan dan kesyahidan Imam Husain ra dan dengan kelompok yang kontra dan menganggap Imam Husain ra adalah agitor dan pemberontak terhadap penguasa yang sah ?. Masihkah relevan kita memperbincangkan tentang kesyahidan Imam Husain di padang Karbala di abad yang justru orang-orang membincangkan perdebatan antar budaya dan peradaban melalui dunia maya? Apa faedah kita mengungkit-ngungkit tragedi yang telah menjadi masa lalu ini, dan buat apa kita menangisinya ?. Bukankah semestinya kita mengejar ketertinggalan kita dari dunia barat ? Saya pribadi, menganggap hal ini sangat penting untuk kita perbincangkan. Terlepas dari tragedi Karbala , di Indonesia, atas nama suku, agama, ras dan golongan, nyawa manusia tidak lebih mahal dari sebungkus rokok. Aceh, Ambon , Sambas, Sampit, Poso, Papua adalah sedikit saksi atas kebiadaban segelintir manusia atas manusia lainnya. Lalu, di manakah kemanusiaan kita? Tersentuhkah kita dengan derita-derita mereka? Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah pernah berkata, “Mereka yang tidak pernah tersentuh dengan tragedi Karbala , tidak akan pernah tersentuh dengan tragedi kemanusiaan yang lain.” Tragedi Karbala menjadi ukuran. Kepedulian kita atas tragedi kemanusiaan, khususnya di bumi Nusantara ini akan terukur dari kepedulian kita pada Karbala . Imam Khomeini pernah berkata, “Sungguh kesyahidan Husain senantiasa membakar hati-hati orang-orang yang beriman.” Dari sini, saya melihat tragedi Karbala sangat relevan untuk kita kenang.

Hakekat Tangisan

Pertama-tama, kami tegaskan bahwa masalah memperingati tragedi Karbala (10 Muharram) bukanlah masalah khas Syi’ah saja, tetapi masalah islami. Meskipun muslim yang bermadhzab Syi’ah lebih memberikan prioritas terhadap peristiwa ini dibanding kelompok muslim lainnya. Sebab, Imam Husain ra tokoh utama dibalik tragedi ini, bukanlah pelita bagi kaum Syi’ah saja, melainkan lentera hati setiap mukmin, apapun madhzabnya. Karenanya, kami tegaskan lagi, apapun yang berkaitan dengan peristiwa karbala pada hakikatnya adalah fenomena islami. Yang akan saya ketengahkan adalah, tangisan dan perilakunya terhadap manusia. Kami berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis seputar tangisan yang biasa dilakukan orang-orang Syi’ah saat mengenang peristiwa Karbala . Peringatan akan tragedi Karbala dengan tangisan dan ratapan yang mereka lakukan bagi sebagian muslim yang lain adalah bid’ah bahkan cenderung kepada kesyirikan. Manusia manapun pasti mengalami kegetiran hidup yang membuatnya harus menangis. Bahkan lembaran kehidupan manusia diawali dengan tangisan dan diakhiri pula dengan tangisan perpisahan. Tangisan sesuatu yang alamiah, sesuatu yang telah menjadi fitrah kemanusiaan. Menurut Syaikh Taqi Misbah Yazdi, menangis disebabkan empat tingkatan spiritual : keridhaan (ar-rida’), kebenaran (ash-shidiq), petunjuk (al-hidayah) dan pemilihan (al-isthifa’). Dan para nabi telah mencapai empat tingkatan spiritual yang tinggi ini. “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an al-Karim dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Qs. Al-Isra’ : 107-109). Melalui ayat ini, disimpulkan bahwa ilmu dan makrifat adalah penyebab timbulnya tangisan. Setiap orang yang mengetahui hakikat sesuatu, mengetahui hakikat kenabian Rasulullah SAW dan mengetahui hakikat kesyahidan Imam Husain ra, maka hatinya sangat peka dan matanya muda mengucurkan air mata. Rasul bersabda, “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. ” Di ayat lain Allah SWT berfirman, “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (Qs. Al-Maidah : 83).

Mengapa Menangis atas Imam Husain ?

Seseorang yang menjadikan Imam Husain sebagai kekasihnya dan mendengar sang kekasih mengalami musibah dan bencana, apa layak hanya menanggapinya dengan dingin dan tidak menangis ?. Imam Husain adalah adalah kekasih bagi setiap muslim, beliau gugur dalam keadaan kehausan dan tidak cukup dibantai, tapi kepala beliau dipisahkan dari tubuhnya dan ditancapkan di atas tombak serta di bawa untuk dipersembahkan kepada raja Yazid yang bermukim di Syuriah. Oleh karenanya bagi yang ingin menziarahi tubuh Imam Husain, maka hendaknya pergi ke Karbala Irak dan bagi yang ingin menziarahi kepalanya, maka hendaknya pergi ke Suriah. Ini bukan cerita dongeng, sejarahnya sangat masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab ahli sejarah. Tidak ada yang memungkiri, Imam Husain adalah cucu kesayangan nabi, dan berkali-kali menyampaikan kepada para sahabat untuk juga menyayanginya. Abu Hurairah bercerita, “Rasulullah SAW datang kepada kami bersama kedua cucu beliau, Hasan dan Husain. Yang pertama di bahu beliau yang satu, yang kedua di bahu beliau yang lain. Sesekali Rasulullah SAW menciumi mereka, sampai berhenti di tempat kami berada. Kemudian beliau bersabda, ‘Barang siapa mencintai keduanya (Hasan dan Husain) berarti juga mencintai daku; barang siapa membenci keduanya berarti juga membenci daku.” Imam Husain adalah kekasih setiap mukmin dan mukminah dan teman dekat setiap Muslim dan Muslimah, sehingga setiap orang mukmin akan merasa sedih atas kepergiannya. Tidak sedikit rakyat Pakistan yang menangisi kematian Benazir Bhutto yang tragis ataupun mahasiswa Makassar yang tidak bosan-bosannya memperingati tragedi AMARAH tiap tahunnya, maka bagaimana mungkin kita tidak menangis atas kematian Imam Husain yang mengajari dan menjaga nilai-nilai dan prinsip-prinsip kebenaran! Seandainya kalau bukan karena jihad sucinya, niscaya Islam akan lenyap bahkan namanya pun tidak akan terdengar. “Jikalau raga diciptakan untuk menyongsong kematian, maka kematian di ujung pedang di jalan Allah jauh lebih baik dan mulia ketimbang mati di atas ranjang.” (Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib).

Menangis atas Imam Husain, Sunnah atau Bid’ah ?

 Allah SWT berfirman tentang nabi Yaqub as yang menangisi kepergian anaknya, Nabi Yusuf as, “…Aduhai duka citaku terhadap Yusuf; dan kedua matanya menjadi putih (buta) karena kesedihan dan dialah yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).” (Qs. Yusuf : 85). Dari ayat ini, kita bisa bertanya, apakah tangisan Nabi Yaqub as karena terpisah dengan anaknya sampai matanya menjadi buta adalah bentuk jaza’ (keluh kesah) yang dilarang ? apakah Nabi Yaqub as melakukan sesuatu yang menjemuruskan dia dalam kebinasaan sampai anak-anaknya bertanya, ” Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf, sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang yang binasa ?” (Qs. Yusuf : 86). Alhasil, Al-Qur’an menceritakan bahwa ketika Yusuf dijauhkan Allah SWT dari pandangan Yaqub serta merta Yaqub menangis sampai air matanya mengering karena sangat sedihnya. Tentu saja tangisan Nabi Yaqub as bukanlah tangisan keluh kesah yang sia-sia, melainkan ungkapan kesedihan atas kebenaran yang telah dikotori, atas anaknya Yusuf yang telah di dzalimi. Hakim an-Naisaburi dalam Mustadrak Shahih Muslim dan Bukhari meriwayatkan, bahwa Rasulullah keluar menemui para sahabatnya setelah malaikat Jibril memberitahunya tentang terbunuhnya Imam Husain dan ia membawa tanah Karbala. Beliau menangis tersedu-sedu di hadapan para sahabatnya sehingga mereka menanyakan hal tersebut. Beliau memberitahu mereka, “Beberapa saat yang lalu Jibril mendatangiku dan membawa tanah Karbala , lalu ia mengatakan kepadaku bahwa di tanah itulah anakku Husain akan terbunuh.” Kemudian beliau menangis lagi, dan para sahabatpun ikut menangis. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa inilah acara ma’tam (acara kesedihan dan belasungkawa untuk Imam Husain). Jika ketika mendengar kisah terbunuhnya Imam Husain lalu tidak mengucurkan air mata, maka kitapun akan dingin terhadap tragedi-tragedi kemanusiaan lainnya. Karenanya wajar, hati masyarakat kita tidak tersentuh ketika mendengar berita seorang suami membakar istrinya, seseorang membunuh dengan dalih yang sepele dan sebagainya. Masyarakat kita tidak terbiasa menangis tetapi terbiasa untuk tertawa. Hati kita cenderung keras dan menganggap tangisan adalah bentuk kekalahan. Tangisan atas Imam Husain bukanlah tangisan kehinaan dan kekalahan, namun adalah protes keras atas segala bentuk kebatilan dan sponsornya di sepanjang masa. Orang-orang mukmin merasakan gelora dalam jiwanya ketika mengenang terbunuhnya Imam Husain, bahkan Mahatma Ghandi berkali-kali mengatakan semangat perjuangannya terinspirasi dari revolusi Imam Husain ra. Orang-orang Iran punya syair, Hameye jo karbala , hameye ruse asy-syura, semua tempat adalah Karbala dan semua hari adalah asy-Syura. Hari asy-Syura termasuk hari-hari Allah, tentangnya Allah berfirman : “Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” (Qs. 14:5). Meskipun ada usaha-usaha untuk memadamkan gelora perlawanan akan ketertindasan dan kedzaliman. Tetapi Allah Maha Perkasa, Dia tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun musuh-musuh-Nya tidak suka. Allah tetap menjaga gelora spiritual itu tetap menyala di hati-hati orang mukmin dan tidak akan pernah padam sampai hari kiamat. Semua mukminin wajib mengenang tragedi ini dan menangis atasnya, “Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis?” (QS. An-Najm: 59-60)

 Wallahu a’alam bishshawwab





Imam Mahdi, Janji Keadilan Semesta

10 04 2008

Oleh: Sayid Mahdi Ayatullahi

“Imam Al-Mahdi as. lahir pada 15 Sya’ban 255 H. Kelahiran ia sungguh menghidupkan harapan di dalam jiwa-jiwa kaum tertindas di dunia. Ayah Imam as. adalah Imam Hasan Al-Askari as. dan ibunya bernama Nargis, seorang wanita suci keturunan salah satu Hawariyyun (sahabat setia) Nabi Isa as., yaitu Sam’un Ash-Shafa. Imam Mahdi as. adalah Imam terakhir Ahlul Bait as. Secara khusus, sang datuk Rasulullah saw. telah memberitakan kehadirannya dalam sejumlah hadis-hadis yang mutawatir, bahwa “Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah disesaki oleh kezaliman”.  Ia dikenal dengan panggilan Abul Qosim, dan gelar mulia  “Al-Mahdi”. Dengan demikian, ia membawa nama sekaligus panggilan junjungan kita Muhammad saw., sebagaimana ia pun membawa risalah agamanya, Islam.Para penguasa zalim menjadi begitu awas dan  senantiasa mengintai kelahiran Imam Mahdi as, sehingga mereka berupaya menggagalkannya. Persis dengan apa yang telah dilakukan Fir’aun; mengawasi setiap ibu yang hamil dan bayi yang lahir. Namun,  mereka tidak sadar bahwa Fir’aun,  meskipun mengerahkan segenap kekuatan raksasa yang dimilikinya sampai  membunuh secara massal bayi-bayi yang baru lahir,  usahanya itu gagal total.”


 

 

Hari Lahir

      Imam Al-Mahdi as. lahir pada 15 Sya’ban 255 H. Kelahiran ia sungguh menghidupkan harapan di dalam jiwa-jiwa kaum tertindas di dunia. Ayah Imam as. adalah Imam Hasan Al-Askari as. dan ibunya bernama Nargis, seorang wanita suci keturunan salah satu Hawariyyun (sahabat setia) Nabi Isa as., yaitu Sam’un Ash-Shafa.

      Imam Mahdi as. adalah Imam terakhir Ahlul Bait as. Secara khusus, sang datuk Rasulullah saw. telah memberitakan kehadirannya dalam sejumlah hadis-hadis yang mutawatir, bahwa “Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah disesaki oleh kezaliman”.

      Ia dikenal dengan panggilan Abul Qosim, dan gelar mulia  “Al-Mahdi”. Dengan demikian, ia membawa nama sekaligus panggilan junjungan kita Muhammad saw., sebagaimana ia pun membawa risalah agamanya, Islam.Para penguasa zalim menjadi begitu awas dan  senantiasa mengintai kelahiran Imam Mahdi as, sehingga mereka berupaya menggagalkannya. Persis dengan apa yang telah dilakukan Fir’aun; mengawasi setiap ibu yang hamil dan bayi yang lahir. Namun,  mereka tidak sadar bahwa Fir’aun,  meskipun mengerahkan segenap kekuatan raksasa yang dimilikinya sampai  membunuh secara massal bayi-bayi yang baru lahir,  usahanya itu gagal total.

      Mu’tamid, Khalifah Abbasiyah –yang  merupakan Fir’aun pada masanya– pun ingin melakukan hal yang sama. Ia pun mencoba mengikuti langkah Fir’aun berusaha mencegah kemunculan Sang Pembela Kebenaran yang akan merongrong kekuasaannya. Ia seketat mungkin mengawasi rumah Imam Hasan Al-Askari as.

      Ketika Imam Hasan as. diracun, ia dibawa dalam keadaan lemah dari penjara ke rumahnya. Mu’tamid menugaskan lima orang pengawal pergi menyertai Imam untuk mewaspadai dan berjaga-jaga di sekeliling rumah Imam jika ada peristiwa yang terjadi di rumah itu. Tidak hanya mengutus mata-mata, ia juga mengirim beberapa bidan ke rumah Imam untuk menjaga dan membantu proses kelahiran istri Imam as.

       Kota  Samarra berubah menjadi kota duka atas kematian Imam Hasan Al-Askari. Orang-orang menutup tempat kerja mereka untuk melayat ke rumah Imam. Penduduk kota itu mengusung jenazah suci Imam dengan tangan mereka sendiri dalam upacara penguburan yang kudus, agung dan akbar.

      Khalifah Abbasiyah sangat gusar dan kesal atas kerumunan massa yang datang melayat Imam. Ia berusaha keras untuk menutupi kejahatannya dan mengumumkan bahwa kematian Imam merupakan sebuah kejadian yang wajar dan alamiah. Mu’tamid mengutus saudaranya untuk menghadiri upacara pemakaman dan bersaksi bahwa tidak ada yang membunuh Imam. Di sisi lain, ia membagi-bagikan harta peninggalan Imam untuk menunjukkan bahwa Imam tidak meninggalkan anak yang dapat menunaikan shalat jenazah dan menjadi pewaris sah atas harta peninggalan ia.

      Namun, betapapun usaha untuk menutupi cahaya kebenaran, kehendak Allahlah yang tetap berlaku. Ketika Imam Al-Askari as. dibunuh, putra ia berusia lima tahun. Ia mencapai kedudukan Imam pada usia lima tahun, seperti Nabi Isa yang diangkat sebagai nabi ketika ia masih dalam buaian.

      Ketika mereka meletakkan jenazah suci Imam Al-Askari as., saudara ia -yang bukan orang baik-baik- hendak memimpin shalat jenazah. Namun putra ia Imam Al-Mahdi ajf.  –yang masih belia- mendorongnya  ke samping dan ia sendiri maju ke depan memimpin shalat jenazah tersebut. Setelah selesai shalat jenazah, ia menghilang dari pandangan mata.

      Orang-orang Syiah telah melihat Imam Al-Mahdi di kediaman sang ayah, Imam Hasan Al-Askari yang saat itu masih hidup. Di kediaman itu pula mereka  mendengarkan nasihat ia tentang anaknya kepada mereka. Setelah syahadah Imam Hasan as., mereka tetap berhubungan dengan Imam Al-Mahdi hingga  beberapa waktu lamanya.

 

Keadaan ketika Imam Al-Mahdi Lahir

      Hakimah, bibi Imam berkata, “Aku pergi ke rumah anak saudaraku, pada hari Kamis bulan Sya’ban. Ketika aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, Imam berkata, ‘Wahai bibi, tinggallah malam ini bersama kami karena putra kami akan segera lahir’. “Aku sangat bergembira dan berbahagia mendengarkan kabar itu dan pergi menjumpai Nargis (Ibunda Imam Al-Mahdi) namun aku tidak menemukan tanda-tanda kehamilan pada diri ia. Aku terkejut dan bergumam, ‘Tidak melihat tanda-tanda kelahiran bayi padanya’. “Pada saat-saat itu, Imam datang padaku dan berkata, “Duhai bibi, jangan bersedih, Nargis seperti ibunda Nabi Musa as., dan si bayi seperti Musa yang lahir secara tersembunyi dan tanpa tanda-tanda apa pun yang  menyertai kelahirannya. Temuilah Nargis, dia akan segera melahirkan pada subuh hari’.

      “Aku berbahagia menemani Nargis, sambil mengamati apa yang dikatakan oleh Imam bahwa tanda-tanda kelahiran Nargis muncul sebelum matahari terbit di ufuk timur. Seberkas cahaya membentang antara diriku dan dia sehingga aku tidak dapat melihat Nargis lagi. Aku ketakutan dan keluar dari bilik itu untuk menjumpai Imam dan melaporkan apa yang telah terjadi. Ia tersenyum dan berkata, ‘Kembalilah, beberapa saat lagi engkau akan melihatnya’.

      “Aku kembali ke kamar dan melihat seorang bayi baru lahir dan tengah melakukan sujud lalu ia mengangkat tangannya ke angkasa, berdzikir dan memuji  Allah dengan segala kepemurahan-Nya, kebesaran-Nya dan keesaan-Nya”.

 

  Keadaan Ibunda Nargis

Salah seorang budak Imam Hadi as., Bishr Al-Anshari menukilkan sebuah kisah  sehubungan dengan kejadian itu:

“Suatu hari, Imam Hadi as. memanggilku dan berkata padaku, ‘Aku ingin memberikan sebuah pekerjaan untukmu, pekerjaan ini akan menjadi sesuatu yang sangat berharga untukmu’. Ia memberikan sebuah surat disertai dengan seikat kantong yang berisi dua ratus emas Dinar. Ia berkata, ‘Ambillah kantong ini dan pergi ke Baghdad,  nantikan kapal yang akan berlabuh besoknya di sana di sungai Furat (Eufrat). Di dalamnya terdapat banyak budak-budak yang dibawa untuk diperjualbelikan. Kebanyakan pembeli dan penjual itu berasal dari Bani Abbas dan beberapa pemuda dari suku bangsa yang lain.

“Di atas kapal itu, ada seorang wanita yang, ketika ia diminta untuk menampakkan dirinya, enggan memenuhi permintaan itu. Salah seorang pemuda maju ke depan dan berkata kepada tuannya, “Aku siap membeli wanita itu dengan harga dua ratus emas Dinar”. Tetapi si wanita itu tidak setuju dengan tawaran pemuda itu. Lalu tuannya berkata, “Kamu tidak ada pilihan lain kecuali harus dijual, kamu harus terima tawaran pemuda itu”. Tapi ia  menukas, “Tunggu sebentar! Pembeliku akan segera datang”. Lalu kau maju ke depan berikan surat itu kepadanya,  katakan “Jika wanita ini berhasrat kepada orang yang mengirim surat ini, aku akan membelinya”. Setelah membaca surat yang disodorkan padanya, wanita itu merasa senang lalu kau bayar dengan uang ini, serahkan pada tuannya dan bawa wanita itu kemari’.

Bishr berkata, “Aku kerjakan apa yang diperintahkan Imam kepadaku, aku beli wanita itu dari tuannya. Dalam perjalanan, ia menceritakan kepadaku sebuah cerita yang mengejutkan. Katanya, “Aku adalah putri Raja Romawi. Datukku adalah sahabat dekat Nabi Isa. Ayahku menginginkan agar aku menikah dengan keponakannya.

“Suatu hari, ia mengadakan sebuah pertemuan akbar di istana dan meminta kemenakannya duduk bersanding denganku di singgasana. Seluruh bangsawan Nasrani dan para pengawal kerajaan berkumpul untuk menikahkan aku dengannya.

“Tiba-tiba istana berguncang, yang membuat segala sesuatunya berserakan hingga saudara sepupuku itu terjatuh dari singgasana. Meski begitu, mereka tetap bersikeras untuk menikahkanku dengannya. Mereka kembali mengadakan pertemuan itu, namun kejadian yang sama juga kembali terjadi. Para bangsawan Nasrani menganggapnya sebagai sebuah tanda buruk. Mereka segera  meninggalkan istana.

“Pada malam yang sama, aku tertidur dalam keadaan sedih dan pilu. Aku bermimpi seorang pria dengan cahaya yang memancar dari tubuhnya, datang ke istana. Beberapa orang berkata bahwa pria itu adalah Nabi Isa,  dan yang lainnya berkata bahwa pria itu adalah Rasulullah saw.  Rasulullah saw. berhadapan dengan Nabi Isa as, ia berkata, ‘Aku meminang cucumu untuk cucuku’.

“Nabi Isa as. sangat gembira dengan pinangan itu. Ia menerima pinangan Rasulullah saw.

“Aku bangkit dari tempat tidurku dan tidak mengungkapkan perihal mimpi itu kepada siapa pun. Hingga suatu hari, aku jatuh sakit dan ayahku memanggil seluruh tabib untuk memeriksa keadaanku. Namun tidak satu pun dari mereka yang dapat menyembuhkan sakitku.

“Aku memohon kepada ayahku untuk membebaskan orang-orang muslim yang ada dalam penjara ketika itu. Ia mengabulkan permohonanku. Ia membebaskan tawanan-tawanan muslim. Segera setelah  itu aku pun sembuh dari sakitku.

“Pada malam yang sama, aku sekali lagi melihat dua orang wanita yang penuh dengan cahaya. Mereka berkata bahwa wanita itu adalah ibunda Nabi Allah Isa as. dan Fatimah putri Rasulullah saw. Fatimah maju ke depan dan berkata kepadaku, ‘Jika engkau ingin menjadi istri  putraku, engkau harus menjadi muslim’. Dalam mimpi malam itu, Aku menerima Islam melalui tangannya. Lalu ia membawaku menjumpai anaknya Imam Hasan Al-Askari.

“Cintanya menawan hatiku dengan kuat, dan seluruh badanku lemas siang dan malam. Sampai pada suatu malam, aku melihat Imam Hasan Al-Askari dalam mimpi. Aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana aku dapat menjadi istrimu?’ Ia berkata, ‘Ayahmu dalam waktu dekat ini akan mengirim serdadunya untuk berperang melawan serdadu muslim, dan engkau akan berada di barisan belakang serdadu itu. Serdadu muslim akan memenangkan perang itu dan engkau akan di tahan sebagai tawanan perang lalu dibawa ke Baghdad untuk dijual. Engkau akan dibawa ke Baghdad dengan kapal yang melintasi sungai Furat. Kapal itu akan berlabuh di sungai itu dan mereka akan membawamu keluar dari kapal itu untuk dijual’. Para pembeli akan datang untuk membelimu. Namun, tunggulah sampai seseorang (utusan) datang untuk membelimu. Ia akan datang dengan membawa surat dari ayahku. Dialah yang akan menjadi pembelimu dan membawamu pergi’.

“Aku terjaga dari mimpi dan merasa gembira.  setelah beberapa waktu berlalu, apa yang diceritakan oleh Imam Hasan Al-Askari dalam mimpi itu terjadi.

“Wahai Bishr! Hingga saat ini, tidak ada seorang pun yang tahu akan kisah ini dan mengenali aku. Berhati-hatilah, jangan engkau ceritakan kisah ini kepada siapapun. Simpanlah kisah ini untukmu saja”.

Bishr berkata, “Ketika Nargis menukilkan  kisah itu kepadaku, terasa gemetar sekujur tubuhku. Sejak saat itu, aku menghormatinya dan menemaninya seakan-akan aku ini adalah budaknya. Aku membawa ia ke hadirat tuanku Imam Hadi as.”

Imam Hadi as. bertanya kepada wanita itu, bagaimana kisahmu sampai memeluk Islam?  Dia menjawab, “Anda bertanya sesuatu yang Anda lebih tahu ketimbang aku.”

 Ia lalu berkata, “Berita gembira untukmu tentang seorang anak yang akan memenuhi alam semesta ini dengan keadilan dan hukum, seorang anak yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat manusia”.

Kemudian ia memalingkan wajahnya ke saudarinya Hakimah, “Wahai ukhti! Inilah wanita yang kau nanti-nantikan selama ini. Bawalah ia bersamamu dan ajarkan Islam kepadanya”. Hakimah memeluknya erat dan ia membawanya pergi dengan penuh hormat.

 

Periode Kehidupan Imam Al-Mahdi Ajf

Periode kehidupan Imam Muhammad Al-Mahdi Ajf dapat dibagi menjadi tiga bagian:

 

1.       Pra-Imamah

Yaitu sejak lahir hingga syahadah ayahanda ia, Imam Hasan Al-Askari as. Periode ini berlangsung selama lima tahun.

Selama periode ini, Imam Hasan as. senantiasa menjaga putranya ini sedemikian rupa hingga  tidak ada yang dapat melihatnya kecuali sebagian sahabat-sahabat dan orang-orang yang dekat dengan ia.

Penjagaan ketat ini ia lakukan lantaran kuatir terhadap penyusupan orang-orang Abbasiyah dan mata-mata mereka yang begitu ketat mengawasi kediaman ia.

 

2.      Kegaiban Kecil (Ghaibah Sughra)

Yang dimulai pada waktu ia berusia enam tahun dan terus berlanjut hingga usia tujuh puluh enam tahun. Selama periode ini, aparat pemerintahan dan agen-agennya tidak dapat bertemu dengan ia. Akan tetapi, sahabat-sahabat ia tetap memiliki kesempatan untuk bertemu dengan ia dan meminta jalan keluar atas masalah-masalah yang mereka hadapi.

Selama masa Kegaiban Kecil ini, ada empat orang yang menjadi sahabat khusus Imam Al-Mahdi ajf., sekaligus menjadi perantara antara Imam dan pengikutnya. Mereka membawa dan mengirim surat atau pun uang dari umat dan menyampaikannya kepada Imam as., juga sebaliknya menyampaikan jawaban Imam kepada mereka.

Empat sahabat Imam Mahdi as. itu adalah:

1.      Utsman bin Sa’id

2.      Muhammad bin Utsman

3.      Husain bin Rouh

4.      Ali bin Muhammad Sumari

Periode ini berakhir dengan wafatnya sahabat keempat Imam pada 329 H. Sebelum wafatnya, ia telah menyatakan berakhirnya keperantaraan dan kedutaan. Dengan begitu, Imam Al-Mahdi ajf. segera memasuki periode baru dalam hidupnya, yaitu Kegaiban Besar.

 

3.      Kegaiban Besar (Ghaibah Kubra)

Sepanjang periode ini – yang entah sampai kapan, hanya Allah swt. Yang Mahatahu- Imam Muhammad Al-Mahdi ajf. menghadiri perhelatan dan acara perkumpulan yang diadakan oleh pengikut ia. Ia hadir tanpa diketahui oleh seorang pun.

Tidak ada satu orang pun yang mengenali ia. Mereka menganggapnya sebagai orang asing. Setelah Imam meninggalkan tempat itu, dengan melihat tanda-tanda yang ada, barulah mereka sadar bahwa Imam telah datang ke tempat mereka.

 

Masa Penantian

Imam Al-Mahdi ajf. tidak menunjukkan  dirinya kepada fuqaha  (ulama dan pakar hukum Islam) yang handal dalam memecahkan masalah-masalah keagamaan yang mereka hadapi dan masyarakat Islam selama kegaiban ia. Namun demikian,  mereka menyediakan lahan dalam rangka menyongsong revolusi yang akan dicetuskan oleh Imam Maksum ini.

Orang-orang di masa kini, menantikan kedatangannya. Penantian ini tidak berarti hanya duduk tanpa ada usaha yang berarti sama sekali, pasif, acuh tak acuh, tidak berusaha, dan tidak berupaya membuka jalan bagi kemunculan Imam ajf. Sebaliknya, orang yang menanti adalah orang yang penuh pengharapan, berusaha, bekerja, bergerak, sadar dan giat, memiliki keyakinan yang teguh pada Imam Al-Mahdi, sehingga ia  melempangkan jalan bagi kemunculan dan kedatangan ia.

Seorang penanti sejati persis ibarat pendaki gunung, yang menantikan waktu untuk menaklukkan puncak gunung dan berjuang untuk mencapai puncak yang ditujunya. Ia senantiasa siap-sedia untuk melakukan apa saja yang diperlukan demi menginjakkan kaki di atas puncak. Tak pelak lagi, ia harus memiliki perencanaan yang matang untuk mencapai puncak kesuksesan dan sadar, bahwa duduk diam berpangku tangan tidak akan membawanya kepada tujuan.

Dengan demikian, penantian berarti  pergerakan, usaha, upaya, pikiran yang teguh, berkarya dan mencipta untuk kemaslahatan umat manusia. Jika prinsip dasar ini tidak tertanam  secara baik dalam masyarakat, umat manusia akan beku, putus asa dan kecewa, serta tidak lagi berpandangan optimistis dalam menatap masa depan yang gemilang.

Prinsip Penantian (Intidzarul Faraj) dalam Islam adalah sebuah prinsip yang tidak dapat dipisahkan dari agama yang memberikan kabar gembira tentang masa depan yang gemilang dan pelaksanaan segenap keadilan sosial bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, ia membina dirinya untuk mewujudkan cita-cita luhur ini sebegitu rupa sehingga ia mampu memerangi dan menghilangkan kegelapan, menyingkirkan para sufi gadungan dan kaum yang bersikap permusuhan  terhadap Imam Mahdi ajf.

Dengan kekuatan pergerakannya yang tak terbendung itu, seorang muslim akan menciptakan  sebuah lingkungan yang siap  membentuk pemerintahan tunggal alam semesta. Sehingga, ketika tiba masa kemunculan insan yang telah diciptakan Allah swt. dengan pesona kepribadian yang luhur ini, seluruh maksud dan tujuan Islam akan menjadi kenyataan, Insya Allah. Dialah Imam Mahdi ajf.

 

Mukjizat Imam Mahdi as.

Dari sekian mukjizat Imam Mahdi Ajf,  di sini kita akan menyimak dua mukizat saja.

 

1.       Lolos dari Kejaran Penguasa

Syeikh Thusi menukil riwayat dari seseorang yang bernama Rashiq, yang merupakan antek dari Khalifah Abbasiyah, Mu’tazid. “Suatu hari Mu’tazid memanggilku dan berkata, “Aku telah dengar kabar bahwa di kediaman Hasan Al-Askari ada seorang anak. Ia menemaniku beserta dua orang anteknya yang lain, ia berkata, ‘Bergegaslah pergi ke Samarra dan geledah  rumah Hasan Al-Askari. Jika engkau temukan seorang anak muda di sana, bunuh dan bawa kepalanya kemari’.

“Kami pun bergegas menuju ke Samarra. Kami tiba di depan pintu Imam Hasan Al-Askari tanpa menjumpai sedikit pun rintangan di jalan. Kami melihat seorang budak sedang duduk di depan pintu. Kami masuk ke rumah tanpa lagi peduli pada si budak itu. Di sebuah sudut rumah yang indah itu, terdapat sebuah kamar yang menarik perhatian kami. Kami singkap tirai yang menghalangi , kami temukan sebuah kamar besar yang penuh dengan air dan di kamar itu ada sebuah karpet yang menghampar dan seorang anak muda sedang sibuk mengerjakan salat.

Salah seorang dari utusan Khalifah itu mencoba memasuki kamar itu, namun dengan seketika ia tenggelam. Kami berusaha dengan susah payah untuk menyelamatkannya. Si utusan itu pingsan akibat ulahnya itu.

“Utusan yang lainnya juga mencoba memasuki kamar itu, dan seperti utusan yang        pertama, ia pun tenggelam dalam air itu. Kami menyeretnya keluar. Ia juga jatuh pingsang. Beberapa saat berlalu, kedua utusan itu siuman. Dalam keadaan gemetar karena takut, kami menunggangi kuda dan beranjak meninggalkan rumah itu menuju istana Khalifah.

“Kami menemui Khalifah Mu’tazid pada tengah malam. Ia dengan sengaja berjaga-jaga dan sedang menantikan kedatangan kami. Kami ceritakan kisah yang baru saja kami alami, ia pun ikut ketakutan sebagaimana kami. Ia berkata, ‘Tidak seorang pun yang boleh tahu kejadian ini. Simpan baik-baik rahasia ini dan jangan katakan kepada siapa pun. Jika saja aku tahu bahwa kalian membocorkan rahasia ini kepada orang lain, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian’.

Hingga akhir hayatnya, Mu’tazid tidak sedikit pun memiliki keberanian untuk bercerita perihal kejadian itu.

 

2.         Jumlah Uang dalam Kantong

Ali bin Sinan bercerita, “Sekelompok orang dari Qum dengan membawa sejumlah uang bergerak menuju Samarra untuk menjumpai Imam Hasan Al-Askari. Setibanya di sana, mereka baru tahu bahwa Imam Hasan Al-Askari telah wafat. Mereka tetap tidak percaya dan mulai berpikir tentang apa yang seharusnya dilakukan.

“Hingga beberapa waktu, mereka diperkenalkan dengan seseorang yang bernama Ja’far saudara Imam Hasan Al-Askari as. Ketika mereka menjelaskan maksud kedatangannya, Ja’far berkata, ‘Serahkan uang yang kalian bawa itu kepadaku, karena akulah pengganti Imam Hasan’. Mereka berkata, ‘Kami harus menanyakan  kepada Imam jumlah uang yang kami bawa dan pemilik dari setiap kantong uang itu’.

“Cara demikian itu pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu, Ja’far merasa malu dan berkata, ‘Kalian berdusta kalau saudaraku biasa menanyakan hal-hal seperti itu. Karena apa yang kalian tanyakan itu hanya dapat diketahui oleh Allah swt, Sang Mahatahu, Sang Mahahadir di setiap tempat. Tidak satu pun orang yang dapat mengetahui hal itu selain-Nya’.

“Kafilah dari Qum itu tetap bersikeras dengan sikap mereka, sehingga membuat Ja’far mengadukan mereka kepada Khalifah. Khalifah memanggil mereka dan memerintahkan untuk menyerahkan uang itu kepada Ja’far. Mereka memohon kepada Khalifah, ‘Uang ini bukan milik kami. Uang itu adalah simpanan umat. Kami tidak punya pilihan lain kecuali menyerahkan uang ini kepada seseorang yang menjadi pengganti Imam Hasan as.,  dan jika tidak, kami akan mengembalikan uang ini kepada pemiliknya’.

“Khalifah menerima permohonan mereka dan membiarkan mereka pergi. Ketika kafilah Qom itu memutuskan untuk meninggalkan kota, seorang pemuda datang mendekat dan berkata, ‘Imam memanggil kalian semua untuk berjumpa dengan ia’.

“Mendengar undangan itu, mereka sangat bersuka cita dan mengikuti pemuda itu menuju rumah Imam Hasan Al-Askari. Sesampainya di sana, kafilah itu menjumpai seorang pemuda, tanda-tanda dan aura Imamah nampak dari wajahnya. Mereka mengulangi pertanyaan sebagaimana yang telah dilontarkan kepada Ja’far.

Imam tersenyum dan berkata, “Duduklah, aku dapat memberi tahu kepada kalian tentang isi setiap kantung ini berikut pemiliknya. Lalu, Imam menyebutkan satu persatu pemilik kantong uang itu dan jumlahnya.

“Kami sangat bergembira melihat kenyataan bahwa kami telah menemukan siapa yang selama ini kami cari. Kami mengambil kantong uang itu dan menyerahkannya kepada Imam as.

“Perjumpaan dengan Imam as. adalah sebuah kesempatan emas untuk menanyakan masalah-masalah yang kami hadapi. Kami pun mengutarakan permasalahan-permasalahan dan dijawab oleh ia dengan gamblang. Ia memerintahkan kepada kami untuk tidak lagi membawa uang kepada ia, dan meminta untuk menyerahkannya kepada wakil yang akan ditunjuk oleh ia. Dan bila kami memiliki pertanyaan, kami mengirimnya kepada ia dan ia mengirim jawaban pertanyaan itu.

“Kami pun pamit dari ia. Kami bersyukur kepada Allah swt. atas nikmat dan anugerah yang besar ini; dapat berjumpa dengan ia”.

 

Orang-orang Yang Bertemu Imam

Walaupun Imam Muhammad Al-Mahdi ajf. tidak menunjukkan diri ia kepada siapa pun secara langsung dalam masa Ghaib Kubra ini, namun mereka yang memiliki jiwa yang suci dan bertakwa, sewaktu-waktu dapat berjumpa dan berbicara dengan ia.

Di sini kami akan sebutkan beberapa kejadian yang menceritakan perjumpaan mereka dengan Sang Imam ajf. Mereka itu antara lain:

 

1.       Ismail bin Hirqili Syamsuddin

Syamsuddin bercerita, “Pernah ayahku berkisah tentang kakinya yang terluka dan kemudian terobati. Ketika masih muda, Ayahku menderita luka dan infeksi pada bagian pahanya. Luka itu sungguh membuatnya tidak berdaya.

“Suatu hari ia berkunjung kepada salah seorang sahabatnya, Sayyid Raziuddin Thaus di Hilla, Irak. Sahabat itu membantunya dengan mengumpulkan para tabib untuk memeriksa dan mengobati luka infeksi itu. Akan tetapi, setelah para tabib itu  memeriksa luka itu, mereka memberikan jawaban negatif. Mereka berkesimpulan bahwa paha yang terinfeksi karena luka itu harus segera di operasi, resiko yang dapat terjadi adalah paha ayahku itu diamputasi atau ia akan mati.

“Tahun berikutnya, Sayyid yang baik hati itu, mengajak ayahku pergi ke Baghdad dan membawa ia untuk diperiksa oleh para tabib di kota itu. Jawaban mereka atas pemeriksaan itu sama dengan jawaban tabib sebelumnya.

“Sedih, kecewa, kecil hati menyelimuti perasaan ayahku ketika itu. Ia datang berziarah ke Haram Imam Al-Askari as. di Samarra. Di Haram itu, ia bermalam dan bertawassul untuk meminta pertolongan kepada Imam Zaman ajf.

“Tatkala fajar menyingsing, ia pergi ke arah Sungai Dajla untuk membasuh pakaiannya sekaligus mandi, lalu kembali berziarah ke Haram Imam Al-Askari. Ayahku mengatakan, ‘Pada perjalananku kembali menuju Haram Imam Al-Askari, aku berjumpa dengan dua orang penunggang kuda. Semula, aku pikir mereka itu adalah orang-orang dari suku Badui.

‘Mereka memberikan salam kepadaku. Salah seorang dari mereka berkata, “Mari mendekat kepadaku”. Karena aku telah membersihkan pakaianku, aku tidak mendekat kepada mereka. Aku lihat orang-orang Badui Arab itu kotor.  Aku khawatir bajuku yang masih basah itu akan ternodai oleh tangan mereka.

‘Selagi aku masih berpikir tentang mereka, tiba-tiba ia menarikku untuk mendekat padanya. Ia menempelkan tangannya pada lukaku yang membuatku mengerang kesakitan. Setelah beberapa saat, ia mengangkat tangannya dari pahaku yang terluka itu seraya berkata, “Ismail, sekarang engkau telah sembuh. Janganlah engkau bersedih dan berkeluh kesah lagi”.

‘Aku terkejut betapa orang itu memanggil namaku. Ia pergi meninggalkan aku yang masih termangu dan sibuk dengan pikiranku sendiri.

‘Aku yakinkan diriku bahwa orang itu adalah Imam Al-Mahdi ajf. Aku membuntuti ia dan memohon padanya untuk berhenti. Tiba-tiba ia berbalik dan berkata kepadaku, “Ismail pulanglah”.

‘Aku tidak menghiraukan perkataannya itu. Aku tetap berlari mengejarnya. Orang yang beserta ia dalam perjalanan itu turut berbicara, “Wahai Ismail pulanglah. Apakah engkau tidak merasa malu mengabaikan perintah Imam Mahdi?”

‘Mendengar perkataan orang tersebut, dugaanku benar, bahwa ia adalah Imam Mahdi dan Sang Pelindung Umat.

‘Aku pun berhenti dan menatap ia pergi, selang beberapa saat kemudian mereka telah menjauh dan menghilang dari pandanganku’.

Syamsuddin menuturkan, “Sejak hari itu ayahku menjadi lebih sering ke Samarra. Namun sayang, ia tidak melihat Imam lagi hingga akhir hayat ia dengan asa dan kerinduan untuk bersua lagi dengan Imam Mahdi ajf.

 

 2.      Sayyid Muhammad Jabal Amili

Sayyid Muhammad Jabal Amili menuturkan perjalanannya kepada seorang sahabatnya. Ia berkata, “Setahun aku dalam perjalanan ke Masyhad. Karena tidak memiliki uang yang cukup, aku menjadi sangat kesusahan.

“Hingga pada suatu waktu, sebuah karavan bergerak. Namun karena aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan, aku pergi berziarah ke Haram (pusara) Imam Ridha di Masyhad dan mengadukan kesulitanku kepada ia. Dengan perut kosong menahan lapar, aku tetap  mengejar kafilah itu. Sebab, jika aku berdiam diri di kampungku pada musim dingin, aku akan mati kedinginan.

“Aku berusaha berlari mengejar kafilah itu, tetapi aku  justru  kehilangan arah. Aku tersesat jalan dan mendapati diriku di tengah padang sahara yang panas membakar. Karena rasa lapar, aku sama sekali tidak lagi kuasa menggerakkan badanku. Aku berusaha mencari tumbuh-tumbuhan sahara dan rerumputan gurun pasir untuk mengganjal perutku yang kosong, namun aku sama sekali tidak dapat menggerakkan badanku, apalagi untuk menemukannya.

“Hingga malam pun tiba dan kegelapan menyelimuti padang sahara. Raungan binatang buas, dengungan hewan-hewan padang pasir membuatku tercekam rasa takut. Aku menjerit menangis dan pasrah menanti maut yang sebentar lagi akan datang menjemputku.

“Tidak lama setelah bulan menampakkan dirinya dan suara bising kawanan hewan-hewan sahara itu berhenti, tiba-tiba aku menangkap bayangan sebuah bukit kecil, tumpukan bukit pasir. Aku berusaha mengangkat kaki menuju tempat itu. Aku melihat ada sumur di sana. Aku menimba air dari sumur itu untuk melepaskan dahagaku dan mengambil air wudhu untuk mengerjakan shalat. Namun aku tak lagi berdaya, sama sekali. Aku tidak memiliki tenaga sedikit pun untuk bergerak karena menahan rasa lapar. Aku merangkak ke tempat itu untuk tidur dan pasrah menantikan ajalku.

“Tiba-tiba, aku melihat seseorang datang  menunggang kuda, bergerak ke arahku. Aku berpikir, orang ini barangkali salah seorang dari kawanan rampok padang pasir. Aku tidak memiliki sesuatu apapun sehingga ia akan membunuhku dan membebaskanku dari rasa lapar.

“Ketika orang itu tiba di dekatku, ia menyampaikan salam kepadaku. Aku menjawab salamnya itu. Dan dengan salamnya itu tertepislah dugaanku. Ternyata, ia bukanlah dari kawanan rampok padang pasir.

“Ia bertanya, ‘Apa yang sedang kau cari?’

“Aku berusaha menjawab pertanyaan itu dengan sisa-sisa kekuatan yang kumiliki, aku berkata bahwa Aku lapar dan tersesat jalan.

“Ia berkata, ‘Engkau memiliki buah melon  di sampingmu, mengapa engkau tidak memakannya?’

“Aku yang tadinya mencari kesana-kemari sesuatu yang dapat aku makan, berpikir bahwa ia sedang bercanda. Aku berkata padanya, ‘Anda jangan bergurau. Tinggalkanlah aku sendirian menanti ajal kan tiba’.

“Ia berkata, ‘Aku tidak bercanda. Lihat apa yang di sampingmu!’.

“Kulihat, ada tiga buah melon tergeletak di sebelahku.

“Ia berkata, ‘Makanlah satu dari buah melon itu dan sisanya engkau simpan sebagai bekal perjalananmu dan tempuhlah jalan ini (Orang itu menunjukkan jalan kepadanya, penj.). Menjelang matahari tenggelam, engkau akan sampai di sebuah kemah, merekalah yang akan menuntun jalan untukmu sampai pada kafilah yang engkau ingin susul’.

“Setelah berkata-kata, orang itu pun menghilang. Seketika aku mengerti bahwa orang itu adalah Imam Mahdi ajf.

“Sesuai dengan petunjuknya, aku makan satu dari buah melon itu. Aku merasa sedikit pulih dan kuat untuk melanjutkan perjalanan. Pada hari berikutnya, aku makan lagi satu dari buah melon itu dan kembali melanjutkan perjalanan.

“Sebagaimana yang ia katakan, sebelum Maghrib aku berhasil tiba di kemah yang dimaksudkan oleh ia.  Orang-orang yang berada di kemah itu mengajakku masuk ke dalam dan mereka menjamuku dengan ramah. Setelah itu, mereka menunjukkan jalan kepadaku untuk dapat menyusul kafilah”.

 

Mungkinkah Berusia Sepanjang Itu?

Pada dasarnya, ilmu pengetahuan –seperti dalam Fisiologi- menegaskan ihwal raga manusia yang tersusun dari miliaran sel. Dengan berlalunya waktu, sel-sel tersebut menjadi tua, usang, lalu punah, digantikan oleh sel-sel yang lebih muda. Demikianlah bagaimana daur kehidupan berputar.

Sesuatu yang menjadikan manusia menjadi usang, menghentikan sel-sel itu dari aktifitasnya, dan dapat membawa kematian kepada manusia adalah bakteri dan virus yang berbahaya yang menerobos masuk ke dalam raga manusia dengan berbagai cara dan menyerang sel-sel aktif itu lalu membinasakannya.

Ilmu Kedokteran (pencegahan dan pengobatan penyakit) merupakan bukti yang kuat, bahwa jika manusia menguasai ilmu pengetahuan dengan sempurna, mengenal dengan baik keadaan tubuhnya dan zat-zat yang berbahaya, merawat kesehatannya dan teliti  dalam memilih makanan, maka hidupnya di dunia ini akan berlangsung lama. Ia tidak akan segera mengalami ketuaan.

Dari pandangan para ilmuwan, mereka telah mampu memperpanjang kehidupan beberapa hewan melalui beberapa eksperimen. Dengan cara seperti ini dan berkat manfaat ilmu  pengetahuan yang semakin menyebar dan menerapkan pola dan aturan kesahatan yang ketat, manusia dapat hidup lebih lama hingga beberapa abad.

Seorang ilmuwan telah sekian tahun berusaha mencari dan menyingkap tirai ilmu pengetahuan, untuk sekedar mengenal sekelumit dari rahasianya. Akan tetapi, Imam Mahdi ajf. menerima anugerah seluruh khazanah ilmu pengetahuan itu. Dengan anugerah Ilahi itulah ia tidak kesulitan untuk melintasi jalan-jalan yang ditempuh oleh para ilmuwan tersebut.

Dengan cara seperti ini, tidak akan menjadi mustahil -dari sudut pandang ilmu pengetahuan- bahwa Imam Mahdi ajf. dengan keluasan ilmu yang diberikan Allah swt. kepadanya, dapat menjalani hidupnya untuk ratusan tahun dengan tetap sehat dan muda. Ketuaan dan kerentaan tidak berlaku padanya.

Di sisi lain, usia panjang Imam Mahdi tidak begitu ajaib daripada dipadamkannya api  Namrud oleh Nabi Ibrahim as., dibelahnya sungai Nil oleh Nabi Musa as. dan diubahnya beberapa orang menjadi ular. Semua itu menunjukkan kebesaran dan keagungan Allah swt.

Berkenaan dengan masalah ini, Al-Qur’an dan sejarah umat manusia memberikan teladan dan contoh beberapa nabi yang berusia panjang termasuk orang-orang biasa. Sebagai contoh, Nabi Nuh as. yang telah hidup selama 950 tahun, atau Lukman as. yang telah hidup selama 400 tahun.

Demikian juga  Bukht Nashr  mampu hidup selama 1507 tahun, Nabi Sulaiman selama 712 tahun, dan Raja India, Firoze Rai selama 537 tahun.

Fakta-fakta yang tersebut di atas tadi merupakan bukti bahwa lamanya hidup seseorang di dunia tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Dan ini bisa saja terjadi di setiap zaman.

 

Bagaimana Imam Al-Mahdi Mengungguli Kekuatan Dunia?

Ketika para pemikir dan orang-orang pintar dunia sibuk dalam perlombaan senjata-senjata pemusnah massal, tampaknya tidak ada tanda-tanda perdamaian. Dunia ini tetap saja membara dengan peperangan dan ketidakadilan. Kutub-kutub kekuatan dunia terus berambisi untuk meluaskan kekuasaan dan wilayahnya melalui campur tangan perang.

Dengan keadaan dan kondisi yang menguatirkan dan mengenaskan ini, kerusakan semakin merejalela dalam kehidupan umat manusia, dan dosa serta kejahatan terus meluas.

Dalam keadaan seperti ini, medan penyambutan sebuah pemerintahan yang adil dan bebas dari perang serta agresi akan menjadi kenyataan. Seluruh bangsa-bangsa akan merasa jenuh dan muak dengan kezaliman pemerintahan mereka yang hanya memikirkan pengembangan kejahatan dan ketidakadilan yang membuat dunia runtuh. Persis sebagaimana kemunculan bintang cerlang Islam di daerah Hijaz, pun demikian setelah lima abad dalam kubangan tirani Jahiliyyah, adalah sebuah medan yang patut dipersiapkan untuk menyambut kemunculan Nabi Islam Muhammad saw.

Masyarakat yang teraniaya bersiap-siap menerima Islam dan panggilan Tauhid Allah serta Keadilan Nabi saw. Sekelompok manusia  menerima Islam sebagai panji pergerakan mereka.

Jika kita amati revolusi-revolusi yang meletus di seluruh dunia, kita temukan bahwa keberhasilan para pemimpin mengusung sebuah revolusi adalah landasanguna mewujudkan medan dalam sebuah masyarakat yang menumbuhkan  kekecewaan dan kebencian besar mereka terhadap para penguasa zalim akibat pemerintahan mereka yang tidak adil. Medan semacam ini akan mengantarkan para pemimpin sampai kepada tampuk kekuasaan.

Berdasarkan  keyakinan itu, revolusi Imam Mahdi akan terlaksana secara alami, yang seiring  dengan munculnya medan yang siap dan memadai di tengah masyarakat. Karena, revolusi agung Imam Mahdi akan bersifat global dan tidak terbatas pada suatu tempat. Oleh karena itu, seluruh masyarakat dunia harus bersedia untuk menyongsong revolusi agung itu di tengah keadaan mereka saat itu sesuai dengan apa yang disingkapkan oleh Rasulullah saw., “Kekejaman, kedurjanaan dan pengrusakan akan merajalela di seluruh dunia”. 

Tekanan yang hebat dari pemerintahan zalim akan membuat bangsa-bangsa menjadi hulu ledak yang besar, sehingga mereka akan saling bahu-membahu menghadapinya. Dan masyarakat yang selama ini diperlakukan secara tidak adil dan tidak beradab akan memenuhi panggilan nurani mereka. Ibarat buah yang matang di pohonnya, akan jatuh ke tanah hanya dengan sedikit goyangan.

Dalam kondisi seperti ini, seluruh kekuatan dunia, betapapun mereka dilengkapi dengan persenjataan militer yang canggih, tidak akan dapat membendung dan menghentikan kebangkitan dan revolusi agung ini, meskipun dengan cara pembantaian massal.

Pada saat dunia menghadapi kekalahan dan kelesuan jiwa, mereka membutuhkan seorang pemimpin yang luar biasa. Yaitu seorang pemimpin yang lengkap dengan pengetahuan,  kesadaran sejarah, mengenal seluruh tingkat kebudayaan manusia dengan baik, dan bergaul aktif secara langsung, serta sanggup mengamati secara cermat akan perubahan-perubahan sejarah dan seluruh kejahatan-kejahatan di masa lampau.

Dialah yang menjadi hujjah dan penegak amanah Ilahi yang menyerukan janji keadilan dan kemanusiaan di bumi, menghimpun orang-orang yang tertindas di seluruh dunia untuk meruntuhkan  pemerintahan-pemerintahan penindas. Daripada meluangkan tenaga demi pemusnahan dan penghancuran satu sama lainnya, mereka menggalang persatuan secara menata, sehingga mendapatkan tenaga dan sumber-sumbernya demi kemakmuran dan kesejahteraan satu sama lainnya.

Dialah Imam Muhammad A-mahdi ajf. yang akan mewujudkan sebuah dunia yang bebas dari rasa takut, cemas dan memenuhinya dengan berkat dan rahmat. []

 

 

Milad Agung Imam Mahdi Ajf 15 Sya’ban 1428 H/29 Agustus 2007 semoga menjadi hari bahagia buat Anda dan semoga kemunculannya pada tahun ini menjadi puncak kebahagiaan Anda.

Diterjemahkan oleh A. Kamil dari Ma’al Ma’shumin karya Sayid Mahdi Ayatullahi, Ansariyan Publications, Qum

Sumber : http://telagahikmah.org