Celakalah yang Shalat….!!!

12 04 2008
Alkisah, ada seorang abid dari bani Israil. Dia banyak menghabiskan waktunya dengan beribadah kepada Tuhan di mihrabnya. Suatu hari dia melakukan safar, dan di tengah perjalanannya dia beristirahat sejenak. Ketika waktu shalat tiba, diapun beranjak untuk melaksanakan shalat. Sewaktu hendak memulai shalat, sang abid ini melihat dua orang anak laki-laki remaja sedang mempermainkan seekor ayam. Mereka mencabuti bulu ayam itu satu per satu. Kalau ayam itu bisa berbicara, lolongannya adalah teriakan minta tolong, tapi yang terdengar adalah suara kokokan yang tidak jelas maknanya.
Sang abid ini hanya tertegun sesaat, lalu kemudian melanjutkan niatnya. Menghadap ke kiblat dan dengan khusyuknya melaksanakan shalat, bermi’raj kepada Tuhannya.
Kedua anak tadi, setelah puas, meninggalkan ayam -yang tak bisa lagi mempertahankan hidupnya- begitu saja.
Belum juga sang abid menyelesaikan ‘mi’raj’nya, tiba-tiba petir menggelegar dengan keras, angtin bertiup kencang, alam yang sebelumnya tampak cerah berubah drastis menjadi mendung dan kelabu. Terdengar suara yang bergemuruh dari langit, “Hai tanah tenggelamkan hamba yang durhaka ini, dia telah melakukan kedurhakaan yang sangat, celakalah dia….”
Tanah patuh dengan titah, bergetar keras dan tanpa ada waktu sedikit pun untuk sekedar menyadari apa yang terjadi, sang abid terhempas ke dalam tanah.
Kisah ini saya baca dalam buku kisah-kisah tentang shalat, saya terjemahkan secara lepas dari bahasa persia. Kisah ini menceritakan tentang seorang ahli ibadah yang ditenggelamkan Tuhan ke dalam tanah karena lebih asyik dengan ibadahnya sendiri, dan tidak memberikan pertolongan kepada ayam yang sebenarnya ia mampu melakukannya. Ayam yang dicabuti bulunya satu demi satu akhirnya mati tak tertolong. Tuhan menyebut abid ini sebagai orang yang durhaka, dan dilaknat sebagai orang yang celaka. Kitapun membaca dalam surah al-Maun tentang orang yang shalat tapi dalam pandangan Ilahi ia termasuk hamba-hamba yang celaka. Yakni orang yang dengan shalatnya tidak memberikan pengaruh kepada jiwanya untuk memberikan bantuan dan pertolongan kepada orang lain dengan sesuatu yang berguna. Begitupun abid pada kisah ini. Dalam konteks kekinian, dengan banyaknya orang yang dicabut hak-haknya, kebebasan dan kebahagiannya dirampas begitu saja oleh yang lebih berkuasa, apakah shalat-shalat yang kita lakukan memberikan pengaruh kepada jiwa kita untuk bisa memberikan pertolongan kepada mereka ? mereka bukan ayam yang dicabuti bulunya, mereka saudara-saudara kita, dari bangsa kita : manusia. Kalau kemurkaan Tuhan kepada abid yang tidak memberikan pertolongan kepada ayam yang dizalimi dengan menenggelamkannya ke dalam tanah, lalu kemurkaan yang bagaimana terhadap mereka yang berdiam diri saja melihat saudara-saudara mereka di zalimi ?
Teman saya dari Irak, pernah memperdengarkan sebuah hadits, katanya, di akhirat nanti semua orang merasa bersyukur kecuali satu golongan. Orang-orang mukmin bersyukur menjadi orang mukmin dan bukan hanya muslim. Orang-orang muslim bersyukur waktu di dunia tidak termasuk orang-orang kafir. Orang-orang kafir bersyukur tidak termasuk orang-orang munafik. Dan kaum munafikin bersyukur tidak termasuk golongan orang yang melalaikan shalat. Dan satu-satunya golongan yang meratap penuh penyesalan adalah mereka yang lalai dalam shalatnya. Hadits ini, sampai saat ini belum saya cek kesahihannya, namun kita bisa mengambil hikmah dari kutipan yang katanya hadits ini, bahwa Tuhan murka kepada mereka yang shalat namun lalai dengan keadaaan sekitarnya. Dan bukankah di sekitar kita, dengan mudah kita menemukan orang yang sulit menemukan makanan, karena hak-hak mereka dirampas dan dicabut ?
Qom, 20 Februari 2008




Hikmah, Khazanah Islam yang di Abaikan

8 04 2008

“Ingatlah nikmat Allah atas kalian, Kitab dan Hikmah yang diturunkan kepada kalian yang Dia menasehati kalian dengan apa yang ada di dalamnya.” (Qs. Al-Baqarah : 23)
Kata Al-Hikmah dalam Al-Qur’an sering dipersandingkan dengan Kitab yang ditujukan kepada Rasulullah, banyak ayat yang mengungkapkan hal ini, selain dalam ayat di atas di bagian lain Al-Qur’an Allah SWT berfirman : “Dialah yang mengutus kepada orang-orang yang tidak berperadaban (al-Ummiyin) seorang Rasul dari golongan mereka. Dia membacaan ayat-ayat untuk mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka. Sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyta.” (Qs. Al-Jum’ah : 2)
Dengan melihat cara Al-Qur’an menuturkan kata Hikmah sesudah kata Al-Qur’an mendorong Imam Syafi’i dan mayoritas ulama lainnya menafsirkan Hikmah adalah Sunnah Nabi. Penafsiran ini tentu saja tidak ada salahnya dan bisa diterima, hanya saja kata Hikmah dalam Al-Qur’an tidak selamanya dipersandingkan dengan Al-Qur’an, dan harus punya makna lain selain Sunnah Nabi Muhammad SAW. Di beberapa ayat Hikmah juga diberikan kepada Nabi dan orang saleh lainnya, diantaranya untuk Nabi Daud (Qs. Al-Baqarah : 251, Shad :20) , untuk Lukman (Qs. Lukman : 12), untuk Nabi Isa (Qs. Ali-Imran : 48) dan untuk seluruh nabi tanpa terkecuali (Qs. Ali-Imran : 81). Bahkan Allah berbicara tentang Hikmah dengan pengertian abstrak : “(Allah) memberikan Hikmah kepada orang yang dikehendaki. Barangsiapa yang diberi Hikmah, berarti telah diberi kebaikan yang berlimpah. Hanya orang-orang yang memiliki kekuatan berpikir (ulul albab) yang dapat mengambil pelajaran.” (Qs. Al-Baqarah : 269) “Ajaklah kepada Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik.” (Qs. An-Nahl: 125) Dari penyebutan Hikmah dalam ayat-ayat di atas, yang menjadikannya sebagai bagian dari risalah kerasulan dan pendamping dari Kitab, kita bisa mengajukan pertanyaan, mengapa Al-Qur’an harus menyertakan Hikmah sesudah Kitab dan tidak merasa cukup dengan hanya menyebut kitab ? Jawaban yang paling mungkin adalah kata Hikmah berarti akal budi positif, kemampuan berpikir sehat, ilmu yang menjadi petunjuk dan pengetahuan terhadap nilai-nilai kebenaran sehingga manusia tidak tersesat, DEPAG menafsirkan hikmah sebagai perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dan batil. Apalagi banyak dalam ayat Al-Qur’an yang sangat menganjurkan manusia untuk berpikir dan merenungkan tentang ayat-ayat dan hukum-hukum yang Allah tetapkan. Dari sisi lain, Hikmah itu sepadan dengan kata Filsafat. Dan seorang filosof adalah orang yang mencintai hikmah. Karenanya Ibnu Rusd memahami kata Hikmah sebagai filsafat. Sedangkan oleh Thabrisi dalam tafsir Qur’annnya menafsirkan hikmah sebagai ilmu yang bermanfaat, karena dengan ilmu manusia bisa membedakan kebaikan dengan kebejatan. Sebagaimana kita ketahui Al-Hukm merupakan derivasi kata Hikmah, dan yang dimaksud dengan hukum adalah keputusan yang mengatur urusan manusia. Seorang hakim (pengambil kebijakan) adalah orang yang mampu mengambil keputusan sesuai dengan nalar realitas yang rasional, bukan berdasarkan dorongan hasrat dan kesenangan. Secara pribadi dalam menafsirkan Hikmah saya cenderung tidak menafsirkan hikmah sebagaimana definisi hikmah yang diajukan Ibnu Rusd. Mengapa ? karena filsafat menurut saya lebih mengedepankan makna kontekstual hikmah yang membuat makna hikmah terbelenggu pada ilmu kalam yang perhatiannya terpusat pada hal-hal eskatologis dan zat Allah. Saya lebih memilih mendefinisikan hikmah sebagaimana Gamal Al-Banna yang memilih defenisi hikmah secara umum, yakni akal sehat yang cenderung pada kebenaran. Dalam Al-Qur’an, kitab-kitab suci yang diturunkan selalu berdampingan hikmah, mengapa ? Jawabannya, semua kitab suci adalah kitab-kitab petunjuk yang mengandung prinsip-prinsip dasar petunjuk dan tidak menjelaskan prinsip-prinsip tersebut secara mendetail dan terperinci. Akal sehatlah yang kemudian berperan untuk mengetahui dan menyingkap segala sesuatu yang belum diketahui. Jadi, Allah menghendaki akal sebagai wahyu subyektif dalam diri setiap individu yang membawa spirit Ilahi dalam diri manusia, akal yang sehat adalah bagian dari wahyu. Andai dalam Al-Qur’an Allah hanya menyebut Kitab sebagai petunjuk kehidupan manusia dan tidak menyertakan hikmah, bisa jadi kita memahami Al-Qur’an secara serampangan, secara tekstual, menggunakannya sebagai alat untuk mengeruk kepentingan pribadi atau untuk mendukung aliran pemikiran tertentu yang lebih senang mempersulit, mengekang dan membatasi. Dampaknya, bisa kita rasakan, ketika ulama bersikap masa bodoh dengan hikmah, mereka cenderung mengharamkan pemikiran dalam Islam untuk mengambil buah peradaban manusia, baik itu masa lalu atau masa kini, dari Barat atau Timur. Akhirnya, Islam terjebak pada kubangan keterbelakangan. Dari sini menjadi jelas, hikmah merupakan sumber otentik dalam Islam. Hikmah merupakan perangkat yang meniscayakan pluralisme (ajaran toleran terhadap perbedaan) dan keterbukaan yang memberikan peluang kepada kaum muslimin untuk mengambil manfaat dari berbagai pengetahuan di dunia. Rasulullah bersabda mengenai hikmah : “Hikmah adalah milik orang mukmin yang hilang. Dimanapun ia menemukannya, maka ia yang paling berhak mengambilnya.” Hari ini tugas kaum intelektual Islam, adalah menyingkirkan debu-debu yang menutup hikmah dan mengembalikannya sebagai pendamping kitab dan pelengkap risalah. Hikmah adalah sumber ajaran Islam yang ditegaskan Al-Qur’an. Karenanya, tidak ada ganjalan psikologis apapun untuk meraup segala sesuatu yang menjadi pendukung hikmah, yakni sains, logika, filsafat, sastra dan seni. Sekali lagi, tanpa ganjalan psikologis, dengan hikmah, akal manusia menemukan ruang aktualisasinya.
Selamat berselancar akal!
————-5/1/2007——————————–
Parang Tambung. Jum’at, 5 Januari 2006

 





Antara Kesombongan dan Kita yang Bertumbuh

8 04 2008
“Gnoti Seauton, Meden agan !”
-Kenali Dirimu dan Jangan Keterlaluan !-
-Diktum Akhlaq Plato-
 
Dalam salah satu kitabnya Ayatullah Uzma Nazir Makorim Syirazi menceritakan sebuah hadits yang menunjukkan kerendahan hati adalah salah satu syarat maqam kenabian. Salah seorang nabi dari Bani Israel pada suatu hari diminta oleh Allah SWT untuk menunjukkan orang yang lebih rendah maqamnya darinya. Sang nabi berhari-hari mencari seseorang yang bisa ditunjukkan kepada Allah SWT. Namun tak seorangpun mampu ia dapatkan. Ia merasa malu kepada Allah SWT kalau menganggap dirinya lebih unggul dari yang lain. Sampai matanya tertuju pada seonggok bangkai keledai. Ia pun menyeret bangkai ini beberapa langkah. Namun tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat keras memenuhi seantero langit. Allah SWT berfirman padanya : “Kalau kau sekali saja melangkahkan kakimu untuk menunjukkan bahwa bangkai itu lebih rendah darimu, maka kau akan kehilangan maqam kenabianmu”. Sang Nabi pun tak berdaya, melepaskan bangkai keledai dari genggamannya dan jatuh terpekur, sembari memohon dengan sangat untuk diampuni.
Ayatullah Uzma Nazir Makorim Syirazi pun meragukan keshahihan hadits ini dari segi periwayatan tetapi beliau ingin menunjukkan moralitas dalam kisah ini. Bahwa sang Nabi pun yang sebagaimana maklum diketahui memiliki maqam yang istimewa di sisi Tuhan dibandingkan insan yang lain tetap tidak diperkenankan untuk merasa lebih dari yang lain. Kitapun teringat kisah tentang nabi Musa as yang menjawab pertanyaan ummatnya bahwa ia lah yang paling unggul diantara manusia karena maqam kenabiannya, sehingga ia pun diperintahkan untuk mencari Khaidir as, berguru tentang sebuah kerendahan hati. Seberapapun luas ilmu yang telah kita dapat, harta yang telah dikumpulkan atau kekuasaan yang telah diraih, tidaklah serta merta semua itu menjadi dalih kita lebih unggul dan merasa lebih istimewa dibanding yang lain. Rasulullah SAWW suatu hari dengan beberapa sahabatnya beristirahat di tengah perjalanan. Merekapun memutuskan untuk menyembelih seekor kambing untuk santapan perjalanan mereka. Salah seorang sahabat mengajukan diri untuk menyembelih kambing itu. Yang lain bersedia untuk mengulitinya dan ada pula yang menawarkan diri untuk memanggangnya. Rasulpun tiba-tiba bersabda, “kalau begitu saya yang akan mengumpulkan kayu bakar”. Para sahabat serentak menolak, dan meminta untuk nabi beristirahat saja. Nabipun bersabda, “Saya tahu kalian semua mampu mengerjakannya, tetapi Allah SWT tidak menyukai orang yang merasa lebih istimewa dibanding yang lain”.

Wahai diriku, bukankah terusirnya Iblis dari surga dan mendapat murka abadi Tuhan hanya karena merasa lebih istimewa dibanding nabi Adam as yang diciptakan belakangan dan dari tanah ? Sesungguhnya dosa yang paling purba adalah kesombongan dan merasa lebih unggul. Dosa pertama di langit, adalah kesombongan dan kedengkian Iblis terhadap Adam as dan dosa pertama di bumi adalah kedengkian Qabil terhadap saudaranya Habil. Dan para nabi di utus sesungguhnya untuk memerangi maksiat batin ini. “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlaq manusia.” Tidaklah nabi Musa as diutus untuk memperingatkan Fir’aun kecuali karena kesombongan dan kedzaliman yang dilakukan terhadap Bani Israel, sebab bagaimanapun fitrah kemanusiaan tidak akan bisa memungkiri keberadaan Tuhan yang Maha Kuasa. Umat Nabi Nuh, Nabi Luth, kaum Madyan, Kaum A’ad, Qarun dan ummat-ummat terdahulu ditenggelamkan di bumi karena kesombongannya ketika diperhadapkan dengan kebenaran. Bal’am, seorang ulama Bani Israel yang karena ketaatan dan kedudukannya yang istimewa di sisi Allah SWT sehingga setiap do’anya niscaya dikabulkan Tuhan, menjadi contoh abadi ulama yang dimurkai karena kesombongannya di hadapan nabi Musa as bahkan mendoakan kebinasaan atas nabi Musa as dan pengikutnya. Sahabat-sahabat Nabi SAW pun mengakui keistimewaan dan keilmuan Imam Ali as atas mereka. Umar bin Khattab telah mengatakan dalam tujuh puluh tiga kali kesempatan, “Seandainya tidak ada Ali maka celakalah Umar.” Namun sebagian dari mereka berani merampas hak kekhalifaan Imam Ali as dengan alasan, “Tidaklah kami menolak kekhalifaan Ali kecuali karena usianya yang lebih muda dan karena ketidakinginan kami kenabian dan kekhalifaan menyatu pada Bani Hasyim.” Dan terpilihlah Abu Bakar di Saqifah karena keseniorannya sebagai pengganti dan penerus Nabi. Perkataan mereka terekam dengan baik dalam kitab-kitab Tarikh yang ditulis oleh ulama-ulama Sunni sendiri terlebih lagi ulama-ulama Syiah.

Dan tidak berlebihan pula disini saya menyebutkan, muslim Syi’ih oleh sebagian kaum muslimin di musuhi, difitnah bahkan dikafirkan karena kedengkian dan perasaan lebih unggul. Merasa hanya mereka yang berhak dikatakan kelompok muslim, golongan yang selamat bahkan berhak menguasai dan membuat kapling-kapling dalam surga. Pemikiran ini tak ubahnya seperti kaum Yahudi dan Nashrani, “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata : Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahhudi atau Nashrani. Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang-orang yang benar.” (Qs. Al-Baqarah : 111). Robert Lacey, penulis The Kingdom (Fortune, 1982) melukiskan perbedaan Sunni dan Syiah, bahwa Sunni lahir dari kalangan penguasa yang mendukung dan membuat fatwa untuk legitimasi kekuasaan. Bahkan Fazlur Rahman menulis dalam bukunya, “Membuka Pintu Ijtihad”, “Orang-orang Sunni hampir selalu menjadi pendukung setiap pemimpin Negara.” Sedangkan Syiah terlahir dari kalangan rakyat yang tertindas, dimana dan kapanpun dengan semangat kesyahidan Imam Husain as selalu berusaha meruntuhkan kekuasaan yang tiran dan dzalim.
Tidak ada yang lebih yang menghancurkan dan membinasakan dari kesombongan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an : “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang sombong dan membanggakan diri.” (Qs. Luqman : 18). Dan diayat lain disampaikan, bahwa Allah SWT tidak akan pernah memasukkan ke surga orang-orang yang dalam hatinya tertanam bibit-bibit kesombongan meskipun sebesar dzarrah (atom). Kesombongan merusak diri dan jiwa, merusak persatuan dan persaudaraan sebab merupakan pengingkaran fitrah kemanusiaan. Hanya Tuhan yang berhak untuk sombong, manusia yang lemah dan sangat bergantung sangat tidak pantas untuk menyombongkan diri. Karenanya dalam ratusan ayat Allah mengingatkan kelemahan manusia dan dari mana mereka berasal. Allah pun memilih bahasa dalam Al-Qur’an, “Dari setetes air yang hina”. Kita boleh iri kepada seseorang karena kelebihan ilmu dan ketaatannya dalam beribadah tetapi kita tidak diperkenankan untuk iri hanya karena orang lain lebih kaya dan memiliki jabatan kekuasaan yang lebih tinggi. Begitupun sebaliknya, adalah kedurhakaan yang tak terperikan ketika merasa lebih unggul daripada orang lain. Imam Khomeini dalam salah satu wasiat kepada Sayyid Ahmad anaknya, “Anakku, yang tercela dan merupakan sumber segala kerusakan, kejahatan dan kehancuran serta merupakan seluruh kesalahan adalah kecintaan pada dunia yang tumbuh dari cinta diri.” Cinta diri yang berlebihanlah yang mengajak seseorang pada rasa sombong yang pada ujungnya mengarah pada pelecehan hak-hak orang lain. Di atas gerbang peribadan Apollo tertulis diktum akhlaq Plato, “Gnoti seauton, meden agan !” (Kenali dirimu dan jangan keterlaluan). Sabda filsuf lainnya, kesombongan adalah aku yang membumbung tinggi. Kita bisa saja merasa lebih unggul tetapi bukan atas yang lain melainkan atas diri kita sendiri yang sebelumnya. Hal ini akan memotivasi diri kita untuk bertumbuh lebih baik. Kesombongan tak membuat kita menjadi apa-apa. Justru menjerumuskan kita pada jurang kehancuran. Kesombongan menghambat pertumbuhan diri, sebab telah merasa cukup dan tidak butuh siapapun. Padahal sesungguhnya, hanyalah menipu diri sendiri. Orang besar ketika dianugerahi ilmu maka ia akan merasa kecil. Sedangkan orang kecil ketika dianugerahi ilmu, akan merasa besar. Sebagai penutup tulisan ini, saya ceritakan sebuah kisah tentang seorang hakim yang sangat cerdas dan memiliki ilmu yang luas. Dia hidup pada masa Harun ar-Rasyid. Setiap permasalahan yang dihadapkan padanya, bisa ia selesaikan dengan baik. Sampai akhirnya timbullah kesombongan dalam hatinya, bahwa ialah orang yang paling cerdas seantero dunia. Dia memaklumkan diri bahwa tak ada yang bisa menipu dan membodohi dirinya. Sampai di suatu jalan ia bertemu dengan Bahlul. Seorang yang dikenal gila. Bahlul berkata padanya, “Hakim yang agung, apa benar tidak ada seorang pun yang bisa menipumu ?.” Hakim pun mengiyakan pertanyaan itu sembari tetap berjalan dengan pongahnya. Bahlul kembali berkata, “Seandainya saya dalam keadaan tidak sibuk, aku bisa menipumu.” Sang hakimpun tersentak, ia merasa malu kalau tidak memberi Bahlul kesempatan. Apalagi pada saat itu orang-orang memperhatikan percakapan mereka. Ketika Bahlul diberi kesempatan, ia pun berjanji menyelesaikan kesibukannya dan akan kembali setelah dua jam. Sang Hakim pun menunggu Bahlul. Setelah dua jam, Bahlul belum juga memunculkan dirinya. Tiba-tiba Sang Hakim tersadar, malu dan sembari menggerutu ia berkata :”Baru pertama kali ini, aku berhasil ditipu, dan itupun oleh seorang yang gila.”
Wallahu ‘alam Bishshawwab
Qom, 2 April 2008.