Sekularisme, Musuh Para Agama

15 06 2008

Dengan memilih judul di atas untuk artikel ini, jelas saya memposisikan diri berseberangan pemikiran dengan Luthfi Assyaukanie yang mengatakan sekularisme adalah berkah bagi agama-agama (2005)*. Ataupun dengan Abdullah Ahmad An-Naim seorang pakar Islam dan Profesor Hukum di the Emory Law School , Atlanta , Amerika Serikat dengan letupan pemikirannya, “Kita butuh negara sekuler untuk menjadi muslim yang baik,” (2007)**. Wacana sekularisme bukanlah wacana kemarin sore, namun telah mengalami pendiskusian yang seolah tak berpenghunjung sejak awal dicetuskannya, tidak kurang dari ulama sekaliber Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dan Prof. Naquib al-Attas pun merasa perlu mendiskusikan panjang lebar mengenai istilah sekularisme. Keduanya sepakat, bahwa istilah sekularisme tidak ada akarnya dalam peradaban agama-agama. Pasalnya, sekularisme itu sendiri tidak ada sangkut-pautnya dengan agama apapun, sejak manusia memulai kesejarahannya sampai belasan abad setelah wafatnya Muhammad Saw, pembawa risalah agama terakhir.

Definisi Sekularisme

 
 

 

Kata secular berasal dari bahasa latin, ‘Saeculum’ yang arti harfiahnya suatu generasi atau zaman. Dengan tambahan kata isme jadilah sekularisme sebagai salah satu pandangan dunia yang memiliki sistem hidup sendiri yang membedakannya dengan isme yang lain. Kamus Oxford mengartikan sekularisme sebagai pandangan yang bersifat keduniaan atau materialisme, bukan keagamaan atau keruhaniaan. Seperti pendidikan sekuler, seni atau musik sekuler pemerintahan sekuler, pemerintahan yang bertentangan dengan gereja. Dengan pengertian yang tidak jauh berbeda Kamus Internasional Modern menyebutkan : Sekularisme sebagai suatu pandangan dalam hidup atau dalam satu masalah yang berprinsip bahwa agama atau hal-hal yang bernuansa agama tidak boleh masuk ke dalam pemerintahan, atau pertimbangan-pertimbangan keagamaan harus dijauhkan darinya. Harvey Cox dalam bukunya “The Secular City” menyatakan: “Secularization is the liberation of man from religious and metaphysical tutelage, the turning of his attention away from other worlds and towards this one.” Dengan defenisi ini sudah tercium bau permusuhan paham sekularisme terhadap agama-agama yang menyengat. Sekularisme yang dikatakan netral atau moderat sekalipun sangat sulit dikatakan bersahabat dengan agama, sebab dengan menjauhi agama dan mengurungnya pada surau-surau dan bilik-bilik do’a bukanlah sikap netral dan moderat. Jika dikaitkan secara khusus dengan Islam, sekularisme lebih tidak dikenal lagi, sebab ajaran Islam sangat banyak yang berkaitan dengan masalah-masalah duniawi. Perintah untuk shalat misalnya yang dapat mencegah dari kekejian dan kemungkaran ini sangat duniawi. Terlebih zakat, menuntut ilmu, pernikahan, sampai istinja’ pun semuanya memiliki keterkaitan erat dengan urusan duniawi.

Karenanya, jika sekularisme diterapkan, ini dapat membunuh agama-agama. Sebab ajaran agama manapun tidak hanya mengajarkan masalah spiritual namun juga persoalan-persoalan duniawi. Manusia sebagai obyek dan subyek dari agama itu sendiri tidak bisa terlepas dari masalah keduniawian. Memisahkan agama dengan dunia, sangat bertentang dengan ajaran agama. Agama dan sekularisme tidak mungkin disatukan, sebab ‘takdir’ keduanya saling menghancurkan.

Bencana Sekularisme

 
 

 

Tidak satupun agama yang menerima paham sekularisme, kecuali jika sekularisme sendiri menyebut diri sebagai agama. Penganut agama manapun melihat paham sekularisme sebagai ancaman terhadap pemahaman keagamaannya. Kristiani misalnya, dalam pertemuan Misionaris Kristian Sedunia di Jerusalem tahun 1928, mereka menetapkan sekularisme sebagai musuh besar Gereja dan misi Kristian. Dalam usaha untuk mengkristiankan dunia, Gereja Kristian bukan hanya menghadapi tantangan agama lain, tetapi juga tantangan sekularisme. Pertemuan Jerusalem itu secara khusus menyorot sekularisme yang dipandang sebagai musuh besar Gereja dan misinya, serta musuh bagi misi Kristian internasional. Ketika Myanmar bergolak, kita mendapatkan tontonan yang nyata tentang permusuhan antar kedua paham ini. Para biksu yang berarak dijalan-jalan untuk menunjukkan keprihatinannya terhadap kondisi sosial yang ada, diperhadapkan dengan tamparan, pemukulan dan penangkapan brutal, ditelanjangi sampai dibunuh dan mayat-mayat mereka dibuang begitu saja di sungai-sungai. Biksu Myanmar bukanlah biksu Shaolin yang belajar bela diri, perhatian utama mereka hanyalah bagaimana bisa mengamalkan ajaran agama sebaik-baiknya. Namun mereka mendapatkan permusuhan yang keras dari Negara yang phobia terhadap agama. Tidak bermaksud mengorek kembali luka sejarah. Namun bukankah Indonesia di zaman Orde Baru dengan doktrin Pancasila sebagai asas tunggalnya telah menimbulkan peristiwa-peristiwa tragis yang susul-menyusul dan berlangsung secara liar dan sulit dikendalikan kecuali dengan penangkapan dan pembunuhan. Ummat Islam tidak akan begitu saja melupakan kasus DOM Aceh, kasus Tanjung Priok, Lampung Berdarah yang telah memakan korban jiwa yang mengenai jumlahnya sulit mendapatkan data yang akurat. Kitapun bisa melihat negara-negara yang terang-terangan mengaku sebagai negara sekuler. Kehidupan beragama di negara-negara sekuler sangat tertekan. Kampanye Negara-negara sekuler yang menyuarakan kebebasan dan persamaan sangat bertentang dengan fakta dilapangan. Negara sekuler selalu menyatakan diri tidak mencampuri keinginan warga negaranya dalam menjalankan syariat agama mereka masing-masing, termasuk menggunakan simbol-simbol keagamaan seperti hijab, kalung salib, dan lain lain. Namun bukankah mayoritas Negara sekuler justru menerapkan aturan yang sebaliknya ?. Pelarangan simbol-simbol keagamaan terkhusus jilbab bagi muslimah adalah masalah-masalah standar yang selalu ada di negara-negara sekuler. Turki misalnya, sebagai bentuk negara sekuler yang digagas Mustafa Kemal Atatürk sejak 1920an sampai sekarang tetap gigih menerapkan aturan pelarangan penggunaan jilbab meskipun Islam sebagai agama mayoritas penduduk dinegeri tersebut. Kalau mereka mau jujur bukankah jaminan atas kebebasan dan hak individu bagian terpenting dalam penerapan sekularisme, dan menjalankan ajaran agama dengan sebaik-baiknya adalah hak yang paling asasi.

Disinilah saya sulit menemukan relevansi antara sekularisme dan rasionalitas. Bagaimana mungkin saya yang muslim, bisa menjadi muslim yang baik dalam naungan negara yang sekuler, negara yang mencampakkan ajaran-ajaran agama yang saya anut. Sebagaimana bingungnya saya dengan Nurcholis Madjid yang mendefinisikan Sekularisme sebagai ‘’Pembebasan diri dari tutelege (asuhan) agama, sebagai cara beragama secara dewasa, beragama dengan penuh kesadaran dan penuh pengertian, tidak sekedar konvensional belaka.’’ Pengertian kalimat itu saja sudah kontradiktif. Jika diri manusia sudah dibebaskan dari asuhan agama, bagaimana dia bisa beragama dengan penuh kedewasaan?. Dan bagaimana bisa menjadi berkah bagi agama-agama, jika kita semakin diperhadapkan oleh kenyataan Sekulerisme menyebabkan banyak petaka bagi agama dan kemanusiaan. Kita memang harus berpikir. Namun semakin berpikir, saya semakin menolak sekularisme.

Wallahu ‘alam bishshawwab

 Qom , 12 Juni 2008 / 23 Khurdod 1387 HS

*Lihat artikel Berkah Sekularisme oleh Luthfi Assyaukanie di www.islib.com 11/04/2005

**Wawancara Pusat Berita Radio VHR (Voice of Human Right) – http://www.vhrmedia.com/ dengan Ahmad An-Naim di Jakarta dan dipublikasikan pada 3 Agustus 2007 dengan judul berita: Ahmad An-Naim: Negara Sekuler untuk Muslim yang Baik.

 

Artikel ini juga bisa di baca di http://www.tribun-timur.com/view.php?id=83541&jenis=Opini

 

 

 

 





Kekerasan dalam Islam, Untuk Siapa ?

7 06 2008

Berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya, yang lebih ‘mengandalkan’ do’a dan bantuan kekuatan dari langit, Muhammad SAW memilih belepotan lumpur dan debu perjuangan untuk mewujudkan kehendak Ilahi. Ia mengajak sahabat-sahabatnya yang setia untuk menabuh genderang perang, mengangkat pedang dan membentangkan tinggi-tinggi panji perlawanan. Di mata para musuhnya, Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak ubahnya gerombolan manusia bar-bar yang haus darah dan kekuasaan. Islam bagi mereka adalah kabar buruk dan doktrin yang hanya akan merongrong kekuasaan yang telah ribuan tahun berada ditangan. Pandangan negatif tentang Muhammad dan ajarannya berlanjut sampai pada pergulatan wacana kontemporer dikekinian. Pemikiran Islam dianggap sebagai sosok dengan wajah angker, intoleransi, arasioanal, literalis bahkan terbelakang. Karenanya, setiap gagasan untuk memasukkan Islam kedalam wilayah publik akan di beri label-label pejoratif, radikal, puritan, fundamentalis dan merupakan tindakan teror. Setidaknya oleh Karen Armstrong, kekeliruan ini berusaha ditepis. Dalam bukunya -Muhammad: A Western Attempt To Understand Islam- ia menulis, “….Daripada berkelana dengan cara yang tidak duniawi di sekitar bukit-bukit Galilea, berkhotbah dan menyembuhkan seperti Yesus dalam Gospel, Muhammad (saw) harus terlibat dalam perjuangan politik untuk mereformasi masyarakatnya dan para pengikutnya bersumpah untuk melanjutkan perjuangan ini.” Ia memaparkan pandangan kritisnya bahwa tujuan utama Muhammad SAW mempimpin langsung dua puluh tujuh atau dua puluh delapan peperangan (ghazwah) dan menskenario tiga puluh Sembilan peperangan yang dipimpin salah seorang sahabat yang ditunjuknya (Sariyah) selama sepuluh tahun pemerintahannya di Madinah bukanlah kekuatan politik, melainkan menciptakan masyarakat yang baik. Sebagai seorang muslim saya berterimakasih kepada mantan biarawati Katolik Roma ini, dengan penelitian yang intens dan serius tentang Islam dan para tokohnya, ia berusaha menepis kekeliruan pandangan Barat tentang Rasulullah SAW. Pandangan-pandangan kritis Barat tentang Muhammad SAW yang seorang nabi namun melibatkan diri dalam berbagai kegiatan politik, dan mengerahkan sahabat-sahabatnya untuk bersama membunuh manusia lainnya, berusaha dijawab Karen Armstrong dengan kejernihan dan ketajaman analisanya. 

Bagi yang mempelajari sejarah Islam secara jujur dan adil, akan berhadapan dengan kenyataan bahwa Muhammad SAW datang untuk memproklamasikan slogan kemerdekaan dan kebersamaan. Hunusan pedangnya untuk menghancurkan nilai jahiliyah dan pikiran aristokrat. Khutbah-khutbah yang disampaikannya bukan untuk mengukuhkan penguasa yang tiran melainkan untuk membela kepentingan kaum lemah yang tertindas dan terpinggirkan secara sosial. Muhammad mendeklarasikan persamaan bagi semua. Dengan pemahaman semua manusia adalah sama, satu ras, satu asal, satu alam dan satu Tuhan, Ia runtuhkan aqidah politeis dan perbudakan sesama manusia. Rezim ekonomi yang  kuat dilawannya untuk menegakkan keadilan sosial. Istananya tidak lebih dari tumpukan tanah liat, singgasananya dibangunnya dari pelepah pohon kurma. Ia terlihat diantara para pekerja yang mengangkut barang. Beliau menyuruh pembesar-pembesar dan kaum bangsawan untuk memendekkan jubah-jubah dan melarang berjalan dengan angkuh di jalan. Ia meruntuhkan semua simbol-simbol aristokrasi di depan umum. Muhammad al-Musthafa SAW beserta sahabatnya yang terpilih telah berjuang tanpa lelah. Perjuangan itu menghasilkan sekian kecemerlangan dengan bersatunya umat manusia dalam satu panji al-Islam. Dibawah kepemimpinannya, Muhammad SAW mampu melahirkan tatanan sosial masyarakat (the order of society) yang egaliter serta menjunjung nilai-nilai keadilan (justice value). Islam yang ditunjukkannya adalah Islam yang damai dan menentramkan, membawa keselamatan, persatuan dan persaudaraan.

Ja’far bin Abi Thalib ra berkata: ”Kami sebelum ini adalah penyembah berhala, pemakan bangkai, peminum khamr, pemutus persaudaraan, pelaku zina, sampai akhirnya Allah swt mengutus di tengah-tengah kami Muhammad saw. Dan karenanya Allah swt mengeluarkan kami dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.”

Dr. Jeffrey Lang, professor Matematika di Universitas Kansas juga memberikan pembelaan serupa. Dalam penelitiannya, semua ayat yang berkenaan dengan perang menyiratkan bahwa Islam memperkenankan peperangan hanya untuk mempertahankan diri atau membela korban-korban kesewenang-wenangan dan penindasan. Perintah hidup secara damai dengan orang-orang Kafir terdapat dalam 114 ayat yang tersebar di 54 surah. Sedangkan perintah untuk berperang, “Diwajibkan atas kamu berperang…” (Qs. Al-Baqarah :216) dan surah At-Taubah ayat 5 yang dikenal dengan ayat pedang jumlahnya jauh lebih sedikit dan harus dilihat sesuai konteks ayat diturunkan, yakni berkenaan dengan perjanjian Hudaibiyah yang dilanggar orang-orang musyrik. Keduanya menyimpulkan, ultimatum perang, pembunuhan dan tindak kekerasan hanya diperbolehkan untuk menegakkan keadilan, itupun ditujukan kepada kelompok yang menindas dan merusak perdamaian.

Islam Agama Toleransi

Namun sayang, berbagai usaha pembelaan terhadap Islam atas tudingan sebagai agama teror, yang sangar dan menyeramkan, dirusak oleh segelintir umat Islam yang juga mengatasnamakan pembelaan atas Islam. Aksi kekerasan yang dipertontonkan Front Pembela Islam (FPI) ataupun Laskar Pembela Islam (LPI) di lapangan Monas Jakarta awal bulan ini sangat merusak citra Islam. Islam yang mereka pertontonkan semakin memperkuat anggapan Barat bahwa Islam adalah agama kekerasan, agama agresif, agama yang tidak mau diajak berdamai. Tidak ada pembenaran sedikitpun dari Islam melakukan penyerangan dan kekerasan hanya karena alasan berbeda keyakinan. Allah SWT berfirman, “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat.” (Qs. Al-Baqarah : 256). Pesan Al-Qur’an ini sangat jelas, umat Islam tidak dituntut untuk mengislamkan orang-orang yang beragama selain Islam. Sikap memaksakan keyakinan merupakan pelanggaran keras terhadap wewenang Allah. Yang dituntut dari umat Islam  adalah menjadi ‘saksi atas manusia’. Mereka ditugaskan hanya untuk memperkenalkan Islam  dan kemudian menyerahkan segalanya kepada mereka. Hidayah datang datang dari Allah, hatta Rasul sekalipun tidak bisa memaksa seseorang untuk beriman. Lakum dinikum waliyadin, adalah konsep Islam yang paling jelas dan terang tentang ajaran toleransi. 

Penghancuran yang dilakukan nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya ibarat apa yang dilakukan petani terhadap tanah. Tanah dicangkul, diremukkan untuk kemudian dijadikan kebun yang menghasilkan buah-buah. Ataupun seperti yang dilakukan kuli bangunan. Bangunan yang lama dan tua diruntuhkan, diluluhlantakkan untuk kemudian dibangun diatasnya bangunan baru yang lebih indah. Muhammad SAW seolah mengatakan, “Bagaimana mungkin kau bisa makan roti yang enak jika sebelumnya kau tidak menghancurkan dan menggiling gandum terlebih dahulu ?”. Kekerasan –kalaupun itu harus disebut kekerasan- yang diajarkan Nabi Muhammad SAW adalah untuk kehidupan yang lebih cemerlang, pencapaian puncak sebuah peradaban, kegigihan agar manusia menemukan kemanusiaannya, perlawanan terhadap kesewenang-wenangan dan penindasan.  Namun apa yang dilakukan FPI dan LPI jauh berbeda. Penghancuran yang mereka lakukan pemusnahan total, yang tidak menghasilkan apa-apa selain bara api kebencian dan permusuhan. Bercermin dengan prinsip Murtadha Muthahari, “…setiap kali dengan cara apapun suatu aspek dari tata hidup yang suci dan Ilahiah diserang, maka Islam lebih mampu mempertunjukkan dirinya dengan lebih kuat, lebih kukuh, lebih jelas dan lebih cemerlang.” Berbeda dengan apa yang dilakukan Karen Armstrong, Dr. Jeffrey Lang ataupun Syahid Murtdha Muthahari yang menggunakan kekuatan logika untuk membela Islam, FPI lebih memilih menggunakan logika kekuatan.

Al-Qur’an mengatakan, “Wahai-wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Maidah : 105). Menghadapi ‘kesesatan’ Ahmadiyah dengan logika kekuatan (terlepas kasus Silang Monas rekayasa atau bukan ) dan bukannya kekuatan logika, menurut saya itu karena FPI belum mendapat petunjuk saja ?.

Wallahu ‘alam bishshawaab   

Qom, 3 Juni 2008





Filosofi Ka’bah, Haji dan Sebuah Pesan Kemanusiaan

12 04 2008

Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar kata Ka’bah ?. Bagi yang belum pernah melihat atau mendapatkan informasi tentang Ka’bah kecuali bahwa Ka’bah sebagai arah kaum muslimin menghadapkan wajahnya ketika berinteraksi ‘intim’ dengan Tuhannya, adalah wajar jika membayangkan Ka’bah adalah sebuah bangunan yang megah dan indah. Itupula yang saya bayangkan tentang Ka’bah di usia belum balighku dulu. Saya bayangkan Ka’bah berupa istana megah, sebuah karya arsitektur yang indah, dibangun dengan cita rasa estetika yang tinggi, penuh dengan ornamen-ornamen yang mahal, bisa jadi terbuat dari emas, berlian atau pecahan-pecahan intan permata, penuh dengan warna-warna yang menyejukkan mata. Pernah pula saya bayangkan dia berupa bangunan semacam menara yang menjulang tinggi dimana didalamnya terkubur seorang tokoh manusia yang penting, bisa seorang pahlawan, raja, imam, atau malah Nabi. Tapi ternyata tidak ! yang kita saksikan dari Ka’bah hanyalah bangunan kubus yang sama sekali tidak memiliki keindahan arsitektural, seni atau kualitas yang biasa kita saksikan pada bangunan-bangunan yang diklaim sebagai keajaiban dunia, tidak ada warna-warni sama sekali. Bangunan ini hanya terbuat dari batu-batu hitam keras yang tersusun dengan cara yang sederhana, dengan kapur putih sebagai penutup celah-celahnya. Dan di dalam bangunan persegi itu, pernah kubayangkan ada bongkahan sesuatu yang selama ini dikejar-kejar manusia sebut saja, emas, intan permata, atau mutiara manikam. Atau di dalamnya ada manusia tempat mencurahkan perhatian, perasaan, tempat meminta wejangan dan nasihat agar lurus dalam menjalani kehidupan. Sekali lagi semuanya itu terbantahkan, ternyata didalamnya tidak ada-apa, sama sekali kosong ! Tidak ada sesuatupun juga. Bisa jadi ketika melihatnya timbul pertanyaan dan keraguan benarkah bangunan ini pusat agama, shalat, cinta, hidup dan kematian kita ? Benarkah Kubus yang yang tanpa dekorasi ini adalah arah kaum muslimin menghadapkan wajahnya di dalam shalatnya, benarkah dia pusat eksistensi, keyakinan, cinta dan kehidupan manusia bahkan ke arah ini pula kaum muslimin yang mati dikuburkan? Apa yang dicari oleh mereka yang berseliweran disekelilingnya, yang seolah melupakan segala yang dimilikinya, ditempat itu mereka menumpahkan perasaan, tangis dan air mata, bersimpuh penuh pengharapan, merendahkan diri serendah-rendahnya, menciumnya dengan penuh perasaan cinta dan sedari sana timbul kerinduan mendalam untuk kembali ?. Abrahah pun heran dengan Ka’bah ini, ia berusaha menyaingi, dengan membangun tempat peribadatan yang lebih megah dan terbuat dari ornament yang sangat mahal bahkan bagi peziarah ia janjikan hadiah yang banyak, tetap saja Ka’bah ramai dengan kerumunan orang. Kedengkiannya semakin besar, ia bermaksud meruntuhkan Ka’bah, dengan ribuan pasukan yang menunggang gajah ia menuju Makkah, kota tempat Ka’bah berdiri tegak. Ia dan pasukannya menyangka akan mendapatkan perlawanan hebat dari penduduk Makkah yang tidak ingin rumah ibadahnya dihancurkan. Setibanya disana, ia malah mendapatkan tontonan yang membingungkan, tidak ada satupun penduduk Makkah yang menjaga atau berusaha melindungi Kabah, semuanya menyelamatkan diri ke bukit-bukit. Bahkan Abdul Muthalib, pembesar kaum Qurays menghadap ke Abrahah hanya untuk mengambil unta-unta yang dirampas pasukan Abrahah. Tentang ini Abdul Muthalib, Kakek Rasulullah hanya menjawab singkat, “Unta-unta ini milik kami, karenanya kami harus mengambilnya kembali, sedangkan Ka’bah adalah rumah Allah, Dia sendirilah yang memberinya penjagaan”. Ya, Ka’bah, bukan milik siapa-siapa, ia milik Tuhan seutuhnya, tidak diberikan kesiapapun, tidak diamanahkan apalagi diwariskan. Patut engkau ketahui, meskipun rumah Allah, Ka’bah tetap hanyalah bangunan. Hanyalah kumpulan batu gunung yang hitam pekat. Ka’bah bukanlah tujuan dari kedatanganmu. Kesederhanaan Ka’bah yang kamu lihat di hadapanmu mengingatkan akan tujuan perjalananmu. Ka’bah adalah penunjuk arah. Ada hal lain yang harus menjadi tujuan akhir perjalananmu. Gerakan abadi yang kamu lakukan adalah gerakan menuju Allah, bukan menuju Ka’bah. Kamu datang untuk memenuhi undangan Allah. Setiap orang diantara kalian harus mengenakan pakaian yang telah ditentukan, kamu tidak memiliki dirimu lagi, kamu harus meleburkan diri dan tidak boleh memasuki rumah suci ini jika engkau masih terikat dengan dirimu, masih memikirkan dirimu sendiri. Kesederhanaan Ka’bah menunjukkan betapa kemewahan dan kemegahan bukanlah tujuan hidupmu. Ka’bah adalah Baitullah, rumah Allah. Dibangun oleh Ibrahim atas perintah-Nya. Ketika kau menghadapnya sesungguhnya merupakan tamparan keras buatmu, buatmu yang membangun rumah dengan penuh ornamen mahal yang hanya akan membuatmu pongah.
Haji, Menghampiri Allah
Kota Mekkah disebut juga “Bait-Atiq”. Atiq berarti bebas. Kota ini tidak dimiliki siapapun juga. Tak seorangpun berhak menguasainya. Kota ini milik Allah ‘sepenuhnya’. Dengan beberapa ketentuan seorang muslim ketika bepergian atau melakukan perjalanan jauh dari rumahnya boleh menyingkat shalat-shalatnya atau menggabungkannya. Tetapi di kota Mekkah, darimanapun engkau datang dan betapapun jauhnya perjalanan yang engkau tempuh, shalatmu harus sempurna dan tidak boleh disingkatkan. Sebab kedatanganmu karena memenuhi panggilan, kamu bukanlah tamu, Mekkah negerimu sendiri, kamu tidak sedang bepergian jauh, kamu melakukan perjalanan pulang ke negerimu. Kedatanganmu disambut layaknya seorang sahabat dan anggota keluarga Allah yang telah lama pergi, dan pulang kembali. Kembalilah engkau kepada-Nya, dengan penuh kecintaan dan kerinduan. Tidakkah engkau mendengar seruan Ibrahim : Dan serulah manusia untuk melakukan Haji. Mereka akan datang kepadamu dengan bertelanjang kaki atau dengan menunggang unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh (Qs. 22 : 27) Dan kepunyaan Allah-lah Kerajaan langit dan bumi dan kepada Allahlah kembali semua makhluk (Qs. 24 : 42) Engkau harus menghadap dan pulang kepadanya dengan penuh ketulusan hati, tidak dikotori oleh motif-motif lain. Ketulusan hati itu tampak jelas dalam ayat Al-Quran yang memerintahkanmu berhaji. ”Karena Allah SWT, wajib bagi manusia untuk menunaikan ibadah haji, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah.” (QS Ali Imran: 97). ”Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah SWT.” (QS Al-Baqarah: 196). Perintah haji dalam dua ayat di atas, ditekankan harus lillah, tulus karena Allah SWT. Redaksi demikian tidak ditemukan di ayat lain yang isinya perintah untuk beribadah, seperti shalat, zakat, dan puasa. Meskipun, pada dasarnya semua ibadah harus lillah, terlebih lagi haji yang menuntut perjuangan dan kerja keras, menguras apapun yang menjadi milikmu, lahir dan batin dalam waktu yang tidak sedikit. Ibadah haji mencerminkan kepulangan seorang manusia kepada Allah yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tak diserupai oleh sesuatu apapun. Pulang kepada Allah merupakan sebuah gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai dan fakta-fakta. Dengan melakukan perjalanan menuju keabadian ini manusia tidak akan “sampai” kepada Allah; Dia hanya memberikan petunjuk yang benar, tapi Dia bukan merupakan tujuan yang hendak dicapai. Menunaikan haji sama halnya menjumpai sahabat-terbaik yang telah menciptakan manusia sebaik-baik ciptaan dari makhluk lain. Allah sedang menantikan. Dengan demikian kamu pun harus mencoba untuk meninggalkan istana-istana kebesaran, gudang-gudang kekayaan dan kuil-kuil yang menyesatkan. Manusia – melalui ibadah haji, akan melepaskan diri dari perbuatan serigala (sebuah tindakan penindasan bagi orang-orang yang dipimpinnya).
Hijir Ismail
Di sebelah barat Ka’bah ada sebuah tembok rendah yang berbentuk setengah lingkaran dan menghadap ke Ka’bah. Bangunan ini disebut Hijir Ismail. Hijir bisa berarti pangkuan juga bisa diartikan pakaian wanita sebelah bawah. Tersebutlah dalam riwayat, Hajar adalah perempuan Ethopia yang miskin. Ia sahaya dari Sarah istri Ibrahim. Hajar dinikahi Ibrahim untuk memperoleh anak. Lahirlah Ismail. Kecemburuanlah yang membuat Sarah meminta Ibrahim untuk ‘mengusirnya’. Oleh Ibrahim, dibawalah Hajar dan Ismail, yang ketika itu masih bayi ke padang pasir yang luas, tidak terdapat apa-apa. Di atas pangkuan Hajarlah Ismail di besarkan. Hijir Ismail, adalah bangunan di samping Ka’bah, tempat Hajar membesarkan Ismail, dan di situ pula Hajar, ibunda Ismail dikuburkan. Dan Allah memerintahkanmu agar ketika melakukan thawaf juga mengelilingi Hijir Ismail dan tidak hanya mengelilingi Ka’bah saja, jika tidak demikian ibadah haji yang kamu lakukan tidak diterima Allah SWT. Subhanallah, kuburan seorang sahaya perempuan hitam Afrika merupakan bagian dari Ka’bah, dan hingga kiamat nanti manusia-manusia senantiasa akan berthawaf mengelilinginya. Betapa anehnya, kepada hambanya yang terhina, terlemah dan terusir di antara makhluk-makhluk-Nya, Allah memberikan tempat di sisiNya. Dia datang, memerintahkan kepada Ibrahim untuk dibuatkan rumah, dan meminta dibangunkan di sebelah rumah Hajar. Allah memilih menjadi tetangga seorang perempuan hitam yang terusir. Ali Shariati menuliskan : Di antara semua manusia; Dia memilih perempuan Di antara semua perempuan; Dia memilih seorang budak Di antara semua budak; seorang sahaya yang berkulit hitam Ketika kau mengetahui bahwa sesungguhnya ritual-ritual haji yang kamu lakukan adalah untuk memperingati Hajar, seorang budak perempuan hitam yang dihinakan dan diremehkan, masihkah engkau merasa lebih tinggi dari manusia selainmu ? Masih beranikah engkau sepulang dari ritual hajimu kau membanggakan diri dan acuh terhadap kehidupan mereka yang terpinggirkan secara sosial ? Allah datang dan memilih bertetangga dengan seseorang yang senantiasa terhina, kalau kamu bisa jadi lain, kamu datang untuk menggusur mereka, karena bagimu mereka mengotori bangunanmu…
Wallahu ‘alam bisshawwab.
Qom, 7 Desember 2007




Keberpihakan Islam Pada Kaum Miskin

10 04 2008

 

    ”Miskin bukan sesuatu yang menghinakan,

hanya saja sangat tidak menyenangkan ” (Anonim) 

            Kemiskinan merupakan problem kemanusiaan yang sangat tidak mengenakkan. Orang miskin dapat ditandai dengan golongan berpendapatan rendah di bawah standar internasional, yakni mereka yang menyandarkan hidupnya pada pendapatan kurang dari 2 dollar per hari (setara Rp 16.000, dengan kurs Rp 8.000 per dollar AS). Berpendidikan rendah, kesehatan buruk, terancam  kurang gizi (malnutrition) dan tidak memiliki sumber daya ekonomi yang minimal.  Rakyat miskin kebanyakan memburuh untuk orang lain, ketergantungan pada orang lain begitu tinggi, baik yang bekerja sebagai pekerja upahan atau yang sekadar menerima belas kasihan. Tragisnya lagi, orang miskin diidentikkan dengan orang yang hina, menyusahkan dan keberadaannya sangat tidak diharapkan. Yang jadi masalah kemudian, di negara yang kaya raya ini, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik Jemal-ud-din Kassum mengingatkan, kurang lebih tiga per lima (60 persen) penduduk Indonesia saat ini hidup di bawah garis kemiskinan, sementara 10-20 persen hidup dalam kemiskinan absolut (extreme poverty). Ironisnya lagi, ini terjadi di negara yang penduduknya mayoritas muslim.              

Bagaimana Islam Memandang Kemiskinan ?

Hakekat misi Allah SWT dalam mengutus Nabi Muhammad SAW adalah membawa ajaran dan hukum-hukum yang bisa menjadi solusi bagi setiap permasalahan yang dihadapi baik individual ataupun sosial. Hal ini berarti Islam adalah jalan keluar yang mampu menyelesaikan semua permasalahan sampai keakarnya yang paling mendasar, tidak hanya menyentuh kulit persoalan dan hanya memberikan keringanan hidup sesaat. Termasuk kemiskinan, Islam memberikan solusi ’radikal’ dalam mengatasinya, tidak hanya berupa pesan-pesan moral, mauidahh (wejangan),  targhib (memberikan harapan) dan tarhib (memberikan ancaman).

            Dalam perspektif hadits, sebagaimana dalam lantunan do’a Rasulullah. ”Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran.” (HR. Abu Dawud), kemiskinan merupakan virus ganas bagi keselamatan dan keutuhan aqidah. Terutama jika kaum miskin hidup di lingkungan orang kaya yang sama sekali tidak peduli dengan nasib mereka. Dalam kondisi seperti itu, kemiskinan cenderung menawarkan keragu-raguan terhadap keadilan Ilahi dalam mendistribusikan rezeki. Begitupun tidak kalah penting untuk diperhatikan bahwa kemiskinan juga berdampak negatif terhadap perilaku dan moral seseorang. Kesengsaraan dan kepedihan hidup cenderung memberi stimulus untuk melakukan tindak kriminal. Yang jelas, problem kemiskinan merupakan ancaman bagi keselamatan, keamanan serta kelestarian harta benda milik masyarakat. Seseorang masih lebih mudah sabar menghadapi problem kemiskinan jika hal tersebut diakibatkan pemasukan yang minim. Namun jika hal tersebut diakibatkan oleh pendistribusian harta yang bermasalah, melahirkan rasa benci yang bisa memporak-porandakan sendi-sendi persaudaraan dan kasih sayang antar manusia. Karenanya Islam memandang fenomena kemiskinan sebagai sebuah problem kehidupan yang perlu dicarikan solusi dan jalan keluar.    

        Dengan demikian diutusnya Muhammad sebagai nabi dan rasul, yang pertama, berjuang  menyebarkan tauhid dan merombak habis sistem kepercayaan yang syirik dengan cara menegakkan nilai-nilai keadilan dan merubah relasi sosial yang menyimpang. Keberpihakan Muhammad Shallalahu Alaihi wa Sallam pada kaum miskin bukan sesuatu yang mengejutkan dan karenanya menjadi prioritas dalam da’wahnya. Islam yang dibawa Rasulullah menawarkan konsep hidup egaliter yang menentang keras segala bentuk penindasan maupun penghisapan pada kaum miskin. Etika penghormatan pada kaum tertindas dalam Islam ditempatkan pada posisi teratas bahkan bisa menggugurkan amalan bila melakukan pendzaliman. Bahkan dalam surah al-Maun dipaparkan perlakuan yang semena-mena terhadap anak yatim dan kaum miskin disebut sebagai perilaku yang mendustakan agama. Keberpihakan Islam  pada kaum budak juga tampak jelas dengan banyaknya anjuran Islam untuk memerdekakan budak. Gerakan pembebasan inilah yang pertama-tama dilakukan Rasululullah bersamaan dengan seruannya untuk hanya menyembah kepada Allah semata. Mengapa Islam menjadikan keberpihakan pada kaum miskin sebagai prioritas ?, setidaknya ada tiga jawaban yang bisa disampaikan; pertama, kemiskinan sangat berlawanan dengan misi Islam sebagai rahmatalil ‘alamin. Kemiskinan merupakan ekspresi kehidupan yang kalah serta tertindas. Kedua, kemiskinan sangat bertentangan dengan martabat manusia sebagai makhluk Allah yang mulia dan dimuliakan. Kemiskinan telah menjatuhkan martabat manusia sebagai sosok yang bebas serta merdeka. Ketiga, yang paling utama adalah mandat al-Qur’an yang meletakkan prinsip keadilan sebagai kunci ketaqwaan yang sejati dan sempurna (Eko Prasetyo, 2002).    

 

Amalan Islam, Totalitas yang Tak Terpecah

 

            Telah lama kaum muslimin terjebak dalam memaknai keshalehan dan kebajikan yang selalu hanya dikaitkan dengan ibadah-ibadah ritual kepada Allah, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Jika kita mengkaji lebih mendalam misi kenabian Rasulullah maka membela rakyat jelata, kaum buruh, miskin papa, mereka yang ditindas dan diperlakukan tidak adil, merupakan ibadah yang senilai dan setara dengan shalat, puasa, zakat dan haji (A. Munir Mulkhan, 2001). Hal ini sejalan dengan yang disebutkan Al-Qur’an surah al-A’raf : 157, yang dalam ayat tersebut secara gamblang menegaskan tiga misi utama nabi yaitu, pertama amar ma’ruf nahi mungkar. Kedua, menjelaskan yang halal dan haram. Ketiga, membebaskan ummat dari beban yang menghimpit dan belenggu yang memasung mereka. Dengan demikian, iman dan amal shaleh bukan hanya terbatas pada ritual-ritual tetapi lebih dari itu harus menyentuh pada aksi sosial di tengah realitas kehidupan masyarakat. ”Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan kebarat, tetapi kebajikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, …. , dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta dan untuk memerdekakan hamba sahaya, melaksanakan shalat….Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang yang bertaqwa.” (Qs. Albaqarah : 177). Maka tidak salah bila Jalaluddin Rahmat dalam bukunya, Islam Alternatif Ceramah-ceramah di kampus (1986) merekomendasikan agar umat Islam menghidupkan kembali ajaran revolusioner para Nabi yakni membebaskan ummat dari beban yang menghimpit dan belenggu yang memasung mereka.

            Rasulullah membela kaum miskin dengan hidup bersama mereka dan menjalani hidup seperti mereka, makan dengan sederhana bahkan dalam beberapa riwayat Rasul seringkali mengganjal perutnya dengan batu, menahan lapar asal umatnya tidak ada yang kelaparan. Rasulullah bahkan pernah berdo’a :” Ya Allah, himpunkanlah aku di hari kiamat beserta orang-orang miskin. Ya Allah yang Maha Kasih, Engkaulah yang memelihara kaum tertindas, Engkaulah Rabbul musthdafien.” Luar biasa bukan ? dan hingga detik ini tak satupun pemimpin yang bisa menyamai gaya hidup dan kecintaan yang berpendar-pendar seperti yang dicontohkan Muhammad SAW, sang pembebas. Lalu, apa yang dapat dan mesti dilakukan untuk aksi pembelaan dan pembebasan musthdafien ini, sebagai bentuk kecintaan kita pada Islam? Amat memalukan kemudian jika seseorang mengaku muslim, hidup dalam kemewahan sementara saudara muslimnya ada yang untuk makan saja harus mengais tempat sampah. Pesan Haji Misbach (tokoh SI), ”Jangan lupa, Islam tersedia untuk membela rakyat yang melarat dan tertindas.” Semoga kita diberi kesempatan dan kekuatan untuk melaksanakan amalan Islam secara totalitas. 

Wallahu ’alam bishshawwab.

Pernah dimuat di Majalah Suara Orange BEM UNM Tahun 2007

 

 

 

 

 





Spirit Keagamaan dan Perubahan Sosial

9 04 2008

 Sebuah pertanyaan yang mendesak untuk segera dijawab, “Benarkah agama memiliki spirit dalam proses perubahan sosial atau justru sebagai instrument yang dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan status quo ?”

 Jika kita menelaah sirah nabawiyah, maka kita dapatkan nabi-nabi utusan Allah senantiasa datang membawa perubahan besar dalam struktur sosial kemasyarakatan di mana nabi itu berada. Agama –ajaran- yang mereka bawa adalah agama pembebasan, agama revolusioner, agama yang terus menerus meneror pengikutnya untuk terus menabur benih perjuangan untuk menjadi pemimpin di muka bumi, dan menegakkan kedaulatan ilahi sehingga agama hanya diperuntukkan untuk Allah semata. Sebagimana firman Allah Subhanahu Wata’ala,
“Wa qaatiluhum hatta la takuuna pitnatung wayakuuna ddina lillah”
“dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah dan Dien itu hanya untuk Allah semata.” QS. Al-Baqarah : 193 
Jadi agama, sejak mulanya turun, jelas memiliki spirit untuk melakukan tindakan revolusioner, melawan kesewenang-wenangan dan penindasan. Jadi bukan hanya sebatas ritual, tradisi, dan upacara-upacara yang berkesan rutinitas belaka.
 Dari sini, penulis berani tegaskan bahwa agama adalah revolusi, sedangkan  para Nabi dan Rasul adalah para revolusioner sekaligus reformis. Mereka diutus Allah untuk mengubah wajah dunia ini sesuai dengan kehendak Ilahi. Nabi Ibrahim memproklamasikan revolusi tauhid menentang kemusyrikan dan tiran Namrudz. Nabi Musa membebaskan bangsa Israel dari perbudakan dan penindasan Fir’aun. Nabi Isa As mendeklarasikan revolusi spiritual melawan kekuasaan tirani sekuler hedonostik imperium Romawi. Dan penghulu para Nabi, Muhammad Shallalahu Alaihi wa Sallam sebagai pelopor pembebasan kaum jelata, budak dan rakyat tertindas dan berhasil menghancurkan struktur social Quraisy yang penuh kemusyrikan, penindasan dan sarat dengan ketidak adilan. Tauhid yang di da’wahkan para Rasul berfungsi praktis menghasilkan perilaku dan iman yang diorentasikan untuk mengubah system social masyarakatnya., menjadi tatanan masyarakat yang mengamalkan nilai-nilai Ilahi. Jadi pemeberantasan kesyirikan tidak sekedar dimaknai sebagai perlawanan terhadap para penyembah kubur, pemuja berhala, tapi juga perlawanan terhadap ‘penyembahan’ manusia terhadap manusia lainnya. Sehingga perlunya memandang al-Qur’an sebagai sebuah etos atau sumber motivasi bagi sebuah tindakan revolusioener. Karenanya penafsiran atas teks al_qur’an -sebagaimana yang diusulkan Hassan Hanafi dengan konsep hermeneutika sosialnya- tidak sekedar ditafsirkan secara tekstual tapi juga harus didasarkan pada persepsi kehidupan manusia –penafsiran secara kontekstual-. 

Agama Sebagai Inspirasi Tidak Hanya Aspirasi

  Secara definitif, kita kenali bahwa masalah adalah adanya kesenjangan jarak antara ranah idealitas dengan realitas yang ada. Masalah sosial keagamaan terjadi karena ada yang tidak sesuai dengan harapan yang telah ditorehkan dalam iman agama dengan realitas bagaimana agama tersebut diamalkan di tengah-tengah masyarakat. Kita lihat dalam praktiknya –terutama dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia- keberagamaan  kita menampilkan wajah ambiguitas. Adanya perbedaan yang signifikan antara keshalehan pribadi dengan keshalehan sosial. Keshalehan pribadi yang kemudian diharapkan menular, menyebar untuk terciptanya kondisi sosial yang shaleh tidak jua terwujud. Realitas agama hanya terjebak pada dimensi keshalehan pribadi yang berorientasi pada kesucian perorangan. Ukurannya hanya sekedar persembahan belaka, tapi tidak mampu memperbaharui perilaku sosial. Ini terjadi karena pemeluk agama masih terejebak pada persoalan kuantitas keimanan, bukan pada kualitas keimanannya. Agama hanya dihayati sekedar ritual belaka, tetapi dirinya terasing terhadap realitas kehidupan kemasyarakatan. Misalnya, sebuah contoh nyata, ketika seorang muslimah memulai mengenakan jilbab yang sebenarnya, jilbab itupun kemudian menjadi hijab baru baginya untuk bergaul dengan masyarakat. Seperti yang sering dikatakan Zainal Abidin, “walaupun satu jemuran, tapi tidak saling kenal”.
   Itulah realitasnya, penganut agama gagal mempraktikkan agama yang sesungguhnya, agama yang memiliki iman yang memihak pada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan keesejahteraan. Mengapa ? karena agama hanya dimengerti sebagai ritus belaka dan berorientasi pada dogma an-sich. Dengan demikian pemeluknya pun sekedar beragama formal dan fanatis.  Selama ini tanpa sadar cara beragama kita masih sekedar menjalankan kewajiban persembahan belaka, bukan pada penghargaan hak-hak manusia lainnya. Penghayatan yang ritualistik ini melahirkan keimanan yang kurang terwujud.
 Karenanya, perubahan orientasi keagamaan seharusnya lebih difokuskan pada nilai-nilai kemanusiaan, sehingga spirit perubahan dalam agama benar-benar dapat muncul dipermukaan. Orang yang benar-benar religius adalah orang yang memiliki kepekaan dan sensitifitas yang tinggi pada penderitaan kaum miskin yang tertindas. Kemiskinan memang menjadi persoalan krusial yang kemudian wajib untuk diperangi, karena kemiskinan mendekatkan orang pada kekufuran. Maka melawan kemiskinan adalah perintah dan itu penting dalam Islam. Sehingga tindakan apapun yang dapat menciptakan kemiskinan, kesewenang-wenangan dan penindasan harus diperangi, bukan justru memerangi orang lain karena beda agama –dalam Islam tidak ada paksaan dalam agama-. Kualitas religius inilah yang akan membantu umat beragama memiliki kesadaran religiusitas yang berkualitas. Kualitas religiusitas inilah yang membawa nilai-nilai kemanusiaan semakin adil dan beradab.  Sekali lagi ditegaskan, agama haruslah menjadi inspirasi untuk melakukan tindakan revolusioner, menuju perubahan kehidupan yang lebih bermakna, yang sarat dengan nilai-nilai ketauhidan sebagaimana yang Dia mau.

Penutup  
 Tuhan bukan butuh persembahan tetapi ummat manusia yang bertindak adil bagi sesama, sebaik-baik manusia kata Rasulullah adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lainnya. Tuhan akan muak dengan persembahan ibadah ritual kita jika tangan kita penuh darah, mulut kita penuh dengan pembualan dan dusta. Realitas itulah yang terjadi dalam wajah keagamaan kita sekarang. Keagamaan yang seharusnya membebaskan manusia menjadi agama yang terasing dengan realitas sosial dan sibuk dengan agama yang dikrangkeng di dalam aturan-aturan yang monolitik, monoton, dan tentu saja berdampak tidak sehat.
Itu saya kira, hal penting untuk menjadi landasan Islam membangun masyarakat dan peradaban. 
 

Referensinya…
Benny Susetyo, Vox Populi Vox Dei, Averros Press (2004)
Hassan Hanafi, Paradigma Islam Kiri, Z art (2000)
Eko Prasetyo, Islam Kiri, Menuju Revolusi Sosial, Insist Press (2004)





Islam dan Pembelaan Kaum Tertindas

8 04 2008
Sebelum menerima tugas kenabian, Rasulullah Muhammad Shallalahu Alaihi wa Sallam telah dikenal luas dimasyarakatnya sebagai seorang yang berkepribadian agung, memiliki integritas yang tinggi, jujur dan berakhlaq mulia. Muhammad sebelum diangkat sebagai Nabi telah menjadi orang kepercayaan dimasyarakat Arab yang saat itu masih jahiliyyah dan tanpa tata krama. Dilekatkannya gelar al-Amin di belakang namanya menjadi bukti telak Muhammad memiliki posisi yang amat khusus di tengah-tengah masyarakatnya. Sejarah mencatat, bahwa beliau dipercaya meletakkan hajar aswad ditempatnya semula setelah proses perbaikan Kabah yang rusak akibat banjir yang melanda kota Makah saat itu usai. Persoalan meletakkan hajar aswad bukan persoalan sederhana bagi masyarakat Arab yang saat itu masih fanatik dan terfragmentasi berdasarkan kesukuan. Hanya saja kemudian pandangan masyarakat Arab terhadap Muhammad berubah total setelah Muhammad mendapatkan tugas kenabian dengan menda’wahkan sebuah ajaran baru yang menyerukan kalimat Tauhid, tiada Ilah yang patut disembah dan ditaati selain Allah dan Muhammad sebagai utusan-Nya. Muhammad yang sebelumnya diberi gelar al-Amin tiba-tiba atas konspirasi para pembesar Qurays dijuluki sebagai pembual dan tukang sihir. Tentu menjadi pertanyaan besar jika sebelumnya mereka sendirilah yang menggelari Muhammad sebagai al-Amin dan berbagai gelar dan sebutan mulia lainnya lalu kemudian mereka pulalah yang menuduh Muhammad sebagai pembual dan berbagai tuduhan dan sebutan keji lainnya. Perubahan total sikap masyarakat Arab terhadap pribadi Muhammad tentu bukan hanya karena menyampaikan seruan untuk menyembah Allah Subhanahu Wata’ala, karena patut diketahui bahwa masyarakat Arab jahiliyyah Mekah mempunyai akar sejarah sebagai pewaris tradisi nabi Ibrahim As. Oleh karena itu walaupun warisan nilai-nilai samawi nabi Ibrahim sebagian besar telah diselewengkan mereka masih mengenal Allah dengan baik sebagai pencipta dan penguasa Alam Semesta. Tentu ada hal yang lebih fundamental yang tidak berkenan dihati kaum Jahiliyah Mekah sehingga mereka menentang habis-habisan seruan da’wah Rasulullah bahkan meskipun nyawa menjadi taruhannya. Adapun alasan terbesar kaum Jahiliyah Makah yang disponsori kaum bangsawan dari suku Qurayis menentang dan menolak kenabian Muhammad karena mereka tahu benar akan konsekwensi dari kalimat Tauhid “La ila haillallah”. Mereka secara jujur mengakui Allah adalah pencipta dan pengatur alam semesta namun mereka menolak keras konsep bahwa Allah sebagai satu-satunya Ilah yang patut disembah. Sebagaimana firman Allah dalam surah Ash-Shafat : 35-37 : “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, ‘Laa ilahaillallah’, mereka menyombongkan diri dan mereka berkata, Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila ?, Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya).” Mereka mengetahui secara persis makna dari pernyataan ‘Laa ilahaillallah’, karenanya mereka engan untuk menyebutnya. Pernyataan ini berarti ketaatan total dan menyeluruh baik mengenai urusan dunia maupun akherat, kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sementara masyarakat Arab saat itu hidup pada sebuah sistem bahwa antara manusia dengan Allah memerlukan perantara khusus yang sengaja mereka ciptakan demi keuntungan duniawi yang kepadanya mereka menghambakan diri. Mereka menyebut perantara itu dengan sebutan Latta, ‘Uzza dan ratusan lagi sebutan lainnya. Walaupun mereka mengakui bahwa Allah sebagai pencipta alam semesta tetapi para penguasa, elite Jahiliyyah Mekah telah menciptakan sistem yang memungkinkan mereka melakukan penindasan dan kesewenang-wenangan untuk kesenangan hidup mereka sendiri. Inilah sebabnya mereka menentang habis-habisan seruan Rasulullah agar menempatkan Allah sebagai satu-satunya ilah, yang berhak mengatur hidup dan kehidupan mereka.

Islam, Agama Kaum Tertindas

Dunia Arab saat itu berkutat dalam proses dehumanisasi dan pemiskinan yang menggejala. Adanya ketimpangan sosial dan ekonomi. Distribusi kekayaan yang tidak merata karena terjadinya praktik monopolistik dan penghisapan dari kalangan borjuis Arab terhadap rakyat jelata. Yang kaya semakin kaya sedangkan kaum miskin Arab semakin miskin. Hal ini lebih diperparah lagi dengan sistem keyakinan yang notabenenya diciptakan oleh pembesar-pembesar kaum Arab saat itu. Kemiskinan yang dirasakan kebanyakan rakyat jelata itu sering digembar-gemborkan sebagai kutukan Tuhan, karena kedurhakaan mereka. Pengaruh kemiskinan dan penderitaan itulah yang menyebabkan kebanyakan mereka melakukan penyimpangan aqidah dari agama Ibrahim. Dengan setting sosial yang memiliki kesenjangan yang luar biasa antara kaum kaya dan miskin, lebih-lebih jika simiskin sudah mati-matian bekerja keras tapi juga nasibnya tidak berubah, sementara si kaya hanya duduk-duduk saja tapi dengan rezeki yang melimpah, dalam keadaan seperti itu menyebabkan kemiskinan menawarkan semacam keragu-raguan untuk mempertanyakan kebijaksanaan dan keadilan Tuhan dalam mendistribusikan harta kepada Ummat manusia. Inilah penyebab utama mengapa kemudian mereka merasa tidak cukup jika hanya meminta pertolongan kepada Allah tapi juga kepada benda lain yang mereka anggap bisa memberikan keselamatan dan kesejahteraan bagi mereka. Ataupun karena merasa diri kotor, hina dan tidak pantas berkomunikasi dengan Allah yang Maha Suci, sehingga mereka dalam meminta kepada Allah mesti lewat perantara yang mereka anggap bisa menyampaikan segala keinginan mereka. Itu bisa lewat kuburan/patung-patung para Nabi, waliyullah ataupun benda-benda yang mereka anggap suci dan keramat. Dan keyakinan serta amalan mereka inilah yang terkategorikan sebagai kemusyrikan. Dengan demikian diutusnya Muhammad sebagai nabi dan rasul, yang pertama, berjuang menyebarkan tauhid dan merombak habis sistem kepercayaan yang syirik dengan cara menegakkan nilai-nilai keadilan dan merubah relasi sosial yang menyimpang. Keberpihakan Muhammad Shallalahu Alaihi wa Sallam pada kaum miskin bukan sesuatu yang mengejutkan dan karenanya menjadi prioritas dalam da’wahnya. Islam yang dibawa Rasulullah menawarkan konsep hidup egaliter yang menentang keras segala bentuk penindasan maupun penghisapan pada kaum miskin. Etika penghormatan pada kaum tertindas dalam Islam ditempatkan pada posisi teratas bahkan bisa menggugurkan amalan bila melakukan pendzaliman. Bahkan dalam surah al-Maun dipaparkan perlakuan yang semena-mena terhadap anak yatim dan kaum miskin disebut sebagai perilaku yang mendustakan agama. Keberpihakan Islam pada kaum budak juga tampak jelas dengan banyaknya anjuran Islam untuk memerdekakan budak. Gerakan pembebasan inilah yang pertama-tama dilakukan Rasululullah bersamaan dengan seruannya untuk hanya menyembah kepada Allah semata. Mengapa Islam menjadikan keberpihakan pada kaum miskin sebagai prioritas, setidaknya ada tiga jawaban yang bisa disampaikan; pertama, kemiskinan sangat berlawanan dengan misi Islam sebagai rahmatalil ‘alamin. Kemiskinan merupakan ekspresi kehidupan yang kalah serta tertindas. Kedua, kemiskinan sangat bertentangan dengan martabat manusia sebagai makhluk Allah yang mulia dan dimuliakan. Kemiskinan telah menjatuhkan martabat manusia sebagai sosok yang bebas serta merdeka. Ketiga, yang paling utama adalah mandat al-Qur’an yang meletakkan prinsip keadilan sebagai kunci ketaqwaan yang sejati dan sempurna. Dengan demikian, berislam bukan semata-mata kepercayaan dengan adanya Allah tapi juga berfungsi sebagai pembebas dan pembela bagi manusia yang tertindas. Sebab eksistensi penindasan merupakan bentuk penodaan terhadap konsep tauhid dan pengingkaran terhadap makna ‘Laa ilahaillallah’ sebab jika ada penindas dan yang tertindas berarti yang tertindas menghambakan dirinya pada yang selain Allah dan yang sang penindas menempatkan dirinnya pada posisi Tuhan, dan ini merupakan kedurhakaan yang luar biasa, sebagaimana sabda Rasulullah, maksiat yang dipercepat adzabnya di dunia adalah durhaka pada orangtua dan berbuat dzalim (menindas orang lain). Karenanya, sangat memalukan kemudian jika para da’i yang mengaku penerus nabi dan menyerukan Islam sebagai rahmatalil ‘alamin tapi kemudian tidak memberikan pembelaan pada kaum miskin dan yang tertindas. Ulama siapakah yang turut mendo’akan arwah marsinah dan pembantu lainnya yang meninggal akibat kesewenang-wenangan majikannya ? adakah ulama yang turut membela petani dan kaum miskin kota yang tergusur dari sawah tempat mereka menggantungkan hidup ? dan berapa sih yang turut serta meneriakkan penolakan terhadap harga yang makin melonjak ? adakah kita menuntut penghidupan yang layak bagi saudara-saudara kita yang bahkan untuk makan harus mengais-ngais tempat sampah ? Begitupula organisasi Islam yang menjadikan da’wah kepada tauhid dan pemberantasan kesyirikan sebagai prioritas dan yang utama tapi tetap membiarkan terjadinya penindasan. Keasyikan belajar tentang agama bisa jadi mengikis makna substansial agama dalam menjawab soal-soal kemanusiaan. Pada gilirannya, implementasi syariat Islam tidak menyentuh problem nyata masyarakat, bagaimana memberantas kesyirikan, menegakkan keadilan sosial, memberantas korupsi, mengentaskan kemiskinan, menjamin kemaslahatan manusia, memberikan pembelaan kepada mereka yang terampas hak-haknya. Padahal, inilah inti ajaran Islam dalam masyarakat modern seperti saat ini. Agama adalah revolusi karena mengandung ajaran-ajaran pembebasan manusia dan perlawanan terhadap segala bentuk kejahatan yang menistakan dirinya. Sedangkan para Nabi dan Rasul adalah revolusioner, mereka diutus Allah untuk mengubah dunia sesuai dengan kehendak Ilahi. Wallahu ‘alam bishshawab

Parang Tambung, suatu hari di tahun 2006