Berpegangan kepada al-Quran dan as-Sunnah?

11 04 2008

Masihkah saudara kita Ahlusunah akan bersikeras untuk menyatakan berpegangan teguh terhadap “al-Quran dan as-Sunnah” yang landasan hukum (hadis)-nya masih bermasalah dan hadis itu tidak terdapat dalam Kutubussuttah, dan tidak mengindahkan wasiat Rasul untuk berpegangan terhadap “al-Quran dan al-Ithrah” yang hadisnya mutawatir dan shohih yang terdapat dalam beberapa Kutubussittah, kitab-kitab standart saudara Ahusunah sendiri? Lantas dari sini, siapakah yang layak disebut sebagai Ahlusunah sejati, yang berarti berpegang teguh terhadap Sunah Nabi yang shohih? Masihkah kita akan mengatakan untuk berpegang teguh terhadap al-Quran dan as-Sunnah, atau beralih kepada al-Quran dan al-Ithrah?

———————————————–

Berpegangan kepada al-Quran dan as-Sunnah?

Syiah berpegang teguh terhadap kecintaan terhadap Ahlul Bayt berdasarkan hadis wasiat Rasul yang memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh kepada; Kitab Allah (al-Quran) dan al-Itrah (Ahlul Bayt). Sedang banyak kalangan dari Ahlusunah yang pasca wafat Rasul bersikeras untuk memegang teguh al-Quran dan as-Sunnah yang juga di dasarkan kepada hadis Nabi. Hadis yang berbeda-beda redaksinya itu biasa dikenal dengan hadis ‘Ats-Tsaqolain’ (Dua pusaka yang berharga dan agung). Bagaimana mungkin saudara kita Ahlusunah bersikeras untuk berpegang teguh terhadap al-Quran dan Hadis, padahal hadis yang menjelaskan hal itu ((کتاب الله و سنتی selain merupakan hadis lemah dimana Imam Malik dalam kitab al-Muwattha’ jilid 2 halaman 899 menukilnya dengan cara terputus sanad hadisnya (mursal), juga hadis itu tidak terdapat dalam enam kitab standart Ahlusunah (kutubus-sittah). Hadis itu pernah juga dinukil oleh al-Hakin an-Naisaburi dalam kitab Mustadrak ‘alas Shohihain jilid 3 halaman 118 yang dalam riwayatnya terdapat seseorang bernama Sholeh bin Musa Tholhi dimana dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib jilid 4 halaman 306 disebutkan bahwa Sholeh bin Musa at-Tholhi tadi adalam seorang yang tidak dapat dipegang ucapannya. Al-Hakim an-Naisaburi juga menyebutkan hadis yang sama tetapi dengan sanad lain yang di situ terdapat orang yang bernama Ismail bin Abi Uwais dimana dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib jilid 1 halaman 257 pun dinyatakan bahwa Ismail bin Abi Uwais pun adalah orang yang tidak dapat dipercaya dalam merawikan hadis.

Sedang hadis yang menyatakan tentang keharusan untuk berpegang teguh terhadap al-Quran dan Ahlul Bayt al-Ithrah (کتاب الله و عترتی اهل بیتی) dinukil dalam beberapa kitab standart Ahlusunah, seperti Shohih Muslim jilid 4 halaman 1873, Sunan at-Turmudzi jilid 5 halaman 622 dan sebagainya. Bahkan Syeikh al-Bani (pakar hadis Wahaby) pun mengakui keshahihan hadis tersebut dalam kitabnya yang berjudul ‘Silsilah al-Ahadits as-Shohihah’ jilid 4 halaman 356.

Pertanyaannya sekarang adalah; masihkah saudara kita Ahlusunah akan bersikeras untuk menyatakan berpegangan teguh terhadap “al-Quran dan as-Sunnah” yang landasan hukum (hadis)-nya masih bermasalah dan hadis itu tidak terdapat dalam Kutubussuttah, dan tidak mengindahkan wasiat Rasul untuk berpegangan terhadap “al-Quran dan al-Ithrah” yang hadisnya mutawatir dan shohih yang terdapat dalam beberapa Kutubussittah, kitab-kitab standart saudara Ahusunah sendiri? Lantas dari sini, siapakah yang layak disebut sebagai Ahlusunah sejati, yang berarti berpegang teguh terhadap Sunah Nabi yang shohih? Masihkah kita akan mengatakan untuk berpegang teguh terhadap al-Quran dan as-Sunnah, atau beralih kepada al-Quran dan al-Ithrah?

Pertanyaan yang harus di jawab saudara-saudaraku yang mengaku mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sewaktu Rasulullah mensabdakan kepada sahabat-sahabat untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, bukankah waktu itu sunnah belumlah dikitabkan sebagaimana saat ini ? Apa yang menjadi tolak ukur bahwa sesuatu perbuatan sunnah nabi atau bukan ? dan bukankah ini berarti bahwa untuk mempelajari sunnah nabi harus dari sahabat-sahabat yang pernah bersama nabi, dan bagaimana mungkin mempelajari semua sunnah nabi, sedangkan sahabat-sahabat bersebaran dan dengan status sosial yang berbeda, ada yang menjadi khalifah dan ada yang menjadi gembala ? Bukankah ini berarti sangat sulit mempelajari keseluruhan sunnah nabi bagi generasi-generasi yang akan datang ?  Renungkan lah !

Referensi : Islam Syiah

Iklan




Fatwa-Fatwa Resmi Al-Azhar tentang Mazhab Jakfary (Syiah Imamiah)

11 04 2008
Kesemua dari para petinggi al-Azhar tadi memberi respon positif terhadap mazhab Jakfari (Syiah Imamiah Istna ‘Asyariah) dan mengakuinya sebagai salah satu mazhab dalam Islam dimana seorang muslim bebas untuk menentukan bermazhab dengan mazhab tersebut, kelegalannya sebagaimana mazhab Ahlussunnah yang ada. Tentu, bagi sebagian kelompok kecil yang merasa benar sendiri (ego) dan fanatisme golongannya telah melingkupi dirinya, plus akibat dari kekotoran jiwa yang tidak menerima fatwa-fatwa petinggi dan pemuka al-Azhar tersebut. Mereka hanya akan menerima fatwa dari ulama-ulama golongan mereka saja.

 

 

———————————————————————————–

Fatwa-Fatwa Resmi Al-Azhar tentang Mazhab Jakfary (Syiah Imamiah)

Sejak lama Al-Azhar yang berada di kota Kairo-Mesir telah menjadi pusat dan kiblat buat pendidikan masyarakat Ahlusunnah. Al-Azhar telah banyak mencetak para ulama dan tokoh Ahlussunah yang kemudian tersebar di segala penjuru dunia, termasuk Indonesia. Para alumni al-Azhar dapat bersaing dengan alumni-alumni Timur Tengah lainnya seperti Saudi Arabia, Sudan, Tunis, Maroko, Yordania, Qatar dan negara-negara lainnya. Inilah salah satu penyebab al-Azhar menjadi semakin mencuat citranya di berbagai negara muslim dunia, sehingga seorang pemimpin al-Azhar menjadi rujukan dan panutan bagi pemimpin perguruan tingi lain di Timur Tengah.

Di sini, kita akan menunjukkan beberapa fatwa dari para petinggi al-Azhar perihal bermazhab dengan mazhab Jakfari, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syiah Imamiah Itsna ‘Asyariyah. Kita akan mulai dengan fatwa dari guru besar yang memulai fatwa pembolehan tersebut, Syeikh Allamah Mahmud Syaltut RA:

mahmud-syaltut.jpg

Kemudian kita lanjutkan fatwa Syeikh Allamah Salim al-Bashri:

salim-albashri.jpg

Lantas kita beranjak ke fatwa selanjutnya yang dikeluarkan oleh Syeikh Allamah Muhammad Fahham:

muhammad-fahham.jpg

Dan kemudian fatwa dari Syeikh Allamah Abdul Halim Mahmud:

abdulhalim-mahmud.jpg

Kesemua dari para petinggi al-Azhar tadi memberi respon positif terhadap mazhab Jakfari (Syiah Imamiah Istna ‘Asyariah) dan mengakuinya sebagai salah satu mazhab dalam Islam dimana seorang muslim bebas untuk menentukan bermazhab dengan mazhab tersebut, kelegalannya sebagaimana mazhab Ahlussunnah yang ada. Tentu, bagi sebagian kelompok kecil yang merasa benar sendiri (ego) dan fanatisme golongannya telah melingkupi dirinya, plus akibat dari kekotoran jiwa yang tidak menerima fatwa-fatwa petinggi dan pemuka al-Azhar tersebut. Mereka hanya akan menerima fatwa dari ulama-ulama golongan mereka saja.

Sumber : http://islamsyiah.wordpress.com





Mengapa Kami Membela Syi’ah

9 04 2008

Dan sungguh, kepada  Bani Israil telah Kami berikan kitab (Taurat) kekuasaan dan kenabian, Kami anugerahkan kepada mereka rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masa itu). Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas tentang urusan (agama), maka mereka tidak berselisih kecuali setelah datang ilmu setelah mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sungguh Tuhan akan memberi keputusan kepada mereka pada hari kiamat terhadap apa yang selalu mereka perselisihkan. Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui. ” (Qs. Al-Jasiyah 45 : 16 – 18)

Dari ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa syariat yang ada dan berlaku pada Bani Israil juga berlaku untuk nabi Muhammad SAWW. Syariat yang dimaksud sebagaimana termaktub dalam ayat di atas adalah kitab, kekuasaan, kenabian, rezeki yang baik, kelebihan atas umat yang lain dan keterangan yang jelas tentang urusan agama. Pada artikel ini kita mengkhususkan pada wacana kekuasaan dan keterangan yang jelas tentang urusan agama dan adanya perselisihan dalam tubuh Bani Israil yang menurut ayat di atas juga terjadi pada ummat Nabi Muhammad SAWW. 

Jika kita melihat sejarah Islam dari sudut pandang peristiwa yang memanifestasikan sisi-sisi kemanusiaan, maka akan kita ketahui sejarah Islam betapa tidak ada bandingannya. Sejarah Islam penuh dengan perbuatan heroik, penuh pengorbanan demi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan. Imam Khomeini ra menyatakan, “Islam tumbuh dan berkembang dengan pengorbanan dan kesyahidan putra-putra tercintanya.” Sejarah Islam sarat dengan kecemerlangan dan keungulan manusiawi. Ketika hari pembebasan kota Makah (Fathul Makah), semua kaum kafir Qurays yang selama ini memusuhi nabi dan Islam, tertaklukan. Mereka menunggu keputusan sang Panglima Islam, Muhammad SAWW. Sang nabipun bersabda tentang mereka, “Hari ini adalah hari yang penuh kasih sayang, kalian bebas dan aman dari gangguan siapapun.” Dua tempat yang disebut oleh Nabi Muhammad SAWW sebagai tempat paling aman bagi musuh-musuhnya untuk berlindung, rumah abu Sufyan (gembong Qurays yang sangat memusuhi nabi) dan Baitullah. Betapa manusiawinya, betapa cemerlangnya. Namun kecemerlangan sejarah Islam juga diselingi dengan beberapa titik kelam sejarah. Beberapa peristiwa kelam terjadi dalam dunia Islam, dan kita tidak boleh menutup diri untuk mempelajari dan mengkajinya terus menerus. Apalagi jika peristiwa-peristiwa tersebut mempengaruhi nasib masyarakat Islam selanjutnya. Mengabaikan peristiwa-peristiwa kelam itu begitu saja sama saja mengabaikan kesejahteraan kaum muslimin.

Kita tidak bisa menutup mata dengan terjadinya perselisihan antara kaum muslimin yang justru terjadi sejak generasi awal. Semua bencana yang terjadi pada kaum muslimin disebabkan karena perselisihan. Ayat di atas pun mengungkapkan hal tersebut. Bahwa perselisihan ini terjadi karena adanya kedengkian dan orang-orang yang tidak mengetahui. Syahid Murtadha Muthahari dalam bukunya menceritakan, seorang Yahudi menemui Imam Ali as dan memberi komentar terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi pada periode awal Islam berkenaan dengan masalah kekhalifaan yang menimbulkan perselisihan antar sahabat bahkan berujung peperangan dan saling bunuh. Dia berkata, “Anda memakamkan nabi Anda persis pada saat mulainya perselisihan tentangnya.” Imam Ali as memberikan jawaban, “Anda salah, kami tidak memperselisihkan Nabi itu sendiri. Kami hanya berselisih soal petunjuk yang kami terima darinya. Namun kaki anda belum kering dari laut, anda mengatakan kepada nabi anda, tunjukkan bagi kami Tuhan sebagaimana tuhan-tuhan mereka. Dia berkata, kamu adalah orang-orang yang bodoh.” (Nahj al-Balaghah). Imam Ali as bermaksud mengatakan, “Perselisihan kami bukan mengenai prinsip-prinsip tauhid dan kenabian. Namun mengenai apakah Al-Qur’an dan Islam telah menyebutkan orang tertentu yang menjadi penerus nabi SAWW atau ummat yang berhak memilih penerus nabi SAWW. Kamu kaum Yahudi justru pada saat nabi kamu masih hidup sudah melontarkan pertanyaan yang bertentangan sama sekali dengan agama kamu dan ajaran nabi kamu.” 

Dan yang menjadi awal perselisihan kaum muslimin sepeninggal Rasul adalah siapakah yang akan menjadi penerus kepemimpinannya atas umat?. Apakah mungkin Islam dengan Al-Qur’annya tidak membahas tentang sesuatu yang maha penting ini  ? sementara Allah SWT berfirman, ” Alif  Lam Ra (inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci , (yang diturunkan) dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti”. (Qs. Hud : 1).  Apakah mungkin Islam sebagai syariat terakhir yang bahkan mengajarkan adab bersuci tidak memberi petunjuk satupun tentang persoalan kepemimpinan dalam Islam ?. Islam adalah prinsip hidup yang mencakup semua urusan duniawi maupun spiritual. Kelompok yang menyatakan Islam tidak mengurusi masalah politik, kepemimpinan dan pemerintahan sama saja melakukan sekularisasi dalam Islam. Syahid Murtdha Muthahari memberikan pemisalan yang bagus. Menurut beliau, hubungan antara agama dan politik seperti hubungan antara roh dan tubuh. Tubuh dan roh serta kulit dan isi harus selalu menjadi satu. Kulit melindungi isi agar tetap kuat. Islam memandang politik, pemerintah, undang-undang dan jihad sebagai sesuatu yang sangat penting untuk melindungi dan menjaga wawasan spritualnya, yaitu tauhid, supremasi nilai-nilai spiritual dan moral, keadilan sosial, persamaan hak dan perhatian terhadap sentiment manusia. Jika kulit dipisahkan dari isinya, maka isi akan rusak dan kulit menjadi menjadi sesuatu yang tidak berguna.

 

Imamah dan Penjagaan Islam

 

Kita akan mengawali pembahasan imamah dan penjagaan warisan spiritual Islam dari hadits Tsaqalain. Muslim meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, juz 4 hal 123 terbitan Beirut Lebanon, Zaid bin Arqam berkata, “Pada suatu hari Rasulullah SAWW berdiri di tengah-tengah kami dan menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak antara Makah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat  dan peringatan Rasulullah SAWW berkata, “Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka akupun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barang siapa yang meninggalnya maka ia berada di atas kesesatan.” Kemudian Rasulullah SAWW melanjutkan sabdanya, Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.” Al-Hakim juga meriwayatkannya dalam al-Mustadraknya dari Zaid bin Arqam bahwa nabi bersabda pada Haji Wada’, “Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga) yang salah satu dari keduanya lebih besar daripada yang lain, Kitabullah (Al-Qur’an) dan keturunanku. Oleh karena itu perhatikanlah kalian dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku. Sebab sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga berjumpa denganku di Haudh.” Setelah menyebutkan hadits ini Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat (yang ditetapkan Bukhari-Muslim).” Sebagaimana diketahui bahwa kaum muslimin sepakat untuk mensahihkan seluruh hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, maka saya mencukupkan dengan hanya mengutip kedua hadits ini sebab dalam banyak kitab hadits ini pun dinukil. Rasul menyebut keduanya (Al-Qur’an dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya sebagaimana hadits Rasulullah tidak akan pernah terpisah dan saling melengkapi. Keduanya tidak dapat dipisahkan, apalagi oleh sekedar perkataan Umar bin Khattab pada saat Rasulullah mengalami masa-masa akhir dalam kehidupannya, bahwa Al-Qur’an sudah cukup bagi kita. Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini. 

Tentu saja sabda Rasul tentang Ahlul Baitnya yang tidak akan terpisah dengan Al-Qur’an bukan berdasarkan hawa nafsu pribadinya, sebab Allah SWT telah menjamin dalam Al-Qur’an bahwa apapun yang disampaikan Rasul adalah semata-mata wahyu dari-Nya.  Pertanyaanya, mengapa Al-Qur’an saja tidak cukup menjadi petunjuk bagi kaum muslimin sepeninggal Rasulullah ?. Diantara jawabannya, semua kitab suci adalah kitab-kitab petunjuk yang mengandung prinsip-prinsip dasar petunjuk dan tidak menjelaskan prinsip-prinsip tersebut secara mendetail dan terperinci. Dan para Rasul diutus untuk menjelaskan kitab yang diwahyukan yang menjadi bukti kerasulannya, “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. ” (Qs. Ibrahim : 4). Apakah semasa hidupnya Rasulullah telah menjelaskan kepada ummat Islam seluruh aturan-aturan dalam Al-Qur’an secara mendetail ? Niscaya kita akan menjawab tidak seluruhnya, sebab selama sepuluh tahun Rasulullah SAWW memerintah di Madinah, telah terjadi sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan peperangan (ghazwah) dan tiga puluh lima hingga sembilan puluh sariyah. Ghazwah adalah sebuah peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAWW, sedangkan sariyah adalah sebuah peperangan yang tidak langsung dipimpin olehnya. Akan tetapi, ia mengutus sebuah pasukan yang dipimpin oleh salah seorang sahabat yang telah ditunjuk olehnya. Tentu saja dengan berbagai kesibukan mengatur pertahanan dan peperangan menghadapi kaum kuffar pada awal-awal revolusi Islam membuat Rasululllah tidak sempat untuk menjelaskan semua maksud ayat-ayat Al-Qur’an secara terperinci. Sementara Allah SWT berfirman, ” Alif  Lam Ra. (Inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci , (yang diturunkan) dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti”. (Qs. Hud : 1). Dan di ayat lain, “Tidaklah Kami lalaikan sesuatu pun dalam Kitab ini.” (Qs. Al-An’am : 38). Berkembangnya paham-paham yang saling bertolak belakang misalnya antara paham Jabariyah dan Qadariyah yang masing-masing menjadikan Al-Qur’an menjadikan landasan pemikirannya, menjadi bukti bahwa kaum muslimin di awal perkembangan Islam mengalami kehilangan pegangan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Bahwa sesungguhnya Rasul belum menjelaskan seluruhnya, walaupun agama ini telah sempurna, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu.” (Qs. Al-Maidah : 3 ). Sebab, “Kewajiban Rasul tidak lain hanya menyampaikan (risalah Allah).” (Qs. Al-Maidah : 99). Bukan berarti Rasulullah sama sekali tidak menjelaskan, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64), masalah ini berkaitan dengan Al-Qur’an sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al-Qur’an, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas. Al-Qur’an adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf : 52). Dan menurut hadits Rasulullah Ahlul Baitlah yang meneruskan tugas Rasulullah untuk menjelaskan secara terperinci ayat-ayat Al-Qur’an. Penerus nabi adalah orang-orang tahu interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Imam Ali as dalam salah satu khutbahnya yang dihimpun dalam Nahj Balaqah, khutbah ke-4, “Melalui kami kalian akan dibimbing dalam kegelapan dan akan mampu menapakkan kaki di jalan yang benar. Dengan bantuan kami kalian dapat melihat cahaya fajar setelah sebelumnya berada dalam kegelapan malam. Tulilah telinga yang tidak mendengarkan seruan (nasihat) sang pemandu”. Tentang Imam Ali as Rasulullah bersabda, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang menghendaki ilmu, hendaklah ia mendatangi pintunya” Hadits ini disepakati keshahihannya oleh kaum muslimin sebab banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits, diantaranya At-Thabari, Hakim, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir dan lainnya. Umar bin Khattab pun mengakui keilmuan Imam Ali as sebagaimana yang diriwayatkan Ath-Thabari, Al-Kanji Asy-Syati’i dan As-Shuyuti dalam kitabnya masing-masing, “Dari sanad Abu Hurairah, Umar bin Khattab berkata, “Ali adalah orang yang paling mengetahui di antara kami tentang masalah hukum. Aku mengetahui hal itu dari Rasululah maka sekali-kali aku tidak akan pernah meninggalkannya” Dalil yang menyatakan bahwa tidak hanya Rasulullah yang mengetahui makna Ilahiah Al-Qur’an, maksud sebagaimana yang diinginkan Allah SWT terdapat dalam ayat, “Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas dalam dada orang-orang berilmu.” (Qs. Al-Ankabut : 49).  Dan Ahlul Baitlah yang dimaksud dengan orang-orang berilmu tersebut.

 

Imamah dan Ahlul Bait

 

“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau ?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian Dia perlihatkan kepadanya para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama semua ini, jika kamu yang benar.” (Qs. Al-Baqarah : 30-31).

 

Kisah ini sudah sangat masyhur di kalangan muslimin, tentang proses penciptaan awal manusia. Hanya saja ada pendapat yang ingin kami luruskan. Bahwa yang dimaksud Allah SWT  akan menciptakan khalifah di muka bumi oleh sebagian besar orang ditafsirkan adalah manusia secara keseluruhan. Sehingga dianggap bahwa semua manusia di muka bumi ini adalah khalifah Allah. Sesungguhnya tidaklah demikian. Sebab jelas-jelas pada ayat di atas Allah menyebut ‘seorang khalifah’, yang kemudian Dia menciptakan nabi Adam as, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh-Ku kedalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Qs. Al-Hijr : 29). Jadi yang dimaksud dengan seorang khalifah yang diciptakan dan dibekali dengan ilmu Ilahi adalah nabi Adam as. Sehingga para malaikatpun mengakui ketinggian derajat dan maqam sang Khalifah Allah yang baru saja diciptakan sembari bersujud di hadapan nabi Adam as.

Dengan demikian, Al-Qur’an memberikan gambaran bahwa manusia pertama yang menginjakkan kakinya di muka bumi bukanlah sejenis manusia purba yang mengantungkan nasibnya pada kemurahan alam melainkan khalifah Allah di muka bujmi, yang memiliki otoritas Ilahi yang senantiasa memiliki kontak gaib dengan Allah SWT, “Aku telah meniupkan roh-Ku kedalamnya” dan menguasai ilmu tentang nama-nama berbagai sesuatu. Dan dengan firman Allah SWT, “Aku hendak jadikan seorang khalifah (wakil) di muka bumi.”, berarti di muka bumi akan senantiasa ada yang menjadi pemimpin otoritatif yang diangkat Allah SWT untuk menjadi khalifahnya. Akan tetap ada di muka bumi orang-orang yang menerima pengetahuan dari sumber Ilahiah. Imam Ali as berkata, “Pengetahuan masuk ke mereka, sehingga mereka mempunyai pengetahuan mendalam tentang kebenaran.” Mereka memiliki pengetahuan bukan hasil belajar dan terlepas dari kekeliruan. Mereka pun memiliki ‘Roh Tuhan’ yang menghubungkan mereka dengan dunia gaib.  

Imamah atau kekhalifaan terlalu berharga, terlalu tinggi untuk hanya disebut sebagai pemimpin sebuah pemerintahan. Imamah terlalu pelik dan rumit bagi manusia biasa untuk  memilih dan mengangkat sendiri imam mereka. Imamah tidak dapat diputuskan dalam pemilihan. Sebab imamah bukan sekedar masalah mengurus ummat melainkan perwakilan Allah SWT di muka bumi. Karena itu hanya Allah SWT yang berhak memilih dan mengangkatnya. “Dan ingatlah ketika Ibrahim di uji Tuhannya dengan beberapa perintah, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman:”Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu seorang Imam bagi umat manusia.” Ibrahim berkata, “(Dan aku mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman :”Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.” (Qs. Al-Baqarah : 124).  Ayat ini menunjukkan bahwa menurut Al-Qur’an ada satu lagi realitasselain nabi dan rasul yakni imam, sebab bukankah penunjukan Ibrahim sebagai imam setelah ia menjadi nabi dan rasul dengan berbagai ujian ?.  Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Dan Kami menganugerahkan kepadanya (Ibrahim), Ishak dan Yaqub sebagai suatu anugerah. Dan masing-masing Kami jadikan orang yang saleh. Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.” (Qs. Al-Anbiya : 73). Di ayat lain, “…Kemudian Allah memberinya (Dawud) kerajaan dan hikmah dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Al-Baqarah : 41).  Dari ayat-ayat ini menunjukkan bahwa penunjukkan imam, khalifah ataupun pemimpin atas umat manusia adalah wewenang dan otoritas mutlak Allah SWT sebagaimana penunjukan nabi dan rasul.

Nah, kita kembali sebagaimana yang saya gambarkan sejak awal bahwa Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa sesungguhnya risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAWW adalah kelanjutan aturan-aturan yang ditetapkan Allah SWT pada Bani Israil. Dan salah satunya, “Dan sungguh, Allah SWT telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka.” (Qs. Al-Maidah : 12). Dan yang menyebabkan Bani Israil yang sebelumnya dilebihkan atas ummat-ummat yang lain kemudian menjadi berpecah belah dan tersesat, karena mereka melanggar janjinya, “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membantu.” (Qs. Al-Maidah : 13). Sebagaimana perjanjian Allah SWT dengan Bani Israil, sepeninggal nabi Muhammad SAWW juga ada 12 khalifah, Bukhari-Muslim meriwayatkan, “Agama (Islam) akan selalu tegak kukuh sampai tiba saatnya, atau sampai dua belas khalifah, semuanya dari Qurays.” Semua kaum muslimin menerima periwayatan ini. Namun apakah semua mengakui kekhalifaan 12 orang sebagaimana yang diinformasikan Rasul bahwa seluruhnya berasal dari Bani Qurys ?. Bani Israil yang sebelumnya menjadi umat yang dilebihkan atas umat yang lain – “Wahai Bani Israil ! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini.” (Qs. Al-Baqarah : 122) –  kemudian dilaknat karena ketidak konsistensinya mereka terhadap perjanjian Ilahi. “Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum kecuali kaum itu sendiri mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (Qs. Ar-Ra’ad : 11).  Dan pada ayat yang lain, “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Anfal : 53).

Jadi sesungguhnya, bukan Allah SWT tidak menepati janjinya, bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik, ummat yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, melainkan umat ini sendiri yang mengingkari nikmat dan anugerah yang telah diberikan. “Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya ? Sedangkan sebagian besar mereka tidak beriman.” (Qs. Al-Baqarah : 100). Betapa pentingnya keberadaan Imam dan seorang Khalifah di muka bumi, “Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. ” (Qs. Al-Baqarah : 251). Sebagian manusia yang menjadi pelindung atas manusia yang lainnya adalah Ahlul Bait sebagaimana hadits Rasulullah SAWW, “Perumpamaan Ahlul Baitku seperti bahtera  Nuh, barangsiapa yang menaikinya niscaya ia akan selamat; dan barangsiapa tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam dan binasa.” Seluruh ulama Islam sepakat akan keshahihan hadits ini yang dikenal sebagai hadits Safinah, diantaranya Al-Hakim, Ibnu Hajar dan Ath-Thabrani. Dan kitapun tahu dari informasi Rasulullah bahwa di akhir zaman akan muncul juru penyelamat yang akan menyelamatkan manusia dari berbagai kedzaliman dan menyebarkan keadilan di muka bumi, dialah yang dinanti-nantikan, Imam Mahdi as. Rasulullah SAWW bersabda, “Kiamat tidak akan tiba kecuali kalau dunia ini sudah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Kemudian keluar setelah itu seorang laki-laki dari Ahlul Baitku memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan.” Hadits-hadits Rasulullah SAWW tentang Imam Mahdi sangat banyak jumlahnya.

Hanya saja, sejauh mana kita mencoba mengenali siapa yang termasuk Ahlul Bait nabi, siapakah mereka Imam 12 yang disebut Rasul berasal dari Bani Qurays, dan siapakan Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman ?. Sebagai muslim adalah kewajiban untuk mengetahui dan taat kepada mereka, sebagaimana wajibnya kaum muslimin taat kepada titah Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah.” Dan dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman, “(Ingatlah), pada hari ketika Kami panggil setiap umat dengan imamnya.” (Qs. Al-Isra’: 71). Pertanyaan saya, siapa Imam anda ?

Inilah sedikit jawaban kami mengapa membela keyakinan Syiah, membela pengikut dan pecinta Ahlul Bait Nabi SAWW. Yang memahami Al-Qur’an sebagaimana yang dipahami orang-orang terpilih dari kalangan Ahlul Bait Nabi.

Imam Syafi’I ra berkata dalam salah satu syairnya :

“Jika mencintai keluarga Muhammad dituduh sebagai Syiah, maka saksikanlah jin dan manusia, bahwa aku ini Syiah.”

Sebab sebuah pertanyaan maha penting yang harus dijawab oleh orang-orang yang mengaku muslim. Apakah ajaran Islam sepeninggal nabi masih ada ? kalau masih ada, apakah ia utuh sebagaimana yang dipahami dan diajarkan nabi ? kalau masih utuh siapa yang mengajarkannya dan apa jaminannya ? kalau tidak utuh lagi sebagaimana persis yang dipahami dan diajarkan nabi  apakah seorang muslim masih layak mendakwahkan bahwa dia berada pada jalan yang lurus dan termasuk golongan yang selamat ?. Bagi kami, orang-orang yang memahami Islam persis sebagaimana yang dipahami nabi adalah orang-orang terpilih dari Ahlul Baitnya. “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sungguh, Allah Maha Lembut, Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Ahzab : 34).

Dan inilah yang menjadi keyakinan kami. Islam yang kami yakini ini punya hak untuk tumbuh dan tetap hidup. Sebagaimana sebagian kaum muslimin menyandarkan pemahamannya mengenai Al-Qur’an sebagaimana yang dipahami Salafush Shalih yang dibatasi pada tiga  generasi; sahabat, tabi’in dan tabi tabi’in ataupun yang memilih bertaqlid pada salah satu diantara empat mazhab.

Menurut keyakinan kami, jika mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) itu selamat dan layak untuk tetap bertumbuh maka mazhab Ahlul Baitpun lebih selamat. Sebab tidak ada satupun dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mengarahkan kaum muslimin untuk mengikuti mazhab yang empat. Mengapa mereka dianggap sah untuk diikuti padahal meskipun hadits da’if bahkan palsu sekalipun tidak ada yang membenarkan kaum muslimin terpecah menjadi bermazhab-mazhab dan bergolong-golongan ?. Lalu mengapa Syiah yang mengaku sebagai pengikut Ahlul Bait harus dimusuhi, disisihkan dari golongan kaum muslimin bahkan dikafirkan ?

Dan sesungguhnya, mazhab, agama atau apapun yang menjadi pilihan untuk kita yakini kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban. (Qs. Al-Isra’ : 36).

Apakah saudara-saudara saya yang memilih salah satu mazhab dari empat mazhab yang diakui dalam Islam telah mempelajari dan membandingkan keempat mazhab seluruhnya, sehingga menjatuhkan pilihan pada mazhab Syafi’i misalnya ?.

 

Pada akhirnya, saya harus mengutip perkataan Syahid Murthada Muthahari, “Kami, kaum Syiah, bangga  mengikuti orang-orang terpilih keturunan Nabi SAWW. Kami menganggap tidak dapat dikompromikan setiap sesuatu yang dianjurkan atau dilarang oleh para Imam. Dalam hal ini kami tidak mau memenuhi harapan siapapun, kami juga tak mengharapkan orang lain meninggalkan prinsipnya atas nama kebijaksanaan atau demi persatuan Muslim. Yang kami harapkan dan inginkan adalah terciptanya atmosfer kemauan baik, sehingga kami, yang memiliki fiqh, hadits, tradisi, teologi, filsafat dan literatur sendiri, dapat menawarkan barang-barang kami sebagai barang-barang terbaik, sehingga kaum Syiah tak lagi diisolasikan, sehingga pasa-pasar penting dunia muslim tidak tertutup bagi informasi penting pengetahuan Islam syiah.”

 

Qom, 7 April 2008

 





Mazhab Syiah dalam Sorotan

8 04 2008
3-4 April 2007 Indonesia menjadi tuan rumah sebuah event internasional bertajuk Konferensi Ulama Sunni-Syiah di Istana Bogor, yang diprakarsai oleh NU dan Muhammadiyah, dua ormas besar yang lebih berhak mengatasnamakan ummat Islam Indonesia bukan hanya karena perintis organisasi keagamaan di Indonesia melainkan juga memiliki massa dan pendukung yang lebih besar dibandingkan ormas-ormas Islam lainnya. 3 bulan sebelumnya telah diadakan pula Muktamar Internasional antar Berbagai Madhzab Islam di Qatar, yang dihadiri 216 tokoh pemikir, ulama, pengamat dan menteri dari 44 negara dunia. Muktamar ini diprakarsai Universitas Qatar dan Universitas Al-Azhar Mesir. Kedua pertemuan ini bertujuan untuk menghasilkan piagam persatuan ummat Islam. Seruan persatuan Islam memang sangat dibutuhkan ditengah konflik horizontal yang terjadi berlarut-larut yang masing-masing kelompok mengatasnamakan Islam. Namun yang patut disayangkan, masih saja ada segelintir orang yang melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan semangat persatuan ini. Seperti penyerangan pengajian Syiah di Bondowoso, Bagil dan Sampang tahun lalu, ataupun menggelar kegiatan-kegiatan sepihak yang menghakimi madhzab lain tanpa menghadirkan tokoh-tokohnya, Seminar Nasional Islami yang membahas tentang Syiah dengan tema, “Menapak Jejak Syiah” yang diadakan LDKM Makassar di Gedung. A.P. Pettarani Universitas Hasanuddin (13/1) bisa dijadikan contoh. Seorang matematikawan yang menulis buku tentang ilmu farmasi dan kesehatan tentu banyak mengalami kesalahan dalam penulisan bukunya, kalaupun benar, orang tetap meragukan kredibilitasnya. Begitupun tentang Syiah, muslim Syi’i lah yang lebih berhak untuk berbicara tentang madhzab yang diyakininya. Mengenai hal ini, saya sebagai mahasiswa yang belajar langsung di Iran (Negara yang penduduknya mayoritas bermahdzab Syiah) ingin memberi sedikit tanggapan tentang sebagian kaum muslim yang masih memberi pengklaiman sesat bahkan kafir kepada kaum Syiah, yang oleh Mufti Universitas Al-Azhar Mesir Syaikh Muhammad Tantawi mengeluarkan fatwa bolehnya muslim Sunni shalat berjama’ah dengan Syiah, mengikuti fatwa Mufti Al-Azhar pendahulunya, almarhum Syaikh Muhammad Shaltut. Karenanya, tidaklah sepatutnya kita beranggapan bahwa hanya ini; tidak ada selainnya. Sebab, tidak ada alasan untuk bersikap fanatik, pun tidak ada dalih untuk berlaga menantang, karena Syi¢ah sebagaimana Ahli Sunnah; mereka adalah Muslimin. Perselisihan pendapat mereka dengan Ahli Sunnah hanya seputar persoalan-persoalan yang masih berada di bawah dataran prinsip agama. Sebagai bukti, akan saya paparkan beberapa keyakinan Syiah yang justru landasan teologisnya dalam keyakinan Ahlus Sunnah mendapatkan legitimasi dan pembenaran.
Kontroversi Aqidah Syiah
Perbedaan pendapat antar madhzab dalam Islam bukan sesuatu yang baru. Jika kita menelusuri sejarah, akan ditemukan perselisihan antara kelompok fiqh dan ushul Sunni, misalnya antara Asyariah dan Mu’tazilah atau antara pengikut Hanbali, Hanafi dan Syafi’i dan begitu pula pada kelompok-kelompok Syi’ah. Perbedaan yang paling mendasar antara madhzab Syiah dengan yang lainnya adalah loyalitas kepada keluarga Nabi (Ahlul Bait) sehingga madhzab Syiah juga dikenal sebagai madhzab Ahlul Bait. Kaum Syiah meyakini hak kekhalifahaan ada pada Ahlul Bait Nabi. Kekhalifahan yang dimaksud bukan sekedar sebagai pemimpin ummat melainkan sebagai pelanjut tugas kenabian, memberikan bimbingan dan petunjuk kepada ummat. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang amat berharga, yaitu kitab Allah dan Ahlul Baitku” (Shahih Muslim Juz 4 hal 123 terbitan Dar al-Ma’rif Beirut Lebanon ). Dalam hadits ini Rasulullah mengingatkan tentang Ahlul Bait sebanyak tiga kali. Ibnu Hajar juga meriwayatkan dalam kitabnya ash-Shawa’iq dengan lafadz sedikit berbeda. Rasul menamakan keduanya, Al-Qur’an dan Ahlul Bait sebagai ats-Tsaqalain, ats-Tsaql berarti sesuatu yang berharga, mulia, terjaga dan suci karena keduanya adalah tambang ilmu-ilmu agama, hikmah dan hukum syariat. Mengapa tidak cukup hanya dengan Al-Qur’an ?. Allah SWT berfirman, “Tidak ada sesuatupun yang Kami luputkan dalam Kitab.” (Qs. Al-An’am : 38). Dengan ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa tidak ada yang tertinggal dan semuanya telah tersampaikan dalam Al-Qur’an. Namun, bukankah Al-Qur’an tidak menjelaskan secara terperinci ?. Sewaktu Rasul masih hidup, Rasullah yang menjelaskan secara terperinci hukum-hukum Islam yang disebutkan secara umum dalam Al-Qur’an. Namun, apakah semuanya telah dijelaskan oleh Rasul ? Karenanya sepeninggal Rasul harus ada yang tahu interpretasi Al-Qur’an dan makna sejatinya, bukan berdasarkan logika sendiri, yang terkadang benar dan juga bisa salah, namun berdasarkan pengetahuan ilahiahnya tentang karakter esensi Islam. Al-Qur’an dan Ahlul Bait adalah dua pusaka Nabi yang suci, Allah menjelaskan kesucian Ahlul Bait dalam Surah Al-Ahzab ayat 33. Dan setelah Rasul merekalah yang lebih banyak memahami Al-Qur’an, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah” (Qs. Al-Ahzab:34) dan merekalah yang pertama-tama mendapatkan ilmu langsung dari Rasulullah, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Qs. Asy-Syu’ara : 214). Dengan demikian, maka mengikuti Ahlul Bait sepeninggal Rasul SAW adalah sesuatu yang wajib, sebagaimana mengikuti Al-Qur’an, terlepas siapa yang dimaksud Ahlul Bait, hal ini membutuhkan pembahasan yang lebih lanjut. Yang penting disini adalah keberadaan Ahlul Bait (Itrah) Nabi di sisi kitab Allah akan tetap berlangsung hingga datangnya hari kiamat dan tidak ada satupun masa yang kosong dari kehadiran mereka. Tidak ada yang memiliki keyakinan seperti ini selain Syiah, dimana mereka mengatakan wajib adanya imam dari kalangan Ahlul Bait pada setiap zaman, yang telah disucikan oleh Allah SWT sesuci-sucinya, dan kaum muslimin wajib untuk mengenal dan mengikuti mereka, “Siapa yang mati sementara ia tidak tahu imamnya, maka ia akan mati bagai matinya jahiliyah.” (HR. Bukhari-Muslim) dan “Pada hari Kami panggil seluruh manusia bersama imamnya masing-masing” (Qs. 17:71). Oleh karena itu, Muslim Syi’i meyakini, Imam Ali bin Abi Thalib ra yang berhak menjadi khalifah sebagaimana sabda Rasulullah, “Ali di sisiku ibarat Harun di sisi Musa kecuali kenabian, karena tidak ada Nabi setelahku.” (Shahih Bukhari, 5 : 129 dan Shahih Muslim 2 : 360). Dan bukankah Nabi Musa as pernah berpesan kepada Nabi Harun as, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku.” (Qs. Al-A’raf : 142). Dan kepemimpinan setelah Imam Ali dilanjutkan oleh keturunannya yang berasal dari Bani Quraisy, “Setelah aku ada 12 imam, semuanya dari Quraisy.” (HR. Bukhari-Muslim). Hal lain yang selalu dijadikan tuduhan kepada muslim Syi’i yang membuat mereka dinyatakan kafir dan keluar dari agama Islam adalah adanya keyakinan kaum Syiah bahwa Al-Qur’an mengalami perubahan atau kaum Syiah memiliki Al-Qur’an yang berbeda dengan kaum muslimin lainnya. Ini hanyalah fitnah belaka, sebab sampai saat ini tak ada seorangpun yang mampu menunjukkan Al-Qur’an Syiah yang berbeda dengan Al-Qur’an ummat Islam pada umumnya. Perbedaan pendapat tentang Al-Qur’an hanyalah berkisar kapan dan siapa yang mengumpulkan Al-Qur’an. Kaum Sunni meyakini, pada zaman Rasulullah Al-Qur’an masih dalam berbentuk lembaran-lembaran yang ditulis pada batu, kulit binatang dan pada tulang-tulang yang kemudian disatukan dan dijadikan satu kitab yang utuh pada zaman kekhalifaan Usman bin Affan. Kaum Syiah meyakini, Allah SWT sendirilah yang menurunkan, menjaga dan mengumpulkan Al-Qur’an sehingga tersusun menjadi ayat-ayat dalam sebuah kitab yang sebagaimana kita baca. Allah SWT berfirman, “Sungguh, Kamilah yang menurunkannya (Al-Qur’an) dan Kamilah yang menjaganya.” (Qs. Al-Hijr :9) dan ayat lain, “Sungguh, Kamilah yang akan mengumpulkannya (ayat-ayat Al-Qur’an) dan membacakannya, maka apabila telah Kami bacakan ikutilah pembacaannya, kemudian Kamilah yang akan menjelaskan.” (Qs. Al-Qiyamah : 17-19). Sebab menurut Syiah, jika dalam penyusunan Al-Qur’an ada campur tangan selain Allah dan Rasul-Nya maka kitab itu tidak akan suci lagi dan akan menimbulkan banyak perselisihan dalam penyusunannya sebab siapapun merasa berhak menyusun ayat-ayat Al-Qur’an sesuai yang dikehendaki. Kalaupun dalam kitab-kitab hadits Syiah didapatkan hadits yang terkesan meragukan kesucian Al-Qur’an, ulama-ulama Syiah sudah berkali-kali memberikan bantahan dan penjelasan bahwa hadits tersebut dha’if dan tidak bisa dijadikan pegangan. Sebab keberadaan hadits-hadits dha’if dan maudhu juga terdapat pada kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah. Justru, bagi kaum Syiah hadits yang meskipun dari segi sanad dinyatakan shahih namun jika bertentangan dengan pesan Al-Qur’an maka kaum Syiah membuangnya. Kaum Syiahpun meyakini, apa yang telah dihalalkan oleh Rasulullah akan tetap halal sampai kiamat, dan semuanya sepakat Nikah Mut’ah dan ziarah kubur pernah dihalalkan oleh Rasulullah untuk diamalkan kaum muslimin. Kalaupun ada yang menyalahgunakan nikah mut’ah ataupun melakukan praktik kesyirikan dan kebid’ahan dalam ziarah kubur itu lain soal, bukan menjadi dalil berubahnya hukum sesuatu menjadi haram dan terlarang.
Sunni-Syiah Bersatu, Mungkinkah ?
Senjata paling ampuh yang ada di tangan musuh-musuh Islam adalah mengobarkan koflik lama antara Sunni dan Syiah. Di semua negeri muslim tanpa kecuali, abdi kolonialisme sibuk menciptakan perselisihan di kalangan kaum muslimin atas nama agama dan simpati kepada Islam. Cukuplah Irak, Afganistan dan Lebanon menjadi korban provokasi itu. Bukankah kita sudah cukup menderita akibat perselisihan lama ini, sehingga lebih bijak untuk menahan diri dan menghormati pendepat yang berseberangan dengan kita. Konflik horizontal yang terjadi berlarut-larut di negeri ini salah satu penyebabnya karena kurangnya rasa toleransi. Intoleransi melemahkan kekuatan , merusak martabat dan menyebabkan bangsa kita tetap dalam keterjajahan kekuatan asing. Karenanya persatuan adalah sebuah keniscayaan. Namun patut diketahui, persatuan muslim yang dikehendaki tidaklah berarti madhzab-madhzab muslim harus mengabaikan keyakinan-keyakinan prinsipil mereka demi persatuan dan mengesampingkan kekhasan madhzab. Keyakinan dan prinsip praktis adalah hak asasi yang tidak boleh diganggu gugat. Kita dituntut untuk mengembangkan keagamaan dalam konstruk pemahaman seperti itu sehingga dapat memberikan tawaran segar dan mencerahkan bagi Indonesia hari ini dan masa depan. Karenanya, keberadaan kelompok-kelompok yang tidak tertarik membahas ikhtilaf madhzab secara ilmiah sangat disayangkan. Yang dibutuhkan adalah keberanian memandang perspektif mazhab lainnya selayaknya orang alim yang sedang mencari kebenaran, dan menyadari bahwa hanya kebenaranlah yang sepatutnya diikuti. Orang yang berakal tidak akan menentukan kebenaran atas dasar figur seseorang, akan tetapi atas dasar bukti dan argumentasi. Maka dengan mengenal kebenaran, ia juga akan mengenal orang-orang yang benar. Dalam subjek apa saja, tidak tahu adalah sikap yang paling aman. Namun haruskah kita tetap berkubang dalam ketidaktahuan sementara keimanan membutuhkan semangat Horace: Sapere aude!, yakni berani tahu. Sebab, sebagaimana pesan Imam Ali, “Seseorang cenderung memusuhi yang tidak diketahuinya.” Wallahu ‘alam Bishshawwab.
Qom, 14 Januari 2008