Apa Kabar Pendidikan Nasional ?

2 05 2008
Andreas Harefa dalam sebuah media pernah menuliskan, “…hanya ada dua respon yang kita berikan ketika membicarakan pendidikan di negara ini, menangis atau gila !”. Fakta dan realitas membuktikan pendidikan di Indondesia mengalami teori Evolusi Regresif. Artinya umat manusia berkembang kearah keburukan. Dan bukannya Evolusi Progresif. Makin lama makin baik, makin cerdas, makin berilmu,makin cemerlang. Andreas Harefa memberikan ilustrasi menarik, ia membandingkan dirinya dengan Soe Hok Gie, mahasiswa angkatan 1966 yang luar biasa cerdas. Di usia yang terbilang muda Gie telah berani berdiskusi dengan Sudjatmoko, Jakob Sumardjo bahkan berdebat dengan Soekarno. Gie tidak hanya pandai di bidang sejarah yang merupakan basis keilmuannya, tapi juga piawai dalam bidang sastra, politik dan penguasaannya terhadap teori-teori ekonomi yang membuatnya sadar ada ketidakberesan dan ketidakbecusan dalam pengelolaan negara. Itulah kemudian yang membuatnya kemudian berani mengambil sikap untuk memilih menjadi idealis -sebagaimana yang pernah ditulisnya- sampai batas sejauh-jauhnya. Andreas mengakui betapa bodohnya dia jika dibandingkan dengan Soe Hok Gie. Dia mahasiswa angkatan 1980-an ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Gie yang angkatan 1960-an.

Saya sendiri senang membaca buah pemikiran Andreas Harefa. Ide-ide yang dicetuskan sejak dia masih mahasiswa ditahun 1980-an baik dari buku-buku yang telah diterbitkannya maupun lewat website Manusia Pembelajar yang dikelolanya . Saya mahasiswa angkatan 2000-an mengaku gemetar membaca transkrip-transkrip pemikirannya. Dan menggigil luar biasa ketika membaca Catatan Demonstrannya Gie.

 

Manusia seperti apa keduanya ?

Dari sini timbul kegelisahan itu. Ada apa dengan pendidikan kita ? Mengapa Universitas, Sekolah Tinggi atau Akademi amat jarang ‘mencetak’ manusia-manusia yang berkarakter dan mandiri, semisal Andreas Harefa yang sampai merasa tidak perlu menyelesaikan kuliah ?. Atau Gie yang memilih untuk terasing. Belum lagi kalau kita mau mempersoalkan betapa tidak berperannya Universitas dalam upaya pencerdasan masyarakat. Malah yang terjadi lembaga pendidikan tinggi dikontrol kepentingan modal dan birokrasi negara. Dari puluhan ribu sarjana lulusan tiap perguruan tinggi tiap tahunnya, tidak lebih dari 0,1 % yang mau melibatkan diri dalam proses pengembangan pikiran kolektif untuk melawan Neoliberalisme dan segala turunannya yang berupa kebijakan-kebijakan.

Sudahlah, kita tidak usah berharap banyak pemerintah mencerdaskan kita -untuk memenuhi pasal UUD 1945 saja tentang dana pendidikan 20% dari alokasi APBN sangat kepayahan- mari kita cerdaskan diri sendiri, dengan menciptakan suasana belajar dimana dan kapanpun. Sebagaimana falsafah Freiran, semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah. Betapapun mengecewakannya pendidikan negara kita sampai saat ini, saya tidak lupa mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional, meskipun sambil tersipu malu.

 

 

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: