Menyeka Air Mata Wisudawan Kita

28 04 2008

  Lewat kolom Tanda-Tanda Zaman, di Majalah Basis edisi Juli-Agustus 2000, ‘warisan’ Dick Hartoko, Shindunata menegaskan bahwa, “Pendidikan Hanya Menghasilkan Air Mata.” Tentu saja penegasan ini ada benarnya, cuman persoalannya air mata seperti apakah yang mengalir menatap pendidikan kita sekarang ? Sebagai salah satu Perguruan Tinggi, dari rahim UNM hari ini (30/4) terlahir ribuan sarjana sebagai hasil reproduksi (input-proses-produk) pendidikan. Air mata seperti apakah yang mengalir dari pipi mereka? banyak hal yang diwakili air mata kita. Terkadang air mata menetes karena rasa bahagia yang tak tertahankan, air mata seperti itukah melihat diwisudanya produk perguruan tingi kita ? atau justru air mata yang mengucur deras karena penderitaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Air mata yang jatuh karena para orang tua mereka yang membanting tulang, bekerja keras demi menyekolahkan anak-anaknya, demi membiayai pembangunan sebuah kotak lengkap dengan instrument-instrumentnya yang kemudian kita sebut sebagai kampus atau universitas ? berapa banyakkah tanah, kerbau dan semacamnya yang tergadai demi semua itu ? pasrah begitu saja dengan ‘mitos’, pendidikan itu mahal. Ataukah air mata yang jatuh oleh para anak muda (baca: mahasiswa) yang kehidupannya terpasung selama bertahun-tahun. Yang kehilangan keunikannya karena diwajibkan menyesuaikan diri dengan apa yang berlaku. Yang menyebabkan mereka tenggelam dalam konformisme. Konformisme itulah yang berbahaya karena mematikan identitas diri mereka. Ya, agar tidak dikatakan berbeda dengan kebanyakan. Masalahnya kita telah terbiasa dengan penyeragaman, kita tak mau berbeda dengan yang lain, padahal hikmah dari perbedaan itu tak ternilai harganya. Sebagaimana yang dikatakan Asdar Muis, “Penyeragaman membuat kita menjadi manusia-manusia yang kehilangan baju”. Ataukah air mata penyesalan yang menetes pelan dari pipi orang tua-orang tua mereka, melihat anak yang tak lagi dikenalnya ? anak yang tahu benar tentang keluhuran cuman tak pandai untuk menerapkannya. Terjaga dengan urusan akademis tapi terlelap tentang realitas kehidupan. Tak ada yang namanya kritis tentang fenomena yang ada. Bersikap egoistis dan sedikit pesimis karena telah terlatih bertahun-tahun di Kampus yang telah menjadikan anaknya sebagai sekrup mekanisme yang taat. Bermental babu dan tak punya kemerdekaan kesadaran. Siapa yang mungkir dari fenomena terjajahnya mahasiswa, dengan adanya just do it, don’t even think ? tak pernah diajar berpikir yang diajarkan hanyalah mengerjakan tugas-tugas, makalah-makalah yang yang saking banyaknya seringkali menghina akal sehat. Mereka diajarkan menghafal, bukan diajarkan belajar, yang diajarkan berhitung tanpa diajarkan apa yang mesti diperhitungkan. Diajarkan untuk pandai mencari majikan sekaligus menjadi bawahan yang super taat. Tak ada mata kuliah keterampilan untuk pengembangan diri, yang ada kurikulum pembentukan manusia-manusia siap pakai. Begitulah, kebanyakan perguruan tinggi menjadikan dunia kerja sebagai tujuan utama. Alhasil sense of belonging terhadap ilmu itu sendiri minus sekali, atau bahkan nyaris tak terdengar. Belajar yang seharusnya aktuasi alami berubah menjadi, “Let’s do it and finish the job” – Ayo kerjakan dan selesaikan pekerjaan ini-. 
Apa yang didapat dari Universitas ?
            Dengan realita ini, perguruan tinggi bukan lagi tempat proses pendidikan tetapi melatih anak bangsa menjadi produk-produk yang tidak jauh beda dengan robot-robot yang digerakkan dengan remot kontrol (demikian jika meminjam bahasa-bahasa Ivan Illich atau Paulo Freire tentang dunia pendidikan). Mereka yang diajarkan tentang agama (puas dengan 2 sks) sekaligus diseret untuk mendurhakai-Nya.Para mahasiswa lebih sering diajar menghafal dibanding diajar belajar. Katanya pendidikan tetapi yang ada bukannya suasana pertukaran ide-ide yang ada pendiktean ide-ide. Bukan perdebatan atau pendiskusian tentang tema-tema yang ada pentransferan ilmu yang ‘mutlak’ kebenarannya. Beda sedikit dengan dosen dianggap melawan. Benar ! intelektualitas mahasiswa diberangus atau dibredel oleh dosen-dosen yang serba tahu, ruang kuliah lebih mirip ruang indoktrinasi dan pemaksaan konsep. Materi kuliah pendidikan didominasi dengan tekhnik-tekhnik pengajaran dengan tugas-tugas makalah dan penelitian yang kemudian hanya ditumpuk dan bukannya diskusi-diskusi mendalam mengenai hakekat proses pembelajaran dan pendidikan. Bahwa belajar tentunya bukan sekedar menghafal berbaris kata dari diktat atau catatan. Tentu saja bukan menelan bulat-bulat semua fatwa pengajar. Tetapi meresapi bahwa belajar bagaimana berbuat (learn to do) jauh lebih penting dari belajar menghafal. Bukankah demikian ?
  Ataukah yang mengalir adalah air mata penuh ketakutan, menatap hari esok? Seperti yang selama ini dipertontonkan oleh kebanyakan mahasiswa, yang ‘fasih’ menipu, yang lihai berbuat culas demi mendongkrak IP yang jongkok. Pengkhianatan intelektual adalah imbas dari ketakutan-ketakutan. Takut nilainya rendah, takut tidak lulus, takut miskin, takut tak punya pekerjaan, dan ketakutan-ketakutan itu yang mengajarkan kemunafikan dan pengkhianatan intelektual. Kalau benar seperti itu, hasilnya bisa ditebak, berdiri dihadapan para wisudawan sama halnya melihat ribuan pecundang yang tak memiliki kepercayaan diri. Mereka yang didoktrin bahwa gelar akademis adalah satu-satunya yang harus ditempuh untuk mengubah nasib mereka, terutama mahasiswa dengan background kemiskinan. Data terpaparkan, lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan di Indonesia _+ 250.000-350.000 orang pertahun. Dari jumlah itu, hanya sekitar 90.000 yang terserap ke sektor formal dan sisanya menganggur atau bekerja di sektor informal. Hal ini, jelas, menandakan bahwa semakin banyak sarjana justru tidak mengindikasikan negara semakin makmur. Justru sebaliknya, semakin banyak sarjana, semakin tinggi pula tingkat pengangguran. Para sarjana itu bekerja di sektor informal bukan karena keinginan mereka, namun karena keadaan yang memaksa dan keterbatasan lapangan kerja. Hasil survei angkatan kerja nasional BPS tahun 2007 mencatat pengangguran 10,5 juta (9,75%). Dari jumlah total pengangguran tersebut, tercatat 740.206 orang atau 7,02% adalah mereka yang pernah mengenyam pendidikan di universitas, diploma, akademi ataupun pendidikan sejenis yang sederajat. Artinya, kini terdapat jutaan kaum intelektual yang menjadi pengangguran terbuka. Sebuah fenomena sosial yang tentu jauh dari harapan orang tua. Bila anaknya, setelah menghabiskan biaya besar untuk kuliah hanya akan menjadi pengangguran. Padahal untuk sukses tidak identik dengan gelar, bukankah Bill Gates, Lawrence Ellison, Paul Allen, orang-orang terkaya dunia yang drop out dari kampusnya masing-masing ? air mata ketakutan itukah yang mengalir ? takut menghadapi persaingan dalam kehidupan yang sesungguhnya. Kalau air mata semacam itu yang mengalir dari wisudawan kita, izinkan saya menangisi mereka. Jika benar demikian, berarti saya ‘terpaksa’ mengakui ‘tesis’ Robert T. Kiyosaki bahwa, “Sekolah tidak lain hanya mengajarkan ketakutan-ketakutan”, Kalau benar seperti itu, saya berani menyimpulkan kampus adalah tempat yang paling efektif dalam mengkerdilkan iman dan cara berpikir. Sebagai sebuah lembaga pendidikan, (mestinya) out put dari Perguruan Tinggi adalah orang-orang yang berhasil menemukan kemanusiaannya, menciptakan manusia yang berkesadaran dan mampu meningkatkan taraf hidupnya, dengan ide dan kreativitas yang flaw. Bukan justru yang disibukkan dengan ketakutan-ketakutan. Semoga bukan air mata itu. Tentu saja kita berharap yang mengalir dari pelupuk para wisudawan kita (begitu juga orangtuanya) adalah air mata bahagia, penuh haru sembari berujar “Selamat Datang Tanggung Jawab”, sebab falsafah seorang intelektual bukan hanya mencerdaskan diri tapi juga masyarakat. Yang menjunjung tinggi moralitas dan menjadikan kejujuran dan kebenaran sebagai nafas kehidupan. Agar saya punya dalih untuk membantah prasangkaan ‘buruk’ Y. B Mangun Wijaya, “Lihat saja, para mahasiswa itu sekeluarnya nanti hanya akan membodohi rakyat dengan modal kepintaran mereka..!!!”. Ya, saya berharap banyak kepada para wisudawan kita. Bangsa ini sudah teramat merindukan generasi yang tegar, penuh semangat dan berjiwa besar. Yang punya kemerdekaan kesadaran, siap menanggung resiko separah apapun demi kesetiaan terhadap idealisme yang selama ini diperjuangkan. Kini, kita hanya bisa membayangkan dan mencoba meresapi semangat mereka. Akh, semoga saja kita punya waktu dan kemampuan untuk menghayati dan serius berbuat serentak, agar dengan begitu sayap jiwa yang lemah dapat kembali mengepak dan terbang dengan gagahnya di atas cakrawala kehidupan. Alhasil kaum intelegensia memikul “hutang sejarah” untuk mengamalkan pengetahuan yang telah dikunyah-kunyah. Agar ia tidak berlalu begitu saja tanpa pesan dan kesan. Jika hutang itu tidak jua dilunasi, ia kelak menjadi bayang-bayang hitam yang mengganggu ketentraman batin. Tulisan ini mengajak kita gelisah dan resah ilmiah. Semoga ia berguna menjadi patron bagi kita tentang frame of reference dan field of experience dalam kancah pergulatan ilmu pengetahuan. Kita -karenanya- wajib ragu akan kemampuan mendedikasikan amanah ilmu dalam wujud amalan nyata. Agar apa yang diperbuat hari ini bisa digugu dan ditiru generasi mendatang. Seperti ungkapan A’a Gym: tiada hari tanpa mencari ilmu dan program mengamalkannya. Bukannya mencari ilmu hanya sekedar untuk bekerja mencari uang melainkan untuk memanusiakan diri untuk lebih manusiawi. Insya Allah, ketika air mata yang mengalir adalah air mata ketawadhuan (sebagaimana mestinya orang-orang berilmu), saya ingin menyekanya dengan ibu jari saya dengan penuh kekaguman.

Dedicated buat kekasihku tercinta HARYATI S.Pd, yang harus banyak mengeluarkan airmata, 
akhirnya kau meraihnya juga.  
Iklan

Aksi

Information

2 responses

28 04 2008
rusle

pendidikan itu mahal menjadi momok di masyarakat kita saat ini,,,
bukan hanya karena jarak dan jumlah sekolah bermutu sedikit, tp sudah merambah ke kantong-kantong yg cekak..

Tuhan, beri kami pemerintah yang santun!

29 04 2008
asuna17

Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://pendidikan.infogue.com/menyeka_air_mata_wisudawan_kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: