Menggugat Kualitas Intelektual Dosen

20 04 2008
            Penggunaan istilah ‘dosen’ selama ini sering kita gunakan untuk menyebut sosok manusia yang cerdas, intelek, ilmiah dan mengajar mahasiswa di perguruan tinggi. Sepakat atau tidak, dosen termasuk deretan kaum intelektual dengan ilmu dan wawasan serta pengalaman yang melimpah ruah. Jadi dosen bukan sekadar profesi. Tetapi didalamnya terkandung pula peran sosial yang teramat penting. Sebagai seorang intelektual, dia adalah kaum cerdas terpelajar yang diharapkan dapat menjadi motor dalam membangun kesadaran kritis masyarakat, menjadi penggerak perubahan sosial masyarakat. menumbuhkan sikap berpihak kepada kebenaran dan keadilan, paling tidak kepada mahasiswanya (Sari Aneta, 2004).                                                                        
              P.D. Boorykin mendefinisikan intelektual sebagai strata sosial yang terdiri dari orang-orang profesional yang terlibat dalam pekerjaan mental –dalam bentuk yang kompleks dan kreatif. Dalam artian, dia tidak hanya menjadi seorang pengajar, tapi juga seorang pendidik. Dan bukan hanya bagi mahasiswanya, tapi juga bagi masyarakat. Seorang pengajar sekadar mentransfer ilmu pengetahuan yang dimilikinya secara berulang-ulang sebagai suatu rutinitas, tanpa pengembangan dan pembangunan kesadaran terhadap mahasiswanya. Sementara seorang pendidik lebih dari sekadar transfer ilmu pengetahuan, dia akan pula membangun kesadaran kritis mahasiswanya. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mengetahui apa yang benar, melainkan turut serta pula dalam melakukan perubahan sosial.                                                                          
               Seorang pendidik akan membantu mahasiswanya mengembangkan diri, menemukan jati diri yang berwawasan sosial, memiliki kemampuan menganalisis fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya, menanamkan komitmen untuk tetap setia pada kebebasan, pencarian kebenaran dan keadilan, serta memposisikan diri sebagai juru bicara bagi penegakan kebenaran dan keadilan tersebut. Lebih jauh lagi, para dosen diharapkan pula turut serta membangun sikap mental gentlement agreement (konsisten) para elite penguasa, membentuk dan mengawasi susunan dan tatanan kehidupan politik dengan tetap berpihak kepada rakyat. Seorang dosen memiliki fungsi strategis. Dia adalah kaum akademisi, cendikiawan, dan guru. Menyadari fungsi strategisnya itu, orang-orang yang mengisi profesi ini haruslah terseleksi bukan cuma karena memiliki kecerdasan ilmiah tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual yang seimbang. Dia harus manusia terpilih yang memiliki kejelasan visi dan misi terhadap penegakan kebenaran dan keadilan.         
                 Seperti apa kualitas intelektual dosen kita pada saat ini? Penulis menilai, tingkat kualitas dosen yang ada pada saat ini tidak terlepas dari proses rekrutmen yang lebih menitikberatkan pada keahlian keilmuan, namun kurang mempertimbangkan kualitas mental spriritual yang ada pada sang calon. Hal ini diperburuk lagi dengan adanya praktik kolusi dan nepotisme yang juga merajalela di dunia pendidikan kita. Selain proses rekrutmen, ada juga persepsi yang tumbuh di masyarakat bahwa pekerjaan menjadi dosen tak ubahnya profesi lain pada umumnya, sebuah jenjang karir dan pekerjaan rutin. Persepsi itu membuat apa yang dilakukannya lebih banyak terarah pada bagaimana naik pangkat, memperoleh penghasilan lebih besar, dan memenuhi target mengajar, tanpa banyak peduli dengan visi dan misi pendidikan yang sesungguhnya, yakni membangun kesadaran kritis. yakni memanusiakan manusia, yakni mendekatkan dan membawa manusia ke Tuhan. Bukankah kebanyakannya lebih sering tunduk pada kekuasaan dari pada hati nurani, serta acapkali menutup telinga terhadap ketidakdilan yang terjadi.                 
                    Hanya ada segelintir dosen yang mampu untuk melaksanakan peran sosialnya tersebut. Untuk sebuah contoh kasus, Dr. Judilherry Justam (alumni HMI), staff pengajar (dosen) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1978. Karena kekritisannya terhadap kebijakan rezim ORBA yang amat jelas menyengsarakan rakyat dan sarat dengan ketidak adilan berbuah beliau harus dipecat dari UI sebagai dosen bahkan konsekwensi lain yang mesti ditanggung adalah dicabutnya izin praktek sebagai dokter.  Beliau menyadari posisinya sebagai dosen yang merupakan identitas intelektual yang ada di lini kehidupan ini dan beliau memerankannya nyaris sempurna, sebab siapapun tahu berpihak pada kebenaran dan keadilan di negeri ini identik dengan kesengsaraan duniawi. Dan masih banyak lagi tokoh lain, hanya saja dosen yang apatis jumlahnya lebih membludak lagi, sebagaimana yang dikatakan Iwan Fals, “Orang seperti ini jumlahnya banyak di negeri ini, tak jauh beda dengan roti”.                                                                                     
Dicari Dosen yang Kritis !                                                                                       
            Untuk saat ini, kurang jelasnya keberpihakan dosen terhadap kebenaran dan keadilan atau lemahnya sensitivitas dosen terhadap realitas sosial yang terjadi di sekitarnya. Jangankan di lingkungan nasional atau internasional, dalam lingkungan kampus sendiri pun peran seorang dosen dalam menentukan kebijakan dan menanggapi realitas sosial cenderung minim. Kasus sederhana, semakin mencekiknya biaya pendidikan di perguruan tinggi justru dianggap angin-anginan oleh kebanyakan mereka. Dosen kita lebih memilih diam dan menutup telinga padahal kesewenang-wenangan terjadi bukan karena banyak yang mendukungnya melainkan yang bungkam dan membiarkan kesewenang-wenangan terjadi jumlahnya lebih banyak. Dan dengan kebijakan Universitas untuk melakukan pungutan ‘liar’ terhadap orangtua mahasiswa berarti dunia pendidikan kita telah menjalankan program “Yang kaya sekolah dan kuliah, yang miskin dan ekonominya rendah, pengangguran saja”. Dan bukankah itu merupakan tindak kriminal ?. Kriminal dalam arti seharfiah-harfiahnya, sejajar dengan penyamun, maling, pemerkosa, koruptor dan pecandu narkoba.                                                            
              Sungguh ironis memang, para akademisi yang disebut-sebut sebagai ilmuwan, intelektual, yang selalu bergelut dengan ilmu pengetahuan, ternyata berhadapan dengan uang, sikap kritis hilang. Masyarakat telah dibelenggu dengan pendidikan yang berbiaya tinggi. Padahal sikap yang diharapkan timbul dari kalangan ilmuwan kampus (baca: dosen) dalam menyikapi persoalan ini sebaliknya. Yaitu, mereka seharusnya mampu mengontrol dan menjadi representatif dalam pencegahan terjadinya “Industrialisasi dan komersialisasi pendidikan”. Mengapa? Karena salah satu isi tri dharma perguruan tinggi adalah pengabdian pada masyarakat.  Apakah dengan menaikkan biaya pendidikan adalah satu-satunya solusi untuk perbaikan kualitas pendidikan ? lalu apakah serta merta masyarakat yang harus menanggung sepenuhnya ? -Masyarakat sudah terlalu lama menderita, Pak !-  atau kalau menurut saya pribadi, menaikkan biaya pendidikan (melakukan pungutan diluar SPP) bukanlah pendidikan yang mahal tapi gaji guru dan dosen yang harus mahal. Dan saya kira, ini tugasnya pemerintah dan berkaitan erat dengan kebijakan yang dibuat dalam memajukan dunia pendidikan ke depan. Bukan justru membebankan kepada masyarakat. Aku, engkau dan kita semua korban dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang salah kaprah yang lebih memihak pada para pemodal, praktik korupsi yang menyengsarakan dan perilaku politisi busuk yang secara sadar menghantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kehancuran. Karenanya sebagai kaum intelektual, gugat dong!!! Bukankah selama ini mahasiswa identik dengan identitas ientelektualnya berarti dosen sebagai pengajarnya lebih intelektual lagi ?.              
                 Sudah saatnya dosen kembali pada fungsi asalnya, sebagai pendidik yang melakukan peran sosialnya sebagai intelektual. Bangunlah kesadaran kritis, berhentilah menjadi pengecut! Semoga dosen mau mulai memiliki keberanian bersikap dan berpihak kepada kebenaran dan keadilan sebagai perwujudan keintelektualannya. Atau kita sepakat saja dengan usulan Andreas Harefa, kalau universitas bukannya mengabdi pada masyarakat (salah satu tridharma Perguruan Tingi), bukannya menjadi pemecah masalah justru penambah masalah, apa ruginya kalau dibubarkan saja seperti Gusdur membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial ?                                      
                Gugatan ini bukan dengan motivasi melakukan pelecehan apalagi sengaja melakukan pembusukan, tetapi sesungguhnya kita memang diciptakan untuk menggugat. Sebab dengan menggugat manusia tidak akan terus hanyut dalam keputus asaan. Ketika manusia mau menggugat, dia menyadari kesenjangan yang membuatnya tertinggal. Menggugat adalah perjalanan penting untuk menjadi autentik, sebab dengan menggugat kita berniat menanggalkan topeng-topeng kepalsuan yang melilit ‘wajah langit’ kita.  Dengan menggugat ketimpangan dan kelalaian yang seringkali kita lakoni sehingga seringkali berlaku tidak adil semoga menyadarkan kita pada esensi kemanusiaan yang akan menghantarkan kita semakin mendekati Tuhan.                              
“…demikianlah; telah Kami jadikan kamu umat yang adil dan pilihan”.
Karenanya mari menggugat !!!!
Sudahlah jangan tersinggung, maafkan saya !!!
Makassar, 30 Juni 2005, Pernah di muat di Buletin Educare Edisi I/06/05
Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: