Mahasiswa, Dosen dan Ketidakdewasaan

20 04 2008

            Pendidikan memungkinkan seseorang menjadi lebih manusiawi (being humanize) sehingga disebut dewasa dan mandiri, itulah visi atau tujuan dari proses pembelajaran atau pendidikan. Dan ini perlu kita perbincangkan, sejauh mana saat ini sistem pendidikan kita berhasil mencetak manusia-manusia yang dewasa dan mandiri.

 
Kedewasaan dan Kekanak-kanakan
 
Mengajar anak-anak berhitung itu baik, namun mengajar mereka memahami
 apa yang seharusnya diperhitungkan adalah yang terbaik                 
            Bob Talbert
 
           Istilah adult berasal dari bahasa latin yang diambil dari kata adultus berarti telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa (Hurlock, 1992). Oleh karena itu seorang yang disebut dewasa adalah individu yang telah siap menerima kedudukan dalam masyarakat.  Sedangkan kedewasaan atau kematangan adalah suatu keadaan bergerak maju ke arah kesempurnaan. Kedewasaan bukanlah suatu keadaan yang statis, tetapi merupakan suatu keadaan menjadi…. (a state of becoming). Sementara selama ini kita cenderung mendefinisikan kedewasaan seseorang dengan melihat tubuhnya dan mengaitkannya dengan usia. Setidaknya oleh Sthepen Covey, usia dan ukuran tubuh dalam banyak hal gagal untuk dijadikan parameter tingkat kedewasaan seseorang. Covey mendefinisikan kedewasaan sebagai keseimbangan antara courage (keberanian) dengan consideration (pertimbangan). Manusia yang bertindak secara berani tanpa disertai dengan pertimbangan yang seksama adalah ceroboh dan nekat, dan itu pertanda belum dewasa karena cenderung membahayakan orang lain. Sebaliknya manusia yang terlalu banyak pertimbangan dan tidak berani melakukan adalah jenis manusia no action talky only, inipun pertanda bahwa ia belum dewasa. Terlebih lagi manusia yang kurang berani sekaligus kurang pertimbangan lebih tidak dewasa lagi. Dengan demikian manusia disebut dewasa jika ia berani sekaligus penuh pertimbangan  pada saat bersamaan.
              Kita tahu bahwa perbedaan antara kanak-kanak (child) dengan orang dewasa (adult) dapat diringkas dalam satu kata, kemampuan. Kemampuan ini umumnya dikaitkan dengan sedikitnya tiga hal berikut : pengetahuan, sikap dan keterampilan. Kanak-kanak memiliki pengetahuan yang amat terbatas hampir dalam segala hal, baik tentang dirinya, orang lain, alam semesta apalagi tentang sang Khalik. Kanak-kanak juga belum mampu menentukan sikap, apakah harus positif atau negatif, kritis atau nrimo, terhadap semua hal yang terjadi di lingkungannya. Begitupun dari segi keterampilan, sama saja. Jadi pertumbuhan seorang kanak-kanak menjadi manusia dewasa sesungguhnya ditandai dengan perkembangan kemampuannya itu. Ia menjadi semakin mampu, semakin berdaya, dan semakin merdeka dari hal-hal di luar dirinya.
             Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin mampu bertanggungjawab atas diri sendiri dan menolak pendiktean atau pemaksaan kehendak dari apapun yang berada di luar dirinya. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti menjadi semakin mampu menyatakan, mengaktualisasikan, mengeluarkan potensi-potensi yang dipercayakan Sang Pencipta. Bertumbuh menjadi dewasa berarti menjadi semakin berdaya, semakin merdeka, dan semakin lebih manusiawi. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin menjadi diri sendiri dan menjauhkan kecenderungan suka meniru dan sekedar ikut-ikutan (seperti balita yang cenderung meniru segala hal yang dilihatnya dari orang lain).
            Nah selanjutnya, pertanyaan yang timbul, darimanakah kedewasaan itu diperoleh ? dari mana lagi kalau bukan dari proses pembelajaran/pendidikan. Pendidikanlah yang membuat manusia bertumbuh dan berkembang sehingga berkemampuan, menjadi dewasa dan mandiri.
 
Realitas  Pendidikan (di) Indonesia
 
“Nenek saya ingin saya memperoleh pendidikan,
karenanya, ia tidak mengizinkan saya sekolah”.
Everet Reimer
 
                Pendidikan diambil dari kata latin ‘e-ducare’ arti sejatinya adalah menggiring keluar. Apa yang digiring keluar ? Tak lain adalah diri atau segenap potensi manusia itu sendiri. Hanya saja dalam konteks dunia persekolahan ataupun universtitas, pendidikan dalam banyak kejadian prosesnya tidak ubahnya dengan pengajaran yang sekedar ptransferan ilmu dan pengetahuan dari kepala pengajar/dosen ke kepala anak didik. Sekolah dan Universitas terlalu banyak dimanajemeni, tetapi sangat kurang dipimpin. Tunas-tunas bangsa terlalu dijejali dengan tekhnik-tekhnik agar siap pakai, tetapi agak kurang didampingi agar siap belajar, siap hidup dan siap berlatih. Orang-orang muda kurang diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, dan terlalu sering diperlakukan sebagai obyek pengajaran. Hasilnya adalah manusia-manusia yang sama sekali tidak siap hidup di luar lembaga pengajaran itu (di luar sekolah/universitas) yang tidak siap belajar dan tidak siap berlatih untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tuntutan pengetahuan dan keterampilan di dunia nyata. Keluaran lembaga pendidikan itu sarat dengan ilmu pengetahuan (knowledge) tetapi sangat kurang ilmu kehidupan (wisdom) dan ilmu pertukangan (skill).  Dan kalau dikaitkan dengan kedewasaan, jujur saja seolah/universitas gagal mendewasakan anak didiknya. Yang mampu dihasilkan oleh dunia pendidikan kita adalah orang-orang yang merasa dewasa. Yang menjadi persoalan adalah dengan merasa dewasa maka sebagian besar manusia berhenti belajar. Merasa dewasa karena telah berusia diatas 17 atau 21 tahun, telah selesai sekolah atau kuliah, telah memiliki gelar akademis, telah memiliki pasangan hidup, telah memiliki pekerjaan dan jabatan yang memberinya nafkah lahiriah, telah memiliki  rumah dan kendaraan sendiri, telah kaya raya dan seterusnya. Hal-hal itu yang membuat berhenti belajar, sehingga tidak lagi mengalami keajaiban-keajaiban yang luar bisa dalam kehidupan. Begitupun dalam hal membaca, sama saja. Sebagian besar penyandang gelar akademis tidak lagi membaca buku-buku berisi ilmu pengetahuan yang relevan dengan titelnya sekalipun. Sulit ditemukan perpustakaan yang paling primitif sekalipun dirumah-rumah para pemilik gelar yang telah merasa pintar dan telah tamat belajar.
              Realitas ketidak dewasaan hasil didikan universitas kita dapat kita lihat dengan seringnya terjadi aksi tawuran antar sesama mahasiswa sendiri. Aksi tawuran ini menunjukkan ketidakdewasaan itu. Kita akui, aksi mahasiswa memang cenderung keterlaluan, menunjukkan ketidakdewasaan mereka. Tapi apakah serta menyalahkan mereka seratus persen ?. Penulis menilai, dengan pola pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di universitas kita, hanya ada dua jenis mahasiswa yang dilahirkan, mahasiswa penurut yang inggih selalu dan mahasiswa pembangkang yang cenderung anarkis. Yang disayangkan bukannya intropeksi diri, beberapa dosen justru lebih anarkis lagi dan menunjukkan kekanak-kanakannya dengan menyalahkan dan menganggap mahasiswa yang tidak becus diajar. Itu bukan langkah yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Justru dengan sikap itu terlihat jelas tidak adanya niat yang tulus dari para dosen untuk memperbaiki kualitas pendidikan untuk mencetak mahasiswa yang sadar diri, dewasa dan mandiri. Dan kalau hanya mengandalkan fasilitas untuk mengadakan perubahan, itu adalah sesuatu yang utopis tanpa dibarengi dengan adanya perubahan paradigma para tenaga pengajar universitas terutama dalam cara mengajar dan mendidik yang cenderung otoriter. Yang dibutuhkan adalah ruang bersama untuk saling mengoreksi kekurangan masing-masing yang setelah itu kekurangan atau kelemahan pun dengan sikap kedewasaan dirubah menjadi kekuataan.    
            Singkatnya, kebanyakan manusia usia dewasa, dan terutama bekas anak sekolahan (termasuk sarjana dengan S berapapun), hanya besar secara fisik, tetapi secara sosial, mental dan spritual mereka kerdil. Sekolah dan universitas ternyata sukses dalam satu hal, mencetak manusia-manusia yang menjadi tua (growing older), tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menjadi dewasa (growing up). Bukankah demikian ?
Ditulis 7 Juli 2005
Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: