Benarkah Kita Bangsa yang Bodoh ?

20 04 2008

Taufik Ismail, sastrawan dan Budayawan besar yang dimiliki bangsa ini ternyata tidak cukup hanya dengan malu sebagai seorang Indonesia, namun juga telah mengambil kesimpulan bangsa ini sudah diambang kehancuran. Pernyataan inipun dipertegas oleh beberapa intelektual, sastrawan, budayawan serta yang mengaku sebagai pejuang demokrasi. Ceramah-ceramah di mimbar dan halaman-halaman koran mengutip makian dan kutukan mereka. Data-datapun dipaparkan; jumlah resmi orang miskin 39,5 juta jiwa. Angka yang fantastis untuk sebuah negara yang telah merdeka 62 tahun lebih. DiAsia Tenggara indeks pembangunan manusia Indonesiamenempati posisi ke-7 di bawah Vietnam. Negara kitapun masuk Guines Book of Record karena menjadi negara perusak hutan tercepat di dunia. Walaupun telah gundul, masih saja terjadi penebangan liar yang merugikan negara sekitar USD 2 Miliar. Dengan seringnya terjadi kecelakaan transportasi beruntun dinegara kita, pemerintah AS mengeluarkan anjuran kepada warganya untuk tidak bepergian menggunakan maskapai penerbangan Indonesia. Indonesia duduk di ranking 143 dari 179 negara di dunia menurut Transparency International (IT) 2207 dengan Indeks Persepsi Korupsi(IPK) 2,3. Dengan indeks ini Indonesia sejajar dengan Gabia dan Togo dan kalah bahkan oleh Timor Leste. Pemerintah kitapun terengah-engah untuk menjaga sebuahkedaulatan, Malaysia tidak hanya berani merebut duapulau Indonesia namun juga mengklaim Lagu “RasaSayange” dan alat musik angklung sebagai milik mereka. Harian Jawa Pos (10/4) melansir berita, “Kita inisudah miskin, otak ngeres pula”. Dengan paparan data,Indonesia pengakses situs porno ranking ke-7 dunia.4.200.000 situs porno di dunia, 100.000 diantaranyasitus porno Indonesia. 80% anak-anak 9-12 tahunterpapar pornografi. 40% anak-anak kita yang lebihdewasa sudah melakukan hubungan seks pranikah. Dansetiap hari kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD satu-satu atau ramai-ramai. Kitapun bahkanpernah dikejutkan dengan data 97,05 % mahasiswi sebuahkota besar telah kehilangan keperawanannya. Salahkahmengajikan data dan fakta ini ?. Tentu saja tidak.Sebab kenyataan harus selalu dikabarkan. Namun bagisaya adalah kesalahan kalau hanya sekedar mengutuk danmencecerkan aib sendiri lalu kemudian pesimis dantidak berbuat apa-apa. Bahkan saya melihat adakecenderungan untuk diakui sebagai pakar ataupunaktivis harus lebih dulu berani menyematkanstigma-stigma buruk pada bangsa kita ini. Kalau orang asing menghina kita sebagai bangsa yang terbelakangdan bodoh, maka kita harus mengamini dan memaparkanbukti bahwa bangsa kita memang terbelakang. Tidak bisa kita pungkiri, kenyataan menyedihkan ini kita temukandalam dunia intelektual kita. Untuk disebut intelektual, sastrawan, budayawan dan pakar yangkritis harus berani mencari aib bangsa sendiri untukdibeberkan kepada orang asing. Apa ini namanya kalaubukan pengkhianatan ?. Tidakkah kita melihat ada tujuan-tujuan politis dibalik stigma-stigma buruk yang disematkan negara lain pada bangsa kita ?. Tidak sedikit negara yang lebih tertinggal dari Indonesia namun masih bisa membusungkan dada dan disegani didunia internasional karena mereka punya harga diri dan berusaha menjaganya. Ketika diberi stigma buruk, mereka justru melakukan usaha untuk menepis stigma itu.

Prestasi Anak Bangsa dan Penyikapan Kita
Tampak ada kecenderungan masyarakat kita lebih tertarik mengkonsumsi berita-berita pelajar yang terlibat tawuran dan yang berani tampil bugil dibanding prestasi-prestasi yang diraih anak-anak muda kita. Anggapan yang timbul puncenderung melihat anak-anak muda kita sebagai potensi masalah ketimbang sebuah harapan. Seberapa banyak dari kita yang mengenal Muh. Firmansyah Karim, pelajar SMAAthirah Makassar yang mengejutkan dunia intenasional dengan meraih medali emas tahun lalu pada ajang Olimpiade Fisika Internasional (IPhO) ke-38 di IsfahanIran. Medali emas indonesia dipersembahkan pelajarkelas I padahal hampir semua peserta olimpiade adalahkelas III SMA dan soal-soal yang diberikan setaradengan soal fisika tingkat S2/S3. Selesai upacarapemberian medali, semua orang menyalami. Prof. Yohanes Surya Ph.D pembina Tim menceritakan, “Orang Kazakhtanmemeluk erat-erat sambil berkata “wonderful job…”Orang Malaysia menyalami berkata “You did a greatjob…” Orang Taiwan bilang :”Now is your turn…”Orang filipina:”amazing…” Orang Israel “excellentwork…” Orang Portugal:” portugal is great in soccerbut has to learn physics from Indonesia“, OrangNigeria :”could you come to Nigeria to train ourstudents too?” Orang Australia :”great….” Orangbelanda: “you did it!!!” Orang Rusia mengacungkankedua jempolnya.. Orang Iran memeluk sambil berkata”great wonderful…” 86 negara mengucapkan selamat. Suasananya sangat mengharukan, saya tidak bisa menceritakan dengan kata-kata.. Gaung kemenanganIndonesia menggema cukup keras. Seorang prof dari Belgia mengirim sms seperti berikut: Echo ofIndonesian Victory has reached Europe! Congratulations to the champions and their coach for these amazing successes!”. Tidakkah cerita ini turut menggetarkanhati kita ?. Begitupun pada ajang olimpiade sainslainnya, pelajar-pelajar kita selalu mempersembahkan prestasi yang gemilang. Kitapun mungkin telah lupadengan Sulfahri, siswa SMA Negeri 1 Bulukumba yang telah menjadi duta Indonesia di ajang International Exhibition for Young Inventor (IEYI) di New Delhi,India 2007 dan tercatat sebagai seorang penemu mudainternasional. Begitupun Firman Jamil, seniman Indonesia asal Sul-Sel mengukir prestasi yang tidakkalah gemilangnya. Firman Jamil telah beberapa kali melanglang buana ke luar negeri, dalam rangka pementasan karya seninya. Salahsatunya, berhasil lolosseleksi pada Festival Seni Patung Outdoor di Taiwandari 165 seniman pelamar dari berbagai belahan dunia. Sayapun merasa perlu untuk menyodorkan nama cendekiawan muslim Indonesia, Dr. Luthfi Assyaukanie yang menjadi mahasiswa asing pertama Universitas Melbourne yang memenangkan “Chancellor’s Prize”setelah tesis doktoralnya terpilih sebagai disertasi terbaik diantara hampir 500 tesis lainnya. Bahkan salah seorang astronot kita, Dr. Johni Setiawan tercatat sebagai 1 dari 4 orang di Jerman yang menemukan planet. Dr. J.Setiawan yang baru berusia 30tahun menemukan planet ekstra solar yang mengelilingibintang HD11977 yang berjarak 200 tahun cahaya. Yang tidak kalah gemilangnya, Bocah Indonesia, March Boedihardjo, mencatatkan diri sebagai mahasiswa termuda di Universitas Baptist Hong Kong (HKBU) dengan usia sembilan tahun. Bila lulus nanti, March akan memiliki gelar sarjana sains ilmu matematika sekaligus master filosofi matematika. Di Iran sendiri, pelajar-pelajar Indonesia diantara pelajar-pelajar asing lainnya selalu memiliki indeks prestasi tertinggi. Logikanya, jika anak-anak bangsa ini sering berprestasi bahkan sampai ajang internasional berarti memang SDM kita tidak perlu diragukan. Prestasi sesederhana apapun yang diraih anak bangsa harus didukung dan diapresiasi. Bukan dicelah atau difitnah. Bahkan sampai mengatakan prestasi olimpiade sains atauprestasi lainnya hanya kamuflase dan tidakmencerminkan kondisi pendidikan dan kualitas manusia Indonesia. Prestasi yang diraih bukanlah tujuan melainkan merupakan propaganda bahwa kitapun tidakkalah, punya daya saing dan kehormatan. Negara ini dibentuk dan diperjuangkan kemerdekaannya oleh parapendahulu bukan untuk unggul di atas bangsa-bangsa,namun agar diakui sebagai bangsa yang memiliki kedaulatan, bangsa yang akan mensejahterahkan rakyatnya. Simak saja, penggalan pidato Ir. Soekarno pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, “Di dalam Indonesia merdeka kita melatih pemuda kita, agar supaya menjadi kuat. Di dalam Indonesia merdeka kitamenyehatkan rakyat sebaik-baiknya.”Memang saat ini kondisi sosial kita buruk, mesti kita akui itu. Namun marilah kita melihat peluang-peluang yang bisa dilakukan dan hal-hal baik yang mesti dipelihara. Lihatlah betapa banyak gunungan potensi yang dimiliki bangsa ini. Negara ini belum berakhir. Kita sudah divonis menderita krisis ekonomi akut, namun kenyataan mempertontonkan masyarakat kita masih saja mampu berjubel di mall-mall yang membuat para pengamat luar negeri terheran-heran. Sayapun tidak sepakat kalau kita disibukkan hanya dengan mengejar prestasi lalu mengabaikan kesejahteraan rakyat yang menjadi tujuan utama bangsa ini. Sebab pendidikan merupakan urusan yang lebih tinggi ketimbang menjadi juara olimpiade dan lulusUAN. Pendidikan adalah kekuatan strategis dan terpokok dalam mengeluarkan bangsa ini dari lubang derita. Pendidikan mengajarkan kita tentang identitas, harga diri bahkan ideologi sebuah bangsa. Namun, saya lebihtidak sepakat lagi dengan upaya-upaya menggembosi dan mencemooh terus menerus bangsa ini. Bagi saya itu menunjukkan bahwa kita benar-benar bangsa yang bodoh. Wallahu ‘alam bishshawwab.
Qom, 15 April 2008
Iklan

Aksi

Information

One response

21 04 2008
rusle'

tulisan yang menarik, smoga ini menjadi upaya yang simultan dan berlanjut unutk menjadikan semuanya lebih baik.
hanya saja, ustad..
saya kok jengah dan merasa tak pantas hadir di deretan para ustad di widget samping…apaalgi disandingkan dengan Marja’i Ayatullah Hushein Fadhlullah…
🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: