Berpegangan kepada al-Quran dan as-Sunnah?

11 04 2008

Masihkah saudara kita Ahlusunah akan bersikeras untuk menyatakan berpegangan teguh terhadap “al-Quran dan as-Sunnah” yang landasan hukum (hadis)-nya masih bermasalah dan hadis itu tidak terdapat dalam Kutubussuttah, dan tidak mengindahkan wasiat Rasul untuk berpegangan terhadap “al-Quran dan al-Ithrah” yang hadisnya mutawatir dan shohih yang terdapat dalam beberapa Kutubussittah, kitab-kitab standart saudara Ahusunah sendiri? Lantas dari sini, siapakah yang layak disebut sebagai Ahlusunah sejati, yang berarti berpegang teguh terhadap Sunah Nabi yang shohih? Masihkah kita akan mengatakan untuk berpegang teguh terhadap al-Quran dan as-Sunnah, atau beralih kepada al-Quran dan al-Ithrah?

———————————————–

Berpegangan kepada al-Quran dan as-Sunnah?

Syiah berpegang teguh terhadap kecintaan terhadap Ahlul Bayt berdasarkan hadis wasiat Rasul yang memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh kepada; Kitab Allah (al-Quran) dan al-Itrah (Ahlul Bayt). Sedang banyak kalangan dari Ahlusunah yang pasca wafat Rasul bersikeras untuk memegang teguh al-Quran dan as-Sunnah yang juga di dasarkan kepada hadis Nabi. Hadis yang berbeda-beda redaksinya itu biasa dikenal dengan hadis ‘Ats-Tsaqolain’ (Dua pusaka yang berharga dan agung). Bagaimana mungkin saudara kita Ahlusunah bersikeras untuk berpegang teguh terhadap al-Quran dan Hadis, padahal hadis yang menjelaskan hal itu ((کتاب الله و سنتی selain merupakan hadis lemah dimana Imam Malik dalam kitab al-Muwattha’ jilid 2 halaman 899 menukilnya dengan cara terputus sanad hadisnya (mursal), juga hadis itu tidak terdapat dalam enam kitab standart Ahlusunah (kutubus-sittah). Hadis itu pernah juga dinukil oleh al-Hakin an-Naisaburi dalam kitab Mustadrak ‘alas Shohihain jilid 3 halaman 118 yang dalam riwayatnya terdapat seseorang bernama Sholeh bin Musa Tholhi dimana dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib jilid 4 halaman 306 disebutkan bahwa Sholeh bin Musa at-Tholhi tadi adalam seorang yang tidak dapat dipegang ucapannya. Al-Hakim an-Naisaburi juga menyebutkan hadis yang sama tetapi dengan sanad lain yang di situ terdapat orang yang bernama Ismail bin Abi Uwais dimana dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib jilid 1 halaman 257 pun dinyatakan bahwa Ismail bin Abi Uwais pun adalah orang yang tidak dapat dipercaya dalam merawikan hadis.

Sedang hadis yang menyatakan tentang keharusan untuk berpegang teguh terhadap al-Quran dan Ahlul Bayt al-Ithrah (کتاب الله و عترتی اهل بیتی) dinukil dalam beberapa kitab standart Ahlusunah, seperti Shohih Muslim jilid 4 halaman 1873, Sunan at-Turmudzi jilid 5 halaman 622 dan sebagainya. Bahkan Syeikh al-Bani (pakar hadis Wahaby) pun mengakui keshahihan hadis tersebut dalam kitabnya yang berjudul ‘Silsilah al-Ahadits as-Shohihah’ jilid 4 halaman 356.

Pertanyaannya sekarang adalah; masihkah saudara kita Ahlusunah akan bersikeras untuk menyatakan berpegangan teguh terhadap “al-Quran dan as-Sunnah” yang landasan hukum (hadis)-nya masih bermasalah dan hadis itu tidak terdapat dalam Kutubussuttah, dan tidak mengindahkan wasiat Rasul untuk berpegangan terhadap “al-Quran dan al-Ithrah” yang hadisnya mutawatir dan shohih yang terdapat dalam beberapa Kutubussittah, kitab-kitab standart saudara Ahusunah sendiri? Lantas dari sini, siapakah yang layak disebut sebagai Ahlusunah sejati, yang berarti berpegang teguh terhadap Sunah Nabi yang shohih? Masihkah kita akan mengatakan untuk berpegang teguh terhadap al-Quran dan as-Sunnah, atau beralih kepada al-Quran dan al-Ithrah?

Pertanyaan yang harus di jawab saudara-saudaraku yang mengaku mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sewaktu Rasulullah mensabdakan kepada sahabat-sahabat untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, bukankah waktu itu sunnah belumlah dikitabkan sebagaimana saat ini ? Apa yang menjadi tolak ukur bahwa sesuatu perbuatan sunnah nabi atau bukan ? dan bukankah ini berarti bahwa untuk mempelajari sunnah nabi harus dari sahabat-sahabat yang pernah bersama nabi, dan bagaimana mungkin mempelajari semua sunnah nabi, sedangkan sahabat-sahabat bersebaran dan dengan status sosial yang berbeda, ada yang menjadi khalifah dan ada yang menjadi gembala ? Bukankah ini berarti sangat sulit mempelajari keseluruhan sunnah nabi bagi generasi-generasi yang akan datang ?  Renungkan lah !

Referensi : Islam Syiah

Iklan

Aksi

Information

One response

11 04 2008
secondprince

Soal hadis-hadis itu saya pernah bahas, semoga bisa jadi referensi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: