Keberpihakan Islam Pada Kaum Miskin

10 04 2008

 

    ”Miskin bukan sesuatu yang menghinakan,

hanya saja sangat tidak menyenangkan ” (Anonim) 

            Kemiskinan merupakan problem kemanusiaan yang sangat tidak mengenakkan. Orang miskin dapat ditandai dengan golongan berpendapatan rendah di bawah standar internasional, yakni mereka yang menyandarkan hidupnya pada pendapatan kurang dari 2 dollar per hari (setara Rp 16.000, dengan kurs Rp 8.000 per dollar AS). Berpendidikan rendah, kesehatan buruk, terancam  kurang gizi (malnutrition) dan tidak memiliki sumber daya ekonomi yang minimal.  Rakyat miskin kebanyakan memburuh untuk orang lain, ketergantungan pada orang lain begitu tinggi, baik yang bekerja sebagai pekerja upahan atau yang sekadar menerima belas kasihan. Tragisnya lagi, orang miskin diidentikkan dengan orang yang hina, menyusahkan dan keberadaannya sangat tidak diharapkan. Yang jadi masalah kemudian, di negara yang kaya raya ini, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik Jemal-ud-din Kassum mengingatkan, kurang lebih tiga per lima (60 persen) penduduk Indonesia saat ini hidup di bawah garis kemiskinan, sementara 10-20 persen hidup dalam kemiskinan absolut (extreme poverty). Ironisnya lagi, ini terjadi di negara yang penduduknya mayoritas muslim.              

Bagaimana Islam Memandang Kemiskinan ?

Hakekat misi Allah SWT dalam mengutus Nabi Muhammad SAW adalah membawa ajaran dan hukum-hukum yang bisa menjadi solusi bagi setiap permasalahan yang dihadapi baik individual ataupun sosial. Hal ini berarti Islam adalah jalan keluar yang mampu menyelesaikan semua permasalahan sampai keakarnya yang paling mendasar, tidak hanya menyentuh kulit persoalan dan hanya memberikan keringanan hidup sesaat. Termasuk kemiskinan, Islam memberikan solusi ’radikal’ dalam mengatasinya, tidak hanya berupa pesan-pesan moral, mauidahh (wejangan),  targhib (memberikan harapan) dan tarhib (memberikan ancaman).

            Dalam perspektif hadits, sebagaimana dalam lantunan do’a Rasulullah. ”Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran.” (HR. Abu Dawud), kemiskinan merupakan virus ganas bagi keselamatan dan keutuhan aqidah. Terutama jika kaum miskin hidup di lingkungan orang kaya yang sama sekali tidak peduli dengan nasib mereka. Dalam kondisi seperti itu, kemiskinan cenderung menawarkan keragu-raguan terhadap keadilan Ilahi dalam mendistribusikan rezeki. Begitupun tidak kalah penting untuk diperhatikan bahwa kemiskinan juga berdampak negatif terhadap perilaku dan moral seseorang. Kesengsaraan dan kepedihan hidup cenderung memberi stimulus untuk melakukan tindak kriminal. Yang jelas, problem kemiskinan merupakan ancaman bagi keselamatan, keamanan serta kelestarian harta benda milik masyarakat. Seseorang masih lebih mudah sabar menghadapi problem kemiskinan jika hal tersebut diakibatkan pemasukan yang minim. Namun jika hal tersebut diakibatkan oleh pendistribusian harta yang bermasalah, melahirkan rasa benci yang bisa memporak-porandakan sendi-sendi persaudaraan dan kasih sayang antar manusia. Karenanya Islam memandang fenomena kemiskinan sebagai sebuah problem kehidupan yang perlu dicarikan solusi dan jalan keluar.    

        Dengan demikian diutusnya Muhammad sebagai nabi dan rasul, yang pertama, berjuang  menyebarkan tauhid dan merombak habis sistem kepercayaan yang syirik dengan cara menegakkan nilai-nilai keadilan dan merubah relasi sosial yang menyimpang. Keberpihakan Muhammad Shallalahu Alaihi wa Sallam pada kaum miskin bukan sesuatu yang mengejutkan dan karenanya menjadi prioritas dalam da’wahnya. Islam yang dibawa Rasulullah menawarkan konsep hidup egaliter yang menentang keras segala bentuk penindasan maupun penghisapan pada kaum miskin. Etika penghormatan pada kaum tertindas dalam Islam ditempatkan pada posisi teratas bahkan bisa menggugurkan amalan bila melakukan pendzaliman. Bahkan dalam surah al-Maun dipaparkan perlakuan yang semena-mena terhadap anak yatim dan kaum miskin disebut sebagai perilaku yang mendustakan agama. Keberpihakan Islam  pada kaum budak juga tampak jelas dengan banyaknya anjuran Islam untuk memerdekakan budak. Gerakan pembebasan inilah yang pertama-tama dilakukan Rasululullah bersamaan dengan seruannya untuk hanya menyembah kepada Allah semata. Mengapa Islam menjadikan keberpihakan pada kaum miskin sebagai prioritas ?, setidaknya ada tiga jawaban yang bisa disampaikan; pertama, kemiskinan sangat berlawanan dengan misi Islam sebagai rahmatalil ‘alamin. Kemiskinan merupakan ekspresi kehidupan yang kalah serta tertindas. Kedua, kemiskinan sangat bertentangan dengan martabat manusia sebagai makhluk Allah yang mulia dan dimuliakan. Kemiskinan telah menjatuhkan martabat manusia sebagai sosok yang bebas serta merdeka. Ketiga, yang paling utama adalah mandat al-Qur’an yang meletakkan prinsip keadilan sebagai kunci ketaqwaan yang sejati dan sempurna (Eko Prasetyo, 2002).    

 

Amalan Islam, Totalitas yang Tak Terpecah

 

            Telah lama kaum muslimin terjebak dalam memaknai keshalehan dan kebajikan yang selalu hanya dikaitkan dengan ibadah-ibadah ritual kepada Allah, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Jika kita mengkaji lebih mendalam misi kenabian Rasulullah maka membela rakyat jelata, kaum buruh, miskin papa, mereka yang ditindas dan diperlakukan tidak adil, merupakan ibadah yang senilai dan setara dengan shalat, puasa, zakat dan haji (A. Munir Mulkhan, 2001). Hal ini sejalan dengan yang disebutkan Al-Qur’an surah al-A’raf : 157, yang dalam ayat tersebut secara gamblang menegaskan tiga misi utama nabi yaitu, pertama amar ma’ruf nahi mungkar. Kedua, menjelaskan yang halal dan haram. Ketiga, membebaskan ummat dari beban yang menghimpit dan belenggu yang memasung mereka. Dengan demikian, iman dan amal shaleh bukan hanya terbatas pada ritual-ritual tetapi lebih dari itu harus menyentuh pada aksi sosial di tengah realitas kehidupan masyarakat. ”Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan kebarat, tetapi kebajikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, …. , dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta dan untuk memerdekakan hamba sahaya, melaksanakan shalat….Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang yang bertaqwa.” (Qs. Albaqarah : 177). Maka tidak salah bila Jalaluddin Rahmat dalam bukunya, Islam Alternatif Ceramah-ceramah di kampus (1986) merekomendasikan agar umat Islam menghidupkan kembali ajaran revolusioner para Nabi yakni membebaskan ummat dari beban yang menghimpit dan belenggu yang memasung mereka.

            Rasulullah membela kaum miskin dengan hidup bersama mereka dan menjalani hidup seperti mereka, makan dengan sederhana bahkan dalam beberapa riwayat Rasul seringkali mengganjal perutnya dengan batu, menahan lapar asal umatnya tidak ada yang kelaparan. Rasulullah bahkan pernah berdo’a :” Ya Allah, himpunkanlah aku di hari kiamat beserta orang-orang miskin. Ya Allah yang Maha Kasih, Engkaulah yang memelihara kaum tertindas, Engkaulah Rabbul musthdafien.” Luar biasa bukan ? dan hingga detik ini tak satupun pemimpin yang bisa menyamai gaya hidup dan kecintaan yang berpendar-pendar seperti yang dicontohkan Muhammad SAW, sang pembebas. Lalu, apa yang dapat dan mesti dilakukan untuk aksi pembelaan dan pembebasan musthdafien ini, sebagai bentuk kecintaan kita pada Islam? Amat memalukan kemudian jika seseorang mengaku muslim, hidup dalam kemewahan sementara saudara muslimnya ada yang untuk makan saja harus mengais tempat sampah. Pesan Haji Misbach (tokoh SI), ”Jangan lupa, Islam tersedia untuk membela rakyat yang melarat dan tertindas.” Semoga kita diberi kesempatan dan kekuatan untuk melaksanakan amalan Islam secara totalitas. 

Wallahu ’alam bishshawwab.

Pernah dimuat di Majalah Suara Orange BEM UNM Tahun 2007

 

 

 

 

 

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: