Spirit Keagamaan dan Perubahan Sosial

9 04 2008

 Sebuah pertanyaan yang mendesak untuk segera dijawab, “Benarkah agama memiliki spirit dalam proses perubahan sosial atau justru sebagai instrument yang dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan status quo ?”

 Jika kita menelaah sirah nabawiyah, maka kita dapatkan nabi-nabi utusan Allah senantiasa datang membawa perubahan besar dalam struktur sosial kemasyarakatan di mana nabi itu berada. Agama –ajaran- yang mereka bawa adalah agama pembebasan, agama revolusioner, agama yang terus menerus meneror pengikutnya untuk terus menabur benih perjuangan untuk menjadi pemimpin di muka bumi, dan menegakkan kedaulatan ilahi sehingga agama hanya diperuntukkan untuk Allah semata. Sebagimana firman Allah Subhanahu Wata’ala,
“Wa qaatiluhum hatta la takuuna pitnatung wayakuuna ddina lillah”
“dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah dan Dien itu hanya untuk Allah semata.” QS. Al-Baqarah : 193 
Jadi agama, sejak mulanya turun, jelas memiliki spirit untuk melakukan tindakan revolusioner, melawan kesewenang-wenangan dan penindasan. Jadi bukan hanya sebatas ritual, tradisi, dan upacara-upacara yang berkesan rutinitas belaka.
 Dari sini, penulis berani tegaskan bahwa agama adalah revolusi, sedangkan  para Nabi dan Rasul adalah para revolusioner sekaligus reformis. Mereka diutus Allah untuk mengubah wajah dunia ini sesuai dengan kehendak Ilahi. Nabi Ibrahim memproklamasikan revolusi tauhid menentang kemusyrikan dan tiran Namrudz. Nabi Musa membebaskan bangsa Israel dari perbudakan dan penindasan Fir’aun. Nabi Isa As mendeklarasikan revolusi spiritual melawan kekuasaan tirani sekuler hedonostik imperium Romawi. Dan penghulu para Nabi, Muhammad Shallalahu Alaihi wa Sallam sebagai pelopor pembebasan kaum jelata, budak dan rakyat tertindas dan berhasil menghancurkan struktur social Quraisy yang penuh kemusyrikan, penindasan dan sarat dengan ketidak adilan. Tauhid yang di da’wahkan para Rasul berfungsi praktis menghasilkan perilaku dan iman yang diorentasikan untuk mengubah system social masyarakatnya., menjadi tatanan masyarakat yang mengamalkan nilai-nilai Ilahi. Jadi pemeberantasan kesyirikan tidak sekedar dimaknai sebagai perlawanan terhadap para penyembah kubur, pemuja berhala, tapi juga perlawanan terhadap ‘penyembahan’ manusia terhadap manusia lainnya. Sehingga perlunya memandang al-Qur’an sebagai sebuah etos atau sumber motivasi bagi sebuah tindakan revolusioener. Karenanya penafsiran atas teks al_qur’an -sebagaimana yang diusulkan Hassan Hanafi dengan konsep hermeneutika sosialnya- tidak sekedar ditafsirkan secara tekstual tapi juga harus didasarkan pada persepsi kehidupan manusia –penafsiran secara kontekstual-. 

Agama Sebagai Inspirasi Tidak Hanya Aspirasi

  Secara definitif, kita kenali bahwa masalah adalah adanya kesenjangan jarak antara ranah idealitas dengan realitas yang ada. Masalah sosial keagamaan terjadi karena ada yang tidak sesuai dengan harapan yang telah ditorehkan dalam iman agama dengan realitas bagaimana agama tersebut diamalkan di tengah-tengah masyarakat. Kita lihat dalam praktiknya –terutama dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia- keberagamaan  kita menampilkan wajah ambiguitas. Adanya perbedaan yang signifikan antara keshalehan pribadi dengan keshalehan sosial. Keshalehan pribadi yang kemudian diharapkan menular, menyebar untuk terciptanya kondisi sosial yang shaleh tidak jua terwujud. Realitas agama hanya terjebak pada dimensi keshalehan pribadi yang berorientasi pada kesucian perorangan. Ukurannya hanya sekedar persembahan belaka, tapi tidak mampu memperbaharui perilaku sosial. Ini terjadi karena pemeluk agama masih terejebak pada persoalan kuantitas keimanan, bukan pada kualitas keimanannya. Agama hanya dihayati sekedar ritual belaka, tetapi dirinya terasing terhadap realitas kehidupan kemasyarakatan. Misalnya, sebuah contoh nyata, ketika seorang muslimah memulai mengenakan jilbab yang sebenarnya, jilbab itupun kemudian menjadi hijab baru baginya untuk bergaul dengan masyarakat. Seperti yang sering dikatakan Zainal Abidin, “walaupun satu jemuran, tapi tidak saling kenal”.
   Itulah realitasnya, penganut agama gagal mempraktikkan agama yang sesungguhnya, agama yang memiliki iman yang memihak pada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan keesejahteraan. Mengapa ? karena agama hanya dimengerti sebagai ritus belaka dan berorientasi pada dogma an-sich. Dengan demikian pemeluknya pun sekedar beragama formal dan fanatis.  Selama ini tanpa sadar cara beragama kita masih sekedar menjalankan kewajiban persembahan belaka, bukan pada penghargaan hak-hak manusia lainnya. Penghayatan yang ritualistik ini melahirkan keimanan yang kurang terwujud.
 Karenanya, perubahan orientasi keagamaan seharusnya lebih difokuskan pada nilai-nilai kemanusiaan, sehingga spirit perubahan dalam agama benar-benar dapat muncul dipermukaan. Orang yang benar-benar religius adalah orang yang memiliki kepekaan dan sensitifitas yang tinggi pada penderitaan kaum miskin yang tertindas. Kemiskinan memang menjadi persoalan krusial yang kemudian wajib untuk diperangi, karena kemiskinan mendekatkan orang pada kekufuran. Maka melawan kemiskinan adalah perintah dan itu penting dalam Islam. Sehingga tindakan apapun yang dapat menciptakan kemiskinan, kesewenang-wenangan dan penindasan harus diperangi, bukan justru memerangi orang lain karena beda agama –dalam Islam tidak ada paksaan dalam agama-. Kualitas religius inilah yang akan membantu umat beragama memiliki kesadaran religiusitas yang berkualitas. Kualitas religiusitas inilah yang membawa nilai-nilai kemanusiaan semakin adil dan beradab.  Sekali lagi ditegaskan, agama haruslah menjadi inspirasi untuk melakukan tindakan revolusioner, menuju perubahan kehidupan yang lebih bermakna, yang sarat dengan nilai-nilai ketauhidan sebagaimana yang Dia mau.

Penutup  
 Tuhan bukan butuh persembahan tetapi ummat manusia yang bertindak adil bagi sesama, sebaik-baik manusia kata Rasulullah adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lainnya. Tuhan akan muak dengan persembahan ibadah ritual kita jika tangan kita penuh darah, mulut kita penuh dengan pembualan dan dusta. Realitas itulah yang terjadi dalam wajah keagamaan kita sekarang. Keagamaan yang seharusnya membebaskan manusia menjadi agama yang terasing dengan realitas sosial dan sibuk dengan agama yang dikrangkeng di dalam aturan-aturan yang monolitik, monoton, dan tentu saja berdampak tidak sehat.
Itu saya kira, hal penting untuk menjadi landasan Islam membangun masyarakat dan peradaban. 
 

Referensinya…
Benny Susetyo, Vox Populi Vox Dei, Averros Press (2004)
Hassan Hanafi, Paradigma Islam Kiri, Z art (2000)
Eko Prasetyo, Islam Kiri, Menuju Revolusi Sosial, Insist Press (2004)

Iklan

Aksi

Information

One response

10 04 2008
yanuar

Salam…
Artikel dan pemaparan yang bagus… Islam yang sebenarnya harus diakui terkubul oleh lumpur yang pekat dan tebal, butuh kegigihan untuk menemukannya kembali….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: