Antara Kesombongan dan Kita yang Bertumbuh

8 04 2008
“Gnoti Seauton, Meden agan !”
-Kenali Dirimu dan Jangan Keterlaluan !-
-Diktum Akhlaq Plato-
 
Dalam salah satu kitabnya Ayatullah Uzma Nazir Makorim Syirazi menceritakan sebuah hadits yang menunjukkan kerendahan hati adalah salah satu syarat maqam kenabian. Salah seorang nabi dari Bani Israel pada suatu hari diminta oleh Allah SWT untuk menunjukkan orang yang lebih rendah maqamnya darinya. Sang nabi berhari-hari mencari seseorang yang bisa ditunjukkan kepada Allah SWT. Namun tak seorangpun mampu ia dapatkan. Ia merasa malu kepada Allah SWT kalau menganggap dirinya lebih unggul dari yang lain. Sampai matanya tertuju pada seonggok bangkai keledai. Ia pun menyeret bangkai ini beberapa langkah. Namun tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat keras memenuhi seantero langit. Allah SWT berfirman padanya : “Kalau kau sekali saja melangkahkan kakimu untuk menunjukkan bahwa bangkai itu lebih rendah darimu, maka kau akan kehilangan maqam kenabianmu”. Sang Nabi pun tak berdaya, melepaskan bangkai keledai dari genggamannya dan jatuh terpekur, sembari memohon dengan sangat untuk diampuni.
Ayatullah Uzma Nazir Makorim Syirazi pun meragukan keshahihan hadits ini dari segi periwayatan tetapi beliau ingin menunjukkan moralitas dalam kisah ini. Bahwa sang Nabi pun yang sebagaimana maklum diketahui memiliki maqam yang istimewa di sisi Tuhan dibandingkan insan yang lain tetap tidak diperkenankan untuk merasa lebih dari yang lain. Kitapun teringat kisah tentang nabi Musa as yang menjawab pertanyaan ummatnya bahwa ia lah yang paling unggul diantara manusia karena maqam kenabiannya, sehingga ia pun diperintahkan untuk mencari Khaidir as, berguru tentang sebuah kerendahan hati. Seberapapun luas ilmu yang telah kita dapat, harta yang telah dikumpulkan atau kekuasaan yang telah diraih, tidaklah serta merta semua itu menjadi dalih kita lebih unggul dan merasa lebih istimewa dibanding yang lain. Rasulullah SAWW suatu hari dengan beberapa sahabatnya beristirahat di tengah perjalanan. Merekapun memutuskan untuk menyembelih seekor kambing untuk santapan perjalanan mereka. Salah seorang sahabat mengajukan diri untuk menyembelih kambing itu. Yang lain bersedia untuk mengulitinya dan ada pula yang menawarkan diri untuk memanggangnya. Rasulpun tiba-tiba bersabda, “kalau begitu saya yang akan mengumpulkan kayu bakar”. Para sahabat serentak menolak, dan meminta untuk nabi beristirahat saja. Nabipun bersabda, “Saya tahu kalian semua mampu mengerjakannya, tetapi Allah SWT tidak menyukai orang yang merasa lebih istimewa dibanding yang lain”.

Wahai diriku, bukankah terusirnya Iblis dari surga dan mendapat murka abadi Tuhan hanya karena merasa lebih istimewa dibanding nabi Adam as yang diciptakan belakangan dan dari tanah ? Sesungguhnya dosa yang paling purba adalah kesombongan dan merasa lebih unggul. Dosa pertama di langit, adalah kesombongan dan kedengkian Iblis terhadap Adam as dan dosa pertama di bumi adalah kedengkian Qabil terhadap saudaranya Habil. Dan para nabi di utus sesungguhnya untuk memerangi maksiat batin ini. “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlaq manusia.” Tidaklah nabi Musa as diutus untuk memperingatkan Fir’aun kecuali karena kesombongan dan kedzaliman yang dilakukan terhadap Bani Israel, sebab bagaimanapun fitrah kemanusiaan tidak akan bisa memungkiri keberadaan Tuhan yang Maha Kuasa. Umat Nabi Nuh, Nabi Luth, kaum Madyan, Kaum A’ad, Qarun dan ummat-ummat terdahulu ditenggelamkan di bumi karena kesombongannya ketika diperhadapkan dengan kebenaran. Bal’am, seorang ulama Bani Israel yang karena ketaatan dan kedudukannya yang istimewa di sisi Allah SWT sehingga setiap do’anya niscaya dikabulkan Tuhan, menjadi contoh abadi ulama yang dimurkai karena kesombongannya di hadapan nabi Musa as bahkan mendoakan kebinasaan atas nabi Musa as dan pengikutnya. Sahabat-sahabat Nabi SAW pun mengakui keistimewaan dan keilmuan Imam Ali as atas mereka. Umar bin Khattab telah mengatakan dalam tujuh puluh tiga kali kesempatan, “Seandainya tidak ada Ali maka celakalah Umar.” Namun sebagian dari mereka berani merampas hak kekhalifaan Imam Ali as dengan alasan, “Tidaklah kami menolak kekhalifaan Ali kecuali karena usianya yang lebih muda dan karena ketidakinginan kami kenabian dan kekhalifaan menyatu pada Bani Hasyim.” Dan terpilihlah Abu Bakar di Saqifah karena keseniorannya sebagai pengganti dan penerus Nabi. Perkataan mereka terekam dengan baik dalam kitab-kitab Tarikh yang ditulis oleh ulama-ulama Sunni sendiri terlebih lagi ulama-ulama Syiah.

Dan tidak berlebihan pula disini saya menyebutkan, muslim Syi’ih oleh sebagian kaum muslimin di musuhi, difitnah bahkan dikafirkan karena kedengkian dan perasaan lebih unggul. Merasa hanya mereka yang berhak dikatakan kelompok muslim, golongan yang selamat bahkan berhak menguasai dan membuat kapling-kapling dalam surga. Pemikiran ini tak ubahnya seperti kaum Yahudi dan Nashrani, “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata : Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahhudi atau Nashrani. Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang-orang yang benar.” (Qs. Al-Baqarah : 111). Robert Lacey, penulis The Kingdom (Fortune, 1982) melukiskan perbedaan Sunni dan Syiah, bahwa Sunni lahir dari kalangan penguasa yang mendukung dan membuat fatwa untuk legitimasi kekuasaan. Bahkan Fazlur Rahman menulis dalam bukunya, “Membuka Pintu Ijtihad”, “Orang-orang Sunni hampir selalu menjadi pendukung setiap pemimpin Negara.” Sedangkan Syiah terlahir dari kalangan rakyat yang tertindas, dimana dan kapanpun dengan semangat kesyahidan Imam Husain as selalu berusaha meruntuhkan kekuasaan yang tiran dan dzalim.
Tidak ada yang lebih yang menghancurkan dan membinasakan dari kesombongan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an : “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang sombong dan membanggakan diri.” (Qs. Luqman : 18). Dan diayat lain disampaikan, bahwa Allah SWT tidak akan pernah memasukkan ke surga orang-orang yang dalam hatinya tertanam bibit-bibit kesombongan meskipun sebesar dzarrah (atom). Kesombongan merusak diri dan jiwa, merusak persatuan dan persaudaraan sebab merupakan pengingkaran fitrah kemanusiaan. Hanya Tuhan yang berhak untuk sombong, manusia yang lemah dan sangat bergantung sangat tidak pantas untuk menyombongkan diri. Karenanya dalam ratusan ayat Allah mengingatkan kelemahan manusia dan dari mana mereka berasal. Allah pun memilih bahasa dalam Al-Qur’an, “Dari setetes air yang hina”. Kita boleh iri kepada seseorang karena kelebihan ilmu dan ketaatannya dalam beribadah tetapi kita tidak diperkenankan untuk iri hanya karena orang lain lebih kaya dan memiliki jabatan kekuasaan yang lebih tinggi. Begitupun sebaliknya, adalah kedurhakaan yang tak terperikan ketika merasa lebih unggul daripada orang lain. Imam Khomeini dalam salah satu wasiat kepada Sayyid Ahmad anaknya, “Anakku, yang tercela dan merupakan sumber segala kerusakan, kejahatan dan kehancuran serta merupakan seluruh kesalahan adalah kecintaan pada dunia yang tumbuh dari cinta diri.” Cinta diri yang berlebihanlah yang mengajak seseorang pada rasa sombong yang pada ujungnya mengarah pada pelecehan hak-hak orang lain. Di atas gerbang peribadan Apollo tertulis diktum akhlaq Plato, “Gnoti seauton, meden agan !” (Kenali dirimu dan jangan keterlaluan). Sabda filsuf lainnya, kesombongan adalah aku yang membumbung tinggi. Kita bisa saja merasa lebih unggul tetapi bukan atas yang lain melainkan atas diri kita sendiri yang sebelumnya. Hal ini akan memotivasi diri kita untuk bertumbuh lebih baik. Kesombongan tak membuat kita menjadi apa-apa. Justru menjerumuskan kita pada jurang kehancuran. Kesombongan menghambat pertumbuhan diri, sebab telah merasa cukup dan tidak butuh siapapun. Padahal sesungguhnya, hanyalah menipu diri sendiri. Orang besar ketika dianugerahi ilmu maka ia akan merasa kecil. Sedangkan orang kecil ketika dianugerahi ilmu, akan merasa besar. Sebagai penutup tulisan ini, saya ceritakan sebuah kisah tentang seorang hakim yang sangat cerdas dan memiliki ilmu yang luas. Dia hidup pada masa Harun ar-Rasyid. Setiap permasalahan yang dihadapkan padanya, bisa ia selesaikan dengan baik. Sampai akhirnya timbullah kesombongan dalam hatinya, bahwa ialah orang yang paling cerdas seantero dunia. Dia memaklumkan diri bahwa tak ada yang bisa menipu dan membodohi dirinya. Sampai di suatu jalan ia bertemu dengan Bahlul. Seorang yang dikenal gila. Bahlul berkata padanya, “Hakim yang agung, apa benar tidak ada seorang pun yang bisa menipumu ?.” Hakim pun mengiyakan pertanyaan itu sembari tetap berjalan dengan pongahnya. Bahlul kembali berkata, “Seandainya saya dalam keadaan tidak sibuk, aku bisa menipumu.” Sang hakimpun tersentak, ia merasa malu kalau tidak memberi Bahlul kesempatan. Apalagi pada saat itu orang-orang memperhatikan percakapan mereka. Ketika Bahlul diberi kesempatan, ia pun berjanji menyelesaikan kesibukannya dan akan kembali setelah dua jam. Sang Hakim pun menunggu Bahlul. Setelah dua jam, Bahlul belum juga memunculkan dirinya. Tiba-tiba Sang Hakim tersadar, malu dan sembari menggerutu ia berkata :”Baru pertama kali ini, aku berhasil ditipu, dan itupun oleh seorang yang gila.”
Wallahu ‘alam Bishshawwab
Qom, 2 April 2008.
Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: