Sekularisme, Musuh Para Agama

15 06 2008

Dengan memilih judul di atas untuk artikel ini, jelas saya memposisikan diri berseberangan pemikiran dengan Luthfi Assyaukanie yang mengatakan sekularisme adalah berkah bagi agama-agama (2005)*. Ataupun dengan Abdullah Ahmad An-Naim seorang pakar Islam dan Profesor Hukum di the Emory Law School , Atlanta , Amerika Serikat dengan letupan pemikirannya, “Kita butuh negara sekuler untuk menjadi muslim yang baik,” (2007)**. Wacana sekularisme bukanlah wacana kemarin sore, namun telah mengalami pendiskusian yang seolah tak berpenghunjung sejak awal dicetuskannya, tidak kurang dari ulama sekaliber Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dan Prof. Naquib al-Attas pun merasa perlu mendiskusikan panjang lebar mengenai istilah sekularisme. Keduanya sepakat, bahwa istilah sekularisme tidak ada akarnya dalam peradaban agama-agama. Pasalnya, sekularisme itu sendiri tidak ada sangkut-pautnya dengan agama apapun, sejak manusia memulai kesejarahannya sampai belasan abad setelah wafatnya Muhammad Saw, pembawa risalah agama terakhir.

Definisi Sekularisme

 
 

 

Kata secular berasal dari bahasa latin, ‘Saeculum’ yang arti harfiahnya suatu generasi atau zaman. Dengan tambahan kata isme jadilah sekularisme sebagai salah satu pandangan dunia yang memiliki sistem hidup sendiri yang membedakannya dengan isme yang lain. Kamus Oxford mengartikan sekularisme sebagai pandangan yang bersifat keduniaan atau materialisme, bukan keagamaan atau keruhaniaan. Seperti pendidikan sekuler, seni atau musik sekuler pemerintahan sekuler, pemerintahan yang bertentangan dengan gereja. Dengan pengertian yang tidak jauh berbeda Kamus Internasional Modern menyebutkan : Sekularisme sebagai suatu pandangan dalam hidup atau dalam satu masalah yang berprinsip bahwa agama atau hal-hal yang bernuansa agama tidak boleh masuk ke dalam pemerintahan, atau pertimbangan-pertimbangan keagamaan harus dijauhkan darinya. Harvey Cox dalam bukunya “The Secular City” menyatakan: “Secularization is the liberation of man from religious and metaphysical tutelage, the turning of his attention away from other worlds and towards this one.” Dengan defenisi ini sudah tercium bau permusuhan paham sekularisme terhadap agama-agama yang menyengat. Sekularisme yang dikatakan netral atau moderat sekalipun sangat sulit dikatakan bersahabat dengan agama, sebab dengan menjauhi agama dan mengurungnya pada surau-surau dan bilik-bilik do’a bukanlah sikap netral dan moderat. Jika dikaitkan secara khusus dengan Islam, sekularisme lebih tidak dikenal lagi, sebab ajaran Islam sangat banyak yang berkaitan dengan masalah-masalah duniawi. Perintah untuk shalat misalnya yang dapat mencegah dari kekejian dan kemungkaran ini sangat duniawi. Terlebih zakat, menuntut ilmu, pernikahan, sampai istinja’ pun semuanya memiliki keterkaitan erat dengan urusan duniawi.

Karenanya, jika sekularisme diterapkan, ini dapat membunuh agama-agama. Sebab ajaran agama manapun tidak hanya mengajarkan masalah spiritual namun juga persoalan-persoalan duniawi. Manusia sebagai obyek dan subyek dari agama itu sendiri tidak bisa terlepas dari masalah keduniawian. Memisahkan agama dengan dunia, sangat bertentang dengan ajaran agama. Agama dan sekularisme tidak mungkin disatukan, sebab ‘takdir’ keduanya saling menghancurkan.

Bencana Sekularisme

 
 

 

Tidak satupun agama yang menerima paham sekularisme, kecuali jika sekularisme sendiri menyebut diri sebagai agama. Penganut agama manapun melihat paham sekularisme sebagai ancaman terhadap pemahaman keagamaannya. Kristiani misalnya, dalam pertemuan Misionaris Kristian Sedunia di Jerusalem tahun 1928, mereka menetapkan sekularisme sebagai musuh besar Gereja dan misi Kristian. Dalam usaha untuk mengkristiankan dunia, Gereja Kristian bukan hanya menghadapi tantangan agama lain, tetapi juga tantangan sekularisme. Pertemuan Jerusalem itu secara khusus menyorot sekularisme yang dipandang sebagai musuh besar Gereja dan misinya, serta musuh bagi misi Kristian internasional. Ketika Myanmar bergolak, kita mendapatkan tontonan yang nyata tentang permusuhan antar kedua paham ini. Para biksu yang berarak dijalan-jalan untuk menunjukkan keprihatinannya terhadap kondisi sosial yang ada, diperhadapkan dengan tamparan, pemukulan dan penangkapan brutal, ditelanjangi sampai dibunuh dan mayat-mayat mereka dibuang begitu saja di sungai-sungai. Biksu Myanmar bukanlah biksu Shaolin yang belajar bela diri, perhatian utama mereka hanyalah bagaimana bisa mengamalkan ajaran agama sebaik-baiknya. Namun mereka mendapatkan permusuhan yang keras dari Negara yang phobia terhadap agama. Tidak bermaksud mengorek kembali luka sejarah. Namun bukankah Indonesia di zaman Orde Baru dengan doktrin Pancasila sebagai asas tunggalnya telah menimbulkan peristiwa-peristiwa tragis yang susul-menyusul dan berlangsung secara liar dan sulit dikendalikan kecuali dengan penangkapan dan pembunuhan. Ummat Islam tidak akan begitu saja melupakan kasus DOM Aceh, kasus Tanjung Priok, Lampung Berdarah yang telah memakan korban jiwa yang mengenai jumlahnya sulit mendapatkan data yang akurat. Kitapun bisa melihat negara-negara yang terang-terangan mengaku sebagai negara sekuler. Kehidupan beragama di negara-negara sekuler sangat tertekan. Kampanye Negara-negara sekuler yang menyuarakan kebebasan dan persamaan sangat bertentang dengan fakta dilapangan. Negara sekuler selalu menyatakan diri tidak mencampuri keinginan warga negaranya dalam menjalankan syariat agama mereka masing-masing, termasuk menggunakan simbol-simbol keagamaan seperti hijab, kalung salib, dan lain lain. Namun bukankah mayoritas Negara sekuler justru menerapkan aturan yang sebaliknya ?. Pelarangan simbol-simbol keagamaan terkhusus jilbab bagi muslimah adalah masalah-masalah standar yang selalu ada di negara-negara sekuler. Turki misalnya, sebagai bentuk negara sekuler yang digagas Mustafa Kemal Atatürk sejak 1920an sampai sekarang tetap gigih menerapkan aturan pelarangan penggunaan jilbab meskipun Islam sebagai agama mayoritas penduduk dinegeri tersebut. Kalau mereka mau jujur bukankah jaminan atas kebebasan dan hak individu bagian terpenting dalam penerapan sekularisme, dan menjalankan ajaran agama dengan sebaik-baiknya adalah hak yang paling asasi.

Disinilah saya sulit menemukan relevansi antara sekularisme dan rasionalitas. Bagaimana mungkin saya yang muslim, bisa menjadi muslim yang baik dalam naungan negara yang sekuler, negara yang mencampakkan ajaran-ajaran agama yang saya anut. Sebagaimana bingungnya saya dengan Nurcholis Madjid yang mendefinisikan Sekularisme sebagai ‘’Pembebasan diri dari tutelege (asuhan) agama, sebagai cara beragama secara dewasa, beragama dengan penuh kesadaran dan penuh pengertian, tidak sekedar konvensional belaka.’’ Pengertian kalimat itu saja sudah kontradiktif. Jika diri manusia sudah dibebaskan dari asuhan agama, bagaimana dia bisa beragama dengan penuh kedewasaan?. Dan bagaimana bisa menjadi berkah bagi agama-agama, jika kita semakin diperhadapkan oleh kenyataan Sekulerisme menyebabkan banyak petaka bagi agama dan kemanusiaan. Kita memang harus berpikir. Namun semakin berpikir, saya semakin menolak sekularisme.

Wallahu ‘alam bishshawwab

 Qom , 12 Juni 2008 / 23 Khurdod 1387 HS

*Lihat artikel Berkah Sekularisme oleh Luthfi Assyaukanie di www.islib.com 11/04/2005

**Wawancara Pusat Berita Radio VHR (Voice of Human Right) – http://www.vhrmedia.com/ dengan Ahmad An-Naim di Jakarta dan dipublikasikan pada 3 Agustus 2007 dengan judul berita: Ahmad An-Naim: Negara Sekuler untuk Muslim yang Baik.

 

Artikel ini juga bisa di baca di http://www.tribun-timur.com/view.php?id=83541&jenis=Opini

 

 

 

 





Kekerasan dalam Islam, Untuk Siapa ?

7 06 2008

Berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya, yang lebih ‘mengandalkan’ do’a dan bantuan kekuatan dari langit, Muhammad SAW memilih belepotan lumpur dan debu perjuangan untuk mewujudkan kehendak Ilahi. Ia mengajak sahabat-sahabatnya yang setia untuk menabuh genderang perang, mengangkat pedang dan membentangkan tinggi-tinggi panji perlawanan. Di mata para musuhnya, Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak ubahnya gerombolan manusia bar-bar yang haus darah dan kekuasaan. Islam bagi mereka adalah kabar buruk dan doktrin yang hanya akan merongrong kekuasaan yang telah ribuan tahun berada ditangan. Pandangan negatif tentang Muhammad dan ajarannya berlanjut sampai pada pergulatan wacana kontemporer dikekinian. Pemikiran Islam dianggap sebagai sosok dengan wajah angker, intoleransi, arasioanal, literalis bahkan terbelakang. Karenanya, setiap gagasan untuk memasukkan Islam kedalam wilayah publik akan di beri label-label pejoratif, radikal, puritan, fundamentalis dan merupakan tindakan teror. Setidaknya oleh Karen Armstrong, kekeliruan ini berusaha ditepis. Dalam bukunya -Muhammad: A Western Attempt To Understand Islam- ia menulis, “….Daripada berkelana dengan cara yang tidak duniawi di sekitar bukit-bukit Galilea, berkhotbah dan menyembuhkan seperti Yesus dalam Gospel, Muhammad (saw) harus terlibat dalam perjuangan politik untuk mereformasi masyarakatnya dan para pengikutnya bersumpah untuk melanjutkan perjuangan ini.” Ia memaparkan pandangan kritisnya bahwa tujuan utama Muhammad SAW mempimpin langsung dua puluh tujuh atau dua puluh delapan peperangan (ghazwah) dan menskenario tiga puluh Sembilan peperangan yang dipimpin salah seorang sahabat yang ditunjuknya (Sariyah) selama sepuluh tahun pemerintahannya di Madinah bukanlah kekuatan politik, melainkan menciptakan masyarakat yang baik. Sebagai seorang muslim saya berterimakasih kepada mantan biarawati Katolik Roma ini, dengan penelitian yang intens dan serius tentang Islam dan para tokohnya, ia berusaha menepis kekeliruan pandangan Barat tentang Rasulullah SAW. Pandangan-pandangan kritis Barat tentang Muhammad SAW yang seorang nabi namun melibatkan diri dalam berbagai kegiatan politik, dan mengerahkan sahabat-sahabatnya untuk bersama membunuh manusia lainnya, berusaha dijawab Karen Armstrong dengan kejernihan dan ketajaman analisanya. 

Bagi yang mempelajari sejarah Islam secara jujur dan adil, akan berhadapan dengan kenyataan bahwa Muhammad SAW datang untuk memproklamasikan slogan kemerdekaan dan kebersamaan. Hunusan pedangnya untuk menghancurkan nilai jahiliyah dan pikiran aristokrat. Khutbah-khutbah yang disampaikannya bukan untuk mengukuhkan penguasa yang tiran melainkan untuk membela kepentingan kaum lemah yang tertindas dan terpinggirkan secara sosial. Muhammad mendeklarasikan persamaan bagi semua. Dengan pemahaman semua manusia adalah sama, satu ras, satu asal, satu alam dan satu Tuhan, Ia runtuhkan aqidah politeis dan perbudakan sesama manusia. Rezim ekonomi yang  kuat dilawannya untuk menegakkan keadilan sosial. Istananya tidak lebih dari tumpukan tanah liat, singgasananya dibangunnya dari pelepah pohon kurma. Ia terlihat diantara para pekerja yang mengangkut barang. Beliau menyuruh pembesar-pembesar dan kaum bangsawan untuk memendekkan jubah-jubah dan melarang berjalan dengan angkuh di jalan. Ia meruntuhkan semua simbol-simbol aristokrasi di depan umum. Muhammad al-Musthafa SAW beserta sahabatnya yang terpilih telah berjuang tanpa lelah. Perjuangan itu menghasilkan sekian kecemerlangan dengan bersatunya umat manusia dalam satu panji al-Islam. Dibawah kepemimpinannya, Muhammad SAW mampu melahirkan tatanan sosial masyarakat (the order of society) yang egaliter serta menjunjung nilai-nilai keadilan (justice value). Islam yang ditunjukkannya adalah Islam yang damai dan menentramkan, membawa keselamatan, persatuan dan persaudaraan.

Ja’far bin Abi Thalib ra berkata: ”Kami sebelum ini adalah penyembah berhala, pemakan bangkai, peminum khamr, pemutus persaudaraan, pelaku zina, sampai akhirnya Allah swt mengutus di tengah-tengah kami Muhammad saw. Dan karenanya Allah swt mengeluarkan kami dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.”

Dr. Jeffrey Lang, professor Matematika di Universitas Kansas juga memberikan pembelaan serupa. Dalam penelitiannya, semua ayat yang berkenaan dengan perang menyiratkan bahwa Islam memperkenankan peperangan hanya untuk mempertahankan diri atau membela korban-korban kesewenang-wenangan dan penindasan. Perintah hidup secara damai dengan orang-orang Kafir terdapat dalam 114 ayat yang tersebar di 54 surah. Sedangkan perintah untuk berperang, “Diwajibkan atas kamu berperang…” (Qs. Al-Baqarah :216) dan surah At-Taubah ayat 5 yang dikenal dengan ayat pedang jumlahnya jauh lebih sedikit dan harus dilihat sesuai konteks ayat diturunkan, yakni berkenaan dengan perjanjian Hudaibiyah yang dilanggar orang-orang musyrik. Keduanya menyimpulkan, ultimatum perang, pembunuhan dan tindak kekerasan hanya diperbolehkan untuk menegakkan keadilan, itupun ditujukan kepada kelompok yang menindas dan merusak perdamaian.

Islam Agama Toleransi

Namun sayang, berbagai usaha pembelaan terhadap Islam atas tudingan sebagai agama teror, yang sangar dan menyeramkan, dirusak oleh segelintir umat Islam yang juga mengatasnamakan pembelaan atas Islam. Aksi kekerasan yang dipertontonkan Front Pembela Islam (FPI) ataupun Laskar Pembela Islam (LPI) di lapangan Monas Jakarta awal bulan ini sangat merusak citra Islam. Islam yang mereka pertontonkan semakin memperkuat anggapan Barat bahwa Islam adalah agama kekerasan, agama agresif, agama yang tidak mau diajak berdamai. Tidak ada pembenaran sedikitpun dari Islam melakukan penyerangan dan kekerasan hanya karena alasan berbeda keyakinan. Allah SWT berfirman, “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat.” (Qs. Al-Baqarah : 256). Pesan Al-Qur’an ini sangat jelas, umat Islam tidak dituntut untuk mengislamkan orang-orang yang beragama selain Islam. Sikap memaksakan keyakinan merupakan pelanggaran keras terhadap wewenang Allah. Yang dituntut dari umat Islam  adalah menjadi ‘saksi atas manusia’. Mereka ditugaskan hanya untuk memperkenalkan Islam  dan kemudian menyerahkan segalanya kepada mereka. Hidayah datang datang dari Allah, hatta Rasul sekalipun tidak bisa memaksa seseorang untuk beriman. Lakum dinikum waliyadin, adalah konsep Islam yang paling jelas dan terang tentang ajaran toleransi. 

Penghancuran yang dilakukan nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya ibarat apa yang dilakukan petani terhadap tanah. Tanah dicangkul, diremukkan untuk kemudian dijadikan kebun yang menghasilkan buah-buah. Ataupun seperti yang dilakukan kuli bangunan. Bangunan yang lama dan tua diruntuhkan, diluluhlantakkan untuk kemudian dibangun diatasnya bangunan baru yang lebih indah. Muhammad SAW seolah mengatakan, “Bagaimana mungkin kau bisa makan roti yang enak jika sebelumnya kau tidak menghancurkan dan menggiling gandum terlebih dahulu ?”. Kekerasan –kalaupun itu harus disebut kekerasan- yang diajarkan Nabi Muhammad SAW adalah untuk kehidupan yang lebih cemerlang, pencapaian puncak sebuah peradaban, kegigihan agar manusia menemukan kemanusiaannya, perlawanan terhadap kesewenang-wenangan dan penindasan.  Namun apa yang dilakukan FPI dan LPI jauh berbeda. Penghancuran yang mereka lakukan pemusnahan total, yang tidak menghasilkan apa-apa selain bara api kebencian dan permusuhan. Bercermin dengan prinsip Murtadha Muthahari, “…setiap kali dengan cara apapun suatu aspek dari tata hidup yang suci dan Ilahiah diserang, maka Islam lebih mampu mempertunjukkan dirinya dengan lebih kuat, lebih kukuh, lebih jelas dan lebih cemerlang.” Berbeda dengan apa yang dilakukan Karen Armstrong, Dr. Jeffrey Lang ataupun Syahid Murtdha Muthahari yang menggunakan kekuatan logika untuk membela Islam, FPI lebih memilih menggunakan logika kekuatan.

Al-Qur’an mengatakan, “Wahai-wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Maidah : 105). Menghadapi ‘kesesatan’ Ahmadiyah dengan logika kekuatan (terlepas kasus Silang Monas rekayasa atau bukan ) dan bukannya kekuatan logika, menurut saya itu karena FPI belum mendapat petunjuk saja ?.

Wallahu ‘alam bishshawaab   

Qom, 3 Juni 2008





Buku dan Orang-orang Besar

17 05 2008
(Refleksi Hari Buku Nasional)
 
Setahu saya, tidak ada yang lebih membuat seseorang lebih dikenal dan menjadi besar kecuali lewat transkrip-transkrip pemikiran yang dituliskannya pada berlembar-lembar kertas yang kemudian kita menyebutnya buku. Tidak bisa dipungkiri, kehidupan kita bisa jadi lebih mudah dengan ditemukannya alat-alat teknologi yang dikekinian semakin canggih dan beragam, ataupun banyak nyawa-nyawa kritis yang terselamatkan dengan semakin modernnya tekhnik pengobatan. Namun adakah yang bisa membendung dan menyembunyikan nama besar seseorang yang terlahir lewat buku ?. Bukankah nama-nama penemu dunia justru kalah populer dibanding para penulis buku ?. Setiap saya berbicara tentang buku, ingatan saya tidak bisa lepas dari Muhammad Hatta. Orang besar yang dimiliki bangsa ini pernah menulis, “Selama aku bersama buku kalian boleh memenjarakanku di mana saja; sebab dengan buku pikiranku tetap bebas.”
Lewat tulisan yang dimuat dalam buku Memoir yang ditulisnya sendiri, Muhammad Hatta ingin menunjukkan betapa ia sangat mencintai buku. Bentuk cintanya, tidak hanya dengan membacanya, namun juga membuat buku sendiri. Alam Pikiran Yunani adalah bukti konkret betapa ia memiliki kecintaan yang meluap-luap, sekaligus membuktikan bahwa pikirannya benar-benar bebas merdeka meskipun tubuhnya terpenjara. Buku ‘Alam Pikiran Yunani’ ditulisnya selama mendekam di Digul 1934 dan berlanjut di Pulau Ende pada 1936.  Dari penjaralah,  “Alam Pikiran Yunani” lahir.
Di sini Hatta tidak sendiri. Saya kira setiap pemimpin pergerakan dan orang-orang yang kemudian hari menjadi besar itu tidak pernah bisa jauh dari buku. Buku bagi mereka adalah nyawa. Adalah nafas panjang. Itulah sumber energi yang menggerakkan tubuh dan jiwa mereka. Dengan membaca, bagi orang-orang seperti Soekarno, Hatta, Soetan Syahrir, Muhammad Yamin, Tan Malaka sampai Amir Syarifuddin  tidak pernah merasa terpenjara dan perlu merasa takut. Lihat saja fragmen terfakhir dari perjalanan hidup Amir Syarifuddin, perdana menteri kedua dalam sejarah Indonesia setelah Syahrir.  Beberapa jam sebelum di ekseskusi mati di Solo –karena terlibat dalam peristiwa Madiun 1948- perwira yang bertugas menjaganya bertanya apa permintaan terakhirnya. Ia menjawab dengan meminta buku. Maka disodorkanlah buku Romeo and Juliet karangan William Shakespeare, dan selanjutnya dikisahkan, Amir menghabiskan detik-detik terakhirnya membaca buku dengan tenang sebelum ditembak mati.
Ini hanyalah salah satu fragmen sejarah bangsa yang menunjukkan adanya hubungan yang akrab antara revolusi Indonesia dengan buku.  Karenanya tidak berlebihan kalau Zen Rahmat Soegito mengatakan bahwa Indonesia didirikan diantaranya oleh orang-orang pecinta, pembaca dan penulis buku.  “Banyak sekali fragmen sejarah yang bisa menggambarkan hal itu”, tulisnya.
Sebagaimana yang dikatakan Hatta, pikiran tidak pernah terpenjara. Begitu pulalah Kartini. Dalam kondisi dipingit  di ‘sangkar’ kadipaten ia belajar autodidak. Majalah atau koran terkenal seperti Maatschappelijk werk in Indie, De Gids, De Hollandsche Lelie, De Locomotief sampai karya Multatuli berjudul Max Havelaar di lahapnya. Dengan bacaan-bacaan ini ia menuliskan karya-karyanya, tidak hanya buku Door Duisternis Tot Licht (Usai Gelap Berpendarlah Terang) sebagaima yang telah dikenal tetapi juga tercatat ada dua buku kebudayaan, yakni Het buwelijk bij de Kodjas (Upacara Perkawinan pada Suku Koja) dan De Batikkunst in Indie en haar Geschiedenis (Kesenian Batik di Hindia Belanda dan Sejarahnya). Buku yang kedua ini yang membawa ukiran Jepara melanglang ke pelbagai penjuru dunia.
Dengan karya-karya itu, maka Kartini bukan hanya pejuang emansipasi yang lebih dikenal dengan kebayanya, tapi juga ibu epistolari –meminjam istilah Muhidin M. Dahlan- yakni ibu penulis.
Negeri Para Penulis
Kalau Kartini menulis pergulatan pemikirannya dalam bentuk surat dan dikirimkan ke 12 korespondesinya di Belanda. Sjahrir menulis renungan-renungannya dan dikirimkan kepada istrinya di Belanda, Maria Duchateau. Surat-surat inilah yang kemudian terbit dalam bentuk buku dengan judul Indonesische Overpeinzingen (dalam edisi Indonesia berjudul Rantau dan Perjuangan). Inilah renungan kebudayaan paling cemerlang yang pernah ditulis oleh seorang anak bangsa. Buku ini menunjukkan keluasan erudisi seorang Sjahrir. Ia mampu meletakkan setiap pokok gagasan dalam konteks alur perkembangan sejarah intelektual dunia. Sjahrir mampu menjelaskan hubungan antara satu filsuf dengan filsuf yang lain, dari Johan Huizinga, Dante, Dostoyevski, Benedotte Croce hingga Nietzche. Tidak adil kalau saya tidak menyebut nama Tan Malaka sebagai yang termasuk penulis kawakan yang dimiliki bangsa ini. Bahkan bagi saya ia harus berada  dalam deretan teratas. Ketangguhannya dalam menulis benar-benar telah teruji. Produktivitas dan staminanya betul-betul tanpa tanding. Penjara, pengasingan, pembuangan dan penyakit akut tak akan pernah mampu membuatnya berhenti menulis. Hanya kematian yang bisa menghentikannya menulis. Coba anda bayangkan, di tengah situasi yang begitu berbahaya pada masa kekuasaan Jepang, Tan Malaka masih mampu menerbitkan sebuah buku dahsyat berjudul Madilog. Tan Malaka menulis Madilog dalam situasi yang sangat terbatas, tanpa referensi, seluruh kutipan diambil dari ingatannya belaka, dengan bahan tulis yang terbatas dalam persembunyiaannya, memaksanya menulis Madilog dengan huruf-huruf yang sangat kecil. Madilog berbicara nyaris tentang semua aspek kehidupan, dari mulai filsafat, ekonomi, kebudayaan, sosiologi, sejarah hingga sains modern. Bukunya menunjukkan betapa hebatnya ia sebagai orang asia, sebagai orang timur dan sebagai orang Indonesia . Dan orang ini pula yang dalam pekik perang kemerdekaan, dalam suasana perang mempertahankan kemerdekaan, masih sempat-sempatnya menerbitkan buku yang berjudul Moeslihat. Bahkan dalam pemenjaraan yang tak jelas selama periode 1946-1948, Tan Malaka tetap meneruskan aktivitas intelektualnya. Di penjara itulah Tan Malaka, di antaranya, menulis From Jail to Jail atau Dari Penjara ke Penjara. Hanya peluru tentara republiklah yang kemudian menghentikan aktivitas menulis Tan Malaka. Soekarno sebagai Presiden pertama republik inipun tidak pernah bisa lepas dari kerja-kerja intelektual, membaca dan menulis. Meski negara yang dipimpinnya tengah mengalami kondisi politik dan ekonomi yang porak-poranda ia masih sempat juga  menulis dan menerbitkan buku Sarinah, Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia , 1947.
Karenanya, tidak berlebihan jika menyebut Negara ini dibangun dan diperjuangkan oleh orang-orang yang memiliki kecintaan terhadap buku yang melimpah.
Tradisi cinta buku tidak bolehlah mati. Dan yang paling bertanggung jawab adalah orang-orang melek huruf di negeri ini. Meskipun dihantui data angka buta aksara mencapai 18,1 juta dan minat baca masyarakat yang bahkan lebih rendah dari Vietnam . Kita tidak bolehlah pesimis. Sebab bukankah kita patut berbangga Presiden SBY melanjutkan tradisi cinta buku orang-orang besar terdahulu di negeri ini. Setidaknya beliau telah meluncurkan buku yang memuat kumpulan pidato dan pernyataannya, berjudul Indonesia on the Move.  “Membaca adalah investasi, solusi, dan dapat mengubah nasib dan masa depan”, pesannya.  Dan bukankah gubernur kita seorang penulis buku  yang otomatis memiliki rasa cinta yang bukan main-main terhadap buku ?. Kita tunggu perealisasian kebijakan mereka, untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat. Ini penting untuk dilakukan sebab -mengutip Hernowo- “Buku telah membuktikan kepada dunia bahwa dirinya mampu membuat peradaban dapat bertahan dalam kebaikan atau, bahkan terus meningkat menjadi sesuatu yang lebih baik”. Semoga lebih  cepat dari yang kita duga.
 
Ismail Amin, penikmat buku sedang belajar di Hauzah Ilmiyah Qom Iran .




Apa Kabar Pendidikan Nasional ?

2 05 2008
Andreas Harefa dalam sebuah media pernah menuliskan, “…hanya ada dua respon yang kita berikan ketika membicarakan pendidikan di negara ini, menangis atau gila !”. Fakta dan realitas membuktikan pendidikan di Indondesia mengalami teori Evolusi Regresif. Artinya umat manusia berkembang kearah keburukan. Dan bukannya Evolusi Progresif. Makin lama makin baik, makin cerdas, makin berilmu,makin cemerlang. Andreas Harefa memberikan ilustrasi menarik, ia membandingkan dirinya dengan Soe Hok Gie, mahasiswa angkatan 1966 yang luar biasa cerdas. Di usia yang terbilang muda Gie telah berani berdiskusi dengan Sudjatmoko, Jakob Sumardjo bahkan berdebat dengan Soekarno. Gie tidak hanya pandai di bidang sejarah yang merupakan basis keilmuannya, tapi juga piawai dalam bidang sastra, politik dan penguasaannya terhadap teori-teori ekonomi yang membuatnya sadar ada ketidakberesan dan ketidakbecusan dalam pengelolaan negara. Itulah kemudian yang membuatnya kemudian berani mengambil sikap untuk memilih menjadi idealis -sebagaimana yang pernah ditulisnya- sampai batas sejauh-jauhnya. Andreas mengakui betapa bodohnya dia jika dibandingkan dengan Soe Hok Gie. Dia mahasiswa angkatan 1980-an ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Gie yang angkatan 1960-an.

Saya sendiri senang membaca buah pemikiran Andreas Harefa. Ide-ide yang dicetuskan sejak dia masih mahasiswa ditahun 1980-an baik dari buku-buku yang telah diterbitkannya maupun lewat website Manusia Pembelajar yang dikelolanya . Saya mahasiswa angkatan 2000-an mengaku gemetar membaca transkrip-transkrip pemikirannya. Dan menggigil luar biasa ketika membaca Catatan Demonstrannya Gie.

 

Manusia seperti apa keduanya ?

Dari sini timbul kegelisahan itu. Ada apa dengan pendidikan kita ? Mengapa Universitas, Sekolah Tinggi atau Akademi amat jarang ‘mencetak’ manusia-manusia yang berkarakter dan mandiri, semisal Andreas Harefa yang sampai merasa tidak perlu menyelesaikan kuliah ?. Atau Gie yang memilih untuk terasing. Belum lagi kalau kita mau mempersoalkan betapa tidak berperannya Universitas dalam upaya pencerdasan masyarakat. Malah yang terjadi lembaga pendidikan tinggi dikontrol kepentingan modal dan birokrasi negara. Dari puluhan ribu sarjana lulusan tiap perguruan tinggi tiap tahunnya, tidak lebih dari 0,1 % yang mau melibatkan diri dalam proses pengembangan pikiran kolektif untuk melawan Neoliberalisme dan segala turunannya yang berupa kebijakan-kebijakan.

Sudahlah, kita tidak usah berharap banyak pemerintah mencerdaskan kita -untuk memenuhi pasal UUD 1945 saja tentang dana pendidikan 20% dari alokasi APBN sangat kepayahan- mari kita cerdaskan diri sendiri, dengan menciptakan suasana belajar dimana dan kapanpun. Sebagaimana falsafah Freiran, semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah. Betapapun mengecewakannya pendidikan negara kita sampai saat ini, saya tidak lupa mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional, meskipun sambil tersipu malu.

 

 





Petani dengan Cangkulnya

1 05 2008

Tidak ada alasan untuk tidak menghancurkan negeri ini....Seorang petani dalam keadaan sibuk mencangkul tanah, menginjak-injak dan memecah-mecah bongkahannya. Seseorang datang mendekati dan menegurnya, “Wahai orang bodoh, mengapa tanah yang indah ini kau rusak ?”. Sang petani menghentikan kerjanya sesaat, “Kamu yang bodoh, tidak tahukah kamu akan beda penghancuran dan pertumbuhan ? Bagaimana mungkin tanah ini bisa berubah menjadi kebun yang penuh dengan buah dan dedaunan jika sebelumnya tidak kau hancurkan dan kau remukkan ?, sebelum kau pecahkan bisulmu, bagaimana mungkin penyakitmu dapat sembuh, kalau kau tidak sudi meminum obat yang pahit bagaimana bisa badanmu bisa kembali sehat ? Apakah kau ingin menyebut seorang penjahit yang menggunting dan merobek-robek kain telah merusak kain itu ? Bukankah untuk merenovasi bangunan, kuli bangunan menghancurkannya terlebih dahulu ?.

 

Lihat dan belajarlah dari para tani, kuli bangunan, pandai besi dan tukang daging, bukankah mereka mengajarkan kenyataan bahwa penghancuran adalah awal pembaharuan. Penderitaan adalah awal dari pencerahan ? Jika kau tak merusak kau tidakkan pernah mendapatkan apa-apa, jika kau tak menghancurkan kau yang akan dihancurkan. Bila kau membiarkan biji-biji gandum tidak digiling dan diremukkan, bagaimana kau bisa mendapatkan roti untuk kau makan ?

Negeri ini tidak akan pernah memberimu apa-apa sebelum kau hancurkan ? sebelum kau lawan dan meremuk redamkan segala kekotoran dan tipuan-tipuan di dalamnya, penghancuran adalah keniscayaan di negeri ini,

 

 

 

 

 





Rekontruksi Budaya Kuli

30 04 2008

 

Kuli itu kesayangan Tuhan. Seperti amsal tentang domba yang diselamatkan , mengapa kita harus melawan takdir yang telah digariskan ?

Berabad lalu, dari pelosok-pelosok tanah Jawa, atas nama dewa, kami harus memecahkan dan mengangangkut bongkahan batu gunung untuk membangun candi-candi pemujaan. Katanya di langit ada Nirvana, tempat bersenang-senang dan bidadari yang menanti, untuk itu dibangunlah kuil, istana dan kuburan ‘perwakilan’ tuhan. Atas nama sumpah mahapatih yang harus tertuntaskan,kami dipaksa bertempur. Dipaksa kegaris depan. Bertempur dengan orang yang tidak pernah kami kenal. Dipaksa membunuh orang yang tidak kami benci. Kalau kemenangan tercapai, nama sang mahapatihlah yang abadi, kami tersingkirkan dan terlupakan.

Kapal-kapal berdatangan. Mereka datang untuk membeli dan berdagang. Katanya, “Kerjalah untuk kami dan kami memberimu gaji”. Tentu saja ini kenyataan yang membahagiakan. Bukankah setidaknya mereka lebih baik daraja-raja muda yang menghisap dan memeras tanpa imbalan. Benarkah sang ratu adil yang dijanjikan telah datang ?                          

Kami para tani diangkut dengan kapal kayu dan kereta, “Ada tanah yang dijanjikan, di sana emas murah dan bebas berjudi !” bujuk calo-calo dari Batavia, sambil senyum memamerkan gigi emasnya. Lantas berbondong kami bergerak, digiring dengan ternak, dirampas bekalnya, diperkosa dan tubuh coklat kami diinjak-injak. Kami, kuli-kuli, domba-domba kesayangan Tuhan, terpojok tak berdaya. Bergerak-bergerak. Melintasi alas-alas Sumatera. Menyeberangi sungai-sungai Swarna Dwipa. Mana ? Mana tanah yang dijanjikan itu ?

Lantas dimulailah kerja mulia itu, menurunkan surga ke bumi Hindia, membuka hutan-hutan, menyemai bibit, menanam tembakau, karet dan tebu. Tapi, dimanakah emas murah itu ? 

Tak ada waktu untuk bermimpi, “Hayo kerja, kerja terus, kerja terus sampai mati !” teriak mandor-mandor kuli. Pecut diayunkan, tubuh-tubuh kurus dan kurang makan kami, tersungkur di kubangan. Hari gajian telah tiba. Berdenceng recehan, bergambar ratu Belanda. Gemetar tangan-tangan kurus kami menerimanya. “Kamu boleh berjudi,” kata Menir, “Kalau uangmu habis, kamu bisa kontrak lagi, kamu boleh terus jadi kuli,” kata raja-raja muda, sambil menghitung Gulden hasil sewa tanah moyangnya. Terus dan terus. Siklus penghisapan, siklus penindasan: berputar bagai lingkaran karma.

Di tengah keputusasaan dan ketertindasan, ada kabar gembira. Seorang pemuda membela kami dan berkata, “Indonesia Menggugat.” Dia menyebut dirinya Putra Sang Fajar. Kami termangu, “Apakah ini benar pembela kami atau bentuk penindasan baru ?”, Kamipun mengikutinya, mendengar seruannya untuk melawan dan mengangkat senjata. Atas nama Indonesia Merdeka kami kembali harus berkorban dan dikorbankan. Kecurigaan pun timbul, ketika sang pemuda ini tak sesaatpun memanggul senjata. Benar juga, dia menempati istana yang ditinggalkan pergi sang penjajah. Dia memberi kami makan dari pidato-pidato politik dan bukan roti. Karenanya dimanakah kesejahteraan yang dijanjikan itu ? Kini, kami atas nama partai, atas nama ideologi harus bertempur dengan saudara sendiri. Yang kami sendiri mengenalnya dengan baik. Pertanyaan kami tak pernah digubris, “Mengapa atas nama ideologi, mazhab dan aliran kami harus menganggap satu sama lain sebagai musuh ?”. Kalau dulu kami bekerja membangun candi-candi dan kuburan, sekarang kami bekerja untuk sistem, kekuasaan dan istana-istana yang dipelihara melalui kerja keras kami. Kekayaan harus kami kumpulkan, namun yang kami dapatkan adalah potongan terkecil. Atas nama pembangunan, ladang-ladang kami direbut, rumah-rumah kami digusur. Atas nama stabilitas nasional dan hukum kami ditangkapi dan ditembaki. Tidak ada bedanya dengan sebelumnya. Kami tetaplah budak, tetaplah babu dan kuli buat para majikan. Dan tiba-tiba saja, seakan-akan datangnya dari langit, ia berkata, janjiku, pendidikan dan kesehatan gratis. “Kalian tak butuh biaya, tak butuh ongkos, kesejahteraan telah di depan mata.” Kami tidak peduli dengan kata-kata itu, bukankah ini hanyalah bentuk tipuan baru ? “Bagaimanapun esok tidak ada istrahat buat kami, dan harus tetap bekerja.”

Terus dan terus. Siklus penghisapan, siklus penindasan: berputar bagai lingkaran karma

 

 

 

 

Sayup-sayup kami menaruh harapan dari bacaan anak-anak kami di surau-surau terpencil, Anak-anak kecil berkopiah kebesaran membaca kitab yang katanya suci, disana tertulis, “Dan Kami bermaksud memberikan karunia kepada orang-orang yang ditindas di bumi. Akan Kami jadikan mereka pemimpin dan pewaris bumi ini.” (Qs. Al-Qashas : 5).

Kuli, buruh, babu …kata TUHAN, untuknya bumi ini diwariskan. Kami percaya Tuhan tak sebagaimana mereka, yang hanya bisa berjanji ?

Di Hari Buruh… dst Selamatlah engkau wahai para buruh… -1 Mei-

 

 

 

 

 





Menyeka Air Mata Wisudawan Kita

28 04 2008

  Lewat kolom Tanda-Tanda Zaman, di Majalah Basis edisi Juli-Agustus 2000, ‘warisan’ Dick Hartoko, Shindunata menegaskan bahwa, “Pendidikan Hanya Menghasilkan Air Mata.” Tentu saja penegasan ini ada benarnya, cuman persoalannya air mata seperti apakah yang mengalir menatap pendidikan kita sekarang ? Sebagai salah satu Perguruan Tinggi, dari rahim UNM hari ini (30/4) terlahir ribuan sarjana sebagai hasil reproduksi (input-proses-produk) pendidikan. Air mata seperti apakah yang mengalir dari pipi mereka? banyak hal yang diwakili air mata kita. Terkadang air mata menetes karena rasa bahagia yang tak tertahankan, air mata seperti itukah melihat diwisudanya produk perguruan tingi kita ? atau justru air mata yang mengucur deras karena penderitaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Air mata yang jatuh karena para orang tua mereka yang membanting tulang, bekerja keras demi menyekolahkan anak-anaknya, demi membiayai pembangunan sebuah kotak lengkap dengan instrument-instrumentnya yang kemudian kita sebut sebagai kampus atau universitas ? berapa banyakkah tanah, kerbau dan semacamnya yang tergadai demi semua itu ? pasrah begitu saja dengan ‘mitos’, pendidikan itu mahal. Ataukah air mata yang jatuh oleh para anak muda (baca: mahasiswa) yang kehidupannya terpasung selama bertahun-tahun. Yang kehilangan keunikannya karena diwajibkan menyesuaikan diri dengan apa yang berlaku. Yang menyebabkan mereka tenggelam dalam konformisme. Konformisme itulah yang berbahaya karena mematikan identitas diri mereka. Ya, agar tidak dikatakan berbeda dengan kebanyakan. Masalahnya kita telah terbiasa dengan penyeragaman, kita tak mau berbeda dengan yang lain, padahal hikmah dari perbedaan itu tak ternilai harganya. Sebagaimana yang dikatakan Asdar Muis, “Penyeragaman membuat kita menjadi manusia-manusia yang kehilangan baju”. Ataukah air mata penyesalan yang menetes pelan dari pipi orang tua-orang tua mereka, melihat anak yang tak lagi dikenalnya ? anak yang tahu benar tentang keluhuran cuman tak pandai untuk menerapkannya. Terjaga dengan urusan akademis tapi terlelap tentang realitas kehidupan. Tak ada yang namanya kritis tentang fenomena yang ada. Bersikap egoistis dan sedikit pesimis karena telah terlatih bertahun-tahun di Kampus yang telah menjadikan anaknya sebagai sekrup mekanisme yang taat. Bermental babu dan tak punya kemerdekaan kesadaran. Siapa yang mungkir dari fenomena terjajahnya mahasiswa, dengan adanya just do it, don’t even think ? tak pernah diajar berpikir yang diajarkan hanyalah mengerjakan tugas-tugas, makalah-makalah yang yang saking banyaknya seringkali menghina akal sehat. Mereka diajarkan menghafal, bukan diajarkan belajar, yang diajarkan berhitung tanpa diajarkan apa yang mesti diperhitungkan. Diajarkan untuk pandai mencari majikan sekaligus menjadi bawahan yang super taat. Tak ada mata kuliah keterampilan untuk pengembangan diri, yang ada kurikulum pembentukan manusia-manusia siap pakai. Begitulah, kebanyakan perguruan tinggi menjadikan dunia kerja sebagai tujuan utama. Alhasil sense of belonging terhadap ilmu itu sendiri minus sekali, atau bahkan nyaris tak terdengar. Belajar yang seharusnya aktuasi alami berubah menjadi, “Let’s do it and finish the job” – Ayo kerjakan dan selesaikan pekerjaan ini-. 
Apa yang didapat dari Universitas ?
            Dengan realita ini, perguruan tinggi bukan lagi tempat proses pendidikan tetapi melatih anak bangsa menjadi produk-produk yang tidak jauh beda dengan robot-robot yang digerakkan dengan remot kontrol (demikian jika meminjam bahasa-bahasa Ivan Illich atau Paulo Freire tentang dunia pendidikan). Mereka yang diajarkan tentang agama (puas dengan 2 sks) sekaligus diseret untuk mendurhakai-Nya.Para mahasiswa lebih sering diajar menghafal dibanding diajar belajar. Katanya pendidikan tetapi yang ada bukannya suasana pertukaran ide-ide yang ada pendiktean ide-ide. Bukan perdebatan atau pendiskusian tentang tema-tema yang ada pentransferan ilmu yang ‘mutlak’ kebenarannya. Beda sedikit dengan dosen dianggap melawan. Benar ! intelektualitas mahasiswa diberangus atau dibredel oleh dosen-dosen yang serba tahu, ruang kuliah lebih mirip ruang indoktrinasi dan pemaksaan konsep. Materi kuliah pendidikan didominasi dengan tekhnik-tekhnik pengajaran dengan tugas-tugas makalah dan penelitian yang kemudian hanya ditumpuk dan bukannya diskusi-diskusi mendalam mengenai hakekat proses pembelajaran dan pendidikan. Bahwa belajar tentunya bukan sekedar menghafal berbaris kata dari diktat atau catatan. Tentu saja bukan menelan bulat-bulat semua fatwa pengajar. Tetapi meresapi bahwa belajar bagaimana berbuat (learn to do) jauh lebih penting dari belajar menghafal. Bukankah demikian ?
  Ataukah yang mengalir adalah air mata penuh ketakutan, menatap hari esok? Seperti yang selama ini dipertontonkan oleh kebanyakan mahasiswa, yang ‘fasih’ menipu, yang lihai berbuat culas demi mendongkrak IP yang jongkok. Pengkhianatan intelektual adalah imbas dari ketakutan-ketakutan. Takut nilainya rendah, takut tidak lulus, takut miskin, takut tak punya pekerjaan, dan ketakutan-ketakutan itu yang mengajarkan kemunafikan dan pengkhianatan intelektual. Kalau benar seperti itu, hasilnya bisa ditebak, berdiri dihadapan para wisudawan sama halnya melihat ribuan pecundang yang tak memiliki kepercayaan diri. Mereka yang didoktrin bahwa gelar akademis adalah satu-satunya yang harus ditempuh untuk mengubah nasib mereka, terutama mahasiswa dengan background kemiskinan. Data terpaparkan, lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan di Indonesia _+ 250.000-350.000 orang pertahun. Dari jumlah itu, hanya sekitar 90.000 yang terserap ke sektor formal dan sisanya menganggur atau bekerja di sektor informal. Hal ini, jelas, menandakan bahwa semakin banyak sarjana justru tidak mengindikasikan negara semakin makmur. Justru sebaliknya, semakin banyak sarjana, semakin tinggi pula tingkat pengangguran. Para sarjana itu bekerja di sektor informal bukan karena keinginan mereka, namun karena keadaan yang memaksa dan keterbatasan lapangan kerja. Hasil survei angkatan kerja nasional BPS tahun 2007 mencatat pengangguran 10,5 juta (9,75%). Dari jumlah total pengangguran tersebut, tercatat 740.206 orang atau 7,02% adalah mereka yang pernah mengenyam pendidikan di universitas, diploma, akademi ataupun pendidikan sejenis yang sederajat. Artinya, kini terdapat jutaan kaum intelektual yang menjadi pengangguran terbuka. Sebuah fenomena sosial yang tentu jauh dari harapan orang tua. Bila anaknya, setelah menghabiskan biaya besar untuk kuliah hanya akan menjadi pengangguran. Padahal untuk sukses tidak identik dengan gelar, bukankah Bill Gates, Lawrence Ellison, Paul Allen, orang-orang terkaya dunia yang drop out dari kampusnya masing-masing ? air mata ketakutan itukah yang mengalir ? takut menghadapi persaingan dalam kehidupan yang sesungguhnya. Kalau air mata semacam itu yang mengalir dari wisudawan kita, izinkan saya menangisi mereka. Jika benar demikian, berarti saya ‘terpaksa’ mengakui ‘tesis’ Robert T. Kiyosaki bahwa, “Sekolah tidak lain hanya mengajarkan ketakutan-ketakutan”, Kalau benar seperti itu, saya berani menyimpulkan kampus adalah tempat yang paling efektif dalam mengkerdilkan iman dan cara berpikir. Sebagai sebuah lembaga pendidikan, (mestinya) out put dari Perguruan Tinggi adalah orang-orang yang berhasil menemukan kemanusiaannya, menciptakan manusia yang berkesadaran dan mampu meningkatkan taraf hidupnya, dengan ide dan kreativitas yang flaw. Bukan justru yang disibukkan dengan ketakutan-ketakutan. Semoga bukan air mata itu. Tentu saja kita berharap yang mengalir dari pelupuk para wisudawan kita (begitu juga orangtuanya) adalah air mata bahagia, penuh haru sembari berujar “Selamat Datang Tanggung Jawab”, sebab falsafah seorang intelektual bukan hanya mencerdaskan diri tapi juga masyarakat. Yang menjunjung tinggi moralitas dan menjadikan kejujuran dan kebenaran sebagai nafas kehidupan. Agar saya punya dalih untuk membantah prasangkaan ‘buruk’ Y. B Mangun Wijaya, “Lihat saja, para mahasiswa itu sekeluarnya nanti hanya akan membodohi rakyat dengan modal kepintaran mereka..!!!”. Ya, saya berharap banyak kepada para wisudawan kita. Bangsa ini sudah teramat merindukan generasi yang tegar, penuh semangat dan berjiwa besar. Yang punya kemerdekaan kesadaran, siap menanggung resiko separah apapun demi kesetiaan terhadap idealisme yang selama ini diperjuangkan. Kini, kita hanya bisa membayangkan dan mencoba meresapi semangat mereka. Akh, semoga saja kita punya waktu dan kemampuan untuk menghayati dan serius berbuat serentak, agar dengan begitu sayap jiwa yang lemah dapat kembali mengepak dan terbang dengan gagahnya di atas cakrawala kehidupan. Alhasil kaum intelegensia memikul “hutang sejarah” untuk mengamalkan pengetahuan yang telah dikunyah-kunyah. Agar ia tidak berlalu begitu saja tanpa pesan dan kesan. Jika hutang itu tidak jua dilunasi, ia kelak menjadi bayang-bayang hitam yang mengganggu ketentraman batin. Tulisan ini mengajak kita gelisah dan resah ilmiah. Semoga ia berguna menjadi patron bagi kita tentang frame of reference dan field of experience dalam kancah pergulatan ilmu pengetahuan. Kita -karenanya- wajib ragu akan kemampuan mendedikasikan amanah ilmu dalam wujud amalan nyata. Agar apa yang diperbuat hari ini bisa digugu dan ditiru generasi mendatang. Seperti ungkapan A’a Gym: tiada hari tanpa mencari ilmu dan program mengamalkannya. Bukannya mencari ilmu hanya sekedar untuk bekerja mencari uang melainkan untuk memanusiakan diri untuk lebih manusiawi. Insya Allah, ketika air mata yang mengalir adalah air mata ketawadhuan (sebagaimana mestinya orang-orang berilmu), saya ingin menyekanya dengan ibu jari saya dengan penuh kekaguman.

Dedicated buat kekasihku tercinta HARYATI S.Pd, yang harus banyak mengeluarkan airmata, 
akhirnya kau meraihnya juga.