Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf?

10 04 2008

MEMBACA tulisan Prof Achmad Ali lewat kolom Hukum dan 1001 Masalah Kemasyarakatan di koran ini edisi 31 Oktober lalu yang menyoal benar tidaknya Nabi Muhammad saw buta huruf, memancing saya untuk menuliskan juga unek-unek saya tentang salah satu mitos yang masih dipegang kukuh oleh sebagian besar umat Islam ini.

Suatu hal yang disadari atau tidak, mitos tersebut justru menjadikan musuh-musuh Islam punya dalih menjelek-jelekkan agama Islam dan umatnya dengan menyebutkan bahwa nabinya saja bodoh, tidak tahu membaca dan menulis, apalagi umatnya.Karena itu, bukanlah suatu keanehan kalau umat Islam justru mengalami evolusi regresif, yakni berkembang ke arah keburukan, bukannya evolusi progresif, yakni makin lama makin baik, makin cerdas, makin berilmu. Ironisnya lagi, kebutahurufan nabi seakan menjadi kenyataan yang patut dibanggakan dan bisa membangun kepercayaan diri umat Islam.

Sebagai contoh, anak-anak kita ajari membaca dan menulis dan pada saat yang sama kita suguhkan cerita tentang nabi yang tidak tahu membaca dan menulis. Kebutahurufan Nabi Muhammad sepertinya sengaja dibangun untuk mengetengahkan sebuah argumen tentang betapa hebatnya mukjizat Alquran yang bersumber dari sesuatu yang Ilahi. Dengan teori “nabi yang buta huruf”, mukjizat terkesan semakin mencengangkan. Celakanya lagi, kebutahurufan dijadikan dalil untuk keabsahan risalah kenabian Nabi Muhammad, sesuatu yang tidak menjadi syarat keabsahan nabi-nabi sebelumnya.

Pertanyaannya, benarkah ajaran itu? Atas dasar apa nabi dianggap sebagai sosok yang buta huruf? Apakah ia pernah menyatakan dirinya betul-betul tidak mampu membaca dan menulis sejak kecil hingga akhir hayatnya? Lalu, jika ada anggapan ia mampu membaca dan menulis, apakah itu akan mengurangi keabsahannya sebagai utusan Allah?

Makna Ummi
Oleh beberapa yang disebut ulama Islam sejak dahulu, makna perkataan ummi dalam beberapa surah Alquran, misalnya Surah Al-A’raf 157 “nabi yang ummi” diartikan buta huruf, tidak pandai membaca dan menulis. Dan ajaran mereka diterima tanpa ragu
oleh hampir seluruh umat Islam sejak dari zaman dahulu hingga ke hari ini. Bahkan oleh ulama-ulama kemudian berusaha membenarkan dan mempertahankan mitos ini, termasuk yang dilakukan Prof Achmad Ali, yang sesungguhnya sejak awal telah menjadi polemik dalam diri beliau, karena sesungguhnya bagi siapapun, pendapat bahwa Nabi Muhammad buta huruf, tidak tahu membaca dan menulis adalah suatu kenyataan menyakitkan dan sangat sulit diterima.

Tidak ada larangan untuk meninjau kembali pandangan tersebut, apalagi itu hanyalah pendapat beberapa ulama. Pendapat ulama bukanlah sesuatu yang sakral. Kita bisa membandingkannya dengan pandangan Alquran dalam hal ini ayat-ayat Alquran yang mengandung kalimat “ummi” yang akan membuktikan bahwa pandangan Nabi Muhammad buta huruf bukan saja tidak sesuai kenyataan, tetapi juga berbau fitnah yang amat besar dalam Islam. Antara lain ayat yang dimaksudkan berbunyi; “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang “ummi” dari kalangan mereka
sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah, meskipun sebelumnya mereka dalam kesesatan yang nyata” (Qs. Al-Jumuah : 2).

Kaum yang “ummi” yang disebut dalam ayat tersebut adalah kaum Arab. Orang-orang Arab pada zaman Nabi Muhammad diceritakan dalam buku sejarah, berada pada tahap tinggi dalam kesusasteraan dengan karya-karya sastera yang berkualitas dipamer dan ditempelkan di dinding Kakbah. Tentu itu tidak menggambarkan orang Arab jahiliah ketika itu berada dalam keadaan buta huruf. Mereka dikatakan jahiliah hanya dalam
persoalan aqidah dan kepercayaan, bukan dalam pelbagai bidang lain.

Kata “ummi”, menurut Alquran adalah orang-orang yang tidak, atau belum diberi satupun Kitab oleh Allah. Kaum Yahudi telah diberi tiga buah kitab melalui beberapa orang nabi mereka. Karenanya, mereka di sebut ahli kitab. Sedangkan orang-orang Arab, belum diberi satupun kitab sebelum Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad yang orang Arab. Hal ini dijelaskan-Nya dalam Firman-Nya: “Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab, dan orang-orang “ummi” (yang tidak diberi kitab), sudahkah kamu tunduk patuh?” (Qs Ali Imran: 20).

Maka jelaslah, tidak seluruhnya kata “ummi” itu bermakna buta huruf. Lantas, apakah Rasulullah buta huruf? Alquran membantah pendapat ini secara terang-terangan dan
berkali-kali. Banyak ayat di dalam Alquran yang mengisahkan nabi diperintahkan supaya membaca ayat-ayat-Nya kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya. Hal ini menunjukkan nabi pandai membaca.

Contoh ayat dimaksud antara lain; “Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah, aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu….” (QS 6:151). Atau, “Demikianlah Kami mengutus kamu (Muhammad) kepada satu umat yang sebelumnya beberapa umat telah berlalu, agar engkau bacakan kepada mereka (Alquran) yang Kami wahyukan kepadamu.…” (QS 13:30). Atau, : “Dia yang mengutus kepada kaum yang ummi (orang Arab) seorang rasul (Muhammad) di kalangan mereka untuk membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,” (QS 62:2). Baca juga dalam QS 5:27, QS 17:106, 27:91-92, QS 33:33-34, QS 39:71.

Tambahan pula, sulit menerima hakikat bahwa seorang Nabi pilihan-Nya tidak tahu membaca padahal ayat yang diturunkan pertama kali adalah perintah membaca, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS 96:1). Ayat Alquran yang pertama sudah menyiratkan bahwa bahwa Nabi Muhammad tidak buta huruf. Sebab, sebuah kesia-siaan saja bila Allah menyapa Nabi Muhammad dengan perintah untuk membaca (kalau beliau dianggap buta-huruf). Karenanya, bagi Syekh Al-Maqdisi, penulis buku Nabi Muhammad, Buta Huruf atau Genius? (Mengungkap Misteri “Keummian” Rasulullah) jawabannya jelas: Ada tafsir sejarah yang keliru terhadap kapasitas Rasulullah, khususnya dalam soal baca-tulis. Dan semua itu, bersumber dari kekeliruan kita dalam menerjamahkan kata “ummi” dalam Alquran maupun Hadis, yang oleh sebagian besar umat Islam diartikan “buta huruf”.

Menurut Al-Maqdisi, “ummi” memang bisa berarti “buta huruf”, tapi ketika menyangkut Nabi Muhammad, “ummi” di situ lebih berarti orang yang bukan dari golongan Yahudi dan Nasrani. Pada masa itu, kaum Yahudi dan Nasrani sering kali menyebut umat di luar dirinya sebagai orang-orang “ummi” atau “non-Yahudi dan non-Nasrani”, atau orang-orang yang tidak diberi kitab. Termasuk Rasulullah dan orang Arab lainnya.

Alquran tidak hanya menjelaskan nabi pandai membaca, tetapi pandai menulis. Dalam
Alquran dijelaskan orang-orang kafir menuduh Rasul menulis dongeng-dongeng orang terdahulu dan disebutnya firman-firman Tuhan: “Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (QS Al-Furqan : 5).

Dan terakhir, terdapat sebuah ayat lagi yang insya Allah dapat menepis sama sekali keraguan terhadap Nabi yang dikatakan tidak pandai membaca dan menulis. Firman-Nya: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca suatu kitab sebelum (Alquran) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, sekiranya engkau pernah membaca dan menulis niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.” (QS Al-Ankabut : 48).

Ayat ini menegaskan, Nabi tidak pernah membaca dan menulis satupun Kitab sebelum menerima Alquran. Maksudnya, setelah menerima Alquran, Rasul membaca dan menulis Kitab dengan tangan kanannya. Ayat ini pun menunjukkan, dengan tidak pernahnya Rasullullah membaca atau menulis satu kitab pun semisal Alquran, bukan berarti Rasulullah tidak tahu membaca dan menulis. Misalnya membaca dan menulis dalam urusan perdagangannya. Nabi adalah seorang pedagang yang terkenal. Dan para ahli sejarah sepakat, pada zaman Nabi tidak menggunakan angka-angka; huruf huruf abjad telah digunakan sebagai angka-angka. Sebagai seorang pedagang yang berurusan dengan nomor-nomor atau angka-angka setiap hari, Nabi tentunya tahu tentang abjad, dari satu sampai keseribu. Karenanya, tidak ada dalih yang kuat apalagi untuk mempertahankan pendapat Nabi Muhammad buta huruf.

Ini bukan persoalan sederhana, manusia adalah makhluk yang suka bercerita dan membangun hidupnya berdasarkan cerita yang dipercayainya. Dengan cerita, kita menyusun dan menghimpun pernik-pernik hidup kita yang berserakan. Naratif, kata filusuf Jerman Dilthey, adalah pengorganisasian hidup (Zusammenhang des Lebens).

Apa pun yang membantu kita memberikan makna –pendapat, aliran pemikiran, mazhab, agama- selau didasarkan pada cerita-cerita besar, grand narratives. Cerita yang kita dapat tentang Nabi buta huruf yang wajib diteladani akan berpengaruh terhadap bagaimana kita menjalani dan melakukan pengorganisasian hidup.

Dr Muhammad Syahrur, Penulis Al-Kitab wal Quran tidak mau menerima cerita tentang buta hurufnya Nabi. Karenanya ia mengatakan, “Nabi memang ummi, tetapi beliau mampu membaca dan menulis.” Kalau keraguan masih ada, izinkan saya meminta untuk kembali membaca, surat pertama Tuhan kepada kekasih-Nya, “Bacalah (Muhammad) dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan….!” Wallahu ‘alam. *
Ismail Amin, Mahasiswa Institute for Language and Islamic Studies, Republik Islam Iran

Pernah dimuat di Harian Fajar http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=45001





Mengungkap Tabir Perselisihan Umat Islam

8 04 2008

Kamis, 8 Rabiul Awal 11 H, demam Rasul SAW semakin meninggi. Beliau meminta kepada para sahabat yang berada di sekitarnya untuk mengambilkan kertas dan tinta. Beliau hendak menuliskan wasiat, sayang permintaan beliau tidak diindahkan. Tentang ini, Imam Bukhari dalam shahihnya melalui sanad Ubaidillah bin Abdullah dari Ibnu Abbas ra, menuliskan :”Ketika ajal Rasulullah telah hampir, dan di rumah beliau ada beberapa orang, diantara mereka Umar bin Khattab ra, beliau bersabda, ‘Mari kutuliskan bagi kamu sebuah surat (wasiat) agar sesudah itu kamu tidak akan pernah sesat.’ Namun Umar berkata, ‘Nabi telah makin parah sakitnya, sedangkan Al-Qur’an ada pada kalian. Cukuplah kitab Allah bagi kita !’. Maka terjadilah perselisihan di antara yang hadir, dan mereka bertengkar. Sebagian berkata, ‘Sediakan apa yang diminta oleh Nabi SAW agar menuliskan bagi kamu sesuatu yang menghindarkan kamu dari kesesatan. Tetapi sebagian yang lain menguatkan ucapan Umar. Dan ketika keributan dan pertengkaran makin bertambah dihadapan Nabi SAW; beliau memerintahkan ‘Keluar kalian dari sini !’.” Hadits ini tak diragukan sedikitpun kesahihannya. Al-Bukhari meriwayatkannya sekali lagi pada bab “Al-Ilmu” (Jilid I, hal 22). Muslim meriwayatkannya dalam Shahihnya pada akhir bab al-Washiyah dan juga tertulis dalam Musnad Ahmad jilid I hal. 355. Dua maksud saya menuliskan kembali hadits yang demi menjaga kehormatan dan nama baik sahabat, jarang (atau tidak sama sekali) disampaikan oleh para du’at maupun ulama. Pertama, untuk meluruskan pendapat sebagian kaum muslimin bahwa Nabi Muhammad SAW buta huruf , tidak tahu membaca dan menulis. Teks hadits di atas sangat jelas, Nabi Muhammad SAW bisa menulis dengan ucapannya, “Mari kutuliskan bagi kamu”, bukan minta dituliskan. Dan tersebar ratusan hadits lainnya dalam kitab-kitab hadits tentang kemampuan Rasulullah baca tulis. Ayat Alquran yang pertama turun juga menyiratkan bahwa bahwa Nabi Muhammad tidak buta huruf. Sebab, sebuah kesia-siaan saja bila Allah menyapa Nabi Muhammad dengan perintah untuk membaca. Karenanya, bagi Syekh Al-Maqdisi, penulis buku Nabi Muhammad, Buta Huruf atau Genius? (Mengungkap Misteri “Keummian” Rasulullah) jawabannya jelas: Ada tafsir sejarah yang keliru terhadap kapasitas Rasulullah, khususnya dalam soal baca-tulis. Dan semua itu, bersumber dari kekeliruan kita dalam menerjamahkan kata “ummi” dalam Alquran maupun Hadis, yang oleh sebagian besar umat Islam diartikan “buta huruf”.Perselisihan tentang buta hurufnya Nabi hanyalah bias dari perselisihan sesungguhya yang mencakup wacana yang lebih besar. Lebih bijak kalau energi intelektual kita, kita tujukan untuk mencari tahu kenapa perselisihan ummat Islam terjadi bahkan sejak generasi awal ummat Islam. Perselisihan yang membuat peran ummat Islam sebagai “ummatan wasathan” yang bertugas menyebarkan rahmat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Salah satu jawabannya (menurut saya), wasiat Nabi yang tidak sempat tertuliskan. Dan kita perlu mengkaji itu. Inilah tujuan kedua saya menukilkan teks hadits di atas.

 Apa Setelah Nabi ?

Pada dasarnya, sejarah tidak lepas dari peristiwa kelam. Sejarah setiap bangsa dan pada dasarnya sejarah ummat manusia, merupakan rangkaian peristiwa menyenangkan dan tidak menyenangkan. Bisa saja dalam kasus-kasus tertentu kita boleh mengabaikan peristiwa kelam sejarah, namun apakah kita rela mengabaikan begitu saja peristiwa yang justru sangat berpengaruh terhadap masyarakat Islam selanjutnya. Ibnu Abbas ra menyebut peristiwa penolakan sahabat untuk memenuhi permintaan Nabi menjelang wafat sebagai Kamis Kelabu. Karenanya, menjadi kenyataan yang tak bisa dipungkiri bahwa Islam seakan-akan turut terkubur dengan dimakamkannya Rasulullah. Sejak zaman sahabat sampai saat ini, ummat Islam seakan-akan telah kehilangan agamanya. Saling menyesatkan, membid’ahkan, mensyirikkan bahkan pengkafiran sesama muslim menjadi fenomena yang tampak lumrah dalam dunia Islam. Kita tidak bisa menafikan begitu saja peristiwa-peristiwa kelam dalam dunia Islam. Saling menumpahkan darah sesama kaum muslimin justru terjadi pada zaman sahabat yang disebut Rasulullah sebagai kurun terbaik. Dari khalifah ke dua sampai ke empat mati terbunuh. Semua yang membunuh termasuk muslim juga, kecuali pembunuh Khalifah Umar ra yang katanya seorang Majusi bernama Abu Lu’lu’. Peperangan Jamal, Shiffin dan Nahrawan adalah peperangan besar antara ribuan sahabat dengan sahabat lainnya. Perang Jamal antara dua kelompok sahabat Nabi yang dipimpin Ali bin Abi Thalib ra dengan yang dipimpin Aisyah ra (lihat kitab-kitab Tarikh, seperti Taarikhu al-Thabari, Usduh al-Ghabah karangan Ibnu Atsir dan lainnya). Perang Shiifin antara Ali bin Abi Thalib ra dengan Mu’awiyah (Thabari : 5:27, Usduh al-Ghabah : 2:114). Sedangkan perang Nahrawan antara pasukan Imam Ali ra dengan kaum Khawarij. Sementara Imam Husain ra (cucu Rasulullah) tak perlu banyak penjelasan. Sejarahnya sangat terkenal meskipun oleh sebagian orang selalu berusaha ditutup-tutupi. Beliau beserta kurang lebih 73 pengikutnya diperangi ribuan muslimin yang merupakan tentara kerajaan Bani Umaiyah atas perintah Yazid bin Mu’awiyah. Tidak cukup dibantai, tapi kepala Imam Husain dipisahkan dari tubuhnya dan ditancapkan di atas tombak serta di bawa untuk dipersembahkan kepada raja Yazid yang bermukim di Syuriah. Oleh karenanya bagi yang ingin menziarahi tubuh Imam Husain, maka hendaknya pergi ke Karbala Irak dan bagi yang ingin menziarahi kepalanya, maka hendaknya pergi ke Suriah.Peristiwa di atas saya nukil, sekedar ingin mengabarkan bahwa kaum muslimin sepeninggal Rasulullah tidak seromantis yang kita bayangkan. Dan bahkan sebaliknya, hidup dalam berbagai perselisihan, saling teror dan pengecaman-pengecaman. Dalam Al-Maidah ayat 3, Allah berfirman : “Pada hari ini, orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku”. Artinya, kaum kafir sejak ayat ini diturunkan bukanlah ancaman bagi masyarakat muslim, sehingga tidak perlu ditakutkan. Kalaupun ummat Islam mendapatkan bahaya sesungguhnya adalah hasil kerja-kerja kaum muslimin sendiri. Pertanyaan besar yang mesti kita dapatkan jawabannya, adalah : Betulkah sepeninggal Rasul agama Islam telah meninggalkan kita ? Betulkah Islam tidak memiliki konsep untuk mengatasi semua itu ? Lalu apa sebenarnya yang ingin diwasiatkan Rasul kepada kita semua sebelum meninggalnya ?

Wasiat Nabi yang Tidak Tersampaikan

Yang pasti wasiat yang hendak dituliskan Rasul adalah sesuatu yang pernah disampaikannya, dan hendak dipertegas kembali dengan ‘hitam di atas putih’, karena menyangkut masa depan ummat Islam, agar tidak bercerai berai sepeninggalnya. Agama Islam telah sempurna dan tak ada lagi penambahan hukum setelah turunnya Surah Al-Maidah ayat 3 : “Pada hari ini, telah Aku sempurnakan agama untukmu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” Tak ada satupun ahli hadits yang menolak kesahihan hadits bahwa ayat ini diturunkan setelah Hajjatu’l-Wada (ibadah haji perpisahan). Dalam perjalanan pulang ke Madinah, Rasulullah beserta rombongan berhenti di Ghaidir Khumm. Di tempat ini Nabi Muhammad menyampaikan khutbah perpisahan kepada seluruh jamaah yang ikut melaksanakan haji. Setelah membacakan khutbah maka turunlah ayat 3 dalam surah Al-Maidah tersebut. Pertanyaannya, persoalan apakah yang disampaikan Nabi dalam khutbah tersebut yang dengan itu sempurnalah agama Islam ini ?. Satu hal yang cukup misterius, jika kita mengamati keseluruhan ayat 3 dalam Surah Al-Maidah. Ayat maha penting di atas, yang Allah menyebutnya “Pada hari ini…” sampai dua kali terletak di tengah-tengah ayat yang membicarakan satu masalah yang lain sekali. Kalau memang benar, ayat-ayat Al-Qur’an disusun pada zaman kekhalifaan Usman bin Affan ra dan bukan disusun oleh Rasulullah sendiri, kita wajar mempertanyakan kelayakan peletakan ayat ini. Ada penyusunan ayat yang tampak tidak wajar, jika dibandingkan tata letak ayat-ayat Al-Qur’an lainnya. Jika ayat “Pada hari ini telah kusempurnakan” dihilangkan, aliran harmonis ayat-ayat sebelum dan sesudahnya tidak terganggu. Terkesan ayat ini sengaja disisipkan diantara ayat-ayat yang tidak ada kaitannya. Kenapa ? jawaban sementara saya, agar perhatian kita beralih kepersoalan lain setelah membaca keseluruhan ayat ini. Saya yakin, Allah SWT ‘sengaja’ memilih kata “Pada hari ini” untuk memberikan penegasan, akan pentingnya hari saat ayat ini diturunkan. Yaitu, pada hari Rasulullah menyampaikan khutbah terakhirnya yang di dalamnya, beliau menyampaikan wasiatnya. Dan wasiat ini dipungkiri atau tidak, oleh rekayasa sejarah tidak sampai kepada kita. Lihat saja, petikan hadits dalam Shahih Muslim bab al-Washiyah, Ibnu Abbas berkata, “Dan beliau (Rasulullah) mewasiatkan menjelang wafatnya,’ Keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab dan beri hadiah kepada utusan sebagaimana yang aku lakukan !’ (perawi hadits ini melanjutkan) Dan aku lupa yang ketiga”. Lihat,betapa politik waktu itu memaksa Ibnu Abbas dan perawi hadits lainnya untuk mengatakan bahwa mereka lupa. Tidak mungkin mereka lupa, kecuali kita membantah teori bahwa orang Arab punya kelebihan menghafal 100 bait syair cukup dengan sekali mendengar. Sengaja saya menukilkan semua ini, untuk mencari tahu sumber persoalan dalam dunia Islam sendiri, sebelum kita bermimpi menyelesaikan persoalan dunia atas nama Syariah Islam. Dalam subjek apa saja, tidak tahu adalah sikap yang paling aman. Namun haruskah kita tetap berkubang dalam ketidaktahuan sementara keimanan membutuhkan semangat Horace: Sapere aude!, yakni berani tahu. Semoga tidak ada yang berkomentar saya mengada-ngada atau bermaksud meresahkan. Kalaupun ternyata dengan mengutip ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits dari Shahih Bukhari-Muslim itu meresahkan, maafkan saya !. Wallahu ‘alam.

 Qom, 27 November 2007

Pernah dimuat di Harian Kendari Ekspress 29 November 2007








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.