Buku dan Orang-orang Besar

17 05 2008
(Refleksi Hari Buku Nasional)
 
Setahu saya, tidak ada yang lebih membuat seseorang lebih dikenal dan menjadi besar kecuali lewat transkrip-transkrip pemikiran yang dituliskannya pada berlembar-lembar kertas yang kemudian kita menyebutnya buku. Tidak bisa dipungkiri, kehidupan kita bisa jadi lebih mudah dengan ditemukannya alat-alat teknologi yang dikekinian semakin canggih dan beragam, ataupun banyak nyawa-nyawa kritis yang terselamatkan dengan semakin modernnya tekhnik pengobatan. Namun adakah yang bisa membendung dan menyembunyikan nama besar seseorang yang terlahir lewat buku ?. Bukankah nama-nama penemu dunia justru kalah populer dibanding para penulis buku ?. Setiap saya berbicara tentang buku, ingatan saya tidak bisa lepas dari Muhammad Hatta. Orang besar yang dimiliki bangsa ini pernah menulis, “Selama aku bersama buku kalian boleh memenjarakanku di mana saja; sebab dengan buku pikiranku tetap bebas.”
Lewat tulisan yang dimuat dalam buku Memoir yang ditulisnya sendiri, Muhammad Hatta ingin menunjukkan betapa ia sangat mencintai buku. Bentuk cintanya, tidak hanya dengan membacanya, namun juga membuat buku sendiri. Alam Pikiran Yunani adalah bukti konkret betapa ia memiliki kecintaan yang meluap-luap, sekaligus membuktikan bahwa pikirannya benar-benar bebas merdeka meskipun tubuhnya terpenjara. Buku ‘Alam Pikiran Yunani’ ditulisnya selama mendekam di Digul 1934 dan berlanjut di Pulau Ende pada 1936.  Dari penjaralah,  “Alam Pikiran Yunani” lahir.
Di sini Hatta tidak sendiri. Saya kira setiap pemimpin pergerakan dan orang-orang yang kemudian hari menjadi besar itu tidak pernah bisa jauh dari buku. Buku bagi mereka adalah nyawa. Adalah nafas panjang. Itulah sumber energi yang menggerakkan tubuh dan jiwa mereka. Dengan membaca, bagi orang-orang seperti Soekarno, Hatta, Soetan Syahrir, Muhammad Yamin, Tan Malaka sampai Amir Syarifuddin  tidak pernah merasa terpenjara dan perlu merasa takut. Lihat saja fragmen terfakhir dari perjalanan hidup Amir Syarifuddin, perdana menteri kedua dalam sejarah Indonesia setelah Syahrir.  Beberapa jam sebelum di ekseskusi mati di Solo –karena terlibat dalam peristiwa Madiun 1948- perwira yang bertugas menjaganya bertanya apa permintaan terakhirnya. Ia menjawab dengan meminta buku. Maka disodorkanlah buku Romeo and Juliet karangan William Shakespeare, dan selanjutnya dikisahkan, Amir menghabiskan detik-detik terakhirnya membaca buku dengan tenang sebelum ditembak mati.
Ini hanyalah salah satu fragmen sejarah bangsa yang menunjukkan adanya hubungan yang akrab antara revolusi Indonesia dengan buku.  Karenanya tidak berlebihan kalau Zen Rahmat Soegito mengatakan bahwa Indonesia didirikan diantaranya oleh orang-orang pecinta, pembaca dan penulis buku.  “Banyak sekali fragmen sejarah yang bisa menggambarkan hal itu”, tulisnya.
Sebagaimana yang dikatakan Hatta, pikiran tidak pernah terpenjara. Begitu pulalah Kartini. Dalam kondisi dipingit  di ’sangkar’ kadipaten ia belajar autodidak. Majalah atau koran terkenal seperti Maatschappelijk werk in Indie, De Gids, De Hollandsche Lelie, De Locomotief sampai karya Multatuli berjudul Max Havelaar di lahapnya. Dengan bacaan-bacaan ini ia menuliskan karya-karyanya, tidak hanya buku Door Duisternis Tot Licht (Usai Gelap Berpendarlah Terang) sebagaima yang telah dikenal tetapi juga tercatat ada dua buku kebudayaan, yakni Het buwelijk bij de Kodjas (Upacara Perkawinan pada Suku Koja) dan De Batikkunst in Indie en haar Geschiedenis (Kesenian Batik di Hindia Belanda dan Sejarahnya). Buku yang kedua ini yang membawa ukiran Jepara melanglang ke pelbagai penjuru dunia.
Dengan karya-karya itu, maka Kartini bukan hanya pejuang emansipasi yang lebih dikenal dengan kebayanya, tapi juga ibu epistolari –meminjam istilah Muhidin M. Dahlan- yakni ibu penulis.
Negeri Para Penulis
Kalau Kartini menulis pergulatan pemikirannya dalam bentuk surat dan dikirimkan ke 12 korespondesinya di Belanda. Sjahrir menulis renungan-renungannya dan dikirimkan kepada istrinya di Belanda, Maria Duchateau. Surat-surat inilah yang kemudian terbit dalam bentuk buku dengan judul Indonesische Overpeinzingen (dalam edisi Indonesia berjudul Rantau dan Perjuangan). Inilah renungan kebudayaan paling cemerlang yang pernah ditulis oleh seorang anak bangsa. Buku ini menunjukkan keluasan erudisi seorang Sjahrir. Ia mampu meletakkan setiap pokok gagasan dalam konteks alur perkembangan sejarah intelektual dunia. Sjahrir mampu menjelaskan hubungan antara satu filsuf dengan filsuf yang lain, dari Johan Huizinga, Dante, Dostoyevski, Benedotte Croce hingga Nietzche. Tidak adil kalau saya tidak menyebut nama Tan Malaka sebagai yang termasuk penulis kawakan yang dimiliki bangsa ini. Bahkan bagi saya ia harus berada  dalam deretan teratas. Ketangguhannya dalam menulis benar-benar telah teruji. Produktivitas dan staminanya betul-betul tanpa tanding. Penjara, pengasingan, pembuangan dan penyakit akut tak akan pernah mampu membuatnya berhenti menulis. Hanya kematian yang bisa menghentikannya menulis. Coba anda bayangkan, di tengah situasi yang begitu berbahaya pada masa kekuasaan Jepang, Tan Malaka masih mampu menerbitkan sebuah buku dahsyat berjudul Madilog. Tan Malaka menulis Madilog dalam situasi yang sangat terbatas, tanpa referensi, seluruh kutipan diambil dari ingatannya belaka, dengan bahan tulis yang terbatas dalam persembunyiaannya, memaksanya menulis Madilog dengan huruf-huruf yang sangat kecil. Madilog berbicara nyaris tentang semua aspek kehidupan, dari mulai filsafat, ekonomi, kebudayaan, sosiologi, sejarah hingga sains modern. Bukunya menunjukkan betapa hebatnya ia sebagai orang asia, sebagai orang timur dan sebagai orang Indonesia . Dan orang ini pula yang dalam pekik perang kemerdekaan, dalam suasana perang mempertahankan kemerdekaan, masih sempat-sempatnya menerbitkan buku yang berjudul Moeslihat. Bahkan dalam pemenjaraan yang tak jelas selama periode 1946-1948, Tan Malaka tetap meneruskan aktivitas intelektualnya. Di penjara itulah Tan Malaka, di antaranya, menulis From Jail to Jail atau Dari Penjara ke Penjara. Hanya peluru tentara republiklah yang kemudian menghentikan aktivitas menulis Tan Malaka. Soekarno sebagai Presiden pertama republik inipun tidak pernah bisa lepas dari kerja-kerja intelektual, membaca dan menulis. Meski negara yang dipimpinnya tengah mengalami kondisi politik dan ekonomi yang porak-poranda ia masih sempat juga  menulis dan menerbitkan buku Sarinah, Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia , 1947.
Karenanya, tidak berlebihan jika menyebut Negara ini dibangun dan diperjuangkan oleh orang-orang yang memiliki kecintaan terhadap buku yang melimpah.
Tradisi cinta buku tidak bolehlah mati. Dan yang paling bertanggung jawab adalah orang-orang melek huruf di negeri ini. Meskipun dihantui data angka buta aksara mencapai 18,1 juta dan minat baca masyarakat yang bahkan lebih rendah dari Vietnam . Kita tidak bolehlah pesimis. Sebab bukankah kita patut berbangga Presiden SBY melanjutkan tradisi cinta buku orang-orang besar terdahulu di negeri ini. Setidaknya beliau telah meluncurkan buku yang memuat kumpulan pidato dan pernyataannya, berjudul Indonesia on the Move.  “Membaca adalah investasi, solusi, dan dapat mengubah nasib dan masa depan”, pesannya.  Dan bukankah gubernur kita seorang penulis buku  yang otomatis memiliki rasa cinta yang bukan main-main terhadap buku ?. Kita tunggu perealisasian kebijakan mereka, untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat. Ini penting untuk dilakukan sebab -mengutip Hernowo- “Buku telah membuktikan kepada dunia bahwa dirinya mampu membuat peradaban dapat bertahan dalam kebaikan atau, bahkan terus meningkat menjadi sesuatu yang lebih baik”. Semoga lebih  cepat dari yang kita duga.
 
Ismail Amin, penikmat buku sedang belajar di Hauzah Ilmiyah Qom Iran .




Apa Kabar Pendidikan Nasional ?

2 05 2008
Andreas Harefa dalam sebuah media pernah menuliskan, “…hanya ada dua respon yang kita berikan ketika membicarakan pendidikan di negara ini, menangis atau gila !”. Fakta dan realitas membuktikan pendidikan di Indondesia mengalami teori Evolusi Regresif. Artinya umat manusia berkembang kearah keburukan. Dan bukannya Evolusi Progresif. Makin lama makin baik, makin cerdas, makin berilmu,makin cemerlang. Andreas Harefa memberikan ilustrasi menarik, ia membandingkan dirinya dengan Soe Hok Gie, mahasiswa angkatan 1966 yang luar biasa cerdas. Di usia yang terbilang muda Gie telah berani berdiskusi dengan Sudjatmoko, Jakob Sumardjo bahkan berdebat dengan Soekarno. Gie tidak hanya pandai di bidang sejarah yang merupakan basis keilmuannya, tapi juga piawai dalam bidang sastra, politik dan penguasaannya terhadap teori-teori ekonomi yang membuatnya sadar ada ketidakberesan dan ketidakbecusan dalam pengelolaan negara. Itulah kemudian yang membuatnya kemudian berani mengambil sikap untuk memilih menjadi idealis -sebagaimana yang pernah ditulisnya- sampai batas sejauh-jauhnya. Andreas mengakui betapa bodohnya dia jika dibandingkan dengan Soe Hok Gie. Dia mahasiswa angkatan 1980-an ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Gie yang angkatan 1960-an.

Saya sendiri senang membaca buah pemikiran Andreas Harefa. Ide-ide yang dicetuskan sejak dia masih mahasiswa ditahun 1980-an baik dari buku-buku yang telah diterbitkannya maupun lewat website Manusia Pembelajar yang dikelolanya . Saya mahasiswa angkatan 2000-an mengaku gemetar membaca transkrip-transkrip pemikirannya. Dan menggigil luar biasa ketika membaca Catatan Demonstrannya Gie.

 

Manusia seperti apa keduanya ?

Dari sini timbul kegelisahan itu. Ada apa dengan pendidikan kita ? Mengapa Universitas, Sekolah Tinggi atau Akademi amat jarang ‘mencetak’ manusia-manusia yang berkarakter dan mandiri, semisal Andreas Harefa yang sampai merasa tidak perlu menyelesaikan kuliah ?. Atau Gie yang memilih untuk terasing. Belum lagi kalau kita mau mempersoalkan betapa tidak berperannya Universitas dalam upaya pencerdasan masyarakat. Malah yang terjadi lembaga pendidikan tinggi dikontrol kepentingan modal dan birokrasi negara. Dari puluhan ribu sarjana lulusan tiap perguruan tinggi tiap tahunnya, tidak lebih dari 0,1 % yang mau melibatkan diri dalam proses pengembangan pikiran kolektif untuk melawan Neoliberalisme dan segala turunannya yang berupa kebijakan-kebijakan.

Sudahlah, kita tidak usah berharap banyak pemerintah mencerdaskan kita -untuk memenuhi pasal UUD 1945 saja tentang dana pendidikan 20% dari alokasi APBN sangat kepayahan- mari kita cerdaskan diri sendiri, dengan menciptakan suasana belajar dimana dan kapanpun. Sebagaimana falsafah Freiran, semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah. Betapapun mengecewakannya pendidikan negara kita sampai saat ini, saya tidak lupa mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional, meskipun sambil tersipu malu.

 

 





Menyeka Air Mata Wisudawan Kita

28 04 2008

  Lewat kolom Tanda-Tanda Zaman, di Majalah Basis edisi Juli-Agustus 2000, ‘warisan’ Dick Hartoko, Shindunata menegaskan bahwa, “Pendidikan Hanya Menghasilkan Air Mata.” Tentu saja penegasan ini ada benarnya, cuman persoalannya air mata seperti apakah yang mengalir menatap pendidikan kita sekarang ? Sebagai salah satu Perguruan Tinggi, dari rahim UNM hari ini (30/4) terlahir ribuan sarjana sebagai hasil reproduksi (input-proses-produk) pendidikan. Air mata seperti apakah yang mengalir dari pipi mereka? banyak hal yang diwakili air mata kita. Terkadang air mata menetes karena rasa bahagia yang tak tertahankan, air mata seperti itukah melihat diwisudanya produk perguruan tingi kita ? atau justru air mata yang mengucur deras karena penderitaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Air mata yang jatuh karena para orang tua mereka yang membanting tulang, bekerja keras demi menyekolahkan anak-anaknya, demi membiayai pembangunan sebuah kotak lengkap dengan instrument-instrumentnya yang kemudian kita sebut sebagai kampus atau universitas ? berapa banyakkah tanah, kerbau dan semacamnya yang tergadai demi semua itu ? pasrah begitu saja dengan ‘mitos’, pendidikan itu mahal. Ataukah air mata yang jatuh oleh para anak muda (baca: mahasiswa) yang kehidupannya terpasung selama bertahun-tahun. Yang kehilangan keunikannya karena diwajibkan menyesuaikan diri dengan apa yang berlaku. Yang menyebabkan mereka tenggelam dalam konformisme. Konformisme itulah yang berbahaya karena mematikan identitas diri mereka. Ya, agar tidak dikatakan berbeda dengan kebanyakan. Masalahnya kita telah terbiasa dengan penyeragaman, kita tak mau berbeda dengan yang lain, padahal hikmah dari perbedaan itu tak ternilai harganya. Sebagaimana yang dikatakan Asdar Muis, “Penyeragaman membuat kita menjadi manusia-manusia yang kehilangan baju”. Ataukah air mata penyesalan yang menetes pelan dari pipi orang tua-orang tua mereka, melihat anak yang tak lagi dikenalnya ? anak yang tahu benar tentang keluhuran cuman tak pandai untuk menerapkannya. Terjaga dengan urusan akademis tapi terlelap tentang realitas kehidupan. Tak ada yang namanya kritis tentang fenomena yang ada. Bersikap egoistis dan sedikit pesimis karena telah terlatih bertahun-tahun di Kampus yang telah menjadikan anaknya sebagai sekrup mekanisme yang taat. Bermental babu dan tak punya kemerdekaan kesadaran. Siapa yang mungkir dari fenomena terjajahnya mahasiswa, dengan adanya just do it, don’t even think ? tak pernah diajar berpikir yang diajarkan hanyalah mengerjakan tugas-tugas, makalah-makalah yang yang saking banyaknya seringkali menghina akal sehat. Mereka diajarkan menghafal, bukan diajarkan belajar, yang diajarkan berhitung tanpa diajarkan apa yang mesti diperhitungkan. Diajarkan untuk pandai mencari majikan sekaligus menjadi bawahan yang super taat. Tak ada mata kuliah keterampilan untuk pengembangan diri, yang ada kurikulum pembentukan manusia-manusia siap pakai. Begitulah, kebanyakan perguruan tinggi menjadikan dunia kerja sebagai tujuan utama. Alhasil sense of belonging terhadap ilmu itu sendiri minus sekali, atau bahkan nyaris tak terdengar. Belajar yang seharusnya aktuasi alami berubah menjadi, “Let’s do it and finish the job” – Ayo kerjakan dan selesaikan pekerjaan ini-. 
Apa yang didapat dari Universitas ?
            Dengan realita ini, perguruan tinggi bukan lagi tempat proses pendidikan tetapi melatih anak bangsa menjadi produk-produk yang tidak jauh beda dengan robot-robot yang digerakkan dengan remot kontrol (demikian jika meminjam bahasa-bahasa Ivan Illich atau Paulo Freire tentang dunia pendidikan). Mereka yang diajarkan tentang agama (puas dengan 2 sks) sekaligus diseret untuk mendurhakai-Nya.Para mahasiswa lebih sering diajar menghafal dibanding diajar belajar. Katanya pendidikan tetapi yang ada bukannya suasana pertukaran ide-ide yang ada pendiktean ide-ide. Bukan perdebatan atau pendiskusian tentang tema-tema yang ada pentransferan ilmu yang ‘mutlak’ kebenarannya. Beda sedikit dengan dosen dianggap melawan. Benar ! intelektualitas mahasiswa diberangus atau dibredel oleh dosen-dosen yang serba tahu, ruang kuliah lebih mirip ruang indoktrinasi dan pemaksaan konsep. Materi kuliah pendidikan didominasi dengan tekhnik-tekhnik pengajaran dengan tugas-tugas makalah dan penelitian yang kemudian hanya ditumpuk dan bukannya diskusi-diskusi mendalam mengenai hakekat proses pembelajaran dan pendidikan. Bahwa belajar tentunya bukan sekedar menghafal berbaris kata dari diktat atau catatan. Tentu saja bukan menelan bulat-bulat semua fatwa pengajar. Tetapi meresapi bahwa belajar bagaimana berbuat (learn to do) jauh lebih penting dari belajar menghafal. Bukankah demikian ?
  Ataukah yang mengalir adalah air mata penuh ketakutan, menatap hari esok? Seperti yang selama ini dipertontonkan oleh kebanyakan mahasiswa, yang ‘fasih’ menipu, yang lihai berbuat culas demi mendongkrak IP yang jongkok. Pengkhianatan intelektual adalah imbas dari ketakutan-ketakutan. Takut nilainya rendah, takut tidak lulus, takut miskin, takut tak punya pekerjaan, dan ketakutan-ketakutan itu yang mengajarkan kemunafikan dan pengkhianatan intelektual. Kalau benar seperti itu, hasilnya bisa ditebak, berdiri dihadapan para wisudawan sama halnya melihat ribuan pecundang yang tak memiliki kepercayaan diri. Mereka yang didoktrin bahwa gelar akademis adalah satu-satunya yang harus ditempuh untuk mengubah nasib mereka, terutama mahasiswa dengan background kemiskinan. Data terpaparkan, lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan di Indonesia _+ 250.000-350.000 orang pertahun. Dari jumlah itu, hanya sekitar 90.000 yang terserap ke sektor formal dan sisanya menganggur atau bekerja di sektor informal. Hal ini, jelas, menandakan bahwa semakin banyak sarjana justru tidak mengindikasikan negara semakin makmur. Justru sebaliknya, semakin banyak sarjana, semakin tinggi pula tingkat pengangguran. Para sarjana itu bekerja di sektor informal bukan karena keinginan mereka, namun karena keadaan yang memaksa dan keterbatasan lapangan kerja. Hasil survei angkatan kerja nasional BPS tahun 2007 mencatat pengangguran 10,5 juta (9,75%). Dari jumlah total pengangguran tersebut, tercatat 740.206 orang atau 7,02% adalah mereka yang pernah mengenyam pendidikan di universitas, diploma, akademi ataupun pendidikan sejenis yang sederajat. Artinya, kini terdapat jutaan kaum intelektual yang menjadi pengangguran terbuka. Sebuah fenomena sosial yang tentu jauh dari harapan orang tua. Bila anaknya, setelah menghabiskan biaya besar untuk kuliah hanya akan menjadi pengangguran. Padahal untuk sukses tidak identik dengan gelar, bukankah Bill Gates, Lawrence Ellison, Paul Allen, orang-orang terkaya dunia yang drop out dari kampusnya masing-masing ? air mata ketakutan itukah yang mengalir ? takut menghadapi persaingan dalam kehidupan yang sesungguhnya. Kalau air mata semacam itu yang mengalir dari wisudawan kita, izinkan saya menangisi mereka. Jika benar demikian, berarti saya ‘terpaksa’ mengakui ‘tesis’ Robert T. Kiyosaki bahwa, “Sekolah tidak lain hanya mengajarkan ketakutan-ketakutan”, Kalau benar seperti itu, saya berani menyimpulkan kampus adalah tempat yang paling efektif dalam mengkerdilkan iman dan cara berpikir. Sebagai sebuah lembaga pendidikan, (mestinya) out put dari Perguruan Tinggi adalah orang-orang yang berhasil menemukan kemanusiaannya, menciptakan manusia yang berkesadaran dan mampu meningkatkan taraf hidupnya, dengan ide dan kreativitas yang flaw. Bukan justru yang disibukkan dengan ketakutan-ketakutan. Semoga bukan air mata itu. Tentu saja kita berharap yang mengalir dari pelupuk para wisudawan kita (begitu juga orangtuanya) adalah air mata bahagia, penuh haru sembari berujar “Selamat Datang Tanggung Jawab”, sebab falsafah seorang intelektual bukan hanya mencerdaskan diri tapi juga masyarakat. Yang menjunjung tinggi moralitas dan menjadikan kejujuran dan kebenaran sebagai nafas kehidupan. Agar saya punya dalih untuk membantah prasangkaan ‘buruk’ Y. B Mangun Wijaya, “Lihat saja, para mahasiswa itu sekeluarnya nanti hanya akan membodohi rakyat dengan modal kepintaran mereka..!!!”. Ya, saya berharap banyak kepada para wisudawan kita. Bangsa ini sudah teramat merindukan generasi yang tegar, penuh semangat dan berjiwa besar. Yang punya kemerdekaan kesadaran, siap menanggung resiko separah apapun demi kesetiaan terhadap idealisme yang selama ini diperjuangkan. Kini, kita hanya bisa membayangkan dan mencoba meresapi semangat mereka. Akh, semoga saja kita punya waktu dan kemampuan untuk menghayati dan serius berbuat serentak, agar dengan begitu sayap jiwa yang lemah dapat kembali mengepak dan terbang dengan gagahnya di atas cakrawala kehidupan. Alhasil kaum intelegensia memikul “hutang sejarah” untuk mengamalkan pengetahuan yang telah dikunyah-kunyah. Agar ia tidak berlalu begitu saja tanpa pesan dan kesan. Jika hutang itu tidak jua dilunasi, ia kelak menjadi bayang-bayang hitam yang mengganggu ketentraman batin. Tulisan ini mengajak kita gelisah dan resah ilmiah. Semoga ia berguna menjadi patron bagi kita tentang frame of reference dan field of experience dalam kancah pergulatan ilmu pengetahuan. Kita -karenanya- wajib ragu akan kemampuan mendedikasikan amanah ilmu dalam wujud amalan nyata. Agar apa yang diperbuat hari ini bisa digugu dan ditiru generasi mendatang. Seperti ungkapan A’a Gym: tiada hari tanpa mencari ilmu dan program mengamalkannya. Bukannya mencari ilmu hanya sekedar untuk bekerja mencari uang melainkan untuk memanusiakan diri untuk lebih manusiawi. Insya Allah, ketika air mata yang mengalir adalah air mata ketawadhuan (sebagaimana mestinya orang-orang berilmu), saya ingin menyekanya dengan ibu jari saya dengan penuh kekaguman.

Dedicated buat kekasihku tercinta HARYATI S.Pd, yang harus banyak mengeluarkan airmata,
akhirnya kau meraihnya juga.