Sekularisme, Musuh Para Agama

15 06 2008

Dengan memilih judul di atas untuk artikel ini, jelas saya memposisikan diri berseberangan pemikiran dengan Luthfi Assyaukanie yang mengatakan sekularisme adalah berkah bagi agama-agama (2005)*. Ataupun dengan Abdullah Ahmad An-Naim seorang pakar Islam dan Profesor Hukum di the Emory Law School , Atlanta , Amerika Serikat dengan letupan pemikirannya, “Kita butuh negara sekuler untuk menjadi muslim yang baik,” (2007)**. Wacana sekularisme bukanlah wacana kemarin sore, namun telah mengalami pendiskusian yang seolah tak berpenghunjung sejak awal dicetuskannya, tidak kurang dari ulama sekaliber Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dan Prof. Naquib al-Attas pun merasa perlu mendiskusikan panjang lebar mengenai istilah sekularisme. Keduanya sepakat, bahwa istilah sekularisme tidak ada akarnya dalam peradaban agama-agama. Pasalnya, sekularisme itu sendiri tidak ada sangkut-pautnya dengan agama apapun, sejak manusia memulai kesejarahannya sampai belasan abad setelah wafatnya Muhammad Saw, pembawa risalah agama terakhir.

Definisi Sekularisme

 
 

 

Kata secular berasal dari bahasa latin, ‘Saeculum’ yang arti harfiahnya suatu generasi atau zaman. Dengan tambahan kata isme jadilah sekularisme sebagai salah satu pandangan dunia yang memiliki sistem hidup sendiri yang membedakannya dengan isme yang lain. Kamus Oxford mengartikan sekularisme sebagai pandangan yang bersifat keduniaan atau materialisme, bukan keagamaan atau keruhaniaan. Seperti pendidikan sekuler, seni atau musik sekuler pemerintahan sekuler, pemerintahan yang bertentangan dengan gereja. Dengan pengertian yang tidak jauh berbeda Kamus Internasional Modern menyebutkan : Sekularisme sebagai suatu pandangan dalam hidup atau dalam satu masalah yang berprinsip bahwa agama atau hal-hal yang bernuansa agama tidak boleh masuk ke dalam pemerintahan, atau pertimbangan-pertimbangan keagamaan harus dijauhkan darinya. Harvey Cox dalam bukunya “The Secular City” menyatakan: “Secularization is the liberation of man from religious and metaphysical tutelage, the turning of his attention away from other worlds and towards this one.” Dengan defenisi ini sudah tercium bau permusuhan paham sekularisme terhadap agama-agama yang menyengat. Sekularisme yang dikatakan netral atau moderat sekalipun sangat sulit dikatakan bersahabat dengan agama, sebab dengan menjauhi agama dan mengurungnya pada surau-surau dan bilik-bilik do’a bukanlah sikap netral dan moderat. Jika dikaitkan secara khusus dengan Islam, sekularisme lebih tidak dikenal lagi, sebab ajaran Islam sangat banyak yang berkaitan dengan masalah-masalah duniawi. Perintah untuk shalat misalnya yang dapat mencegah dari kekejian dan kemungkaran ini sangat duniawi. Terlebih zakat, menuntut ilmu, pernikahan, sampai istinja’ pun semuanya memiliki keterkaitan erat dengan urusan duniawi.

Karenanya, jika sekularisme diterapkan, ini dapat membunuh agama-agama. Sebab ajaran agama manapun tidak hanya mengajarkan masalah spiritual namun juga persoalan-persoalan duniawi. Manusia sebagai obyek dan subyek dari agama itu sendiri tidak bisa terlepas dari masalah keduniawian. Memisahkan agama dengan dunia, sangat bertentang dengan ajaran agama. Agama dan sekularisme tidak mungkin disatukan, sebab ‘takdir’ keduanya saling menghancurkan.

Bencana Sekularisme

 
 

 

Tidak satupun agama yang menerima paham sekularisme, kecuali jika sekularisme sendiri menyebut diri sebagai agama. Penganut agama manapun melihat paham sekularisme sebagai ancaman terhadap pemahaman keagamaannya. Kristiani misalnya, dalam pertemuan Misionaris Kristian Sedunia di Jerusalem tahun 1928, mereka menetapkan sekularisme sebagai musuh besar Gereja dan misi Kristian. Dalam usaha untuk mengkristiankan dunia, Gereja Kristian bukan hanya menghadapi tantangan agama lain, tetapi juga tantangan sekularisme. Pertemuan Jerusalem itu secara khusus menyorot sekularisme yang dipandang sebagai musuh besar Gereja dan misinya, serta musuh bagi misi Kristian internasional. Ketika Myanmar bergolak, kita mendapatkan tontonan yang nyata tentang permusuhan antar kedua paham ini. Para biksu yang berarak dijalan-jalan untuk menunjukkan keprihatinannya terhadap kondisi sosial yang ada, diperhadapkan dengan tamparan, pemukulan dan penangkapan brutal, ditelanjangi sampai dibunuh dan mayat-mayat mereka dibuang begitu saja di sungai-sungai. Biksu Myanmar bukanlah biksu Shaolin yang belajar bela diri, perhatian utama mereka hanyalah bagaimana bisa mengamalkan ajaran agama sebaik-baiknya. Namun mereka mendapatkan permusuhan yang keras dari Negara yang phobia terhadap agama. Tidak bermaksud mengorek kembali luka sejarah. Namun bukankah Indonesia di zaman Orde Baru dengan doktrin Pancasila sebagai asas tunggalnya telah menimbulkan peristiwa-peristiwa tragis yang susul-menyusul dan berlangsung secara liar dan sulit dikendalikan kecuali dengan penangkapan dan pembunuhan. Ummat Islam tidak akan begitu saja melupakan kasus DOM Aceh, kasus Tanjung Priok, Lampung Berdarah yang telah memakan korban jiwa yang mengenai jumlahnya sulit mendapatkan data yang akurat. Kitapun bisa melihat negara-negara yang terang-terangan mengaku sebagai negara sekuler. Kehidupan beragama di negara-negara sekuler sangat tertekan. Kampanye Negara-negara sekuler yang menyuarakan kebebasan dan persamaan sangat bertentang dengan fakta dilapangan. Negara sekuler selalu menyatakan diri tidak mencampuri keinginan warga negaranya dalam menjalankan syariat agama mereka masing-masing, termasuk menggunakan simbol-simbol keagamaan seperti hijab, kalung salib, dan lain lain. Namun bukankah mayoritas Negara sekuler justru menerapkan aturan yang sebaliknya ?. Pelarangan simbol-simbol keagamaan terkhusus jilbab bagi muslimah adalah masalah-masalah standar yang selalu ada di negara-negara sekuler. Turki misalnya, sebagai bentuk negara sekuler yang digagas Mustafa Kemal Atatürk sejak 1920an sampai sekarang tetap gigih menerapkan aturan pelarangan penggunaan jilbab meskipun Islam sebagai agama mayoritas penduduk dinegeri tersebut. Kalau mereka mau jujur bukankah jaminan atas kebebasan dan hak individu bagian terpenting dalam penerapan sekularisme, dan menjalankan ajaran agama dengan sebaik-baiknya adalah hak yang paling asasi.

Disinilah saya sulit menemukan relevansi antara sekularisme dan rasionalitas. Bagaimana mungkin saya yang muslim, bisa menjadi muslim yang baik dalam naungan negara yang sekuler, negara yang mencampakkan ajaran-ajaran agama yang saya anut. Sebagaimana bingungnya saya dengan Nurcholis Madjid yang mendefinisikan Sekularisme sebagai ‘’Pembebasan diri dari tutelege (asuhan) agama, sebagai cara beragama secara dewasa, beragama dengan penuh kesadaran dan penuh pengertian, tidak sekedar konvensional belaka.’’ Pengertian kalimat itu saja sudah kontradiktif. Jika diri manusia sudah dibebaskan dari asuhan agama, bagaimana dia bisa beragama dengan penuh kedewasaan?. Dan bagaimana bisa menjadi berkah bagi agama-agama, jika kita semakin diperhadapkan oleh kenyataan Sekulerisme menyebabkan banyak petaka bagi agama dan kemanusiaan. Kita memang harus berpikir. Namun semakin berpikir, saya semakin menolak sekularisme.

Wallahu ‘alam bishshawwab

 Qom , 12 Juni 2008 / 23 Khurdod 1387 HS

*Lihat artikel Berkah Sekularisme oleh Luthfi Assyaukanie di www.islib.com 11/04/2005

**Wawancara Pusat Berita Radio VHR (Voice of Human Right) – http://www.vhrmedia.com/ dengan Ahmad An-Naim di Jakarta dan dipublikasikan pada 3 Agustus 2007 dengan judul berita: Ahmad An-Naim: Negara Sekuler untuk Muslim yang Baik.

 

Artikel ini juga bisa di baca di http://www.tribun-timur.com/view.php?id=83541&jenis=Opini

 

 

 

 





Kekerasan dalam Islam, Untuk Siapa ?

7 06 2008

Berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya, yang lebih ‘mengandalkan’ do’a dan bantuan kekuatan dari langit, Muhammad SAW memilih belepotan lumpur dan debu perjuangan untuk mewujudkan kehendak Ilahi. Ia mengajak sahabat-sahabatnya yang setia untuk menabuh genderang perang, mengangkat pedang dan membentangkan tinggi-tinggi panji perlawanan. Di mata para musuhnya, Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak ubahnya gerombolan manusia bar-bar yang haus darah dan kekuasaan. Islam bagi mereka adalah kabar buruk dan doktrin yang hanya akan merongrong kekuasaan yang telah ribuan tahun berada ditangan. Pandangan negatif tentang Muhammad dan ajarannya berlanjut sampai pada pergulatan wacana kontemporer dikekinian. Pemikiran Islam dianggap sebagai sosok dengan wajah angker, intoleransi, arasioanal, literalis bahkan terbelakang. Karenanya, setiap gagasan untuk memasukkan Islam kedalam wilayah publik akan di beri label-label pejoratif, radikal, puritan, fundamentalis dan merupakan tindakan teror. Setidaknya oleh Karen Armstrong, kekeliruan ini berusaha ditepis. Dalam bukunya -Muhammad: A Western Attempt To Understand Islam- ia menulis, “….Daripada berkelana dengan cara yang tidak duniawi di sekitar bukit-bukit Galilea, berkhotbah dan menyembuhkan seperti Yesus dalam Gospel, Muhammad (saw) harus terlibat dalam perjuangan politik untuk mereformasi masyarakatnya dan para pengikutnya bersumpah untuk melanjutkan perjuangan ini.” Ia memaparkan pandangan kritisnya bahwa tujuan utama Muhammad SAW mempimpin langsung dua puluh tujuh atau dua puluh delapan peperangan (ghazwah) dan menskenario tiga puluh Sembilan peperangan yang dipimpin salah seorang sahabat yang ditunjuknya (Sariyah) selama sepuluh tahun pemerintahannya di Madinah bukanlah kekuatan politik, melainkan menciptakan masyarakat yang baik. Sebagai seorang muslim saya berterimakasih kepada mantan biarawati Katolik Roma ini, dengan penelitian yang intens dan serius tentang Islam dan para tokohnya, ia berusaha menepis kekeliruan pandangan Barat tentang Rasulullah SAW. Pandangan-pandangan kritis Barat tentang Muhammad SAW yang seorang nabi namun melibatkan diri dalam berbagai kegiatan politik, dan mengerahkan sahabat-sahabatnya untuk bersama membunuh manusia lainnya, berusaha dijawab Karen Armstrong dengan kejernihan dan ketajaman analisanya. 

Bagi yang mempelajari sejarah Islam secara jujur dan adil, akan berhadapan dengan kenyataan bahwa Muhammad SAW datang untuk memproklamasikan slogan kemerdekaan dan kebersamaan. Hunusan pedangnya untuk menghancurkan nilai jahiliyah dan pikiran aristokrat. Khutbah-khutbah yang disampaikannya bukan untuk mengukuhkan penguasa yang tiran melainkan untuk membela kepentingan kaum lemah yang tertindas dan terpinggirkan secara sosial. Muhammad mendeklarasikan persamaan bagi semua. Dengan pemahaman semua manusia adalah sama, satu ras, satu asal, satu alam dan satu Tuhan, Ia runtuhkan aqidah politeis dan perbudakan sesama manusia. Rezim ekonomi yang  kuat dilawannya untuk menegakkan keadilan sosial. Istananya tidak lebih dari tumpukan tanah liat, singgasananya dibangunnya dari pelepah pohon kurma. Ia terlihat diantara para pekerja yang mengangkut barang. Beliau menyuruh pembesar-pembesar dan kaum bangsawan untuk memendekkan jubah-jubah dan melarang berjalan dengan angkuh di jalan. Ia meruntuhkan semua simbol-simbol aristokrasi di depan umum. Muhammad al-Musthafa SAW beserta sahabatnya yang terpilih telah berjuang tanpa lelah. Perjuangan itu menghasilkan sekian kecemerlangan dengan bersatunya umat manusia dalam satu panji al-Islam. Dibawah kepemimpinannya, Muhammad SAW mampu melahirkan tatanan sosial masyarakat (the order of society) yang egaliter serta menjunjung nilai-nilai keadilan (justice value). Islam yang ditunjukkannya adalah Islam yang damai dan menentramkan, membawa keselamatan, persatuan dan persaudaraan.

Ja’far bin Abi Thalib ra berkata: ”Kami sebelum ini adalah penyembah berhala, pemakan bangkai, peminum khamr, pemutus persaudaraan, pelaku zina, sampai akhirnya Allah swt mengutus di tengah-tengah kami Muhammad saw. Dan karenanya Allah swt mengeluarkan kami dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.”

Dr. Jeffrey Lang, professor Matematika di Universitas Kansas juga memberikan pembelaan serupa. Dalam penelitiannya, semua ayat yang berkenaan dengan perang menyiratkan bahwa Islam memperkenankan peperangan hanya untuk mempertahankan diri atau membela korban-korban kesewenang-wenangan dan penindasan. Perintah hidup secara damai dengan orang-orang Kafir terdapat dalam 114 ayat yang tersebar di 54 surah. Sedangkan perintah untuk berperang, “Diwajibkan atas kamu berperang…” (Qs. Al-Baqarah :216) dan surah At-Taubah ayat 5 yang dikenal dengan ayat pedang jumlahnya jauh lebih sedikit dan harus dilihat sesuai konteks ayat diturunkan, yakni berkenaan dengan perjanjian Hudaibiyah yang dilanggar orang-orang musyrik. Keduanya menyimpulkan, ultimatum perang, pembunuhan dan tindak kekerasan hanya diperbolehkan untuk menegakkan keadilan, itupun ditujukan kepada kelompok yang menindas dan merusak perdamaian.

Islam Agama Toleransi

Namun sayang, berbagai usaha pembelaan terhadap Islam atas tudingan sebagai agama teror, yang sangar dan menyeramkan, dirusak oleh segelintir umat Islam yang juga mengatasnamakan pembelaan atas Islam. Aksi kekerasan yang dipertontonkan Front Pembela Islam (FPI) ataupun Laskar Pembela Islam (LPI) di lapangan Monas Jakarta awal bulan ini sangat merusak citra Islam. Islam yang mereka pertontonkan semakin memperkuat anggapan Barat bahwa Islam adalah agama kekerasan, agama agresif, agama yang tidak mau diajak berdamai. Tidak ada pembenaran sedikitpun dari Islam melakukan penyerangan dan kekerasan hanya karena alasan berbeda keyakinan. Allah SWT berfirman, “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat.” (Qs. Al-Baqarah : 256). Pesan Al-Qur’an ini sangat jelas, umat Islam tidak dituntut untuk mengislamkan orang-orang yang beragama selain Islam. Sikap memaksakan keyakinan merupakan pelanggaran keras terhadap wewenang Allah. Yang dituntut dari umat Islam  adalah menjadi ’saksi atas manusia’. Mereka ditugaskan hanya untuk memperkenalkan Islam  dan kemudian menyerahkan segalanya kepada mereka. Hidayah datang datang dari Allah, hatta Rasul sekalipun tidak bisa memaksa seseorang untuk beriman. Lakum dinikum waliyadin, adalah konsep Islam yang paling jelas dan terang tentang ajaran toleransi. 

Penghancuran yang dilakukan nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya ibarat apa yang dilakukan petani terhadap tanah. Tanah dicangkul, diremukkan untuk kemudian dijadikan kebun yang menghasilkan buah-buah. Ataupun seperti yang dilakukan kuli bangunan. Bangunan yang lama dan tua diruntuhkan, diluluhlantakkan untuk kemudian dibangun diatasnya bangunan baru yang lebih indah. Muhammad SAW seolah mengatakan, “Bagaimana mungkin kau bisa makan roti yang enak jika sebelumnya kau tidak menghancurkan dan menggiling gandum terlebih dahulu ?”. Kekerasan –kalaupun itu harus disebut kekerasan- yang diajarkan Nabi Muhammad SAW adalah untuk kehidupan yang lebih cemerlang, pencapaian puncak sebuah peradaban, kegigihan agar manusia menemukan kemanusiaannya, perlawanan terhadap kesewenang-wenangan dan penindasan.  Namun apa yang dilakukan FPI dan LPI jauh berbeda. Penghancuran yang mereka lakukan pemusnahan total, yang tidak menghasilkan apa-apa selain bara api kebencian dan permusuhan. Bercermin dengan prinsip Murtadha Muthahari, “…setiap kali dengan cara apapun suatu aspek dari tata hidup yang suci dan Ilahiah diserang, maka Islam lebih mampu mempertunjukkan dirinya dengan lebih kuat, lebih kukuh, lebih jelas dan lebih cemerlang.” Berbeda dengan apa yang dilakukan Karen Armstrong, Dr. Jeffrey Lang ataupun Syahid Murtdha Muthahari yang menggunakan kekuatan logika untuk membela Islam, FPI lebih memilih menggunakan logika kekuatan.

Al-Qur’an mengatakan, “Wahai-wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Maidah : 105). Menghadapi ‘kesesatan’ Ahmadiyah dengan logika kekuatan (terlepas kasus Silang Monas rekayasa atau bukan ) dan bukannya kekuatan logika, menurut saya itu karena FPI belum mendapat petunjuk saja ?.

Wallahu ‘alam bishshawaab   

Qom, 3 Juni 2008





Filosofi Ka’bah, Haji dan Sebuah Pesan Kemanusiaan

12 04 2008

Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar kata Ka’bah ?. Bagi yang belum pernah melihat atau mendapatkan informasi tentang Ka’bah kecuali bahwa Ka’bah sebagai arah kaum muslimin menghadapkan wajahnya ketika berinteraksi ‘intim’ dengan Tuhannya, adalah wajar jika membayangkan Ka’bah adalah sebuah bangunan yang megah dan indah. Itupula yang saya bayangkan tentang Ka’bah di usia belum balighku dulu. Saya bayangkan Ka’bah berupa istana megah, sebuah karya arsitektur yang indah, dibangun dengan cita rasa estetika yang tinggi, penuh dengan ornamen-ornamen yang mahal, bisa jadi terbuat dari emas, berlian atau pecahan-pecahan intan permata, penuh dengan warna-warna yang menyejukkan mata. Pernah pula saya bayangkan dia berupa bangunan semacam menara yang menjulang tinggi dimana didalamnya terkubur seorang tokoh manusia yang penting, bisa seorang pahlawan, raja, imam, atau malah Nabi. Tapi ternyata tidak ! yang kita saksikan dari Ka’bah hanyalah bangunan kubus yang sama sekali tidak memiliki keindahan arsitektural, seni atau kualitas yang biasa kita saksikan pada bangunan-bangunan yang diklaim sebagai keajaiban dunia, tidak ada warna-warni sama sekali. Bangunan ini hanya terbuat dari batu-batu hitam keras yang tersusun dengan cara yang sederhana, dengan kapur putih sebagai penutup celah-celahnya. Dan di dalam bangunan persegi itu, pernah kubayangkan ada bongkahan sesuatu yang selama ini dikejar-kejar manusia sebut saja, emas, intan permata, atau mutiara manikam. Atau di dalamnya ada manusia tempat mencurahkan perhatian, perasaan, tempat meminta wejangan dan nasihat agar lurus dalam menjalani kehidupan. Sekali lagi semuanya itu terbantahkan, ternyata didalamnya tidak ada-apa, sama sekali kosong ! Tidak ada sesuatupun juga. Bisa jadi ketika melihatnya timbul pertanyaan dan keraguan benarkah bangunan ini pusat agama, shalat, cinta, hidup dan kematian kita ? Benarkah Kubus yang yang tanpa dekorasi ini adalah arah kaum muslimin menghadapkan wajahnya di dalam shalatnya, benarkah dia pusat eksistensi, keyakinan, cinta dan kehidupan manusia bahkan ke arah ini pula kaum muslimin yang mati dikuburkan? Apa yang dicari oleh mereka yang berseliweran disekelilingnya, yang seolah melupakan segala yang dimilikinya, ditempat itu mereka menumpahkan perasaan, tangis dan air mata, bersimpuh penuh pengharapan, merendahkan diri serendah-rendahnya, menciumnya dengan penuh perasaan cinta dan sedari sana timbul kerinduan mendalam untuk kembali ?. Abrahah pun heran dengan Ka’bah ini, ia berusaha menyaingi, dengan membangun tempat peribadatan yang lebih megah dan terbuat dari ornament yang sangat mahal bahkan bagi peziarah ia janjikan hadiah yang banyak, tetap saja Ka’bah ramai dengan kerumunan orang. Kedengkiannya semakin besar, ia bermaksud meruntuhkan Ka’bah, dengan ribuan pasukan yang menunggang gajah ia menuju Makkah, kota tempat Ka’bah berdiri tegak. Ia dan pasukannya menyangka akan mendapatkan perlawanan hebat dari penduduk Makkah yang tidak ingin rumah ibadahnya dihancurkan. Setibanya disana, ia malah mendapatkan tontonan yang membingungkan, tidak ada satupun penduduk Makkah yang menjaga atau berusaha melindungi Kabah, semuanya menyelamatkan diri ke bukit-bukit. Bahkan Abdul Muthalib, pembesar kaum Qurays menghadap ke Abrahah hanya untuk mengambil unta-unta yang dirampas pasukan Abrahah. Tentang ini Abdul Muthalib, Kakek Rasulullah hanya menjawab singkat, “Unta-unta ini milik kami, karenanya kami harus mengambilnya kembali, sedangkan Ka’bah adalah rumah Allah, Dia sendirilah yang memberinya penjagaan”. Ya, Ka’bah, bukan milik siapa-siapa, ia milik Tuhan seutuhnya, tidak diberikan kesiapapun, tidak diamanahkan apalagi diwariskan. Patut engkau ketahui, meskipun rumah Allah, Ka’bah tetap hanyalah bangunan. Hanyalah kumpulan batu gunung yang hitam pekat. Ka’bah bukanlah tujuan dari kedatanganmu. Kesederhanaan Ka’bah yang kamu lihat di hadapanmu mengingatkan akan tujuan perjalananmu. Ka’bah adalah penunjuk arah. Ada hal lain yang harus menjadi tujuan akhir perjalananmu. Gerakan abadi yang kamu lakukan adalah gerakan menuju Allah, bukan menuju Ka’bah. Kamu datang untuk memenuhi undangan Allah. Setiap orang diantara kalian harus mengenakan pakaian yang telah ditentukan, kamu tidak memiliki dirimu lagi, kamu harus meleburkan diri dan tidak boleh memasuki rumah suci ini jika engkau masih terikat dengan dirimu, masih memikirkan dirimu sendiri. Kesederhanaan Ka’bah menunjukkan betapa kemewahan dan kemegahan bukanlah tujuan hidupmu. Ka’bah adalah Baitullah, rumah Allah. Dibangun oleh Ibrahim atas perintah-Nya. Ketika kau menghadapnya sesungguhnya merupakan tamparan keras buatmu, buatmu yang membangun rumah dengan penuh ornamen mahal yang hanya akan membuatmu pongah.
Haji, Menghampiri Allah
Kota Mekkah disebut juga “Bait-Atiq”. Atiq berarti bebas. Kota ini tidak dimiliki siapapun juga. Tak seorangpun berhak menguasainya. Kota ini milik Allah ‘sepenuhnya’. Dengan beberapa ketentuan seorang muslim ketika bepergian atau melakukan perjalanan jauh dari rumahnya boleh menyingkat shalat-shalatnya atau menggabungkannya. Tetapi di kota Mekkah, darimanapun engkau datang dan betapapun jauhnya perjalanan yang engkau tempuh, shalatmu harus sempurna dan tidak boleh disingkatkan. Sebab kedatanganmu karena memenuhi panggilan, kamu bukanlah tamu, Mekkah negerimu sendiri, kamu tidak sedang bepergian jauh, kamu melakukan perjalanan pulang ke negerimu. Kedatanganmu disambut layaknya seorang sahabat dan anggota keluarga Allah yang telah lama pergi, dan pulang kembali. Kembalilah engkau kepada-Nya, dengan penuh kecintaan dan kerinduan. Tidakkah engkau mendengar seruan Ibrahim : Dan serulah manusia untuk melakukan Haji. Mereka akan datang kepadamu dengan bertelanjang kaki atau dengan menunggang unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh (Qs. 22 : 27) Dan kepunyaan Allah-lah Kerajaan langit dan bumi dan kepada Allahlah kembali semua makhluk (Qs. 24 : 42) Engkau harus menghadap dan pulang kepadanya dengan penuh ketulusan hati, tidak dikotori oleh motif-motif lain. Ketulusan hati itu tampak jelas dalam ayat Al-Quran yang memerintahkanmu berhaji. ”Karena Allah SWT, wajib bagi manusia untuk menunaikan ibadah haji, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah.” (QS Ali Imran: 97). ”Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah SWT.” (QS Al-Baqarah: 196). Perintah haji dalam dua ayat di atas, ditekankan harus lillah, tulus karena Allah SWT. Redaksi demikian tidak ditemukan di ayat lain yang isinya perintah untuk beribadah, seperti shalat, zakat, dan puasa. Meskipun, pada dasarnya semua ibadah harus lillah, terlebih lagi haji yang menuntut perjuangan dan kerja keras, menguras apapun yang menjadi milikmu, lahir dan batin dalam waktu yang tidak sedikit. Ibadah haji mencerminkan kepulangan seorang manusia kepada Allah yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tak diserupai oleh sesuatu apapun. Pulang kepada Allah merupakan sebuah gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai dan fakta-fakta. Dengan melakukan perjalanan menuju keabadian ini manusia tidak akan “sampai” kepada Allah; Dia hanya memberikan petunjuk yang benar, tapi Dia bukan merupakan tujuan yang hendak dicapai. Menunaikan haji sama halnya menjumpai sahabat-terbaik yang telah menciptakan manusia sebaik-baik ciptaan dari makhluk lain. Allah sedang menantikan. Dengan demikian kamu pun harus mencoba untuk meninggalkan istana-istana kebesaran, gudang-gudang kekayaan dan kuil-kuil yang menyesatkan. Manusia – melalui ibadah haji, akan melepaskan diri dari perbuatan serigala (sebuah tindakan penindasan bagi orang-orang yang dipimpinnya).
Hijir Ismail
Di sebelah barat Ka’bah ada sebuah tembok rendah yang berbentuk setengah lingkaran dan menghadap ke Ka’bah. Bangunan ini disebut Hijir Ismail. Hijir bisa berarti pangkuan juga bisa diartikan pakaian wanita sebelah bawah. Tersebutlah dalam riwayat, Hajar adalah perempuan Ethopia yang miskin. Ia sahaya dari Sarah istri Ibrahim. Hajar dinikahi Ibrahim untuk memperoleh anak. Lahirlah Ismail. Kecemburuanlah yang membuat Sarah meminta Ibrahim untuk ‘mengusirnya’. Oleh Ibrahim, dibawalah Hajar dan Ismail, yang ketika itu masih bayi ke padang pasir yang luas, tidak terdapat apa-apa. Di atas pangkuan Hajarlah Ismail di besarkan. Hijir Ismail, adalah bangunan di samping Ka’bah, tempat Hajar membesarkan Ismail, dan di situ pula Hajar, ibunda Ismail dikuburkan. Dan Allah memerintahkanmu agar ketika melakukan thawaf juga mengelilingi Hijir Ismail dan tidak hanya mengelilingi Ka’bah saja, jika tidak demikian ibadah haji yang kamu lakukan tidak diterima Allah SWT. Subhanallah, kuburan seorang sahaya perempuan hitam Afrika merupakan bagian dari Ka’bah, dan hingga kiamat nanti manusia-manusia senantiasa akan berthawaf mengelilinginya. Betapa anehnya, kepada hambanya yang terhina, terlemah dan terusir di antara makhluk-makhluk-Nya, Allah memberikan tempat di sisiNya. Dia datang, memerintahkan kepada Ibrahim untuk dibuatkan rumah, dan meminta dibangunkan di sebelah rumah Hajar. Allah memilih menjadi tetangga seorang perempuan hitam yang terusir. Ali Shariati menuliskan : Di antara semua manusia; Dia memilih perempuan Di antara semua perempuan; Dia memilih seorang budak Di antara semua budak; seorang sahaya yang berkulit hitam Ketika kau mengetahui bahwa sesungguhnya ritual-ritual haji yang kamu lakukan adalah untuk memperingati Hajar, seorang budak perempuan hitam yang dihinakan dan diremehkan, masihkah engkau merasa lebih tinggi dari manusia selainmu ? Masih beranikah engkau sepulang dari ritual hajimu kau membanggakan diri dan acuh terhadap kehidupan mereka yang terpinggirkan secara sosial ? Allah datang dan memilih bertetangga dengan seseorang yang senantiasa terhina, kalau kamu bisa jadi lain, kamu datang untuk menggusur mereka, karena bagimu mereka mengotori bangunanmu…
Wallahu ‘alam bisshawwab.
Qom, 7 Desember 2007